Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 21



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 21


Brian mengencangkan tali putih yang melilit di telapak tangan sampai ke pergelangan tangan. Ia kembali memukul sand sack yang tergantung di depannya. Peluh menetes dari kening dan lehernya.


Carl berdiri tegak di dekatnya, tangannya membawa handuk untuk membersihkan tubuh dari keringat. Carl menaruh handuk dan segelas air dingin di meja.


“Tuan Brian, sekretaris Kim mencari anda.”


“Suru dia menungguku!”


Brian menyelesaikan olah raganya lebih cepat dari biasanya.


“Presdir.” Sapa Sekretaris Kim.


“Ada apa?” Tanya Brian, tangannya menyahut handuk di atas meja.


“Akusisi perusahaan Kinsley sudah hampir selesai.”


“Bagus.. Berikan semuanya pada Elisa.”


“Baik Tuan muda.”


“Apa papa tidak memberikan kabar apapun, Pak Kim?” Tanya Brian, dalam hati kecilnya dia masih merasa bersalah.


“Sama sekali tidak ada kabar. Tuan Andre menutup semua kegiatannya selama di Jerman.”


“Baiklah. Persiapkan pesawat ke Indo, aku akan menjemput Renny besok.” Brian kembali ke dalam ruang utama.


“Baik presdir.”


..........................


“See you gaes..” Renny memeluk sahabatnya satu per satu.


“Hiks.. belum mau berpisah..” Nella memeluk Renny dengan erat.


“Kapan kau kembali ke Ausi?” Tanya Bella.


“Belum tahu, aku menunggu kabar dari papa dan mama.”


“Brian sekarang jadi presdir, beritanya menyebar cepat di kalangan pengusaha.” Ucap Hilda.


“Itu memang sudah seharusnya.” Renny tersenyum.


Jayden kaget mendengar ucapan Hilda, tapi dia diam saja. Ternyata apa yang diucapkan Andre sudah benar- benar terjadi.


“Hei Jay. Kau jaga Renny baik- baik.. Kami masih belum mau menerimamu sebagai pacar Renny.” Tunjuk Hilda.


“Iya.. kemarin kau malah ngajakin Renny dan pergi sendiri!!” Gerutu Nella sebal


“Betul Jay!! Tapi kami maafin karna kamu sweet banget!!” Bella menyela.


Jayden hanya tersenyum simpul, untuk apa dia butuh ijin dari mereka. Renny dan dirinya sama- sama saling cinta kok..


“Sudah sana pergi jauh- jauh..” Jay mengusir mereka.


“Jayden..” cubit Renny.


“Sudah ayo kita juga pulang, gate nya sudah open.” Ajak Jayden.


“Bye bye girls..” Renny mengekor Jayden, sesekali menengok ke belakang.


“Ah aku jadi pengen punya pacar.” Gumam Bella.


“Sama oppa aja, dia patah hati tuh Renny punya pacar.” Jawab Nella.


“Iya, katanya hati yang sakit mudah untuk di hibur.” Celetuk Hilda.


“Nggak mau!! Maunya yang sweet kaya Jay..!”


......................


Renny tiduran malas di lantai kamarnya, kamarnya kini menjadi jauh lebih baik dari dulu. Plafonnya sudah benar, cat dindingnya berwarna pink, interiornya sangat cute dan manis. Fentilasinya bagus sehingha udara mengalir masuk ke kamar dengan baik, membuat perasaan nyaman dan senang.


“Jay masih bekerja.. aku sekarang tidak perlu bekerja..BOSAN!! tidak ada hal yang bisa aku lakukan..” Renny melihat ke sekeliling.


“Oh pakaian bersihku menumpuk. Apa aku menyetrikanya saja ya?” Renny melihat tumpukan baju di keranjang pakaian.


Renny sama sekali belum menyentuh pekerjaan rumahnya setelah pulang dari liburan. Dengan bahagia Renny menggelar lembaran kain untuk menyetrika baju- bajunya. Entah kenapa melakukan pekerjaan rumah itu terasa sangat menyenangkan.


“Oh kenapa ada baju Jay?” Renny melihat sebuah kaos Jayden yang ada di tumpukan bajunya.


Renny teringat sebelum pergi menyuruh Jayden membereskan cuciannya agar tidak kehujanan. Karna terburu- buru ingin menyusul Renny, kelihatannya Jayden membereskan punyanya sekalian dan mengumpulkannya dalam satu wadah yang sama.


“Bau Jay nempel di mana- mana.” Renny senang dan mengusap- usap baju Jay.


“Apa aku pakai aja?!” Renny mencobanya, dan kebesaran.


“Aih.. cocok!!” Teriak ReNny, Padahal sama sekali nggak cocok.


“Hm.. apa ini?!” Renny mengambil sebuah celana dalam.


“Milik Jay!??” Renny terdiam sesaat lalu wajahnya merona sangat merah.


“Haduh jiwa haluku meronta- ronta.”


“Ren, aku bawa makanan nih..” Jay masuk dan mengagetkan Renny.


