Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 4



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 4


Renny melamun malam itu, sudah 2 minggu sejak pertemuannya dengan Jayden. Renny sangat merindukan Jay, setiap hari dia mencari alasan yang tepat agar bisa pindah ke Indo. Apalagi Liburan Jayden hanya tinggal seminggu ini. Kalau Renny tidak menyusulnya entah kapan lagi dia bisa bertemu dengan Jay lagi.


“Papa..” Renny memanggil Andre dengan nada suara selembut mungkin. Melangkah masuk ke dalam ruang kerja Andre.


“Heem??” Andre masih sibuk dengan laporan yang menumpuk di depan meja.


“Bolehkah aku pindah sekolah ke Indo??”


Andre langsung menghentikan pekerjaannya dan memandang wajah cantik putrinya.


“Kau mau sekolah ke Indo? Kenapa?” Andre mendekati Renny, duduk bersandar di meja kerjanya.


“Kepingin aja. Kan Renny harus belajar mandiri pa.” Renggek Renny manja.


“Nggak panas kok.” Andre membandingkan suhu tubuhnya dan Renny. Kali aja demam mengganggu kesadarannya.


“Paan sih?!”


“Hahaha.. kenapa tiba- tiba mau ke Indo? Katakan yang sejujurnya Renny!” Andre langsung bisa menebak pikiran anak gadisnya itu.


“Ahahahah... papa bisa aja! Nggak ada alasan khusus kok!” Jawab Renny.


“Kau berbohong!”


“Iya aku bohong!! Alasan yang sebenarnya karna ada anak cowok yang aku suka.” Ucap Renny malu- malu.


Wajah Andre langsung berubah, otot- ototnya menegang. Sepertinya Andre tidak menyukai jawaban jujur dari Renny.


“No..”


“Pa...”


“Final answer.” Bentak Andre.


“Kenapa?”


“Pokoknya nggak boleh.”


“Papa Jahat!!”


“Siapa namanya??” Daughter complex mulai Andre keluar.


“Kenapa? Papa mau cariin dia? Jangan pa.. nanti dia makin nggak suka sama aku.” Renggek Renny.


“Dia nggak suka sama kamu??? Dan kamu bela- belain kejar dia sampai ke Indo??” Andre semakin marah.


“Papa dulu juga gitu sama mama.”


“Papakan saling cinta sama mama, lagian cowok kejar cewek itu lumrah. Kalau cewek kejar cowok?? Apalagi anak papa!! No!!” Andre menentang keras.


“Kata mama kalau cinta wajib di perjuangkan!” Renny ikutan menaikan nada suaranya.


“Pokoknya papa belum rela kamu pacaran!! Apalagi mengejar cowok!!” Andre menyudahi percakapan itu dan meninggalkan Renny.


“Papa jahat!!” Renny mulai menangis.


.....................


10 hari kemudian


Honolulu..


“Makan ini. Enakkan?” Via menyuapkan sesendok poke rice ke mulut Andre.


“Iya enak.” Jawab Andre.


“Habis ini main ke pantai? Aku sudah beli bikini baru.” Via membisikan candaan ke telinga Andre. Membuat telinganya berwarna merah.


“Kalau gitu nggak usah jalan- jalan. Di kamar saja..” Andre merangkul Via.


“Hahahaha.. nggak mau. Ayo jalan- jalan. Sudah sampai di sini, sayangkan kalau cuma di hotel aja.”


“Oke. Mau ke berlayar ke laut atau snorkeling?”


“Snorkeling terdengar menarik, ke Hanauma beach?”


“Oke.”


Via menggandeng Andre berjalan menyelusuri bibir pantai. Sepanjang perjalanan mereka tertawa dengan bahagia.


Tapi senyuman Via nggak berlangsung lama karna banyak perempuan yang melirik dan tersenyum ke arah Andre membuat Via cemburu.


“Kenapa sih?? Apa mereka nggak menganggapku??”


“Ingat umur kitalah.” Andre tertawa.


“Jangan bawa- bawa umur ah.” Via mencubit perut Andre.


“Hah.. andai Renny di sini. Aku punya teman untuk bermain.” Via menghela nafas.


“Lalu aku??” Tanya Andre.


“Kamu sembunyi di hotel aja. Biar nggak banyak yang godain.” Senyum Via jengkel.


“Tumben juga Renny nggak mau ikut?” Andre mulai curiga.


“Iya juga ya.. Biasanya kalau kita ajak dia nggak pernah nolak.” Via ikutan merasa aneh.


