Side To Side

Side To Side
PENSI III



SIDE TO SIDE - JAKA


PENSI III


(Banyak kata-kata kasar. Guyonan nggak jelas, sama cerita yang unfaedah. Harap bijak ya readerskuh 😘😘😘)


•••


Setelah membereskan semua peralatan bengkel ke empat perjaka kita langsung bergegas naik ke rumah Arron. Mereka rencananya mau maskeran lagi. Mereka lagi melakukan ritual 10 sheet mask challange dalam waktu satu minggu menjelang pensi.


Mereka memang kemarin sengaja beli banyak masker, soalnya mumpung promo beli satu gratis satu.


“Sini gw tempelin!” El mencoba membantu Kenzo.


“Dont touch me!! Gw normal!” Kenzo menghindar.


“Wkwkwkw!!!” Arron dan Jay ketawa.


“Sialan!” umpat El yang masih dianggap g*y oleh teman-temannya.


Akhirnya mereka berempat rebahan sambil makan permen lolipop yang setara dengan satu gelas susu sapi. Soalnya bosen kalau nungguin maskernya kering, ritual cewek itu memang membosankan kalau nggak ngelakuin apa-apa. Herannya kok cewek bisa betah ya berlama-lama gitu?! Soalnya sama ngegibah, kadang sama ngehalu, kadang juga ngelamunin cowok kece macam mereka berempat!! Hayo ngaku?!


“Gaes, Lo tau nggak kalau author kita itu lagi suka bagi-bagi giveaway?” El memecah keheningan.


“Iya, dia sukanya bagi-bagi giveaway. Berasa sultan mungkin.” jawab Arron.


“Padahal novelnya banyak yang nggak laku, nggak ada yang baca!!” teriak Kenzo. Emang giliran ngehina author ma dia no 1.


“Kasihan, ya,” Jay melipat tangannya ke atas, menjadikannya bantalan kepala.


“Mana sekarang jarang up JAKA, klihatannya kita di anak tirikan, nih.”


“Iya, Jaka sekarang nyendet-nyendet upnya.”


“Udah seratus episode juga masih tetep gini-gini aja. Sedeh gw.” Arron melepaskan lolipopnya dari mulut.


“Iya, gw kan pengen cepet dapet pacar juga.” El menurunkan bahunya sedeh.


“Wahai Author tercantik sejagat Mangatoon, tolong rajinlah UP JAKA. Biar kami tambah femes, terus cewek-cewek pada nempel.” Kenzo melepaskan lolipopnya terus kasih pujian ke author.


“Nanti Kenzo cium Thor!!” El langsung nambahin.


“Bener!! Ntar gw cium sampe pingsan dah!! Tapi dalam mimpi ya, Thor...!” Kenzo meringis.


Author ma sebenernya bakalan langsung semangat begitu dijanjiin ciuman ama Kenzo. Apalagi sama Jay, pasti ngebut dah!! Sayangnya satu, merekanya yang nggak mau 😭


“Ayo back to story thor!! Nggak usah curhat unfaedah! Kasihan yang baca.” Jay langsung menyadarkan author, kembali ke kenyataan untuk menyenangkan hati para readers setia JAKA yang cantik dan ganteng, imut, nggak sombong dan rajin menabung.


Author langsung semangat lagi begitu liat comment-comment positif readers. Semangat readers membuat Author keluar dari derita pahit karena sekarang JAKA NGGAK DI BAYAR!!! 😭😭


“Makanya Vote JAKA gaes!! Biar JAKA femes.” El tertawa, menertawakan kisah authornya yang bagaikan remahan rengginan di jagat Mangatoon.


“Kasihan ya, si author. Mana sekarang guyonannya jayus banget.” Jay geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang.


“Bener, Jay. Kasihan... ish.. ish.. ish.. nggak bakat dia nulis, suru balik jualan cireng aja lah!” tambah Arron.


“Dulu emang author jualan cireng?” El kaget.


“Iya, cireng sama wedang jahe, tapi nggak laku, soalnya terlalu cantik.”


“Harusnya laku donk kalau terlalu cantik.”


“Soalnya yang beli pingsan duluan pas lihat wajah cantiknya. Jadi ya mana bisa laku?!”


“Thor, elo pasti ngarangkan?” Kenzo langsung melirik author yang gerogi karena ketahuan ngarang.


Gapapakan ngarang dikit? Pengen di pujilah, haus pujian soalnya. Tapi sayangnya ngak ada yang mau muji kalau authornya cantik!! Kan sedeh!!


>>> JAKA <<<


Lenna masuk ke dalam rumah dan mendapati mereka berempat sudah saling berpelukan kaya teletubies. Mereka berpisah karena ingin pulang dan beristirahat. Besok bakalan jadi hari yang berat karena PENSI akan di mulai.


