Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 24



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 24


Daun maple berguguran di taman kota dekat mansion keluarga Hartono. Brian masih duduk termenung seorang diri. Para bodyguardnya berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk, mereka hanya menunggu dengan patuh. Cuaca sedikit dingin karena musim gugur hampir berakhir. Brian tampak sangat tampan dengan mantel panjang abu- abu dan sweater woll dengan warna senada.


“Daun gugur terlihat indah, sayang raut wajahmu merusak pemandangan ini.” Elisa duduk di bangku taman, bersebelahan dengan Brian yang juga duduk dan menikmati pemandangan itu.


“...” Brian hanya diam tak menjawab.”


“Kopi..” Elisa menyerahkan se-cup kopi panas ke tangan Brian.


“Thanks.”


“Sure.. apa yang membuatmu terlihat menyedihkan seperti kucing kehujanan..?” Elisa meneguk kopinya.


“Kau lihat warna daun ini, sangat indah.” Brian mengambil selembar daun yanh jatuh di dekatnya.


“Terus??” Elisa bingung.


“Coklat kemerahan, seperti warna rambut Renny.” Ucap Brian lembut.


“Oh.. Kau memanggilku hanya ingin pamer warna rambut adikmu?” Elisa tersenyum dan kembali menikmati kopinya.


“Aku harus bagaimana agar dia mencintaiku Lisa?”


“Kau bertanya pada orang yang salah Brian.” Jawab Elisa.


“Aku saja nggak punya keberanian mengejar orang yang aku cintai.” Pikir Elisa dalam hatinya.


“Kau benar, kenapa aku bertanya padamu?” Brian meneguk kopinya.


“Setidaknya kau masih bisa terus melihatnya Brian.”


“Tapi dia selalu murung.. aku ingin melihatnya bahagia.”


“Bagaimana dengan papa dan mamamu?” Tanya Elisa setelah diam beberapa saat.


“Belum ada kabar.” Jawab Brian sedih.


“Apa mereka akan menerimamu.. er.. sebagi menantu?”


“Aku akan meminta ijin dari mereka saat mereka kembali.”


“Oh begitu.”


“Kau sudah bereskan urusanmu?” Brian mengganti topik pembicaraan mereka.


“Sudah, thanks to you.” Elisa tersenyum.


“Jadi bagaimana kabar mereka sekarang?” Brian tampaknya sedikit tertarik dengan kabar balas dendam Elisa pada keluarganya.


“Mengemis seperti anjing gila, di tolong menggigit di usir juga menggigit.” Elisa tertawa bahagia.


“Apakah kau begitu membenci mereka?”


“Aku membenci mereka sampai ke sumsum tulangku..” Elisa tersenyum pahit.


“Tapi kadang mengampuni bisa membuatmu lebih bahagia Lisa.”


“Kau sangat lucu Brian, kenapa tidak kau katakan hal itu pada dirimu sendiri?” Elisa mendekam erat coatnya.


“Betul juga..! Hahahah.. aku memang tidak mungkin menang beradu mulut dengan seorang pengacara.” Brian memasukan tangannya ke dalam saku mantel.


“Dingin juga. Ayo kita pulang!! Kau membuang waktuku yang berharga untuk curhatan hatimu..” Ajak Elisa.


“Kau duluan saja.”


“Aku anggap pembicaraan ini sesi konseling, aku akan kirimkan tagihannya.” Lambai Elisa meninggalkan Brian.


“Lakukan semaumu.” Lambai Brian.


“Apa yang harus aku lakukan padamu Renny? Jangan buat aku menjadi orang yang jahat.” Brian menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di bangku.


.....................


“Kaya camping ya, Jay..”


Jay memandang bintang- bintang di langit dan teringat ucapan Renny saat mati lampu di kamarnya.


“Jay?!” Panggil ayahnya, dia keluar dan ikut duduk di teras belakang.


“Papa, angin malamkan nggak baik buat kesehatan.” Jay bangkit dari tidurannya.


“Hla kamu terus ngapain tiduran di sini?”


“Ngelamunin anak orang Pa.” Jawab Jayden sedih.


“Masih nggak ada kabar?”


Jay bergeleng menjawab pertanyaan papanya.


“Kamu sudah mau lulus SMA kan Jay, sudah pilih universitasnya?”


“Sudah Pa. Aku pilih bisnis.” Jawab Jay mantap.


“Bukannya kamu mau pilih teknik mesin dulu?”


“Tujuan hidupku sekarang bukan hobiku Pa. Tapi janjiku padanya.” Jay kembali memandang langit malam.


“Lakukan apa yang ingin kau lakukan Nak. Kita pasti mendukungmu.”


“Trims Pa.”


Jayden melihat bintang yang bertaburan, mengharapka Renny juga ada di sampingnya saat ini. Walaupun jauh terpisah jarak dan waktu, Jay yakin akan mampu memeluk Renny kembali.


......................


“Benarkah???! Aku boleh kuliah???” Renny terlihat sangat bahagia.


“Iya. Tuan muda bilang begitu.”


“Akhirnya aku keluar dari rumah ini. Aku sumpek seperti ini terus.” Renny bangkit dan masuk ke kamar mandi.


