Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 22



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 22


Renny menangis sampai tenaganya habis, dia terkulai lemas di atas kasur.


“Urus miss Renny dengan baik, panggilkan dokter juga.” Perintah Brian kepada Sonya, pelayan pribadi Renny dulu.


“Baik tuan muda.”


“Pak Kim, persiapkan pesawatnya, kita kembali ke Ausi.” Brian menutup telfonnya dan segera bergegas mandi dan membersihkan diri.


“Sialan. Harusnya tidak seperti ini, aku terlalu emosi.” Brian mengguyur kepalannya dengan air dingin.


“Renny pasti membenciku.” Brian mengusap rambutnya kebelakang.


Brian memakai baju yang lebih santai dan masuk ke kamar Renny. Renny tertidur dengan tenang, dokter memberikan obat penenang dan salep pada luka- luka memar di tubuhnya. Sonya juga sudah mengelap dan mengganti bajunya dengan baju kering dan bersih.


Brian duduk di samping Renny, tangannya menggenggam erat tangan Renny, sekali dia memberikan ciuman di punggung tangannya.


“Maafkan aku Renny.” Ucap Brian lirih.


“Kenapa kau begitu mencintainya.. bahkan rela menerima pukulan dan melindunginya.” Brian mengelus luka lebam di pelipis, dan tangan Renny.


“Aku juga mencintaimu Renny, dari dulu aku mencintaimu. Dari saat kita kecil aku mencintaimu, berusaha menjadi yang terbaik untukmu.” Mata Brian terlihat berkaca- kaca.


Brian mengecup kening Renny dan beranjak meninggalkannya keluar ruangan.


........................


Jay aku mencintaimu...


Jay tetaplah di sampingku..


Jay teruslah bersamaku..


Jay apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku..


Jay..


Jay..


“Jay!!!”


“JAY!! Jayden..!”


“Kau sudah sadar?”


Jayden mengerjabkan matanya pelan, berusaha untuk melihat siapa yang terus memanggilnya. Bayangan Renny yang dari tadi terus tersenyum dan berada di sampingnya menghilang perlahan. Senyum manisnya memudar seiring dengan bangkitnya kesadaran tubuh Jayden.


“RENNY!!” Jay terperanjat kaget, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.


“Argh..!!” Jay menahan rasa sakit yang menghantam kepalanya, keringat dingin memenuhi seluruh tubuh Jay.


“Jay tenang.. tenang.. kau terluka..”


“Thea??? Di mana aku??”


“Ini di rumah sakit Jay. Kamu sudah nggak sadar 3 hari Jay.”


“Apa??? Renny?? Di mana Renny?”


“Siapa Renny?” Thea kebingungan.


“Renny?? Aku harus mencarinya.” Jayden mencabut paksa jarum infus di tangannya, membuat darah segar keluar dari pergelangan tangan Jay yang memucat.


“Jay!!” Thea menahan Jayden.


“Lepasin aku Thea. Aku harus menemukannya.” Air mata keluar jadi mata Jay.


“Kau nggak lihat dirimu??! Babak belur seperti ini??” Thea mencengkram lengan Jay agar tidak bangkit.


“Renny.. dia menungguku.. dia menungguku Thea!!” Jay tampak lebih tenang, dia menangis di pelukan Thea.


“Jay.. kau harus sembuh Jay, aku tidak tahu siapa Renny, tapi kalau kau ingin mencarinya, kau harus kuat dan sembuh dulu untuk menemukannya..!” Thea memeluk tubuh adiknya.


Isakan tangis Jay terdengar lirih di telinga Thea, hanya 2 kali ini Jay pernah menangis, waktu mamanya meninggal dan saat ini. Thea tidak mengenal siapa Renny, tapi yang pasti Jay sangat mencintainya, sampai merasakan kesediahan yang begitu besar. Dada Thea merasa sesak melihat Jay terluka seperti ini.


“Aku akan kembali ke rumah Thea, aku akan belajar mengurus perusahaan.” Jay mengelap air matanya.


“Betulkah?? Papa pasti senang mendengarnya Jay.” Senyum Thea.


“Sekarang aku bukan apa-apa!! Aku harus bangkit dan mendapatkan Renny kembali.” Jay menghapus air matanya. Sorot matanya berubah tajam.


“Iya.. aku akan mendukungmu.” Peluk Thea, air matanya ikut menetes.


.......................


Jayden berjalan menyelusuri area apartemen. Masih banyak bekas luka di wajahnya, membuatnya tidak nyaman berpapasan dengan orang lain. Jayden menutup wajahnya dengan masker dan menutup tudung jaket hoodienya.


Jay menyelusuri area taman, mencari blood ring milik Renny.


Jay berjalan pelan- pelan di seputar taman, memutar matanya untuk menemukan benda kecil mengkilap itu. Sepatu sneaker putih yang di pakai Jay berubah warna karna terciprat genangan- genangan air.


“Ketemu.” Pikir Jay senang.