“Imutnya, kaya teletubis kecemplung selokan.” Lenna menaruh tasnya dan bergegas mengambil pakaian untuk mandi.


“Kita pulang ya, Len.” pamit ke tiganya.


“Iye!! Hati-hati!!” teriak Lenna dari dalam kamar mandi.


“Len, laper. Lo mau makan di luar nggak?”


“Nggak!! Masak aja! Gw uda belanja.”


“Oke.”


Arron kembali rebahan sambil mengutak-atik ponselnya. Membeli beberapa lembar saham kecil-kecilan dan menjualnya lagi saat ada kenaikan harga. Yah lumayan untung goceng, noban, cepek, yang penting bisa buat nyambungin hidup.


Jay juga sekarang belajar bisnis sama Arron. Ia mulai menabung dan membeli beberapa lembar saham kecil-kecilan. Biar nggak terlalu murahan jual diri tiap hari.


Lenna keluar dari kamar mandi, bau lembut sabun langsung menggelitik hidung Arron. Arron melirik ke arah Lenna. Menatap wajah cantiknya sampe kesusahan untuk menelan ludahnya sendiri.


“Ngapain lirik-lirik? Gw cantik ya?!” Lenna berkacak pinggang, niatnya ngeledek Arron.


“Iya, cantik banget.” Arron nggak sadar berkata jujur, kan emang dianya jujur banget.


Lenna langsung tersipu malu, wajahnya memerah dan terasa panas. Ia nggak menyangka Arron akan memujinya seperti itu.


“G— gw masak du—dulu.” Lenna gelagapan dan langsung menuju dapur.


Lenna nggak konsentrasi saat memasak, pujian Arron membuatnya salah tingkah. Padahal selama ini Lenna selalu menganggap Arron adalah musuhnya. Arron sendiri biasa terkesan cuek pada setiap perkataannya. Tapi memang, sih, perhatian Arron belakangan ini nggak bisa hilang dari benak Lenna. Lenna merasa Arron sebenarnya adalah cowok yang lembut.


“Masak apa?” Arron menyembul dari belakang Lenna, napasnya yang panas mengenai tengkuk Lenna.


“Hhhiiiii...!!!” Lenna merinding.


“Lo kira gw hantu?!” Arron berdecis sebal.


“Sory, lo kelewat deket.”


“Pliss deh, jarak kita jauh. Elo aja yang sensitif. Mungkin Lo lagi masa subur kali?”


“Cowok Br*ngsek! Nyesel gw mikirin dia!” Pikir Lenna dalam hati.


Nggak lama setelah adu mulut yang menyebalkan keduanya kembali duduk dalam satu meja dan makan bersama. Lenna memasak sayur brokoli dengan jamur kancing dan menggoreng nuget ayam.


“Ah, kenyangnya. Terima kasih buat makanannya.” Arron menyilangkan sendok dan garpunya.


“Ah, aku juga kenyang.” Lenna melakukan hal yang sama.


“Lo mau rebahan lagi?!” tanya Lenna heran.


“Iyalah, gw rebahan aja dapet duit kok.”


“Cih, gw bagi-bagi foto juga dapet duit lebih banyak.” Lenna nggak mau kalah. Mereka beradu usaha mana yang menghasilkan lebih banyak uang.


“Ck, kriminal.”


Lenna tak menggubris ucapan Arron dan membereskan semua peralatan makan. Ia mengikat rambutnya naik dan mulai mencuci. Arron melihat leher jenjang Lenna, entah kenapa leher itu begitu menggoda Arron?


“Sadar Arron, sadar!!” pikir Arron sembari menepuk pipinya.


Arron membetulkan kaca matanya dan kembali berfokus pada ponselnya. Mencoba menghilangkan bayangan Lenna yang mengusik nalurinya sebagai seorang laki-laki normal.


“Ron, sini deh, kok mampet ya?!” Lenna memanggil Arron. Lubang pembuangan wastafel mereka macet.


“Hah? Coba gw lihat.” Arron bangkit dan bergegas melihat kerusakan pada saluran pembuangan bak cuci piring.


Lenna mengelapkan tangannya yang basah pada apron masak sebelum mundur. Ia memberikan jarak aman agar Arron bisa melihat masalah pada pipa bawah.


“Coba bawakin senter, Len!” pinta Arron.


“Oke.”


Lenna mengambil senter, ia menunduk untuk memberikannya pada Arron. Sedangkan Arron memutar tubuhnya ke atas hendak bangkit berdiri.


Duak!!! Dahi bertemu dahi.


“Auch!” Lenna meringis, Arron juga.


Mereka sibuk mengusap dahi mereka masing-masing sampai nggak nyadar kalau jarak wajah mereka terlalu dekat.