Renny masih memegang dan mengamati celana dalam di tangannya.


“Ini bisa aku jelasin kok..” Renny terlihat sangat malu dan meletakan kembali celana dalam di tangannya.


Jayden langsung berlari dan mengambil semua miliknya.


“Kau lihat semua?!” Renny mengangguk menjawab pertanyaan Jayden.


“Nggak usah khawatir Jay.. Aku cuma mau bantu setrika aja.” Renny menarik pakaian Di tangan Jay.


“Nggak usah, aku bisa setrika sendiri.” Jayden bangkit dan kembali ke kamarnya.


“Ah.. cute banget..!! Gara-gara celana dalam aja terlihat cute banget.” Renny di mabuk cinta.


Renny mengikuti langkah kaki Jay yang kembali ke kamarnya.


“Ayo kita makan es krim Jay.” Ajak Renny.


“Langitnya mendung, mau hujan!”


“Kan malah asyik Jay.” Renggek Renny.


“Ya sudah ayo.” Jay mengganti bajunya dan bergegas keluar.


“Kau mau rasa apa Jay?”


“Mocha deh.”


“Aku coklat aja.” Renny mengambil dua buah cup es krim dan membayarnya.


Renny berjalan menyelusuri perkampungan dengan Jayden, menikmati sore hari dengan se cup es krim bisa membuatnya sebahagia ini.


“Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalin aku ya, Jay.” Pinta Renny.


“Ngomong apa sih?!” Jawab Jay malu.


“Cincin ini terlihat manis sekali di jariku.” Renny kembali memandang blood ring miliknya.


“Kita menikah pakai cincin ini aja Jay.” Tambah Renny.


“Kita mikirin lulus sekolah dulu aja Ren.” Jayden mengelus punggung Renny.


“Oh iya kitakan masih sekolah.. Siyap boss..” Renny menggandeng tangan Jay.


Air Hujan yang menetes pelan dengan cepat berubah menjadi deras, Jay dan Renny berteduh di depan sebuah toko yang telah tutup tak jauh dari apartemen mereka


“Kedinginan?” Tanya Jay.


“Sedikit. Hatching!!”


“Tuh kan, hujan- hujan malah makan es krim.” Sentil Jay.


“Pakai jaketku.” Jay melepaskan Jaketnya dan menyelimuti Renny.


“Kelihatannya nggak bakalan terang deh Jay. Kita lari aja yuk!” Ajak Renny.


“Ayuk.” Jay membentangkan jaketnya untuk menutupi mereka berdua saat berlari.


Brian tetap duduk di dalam mobil sedan mewah berwarna hitam yang terparkir di dekat apartemen Renny. Tangannya mencengkram hancur buket bunga yang di bawanya. Hatinya terbakar rasa cemburu saat melihat Renny dan Jayden berlari bersama di tengah hujan.


5 pria tegap dengan stelan jas hitam berdiri di dekat mobil Brian. Mereka adalah beberapa orang bodyguard yang biasanya mendampingi Renny saat di Ausi.


“Bagaiamana presdir? Miss Renny tampaknya sudah pulang.” Tanya Pak Kim dari kursi depan.


“Aku akan keluar dan menemuinya.” Jawab Brian.


Pak Kim membukakan pintu mobil untuk Brian, salah satu bodyguardnya memberikan payung padanya. Brian tampak tampan dengan setelan jas slim suit berwarna abu-abu, walaupun menggunakan iner suit tapi dada tegap Brian tetap terlihat di balik outfitnya yang tebal. Brian membuang buket bunga di tangannya. Dan bergegas berjalan ke arah Renny dan Jay.


“Renny!” Panggil Brian.


Jay dan Renny menghentikan langkahnya, hujan masih mengguyur mereka berdua. Renny terpaku dengan pemandangan di depannya.


“Brian!!” Seru Renny.


Jayden kaget dan langsung melihat ke arah Brian. Pria itu memasang wajah penuh kebencian kepadanya. Jayden teringat dengan pembicaraannya dengan Andre, dia langsung menarik Renny ke belakang tubuhnya.


“Ada apa Jay?”


“Renny, betulkah dia Brian?” Tanya Jay.


“Iya, dia Brian kakakku.” Jawab Renny.


Brian menyuruh pria di sampingnya berhenti memayungi langkahnya. Dengan perlahan Brian mendekati Jay dan Renny. Brian melepaskan dasi yang mengikat kemejanya, lalu memutarkannya di telapak tangan.


“Renny ayo kita pulang..!” Ajak Brian.


“Nggak mau!! Aku mau di sini sama Jay!” Jawab Renny.


“Renny, apa yang bisa cowok ini kasih ke kamu?! Dia hanya anak SMA biasa, sedangkan kamu seorang putri dari keluaraga kolongmerat.” Brian semakin mendekat.


“Aku mencintai Renny.” Jawab Jay.


“Cinta??!! Hahahaha.. cinta?!” Brian berlari dan memberikan pukulan tepat di wajah Jayden.


“JAY!!” Renny berteriak.