“Boss.” Suara Nicky terdengar dari belakang.


“Kenapa?” Andre menoleh.


“Telephon dari Carl. Katanya darurat.” Nicky tampak kesusahan mengatur nafasnya setelah berlari.


Wajah Andre terlihat tegang dan dengan cepat mengambil hp dari tangan Nicky.


“Kenapa Carl?” Tanya Andre tanpa basa basi.


“Miss Renny tuan, miss Renny nggak ada di kamarnya. Dia kabur dari rumah.”


“Apa?”


“Iya tuan, dia membawa 1 buah koper besar dan beberapa baju menghilang.”


“Sudah periksa kamera pengawas?”


“Sudah Tuan, bisa dipastikan miss Renny pergi antara jam 12- 1 dini hari.”


“Trus kerjaan penjaga di rumah ngapain??? Pecat semuanya!!! Kerja ngawasin rumah aja nggak becus.”


Klik.. Andre mematikan hpnya dengan marah.


“Nicky, kau cari Renny. 1x 24 jam sudah harus ketemu.” Andre melemparkan hpnya kembali ke Nicky.


“Baik boss.”


“Kenapa sayank?? Renny kenapa?” Wajah Via ikut terlihat bingung.


“Dia kabur dari rumah kemarin malam.”


“Bagaiamana bisa??”


“Seminggu yang lalu dia berdebat denganku ingin pindah sekolah ke Indo untuk mengejar cowok! Bagaimana mungkin aku memberinya ijin???!” Andre memberitahu Via.


“Kenapa kau nggak cerita??”


“Aku kira dia sudah menurut.”


“Kenapa malah ketawa?” Tanya Andre.


“Memang papanya pernah nurut? Renny ternyata sangat mirip denganmu.” Via meledek Andre.


“Bener juga.” Andre teringat masa mudanya yang sering membangkang saat papanya menyuruh berpacaran dengan Sinta. Andre lebih memilih Via dan mengambil jalan yang nekat.


“Tapi baru kali ini Renny senekat ini. Dia bahkan meninggalkan semua credit cardnya. Apakah dia benar- benar menyukainya?” Via bertanya- tanya.


“Aku tidak tahu.” Andre tidak punya jawaban.


“Bagaiamana kalau kita lihat saja dulu sayang.”


“Apa maksudmu? Membiarkannya mengejar cowok itu? No!” Daughter complex Andre mulai kumat.


“Siapa tahu dengan belajar mandiri, sifat Renny akan berubah. Dan juga kita bisa menjauhkan Brian dari Renny.” Via memberikan idenya.


“Kau benar.” Andre tampak menyetujuinya.


“Cepat atau lambat Brian harus melupakan Renny. Ini lebih baik untuknya, dan juga Renny.”


Andre menghela nafas dan menyetujui masukan Via. Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain mengawasi Renny dari jauh. Memberikan dia kesempatan untuk hidup mandiri mungkin bisa jadi sebuah awal perubahan yang lebih baik.


......................


Kemarin..


QSland city, Ausi..


Renny membenamkan wajahnya di atas bantal dan menangis. Bertanya- tanya kenapa Andre papanya nggak memberikan kesempatan untuknya mengejar Jay. Padahal perasaan Renny sangat menggebu- gebu, dan dia sangat menyukainya.


“Nggak, aku mau ke Indo. Aku harus mengejar Jay.” Renny bangkit dan menghapus air matanya.


Renny berlari dan mengambil koper dari lemari pakaian, mengisinya dengan beberapa lembar pakaian dan perlengkapan seadanya.


“Kalau aku jual perhiasan papa akan tahu di mana aku.” Renny mengurungkan niatnya untuk membawa perhiasan- perhiasannya.


“Kalau aku pakai Credit Card mama juga bisa melacakku.” Renny memandang rentetan platinum dan priority cardnya.


“Hiks.. selamat tinggal kartu- kartu saktiku.” Renny menciumi kartunya satu per satu.


“Oh.. bawa uang cash saja.” Renny pergi ke brangkas pribadinya.


“Uang 10 juta aja setebal ini.. mau bawa sampai berapa?” Renny tersungkur memandang tumpukan uang.


“Aku harus bagaimana?? Masa hidup tanpa uang???” Renny melempar uang itu kembali ke brangkas.


“Lupakan!! Uang bisa dicari.. tapi Cinta hanya bisa di raih.” Renny mulai berapi- api.


