
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 25
“Jay cium aku..!” Renny mendekatkan wajahnya perlahan.
Jay menerima ciuman Renny, memberikan hisapan dan gigitan pelan di bibir mungil Renny. Renny membalasnya dengan hal yang sama. Ciuman itu sangat memabukan, sensasinya sangat menyenangkan.
Renny duduk di pangkuan Jayden, mereka saling memeluk dan berciuman dia atas sofa apartemen. Sinar matahari sore masuk melaui celah- celah korden berwarna abu- abu, sinarnya membuat rambut Renny terlihat lebih merah dan menyilaukan.
“Aku menginginkanmu Renny..” Bisik Jay pelan di telinga Renny, Renny membalasnya dengan senyuman manis.
Renny mengelus punggung dan naik ke pundak sampai ke belakang telinga Jay. Kepalanya menunduk untuk mencium kembali bibir Jayden.
Jay menyentuh pinggang Renny dan turun kebawah pinggul, dan juga pahanya, melakukan hal yang sama.
Jay mencium leher Renny dengan lembut, nafasnya yang semakin memburu dan terasa panas. Renny menikmati ciuman dan sentuhan lembut tangan Jay yang terus meraba permukaan kulitnya yang mulus.
Krrriiiinnggg....!!
Bunyi jam Weker membangunkan Jay dari mimpi indahnya.
“Ah sialan..!!” Umpat Jay, mimpinya terhenti karena bunyi jam weker yang nggak tahu diri...
“Padahal hanya lewat mimpi aku bisa ketemu Renny.” Jay sebal, dia mematikan jam itu dengan kasar.
Jay bangkit berdiri, mengambil handuk dan bergegas mandi. Hari ini ada rapat penting yang harus di hadirinya.
“Sarapannya sudah siap Jay!” Teriak Thea dari bawah.
“Yap.” Jay merapikan rambutnya dan berlari turun, menuruni dua tiga anak tangga sekaligus.
“Wow potonganmu keren juga.” Puji Thea melihat rambut baru Jay.
“Benarkah? Aku kira bakalan nggak pantas.” Jay terlihat senang.
“Undercut kembali trend belakangan ini.” Senyum Jay.
“Potongan itu membuatmu terlihat lakik banget.” Thea mengacungkan jempolnya.
“Aku memang laki- laki.”
“Ah gimana ya.. pokoknya terlihat seperti pria dewasa.” Puji Thea lagi.
“Sudahlah nggak usah komentarin rambutku terus, aku terburu- buru ada meeting yang harus aku hadiri.” Jay duduk dan memakan sarapannya.
Jay bersemangat karena hari ini pertama kalinya Jay menghadiri rapat seluruh dewan direksi. Ayah Jay akan menyerahkan jabatannya hari ini.
“Sudah hampir dua tahun Jay kembali ke rumah ini, anak itu sekarang terlihat lebih bersemangat.” Pikir Thea senang, tangannya sibuk menuang susu untuk adiknya.
“Kuliahmu bagaimana Jay?”
“Nggak ada yang menarik, aku ingin segera menyelesaikannya. Menurutku aku hanya membuang waktu, bekerja langsung lebih efisien untuk belajar.” Jay bangkit dan memberikan piringnya ke tangan Thea.
Thea memberikan piring Jay pada ART.
“Thanks for the meal.” Senyum Jayden dan meninggalkan Thea.
.........................
“Sudah selesai, kau resmi jadi presdir, Jay. Jangan sia- siakan dan kecewakan papa.” Tepuk Mr. Harjanto di pundak anaknya.
“Tentu. Aku akan memberikan yang terbaik, Pa.”
“Butuh 2 tahun agar mereka melihat kinerjamu, dan itu sepadan.”
“Aku hanya melakukan apa yang aku bisa, Pa.”
“Tapi masih banyak yang meremehkanmu karena kau masih muda, tunjukan kepada mereka lagi Jay.”