Saat membuka mata, pandangan Arron dan Lenna saling bertemu. Wajah Arron kembali menegang sangking groginya, ditambah dengan naluri yang di tahannya selama beberapa hari ini, membuatnya semakin kehilangan akal sehat.


Arron menarik belakang kepala Lenna dan menciumnya. Ciumannya mendarat tepat di bibir Lenna. Arron sendiri masih tak mengerti kenapa dia melakukannya. Dorongan di dalam hatinya begitu kuat. Arron tak mampu menolak pesonanya.


Lenna terbelalak kaget dengan kelakuan Arron, ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh bibirnya. Tubuhnya seketika itu juga menegang dan berdesir pelan. Lenna melihat mata Arron yang terpejam karena terbuai rasa manis dari ciuman mereka.


“ARRON!!” Lenna mendorong tubuh Arron dengan kuat.


“Lenna?!” Arron baru menyadari kesalahan yang dibuatnya.


“Brengsek lo!! Sialan, ternyata yang lagi masa subur itu, elo!” Lenna mengambil spatula dan memukulkannya pada Arron.


“Auch.. auch.. auch.. sory Len sory..!!” Arron meminta ampun.


“Sialan!!!” Lenna mengambil pisau.


“Lo mau apa Len?” Arron menelan ludahnya, wajahnya pucat pasi.


“Gw mau potong burung lo!! Biar lo nggak bisa macem-macem!!” Lena mengangkat pisaunya. Pisau tajam itu berkilat sampai ke ujungnya saat terkena cahaya.


“Ee.. jangan donk!!” Arron spontan langsung memegang burungnya. Ia mengambil wajan untuk menutupinya dari serangan Lenna. Wah, bisa kehilangan masa depan donk kalau burungnya hilang.


Arron bangkit pelan-pelan masih dengan wajan di depan burung kebanggannya. Ia saling beradu pandang dan melangkah berputar untuk menghindari Lenna.


“LIHAT!! Ada UFO!!” Arron menunjuk ke arah beranda.


“MANA?” Lenna ikutan latah dan menoleh.


Secepat kilat Arron menyahut pisau dari tangan Lenna dan berlari kabur.


“Sialan gw di bohongi.” gerutu Lenna, ia meniup kasar rambutnya yang kacau di depan wajah.





“Len, sory ya, gw nggak bermaksud apa-apa tadi...” Arron masih berusaha menenangkan Lenna yang merajuk padanya.


Lenna membelakangi tubuh Arron. Dia tidur di kamarnya sendiri, sedangkan Arron duduk bersimpu di dekatnya. Mereka terhalang oleh tirai pembatas.


“Lo emang cowok brengsek, Ron! Kembaliin ciuman pertama gw!!” Lenna menahan air matanya.


“Itu juga ciuman pertama gw, Len. Kita impas donk ya!” Arron masih berusaha tawar menawar.


Lenna langsung bangkit dan membuka kasar tirai pembatas.


“Lo kira kita lagi berdagang? Otak bisnis lo kelewatan, bro!!” Lenna menempeleng dahi Arron dengan jari telunjuknya, membuat tubuh Arron terplanting kebelakang. Padahal tenaga Lenna nggak besar, tapi sangking kaki Arron udah terlalu kesemutan bikin Arron nggak kuat menahan diri.


Saat Arron terjungkal kakinya nggak sengaja menarik seprei di bawah kaki Lenna. Membuat Lenna ikutan limbung dan terjatuh di atas Arron. Mereka kembali berciuman, namun kali ini nggak ada unsur kesengajaan.


Lenna kembali terbelalak, dan Arron juga.


“Aaaaggghhhh!!!!” Lengguh Lenna sebal.


“Jadi kita impas donk ya!!! Kan elo yang nyerang duluan.” Arron meletakkan kepalanya ke lantai, melemaskan bahunya agar kembali relaks.


“Sh*t!!!” Lenna berusaha bangkit, dengan sengaja ia menekan paha Arron dengan kakinya. Masih tak terima dengan kekalahannya.


“Yaaahhh... aduh! Cewek kejam!!!” Arron meringis, pahanya di injak, mana lagi kesemuatan juga?! Kan syahkit, man!!


>>> JAKA <<<


Yo JAKA Up!!


Arron nggak kalah menggoda dari Arvin, pamannyakan? Wkwkwk


Bagi like comment dan juga VOTE


Ingat kata para perJAKA.. Vote kalian bikin mereka tambah FEMES jadi ceweknya nambah bnyak. Trus authornya nambah kece!!!


Jangan lupa bagi senyum kalian pada dunia.


Stay safe stay at home.


Terus jangan lupa puji authornya cantik..!!


Wkwkwkwkkwwk


Lap yu gaes, A LOT!!!!


❤️❤️❤️❤️