Akhirnya Renny mengepak kopernya dengan baju dan beberapa tas branded koleksinya. Renny akan menjual tas dan pakaiannya. Setidaknya akan ada cukup uang untuk masuk ke SMA dan biaya hidup beberapa bulan. Sisanya dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.


“Oke semuanya sudah siap!” Renny tersenyum puas.


Paspor cek..


Koper cek..


Hati cek..


Renny mengambil nafas panjang..


“Tinggal beli tiket pesawat. Aku harus membelinya secara manual di counter bandara agar papa ta bisa melacakku.”


“Tunggu aku Jay.” Renny tersenyum manis dan melaju menuju bandara. Jam sudah menunjukan jam 1 malam saat Renny diam- diam kabur dan pergi meninggalkan rumah.


Hari ini ada dua hal yang baru pertama kali Renny lakukan.


Mengejar cinta pertamanya..


Dan membuat keputusan tergila pertama dalam hidupnya.


.....................


Esoknya..


KOTA J \~ INDO


Diluar bandara terasa begitu panas, sudah lama Renny nggak merasakan hawa panas seperti ini. Negara tropis memang beda, panasnya mampu membuat kulit terpanggang.


“Akhirnya sampai juga.” Renny berjalan gontai menuju kamar mandi.


“Pesawat kelas ekonomi bikin mual!! Sempit..!” Renny mencuci mukanya dengan air, berharap ada sedikit kesegaran mengisi semangatnya.


“Wah ternyata aku nekat juga.” Renny terkagum dengan dirinya sendiri.


“Sepertinya aku memang anak papa untuk urusan mencintai seseorang.”


(Saat yang sama di tempat lain. “Hatching..!”


“Siapa yang lagi ngatain aku?” Andre bersin.)


Renny segera mengambil kopernya dan memanggil taxi. Dia memberikan alamat yang di tulis Mila pada pak sopir. Renny sangat fasih berbahasa Indo, jadi dia nggak kesulitan saat tiba di negara ini.


“Sudah sampai neng.” Kata pak sopir.


“Hah di sini pak?” Renny kaget melihat apartemen tempat tinggal Jay. Jauh dari kesan mewah dalam bayangan Renny, tapi juga tidak terlalu buruk. Apartemen sederhana karna biaya sewanya yang terjangkau. Tapi cukup bersih dan lingkungannya sangat nyaman, banyak pepohonan membuat apartemen ini terasa rindang.


“Permisi!!” Renny mengetuk pintu pemilik gedung.


“Ada yang bisa saya bantu?” Seorang ibu tua keluar dari dalam ruangan kecil yang bisa dibilang adalah kantor.


“Saya mau menyewa kamar studio (mini apartemen/ kos dengan kamar mandi dalam) di samping kamar ini.” Renny menunjukan tulisan tangan Mila.


“Ah, kamarnya nak Jay.”


“Masih adakah??” Tanya Renny antusias. Matanya berbinar senang.


“Masih ada satu kamar di sebelah kamar nak Jay, tapi sudah cukup lama tidak di pakai.” Wanita tua itu mengeluarkan surat- surat daftar penyewa apartemennya.


“E..madam.. berapa biaya sewanya??” Tanya Renny lagi.


“Kamar itu lembab dan jelek, pengap dan rapuh. Masih ada kamar lainnya, kau mau melihatnya dulu?” Tawar wanita itu.


“Kalau bukan di sebelah jay, aku tidak mau.” Ucap Renny.


“Butuh waktu untuk merenovasinya.”


“Tidak perlu di renovasi, cukup bersihkan saja dengan baik. Aku hanya mau kamar itu.” Renny tersenyum.


“Baiklah, karna kau gadis yang sangat cantik dan baik, aku berikan potongan, sewanya 20 juta/ tahun.”


“Kalau di bayar dengan ini bagaimana?” Renny mengeluarkan tas D**r , harganya paling tidak 50juta.


“Ini asli??” Mata madam Nur berbinar.


“Asli donk!! Bersertifikat.. “ Jawab Renny dengan nada meyakinkan.


“Ok deal..”


“Deal.. senang berbisnis dengan anda madam...?”


“Nur, madam Nur.”


“Ok madam Nur.. “


Renny tersenyum menunjukan lesung pipit dikedua sudut bibirnya, padahal dia kira akan susah mendapatkan kamar di sebelah kamar Jay. Tapi ternyata takdir menuntunnya dengan mudah. Ternyata memang kalau jodoh itu nggak akan kemana.


........................