“Mau saya bantu miss?” Tanya Sonya ikut senang.


“Boleh..”


Tok tok tok..


“Miss Renny, tuan muda meminta anda turun untuk sarapan.” Pelayan lain mengetuk pintu kamar Renny.


“Miss Renny sedang mandi, dia akan segera turun.” Jawab Sonya.


“Baik.”


“Duduk dan makanlah.”


“Oke.” Jawab Renny sekedarnya.


“Sonya sudah memberitahumu?!” Tanya Brian.


“Huum.” Renny menganggukan kepalanya.


“Walaupun kau kuliah dan boleh keluar rumah bukan berarti tidak ada yang mengawasimu Renny.”


“Aku tahu.” Renny menghela nafas sebal.


“Sampai kau kabur atau menghubungi cowok itu, aku pasti mencarinya.” Ancam Brian.


“Bawel amat sih?! Iya..iya..” Renny menghentikan suapannya.


“Saat papa dan mama pulang aku akan membicarakan tentang hubungan kita.”


“Kau gila?? Sampai matipun aku nggak sudi jadi kekasihmu, Brian. Dan kau pikir papa mama akan mengijinkannya??” Renny merasa sangat marah mendengar ucapan Brian.


“Aku akan memohon kepada mereka bila perlu, Renny.”


“Gilla..!” Renny bangkit dan berlari kembali ke kamarnya.


Brian diam saja mendengar umpatan Renny. Dalam hatinya malah merasa bahagia karena Renny mulai sedikit bersemangat kembali.


......................


“Tekuk dulu sikumu ke dalam seperti ini. Lalu kerahkan tenaga and punch.. sudah ngerti?”


“Sudah coach.” Jayden mengangguk mengerti instruksi dari pelatihnya.


“Oke coba mulai lagi gerakannya.”


“Baik.” Sorot mata Jay menajam.


“Kanan, kiri, kiri, kanan, kanan, up!! Tenagamu kurang Jay..!”


“Ternyata nggak mudah ya.. pantes aja aku kalah lawan Brian.” Jay menggelengkan kepalanya.


Sebulan belakangan Jay mulai mengikuti latihan kick boxing di gym. Bukan profesional sih, hanya sekedar belajar mengerti tentang olah raga ini.


“Istirahat dulu Jay.”


“Baik coach.”


Jay meneguk habis seluruh air dingin di dalam botol. Keringatnya bercucuran dan membasahi seluruh badannya.


“Aku harus lebih baik dari Brian.” Jay kembali menempatkan diri di depan sand sack.


“Jayden!” Panggil seorang pria paruh baya, tubuhnya tegap dan masih terlihat muda. Dia memakai setelan rapi.


“Siapa??” Jay terlihat bingung.


“Saya Nicky, asisten pribadi tuan Andre.” Nicky tersenyum dengan hangat.


“Papanya Renny?? Bagaimana kabarnya?? Apakah dia tahu Brian mengambil Renny?? Apakah dia nggak mencoba menghalangi??”


“Sabar.. satu- satu.” Nicky menahan cercaan pertanyaan dari Jayden.


“Mana bisa aku sabar??! Bagaimana kalau Brian melukai Renny?”


“Tuan muda bukan tipe orang yang tidak memakai otaknya. Dia juga selalu menyayangi miss Renny dengan tulus, jadi tidak mungkin akan menyakiti miss Renny. Anda bisa tenang.” Nicky mengajak Jayden duduk.


“Lalu om Andre?”


“Masih belum pulih, sempat tidak sadar juga. Tapi masih bertahan.” Nicky terihat sedih.


“Maaf aku tahu bukan hal mudah untuk mereka sebagai orang tua.” Jay merasa malu tidak bisa melindungi Renny.


“Ini. Ada titipan dari tuan Andre.”


“Siapa ini?” Jay melihat sebuah kartu nama yang di titipkan oleh Andre.


“Dia yang membantu Brian naik, dia juga bisa membantumu menurunkan Brian.” Nicky menepuk pundak Jayden.


“Elisa?? Siapa dia?”


“Saatnya tiba anda akan tahu. Kata tuan Andre kalau nggak bisa menang lawan tuan muda nggak cocok jadi menantuku. Pergi saja!!” Nicky cengar cengir sambil menirukan nada bicara Andre.


“Apa??” Jayden melongo, merasa ujiannya terlalu ekstream.


“Sudah ya. Saya pergi, ingat kau harus menang supaya aku bisa menikah??! Aku nggak mau jadi perjaka tua yang menikahi perusahaannya.” Nicky mengepalkan tangannya menyemangati Jayden, hatinya terasa ingin menangis mengingat mempertaruhkan nasibnya pada seorang anak SMA.


Jay hanya terbengong- bengong memandang kepergian tamu nggak di undangnya itu.


“Menikah? Dengan perusahaan?” Gumam Jay bingung.


.......................


Maaf up nya sedikit sekali..


Lagi dikejar tugas negara..


Awowokwokwok...^^


See u next episode readers


I❤️❤️❤️yu..


Tetep like comment dan fav ya..


Baca juga novel saya yang lain.


Judulnya:



Muse


Dinda


Terimakasih


selamat membaca..