Jay memungut cincin dari kubangan lumpur yang terbentuk setelah hujan deras semalaman.


Hari ini Jay meninggalkan apartemennya untuk kembali ke rumah keluarga besar Harjanto. Jayden akan kembali belajar untuk mengurus perusahaan ayahnya, Jay sadar dirinya sekarang bukanlah lawan Brian. Butuh kekuatan dan dukungan papanya untuk bisa menang melawan Brian dan mendapatkan Renny kembali.


“Mari tuan muda.” Seorang sopir membukakan pintu mobil untuk Jayden.


“Terimakasih.” Jay bergegas masuk kembali ke dalam mobil.


..........................


“Brengsek kau Brian!!” Umpat Renny, wajahnya memerah karna marah, matanya terlihat sembab dan keluar lingkaran hitam di sekitarnya, rambutnya acak- acakan.


Sudah dua hari nafsu makan Renny menghilang, tidak menyentuh sama sekali makanan dan minuman yang di sediakan pelayan.


Brian hanya diam dan memandang keadaan Renny dengan sedih. Bukan ini yang dia mau, bukan sosok Renny yang menggila, bukan sosok Renny yang menyedihkan seperti ini.


Brian ingin sosok Renny yang ceria, yang penuh semangat seperti sebelum Renny pergi keluar dari rumah dulu.


“Hentikan Renny, sadarlah!!” Brian mencengkram pundak Renny.


“Kenapa kau tega?” Renny terisak.


“Semua demi dirimu.” Brian berjongkok di depan Renny, menggenggam erat tangannya.


“Aku mohon Renny, jangan menyiksa dirimu.” Brian mencium punggung tangan Renny.


“Tidak!! Aku ingin bersama Jay!!” Renny menarik tangannya.


“Jay lagi, JAY terus!!” Brian bangkit dan membanting nampan makanan di samping Renny.


Renny terkejut dan sedikit takut.


“Kau tahukan apa yang bisa aku lakukan?? Sekali lagi kau sebut namanya di depanku, aku akan mencarinya dan membuatnya menderita Renny..!” Emosi Brian memuncak.


“Tidak!! Jangan..” Pinta Renny, wajahnya semakin pucat.


“Ingat!! Keselamatannya tergantung bagaimana kau bersikap Renny. Kalau kau masih menyiksa dirimu dan terus tidak mau makan, besok aku pasti akan mencarinya!!” Ancam Brian.


BLAM!!


Brian membanting pintu kamar Renny.


Renny masih menangis dan terisak di dalam selimutnya.


“Aku merindukanmu, Jay.” Isak Renny.


“Aku ingin memelukmu...”


...............................


Jay memandang hujan yang menetes di balik jendela kamarnya. Sudah lama dia tidak menempati kamar itu, barang- barangnya masih tertata dengan rapi, bahkan letaknya tidak ada yang berubah. Keluarganya masih selalu membersihkan dan merawat kamar Jay dengan baik. Hanya sprei polos berwarna biru navy yang terlihat berantakan karna Jay belum merapikan barang- barang yang tergeletak di atasnya.


“Jay..”


“Papa.” Jay menghampiri arah suara itu.


“Kenapa sampai begini?? Siapa yang memukulmu??” Wajah Mr. Harjanto terlihat sangat marah.


“Ini karna aku yang terlalu lemah.” Jawab Jayden dan kembali melihat ke arah luar Jendela kamarnya.


“Papa senang kamu pulang Jay..! Uhuk.. uhuk..”


“Tenangkan dirimu, Pa. Duduklah dulu.”


“Perusahaan ini mamamu ikut membangunnya Jay, sudah seharusnya kau yang meneruskannya. Papa sudah tua, sudah sakit- sakitan.”


“Aku masih harus banyak belajar.” Jay berjongkok di depan papanya.


“Maafkan papa Nak!”


“Sudahlah, Pa. Jay sudah mengerti sekarang. Jay tahu perasaan yang meluap saat mencintai seseorang bukanlah sesuatu hal yang bisa kita tahan.” Senyum Jayden.


“Kau sudah besar ya, bisa menasehati papa sekarang.” Senyum pria tua itu merekah.


“Cepatlah sembuh dan ajari aku bekerja Pa.”


“Oke.” Tepuknya beberapa kali di pundak Jay.


Jay kembali berdiri dan menikmati angin dingin yang terbentuk sehabis hujan, buliran air menetes di kaca jendela. Jay merasakan hatinya sangat sesak, dia merasakan rindu yang teramat sangat menyelimuti perasaannya. Tangannya masih menggenggam erat cincin mungil milik Renny.


“Aku merindukanmu Renny.” Gumam Jay.


“Aku ingin memelukmu..”


........................


Hello gais..


I’m back up date lagi ^^


Huhuhuhu... (T_T)


Sedihnya nggak bisa nulis saat- saat Jay dan Renny berdua lagi.. hikszz...


Tetep dukung kisah cinta mereka ya gais..❤️❤️❤️