“Pasti Pa.”
“Kau bisa minta tolong pada Thea tentang dokumen perusahaan, selama ini dia yang menjadi asisten pribadi sekaligus sekretarisku, saat sakit hanya dia yang bisa ku percaya.”
“Oke Pa.”
“Papa sudah semakin tua, semakin sakit- sakitan, Jay. Tapi sekarang papa bisa meninggal dengan tenang karena sudah ada kamu yang mengurus semuanya.”
“Jangan bilang seperti itu Pa. Kau harus melamar istriku nanti.” Goda Jayden.
“Hahahaha..benar.”
“Aku harus pergi, Pa. Aku harus mengejar pesawat ke Ausi.” Jay menatap jam tangannya dan berpamitan.
“Sure. Selesaikan urusanmu Jay.”
Akhir- akhir ini rindunya semakin parah dan tak terbendung lagi. Jay tahu pencapaiannya belakangan ini masih belum cukup untuk menghadapi Brian. Tapi rasa rindu di hatinya membuatnya tidak berfikir rasional. Tanpa memikirkan resikonya Jay membeli tiket pesawat ke Ausi untuk bertemu dengan Renny.
..........................
Port Townsville QSland, Ausi
Dermaga ini terlihat sangat cantik di sore hari. Matahari hampir tenggelam, dan kapan- kapal mulai berlabuh di dok dermaga. Renny mengamati setiap burung- burung camar yang berterbangan rendah di atas lautan untuk mencari ikan. Sudah hampir dua tahun Renny kembali ke Ausi. Tapi tidak setiap hari dia bisa menghirup udara sebebas ini, hari ini dia ada kelas menggambar. Renny mengambil jurusan seni di kampusnya, walaupun nggak terlalu bagus dalam menggambar setidaknya Renny masih mampu melakukannya di bandingkan jurusan lainnya.
“Ah, sunset yang sangat cantik.” Renny menguncir naik rambutnya yang terus di terpa angin laut.
“Miss ini syal anda.” Seorang pria berjas hitam memberikan syal tebal pada Renny.
“Trimakasih.” Ucap Renny singkat.
Renny kembali dengan drawing booknya, tangannya masih terus menggores bukunya dengan pensil 6B.
Renny mengamati area pelabuhan, sketannya sudah hampir selesai saat dia menangkap sosok seorang pria yang sangat di kenalnya. Pria itu sedikit menunduk dan mengawasinya dari kejauhan, dia memakai topi hitam, masker, dan jaket jeans biru, di bahu kanannya menyandang backpak hitam.
Walaupun memakai topi dan masker, Renny masih bisa mengenalinya. Jantung Renny berpacu dengan cepat, tangannya bergetar, menimbulkan coretan panjang pada buku gambarnya.
“Aku akan ke kamar mandi.” Renny beranjak langsung dari tempat duduknya.
Drawing book dan seluruh peralatan gambarnya jatuh di lantai kayu.
Renny tak menggubrisnya, dia berlari sangat cepat. Nafasnya tersengal- sengal, air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Sesekali dia menoleh mencari kembali keberadaan pria itu.
“Miss Renny!!” Tangkap seorang bodyguardnya.
“Lepasin.. aku hanya ingin ke kamar mandi.” Renny meronta.
“Miss, jangan membuat kami kesusahan.”
“Tidak!! Aku benar- benar hanya akan ke kamar kecil.” Renny berusaha tenang.
“Baik miss kami akan mengikuti anda.”
Renny kembali berlari, menyelusuri lantai lantai kayu di dermaga, bunyi dencitan kayu beradu dengan suara langkah kakinya yang semakin cepat. Peluh menetes, tubuhnya semakin panas, syalnya terlepas dan terbang tertiup angin. Renny berbelok di ujung dermaga dan sampai di dok sebelah, Renny celingukan, tidak bisa menemukan pria itu.
Renny hampir menangis, apakah sosok itu hanya sebuah khayalan??