Derasnya hujan mengguyur mereka bertiga, darah keluar dari pipi dan ujung bibir Jayden. Renny berusaha membantu Jay untuk bangkit berdiri. Brian masih memandang Jayden dengan perasaan penuh kebencian dan kecemburuan.


“Ayo kita pulang Renny..!” Brian mencengkram tangan Renny dan memaksanya mengikuti langkah kakinya.


“Lepasin!! Lepasin Brian!! LEPASIN AKU!!” Teriak Renny, dia masih meronta- ronta.


“LEPASIN RENNY!!” Jay berteriak.


“Kalian pegang miss Renny. Jangan sampai lepas!” Printah Brian pada para bodyguardnya.


“Kalahkan aku, maka aku akan melepaskan Renny.” Brian mendekat ke arah Jayden.


“Jangan Brian, jangan!! Jay pergilah!! kau tidak akan mungkin menang melawan Brian.” Renny menangis, dia masih meronta- ronta ingin melepaskan diri.


“ARG!!” Jay bangkit dan berusaha memberikan pukulan kepada Brian.


Brian menahan pukulan Jay dan memberikan balasan ke perut Jay. Jay terhempas dengan Keras, Brian kembali mendatangi Jayden dan memukul wajahnya, memberikan luka yang cukup serius di pelipis Jay. Darah kembali keluar dari mulut Jayden, Rasa pening menguasai kepala Jay saat ini. Telinganya berdengung, sehingga susah membedakan mana suara hujan dan mana suara teriakan Renny.


“Lepasin Renny, brengsek!” Jay mengumpulkan kekuatannya dan meninju wajah Brian. Brian terkena pukulan Jayden untuk pertama kalinya.


Brian merasakan perih di wajahnya, dia mengelap darah yang keluar dari sudut mulutnya.


“Good.. sekarang aku punya alasan untuk menghabisimu.” Brian kembali mendekati Jayden.


Brian memukul wajah Jay berkali- kali, dasi yang terlilit berubah warna karna banyaknya darah yang keluar dari hidung Jayden.


“Hentikan!! Aku mohon!! HENTIKAN!!” Renny menangis dan meronta- ronta. Hatinya sangat sakit melihat Jayden terluka seperti itu.


Brian mengatur nafasnya yang tersenggal- senggal karna lelah.


“Kalian lanjutkan, habisi dia!” Ucap Brian.


3 orang pria berstelan hitam mendekati Jayden dan mulai menghajarnya. Renny semakin menangis sejadi- jadinya. Tubuhnya meronta sampai akhirnya terlepas dari cengkraman kedua bodyguard Brian.


“TIDAK!! Hentikan.. KUMOHON HENTIKAN!!” Renny berlari dan memeluk Tubuh Jayden.


Renny menahan pukulan yang diberikan untuk Jayden.


“Renny!!” Panggil Brian.


“Kenapa kalian pukul Renny?!” Brian memberikan bogem mentahnya.


“Maaf boss nggak sengaja, miss Renny tiba- tiba saja melindungi pria itu.”


“Ayo ikut aku!!” Brian kembali menggandeng tangan Renny.


“Nggak!! Aku nggak akan meninggalkannya.” Seru Renny marah.


Tubuh Jayden terkulai lemas, darahnya mengalir dan tercampur lumpur serta air hujan.


“Renny maafkan aku. Aku nggak bisa melindungimu.” Ucap Jayden lemah.


“Nggak Jay!! Jangan bicara, simpan tenagamu.” Renny terisak di samping Jayden.


“Angkat Renny dan bunuh anak itu..!” Perintah Brian.


“Jangan Brian...jangan!! Aku akan ikut denganmu, tolong jangan bunuh Jayden!! Aku mohon jangan bunuh Jayden.” Renny menangis dan berteriak, bangkit untuk mengampiri Brian.


“Baiklah Kau ikut aku pulang, aku lepaskan dia.” Brian menggandeng tangan Renny.


“Setidaknya ijinkan aku berpamitan..” Renny memohon, tapi Brian tak menggubrisnya.


“Cincin murahan apa ini?” Brian melepaskan blood ring dari jari manis Renny.


“JANGAN BRIAN!!” Renny menahannya tapi tenaga Brian jauh lebih besar.


Brian melemparkan cincin itu pada Jay, cincin mungil itu menggelinding dan berhenti di depan tubuh Jay.


“JAY AKU AKAN MENUNGGUMU!!” Renny berteriak sebelum masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.


Jay kehabisan tenaganya, wajah dan tubuhnya terasa sangat perih. Entah kenapa rasa sakit itu tidak ada apa- apanya di bandingkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya. Harga dirinya terluka, dan cintanya hilang. Jayden merasa menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini.


“RENNY!!!” Teriakan Jayden menutup kesadarannya dan jatuh pingsan.


Derasnya hujan menjadi saksi bisu atas kekalahan Jayden hari ini.


........................


Hallo readers..


Update satu lagi ya ^^


Brian sangat keren hari ini..


Dan Jay sangat menggemaskan..


Besok ijin nggak update ya..


I lap yu gaes ❤️❤️❤️