Ataukah benar- benar orang yang sangat di rindukannya?
Renny kembali berlari, menyelusuri satu dok lagi. Tidak ingin memupus harapan kecil yang terlihat di matanya. Renny menyelusuri kembali sampai ke ujung dok, hanya kapal- kapal yatch yang terlihat bergerak pelan mengapung di permukaan laut yang tenang.
“JAY!!” Teriak Renny pada hamparan laut.
Renny tersungkur di tengah- tengah dok menangis dengan keras. Semua bodyguardnya melihat Renny dengan terheran- heran.
Setelah puas menangis Renny bangkit dan menyerah. Bayangan itu mungkin hanya halusinasi yang tercipta karna terlalu merindukan Jayden.
“Miss mari kita pulang, sudah hampir gelap.” Ajak ketiga pria di belakang Renny.
“Baik.” Renny bangkit berdiri.
Dengan Lemas Renny berjalan di belakang mereka, menundukkan wajahnya menyembunyikan raut muka yang terlihat kacau karena terlalu banyak menangis.
SRET..
Sebuah tangan menarik pergelangan tangan Renny.
Renny hampir terpekik karena kaget, tapi Jay menahannya. Memberikan kode dengan menaruh jari telunjuknya di depan mulut.
“Ayo Renny.” Jay menggandeng tangan Renny menyelinap masuk di antara kapal- kapal yang berlabuh di pelabuhan. Karena hari mulai gelap akan susah untuk menemukan mereka.
“Jay??!” Renny memeluk Tubuh Jayden erat.
“Renny..” Jay melepaskan masker yang menutup wajahnya.
“Jay.. beneran Jay..” Renny mengelus wajah Jayden dengan lembut.
“Aku di sini Renny..” Jay mencium bibir Renny, melumatnya dengan kasar dan tak beraturan.
Renny membalasnya juga dengan luapan hasrat rindu yang lama tak tersalurkan.
“Aku merindukanmu Jay.”
“Aku juga merindukanmu Renny.” Jay menempelkan dahinya di dahi Renny.
“Waktu kita nggak banyak Renny, mereka pasti lagi mencarimu.” Jayden kembali memeluk Renny.
“Aku nggak mau pisah lagi.” Renny bergeleng pelan.
“Aku pasti menemuimu lagi Renny, jangan ragukan itu.” Jayden tersenyum.
“Kau potong rambut Jay?” Renny mengelus rambut Jayden yang berubah.
“Iya.”
“Dan kau lebih tinggi juga sekarang.”
“Kau semakin cantik Renny.” Jay mencium pergelangan tangan Renny, wangi parfum tercium manis dan hangat di hidung Jayden, wangi yang dirindukannya.
“Kau hidup dengan baikkan?” Tanya Jayden.
“Iya.” Renny menunjukan senyumannya.
“Bagus, terus tersenyum Renny.” Jay kembali mencium Renny.
“Jay, bawa aku pergi Jay.” Pinta Renny.
“Belum waktunya Renny.”
“Miss Renny??!!” Panggil seorang body guardnya.
“Pergilah Renny, berpura- puralah tak melihatku.”
“Hati- hati Jay.” Renny melepaskan pelukannya dengan berat hati.
“Tunggu aku Renny.”
“Iya.”
Renny berjalan meninggalkan Jayden, belum sampai sepuluh langkah Renny berbalik dan berlari mencium kembali bibir Jay.
“Secepatnya..!! Berjanjilah!!” Isak Renny, perlahan ia melepaskan sentuhan di bibir Jay.
“Tentu saja..” Jay mencium Renny sekali lagi dan menghilang di balik bayangan kapal.
“Aku menunggumu Jay. Bahkan walau butuh waktu seumur hidupku aku akan tetap menunggumu.” Renny berbalik dan kembali kepada para pengawalnya.
.......................
Hallo ^^
Makasih like, commentnya readers..
terus dukung saya ya..
❤️❤️