
SIDE TO SIDE
ACT 26
Satu bulan kemudian ...
Via menunggu operasi penyedotan cairan yang menumpuk di dalam organ hati mamanya. Perasaannya bercampur baur antara sedih dan juga bahagia, khawatir dan juga semangat.
Semoga Mama bisa sembuh. Via berdoa dalam hati.
“Via.” Di depannya ada Leo yang sudah lama nggak terlihat.
“Leo? Dari mana saja kamu?” Via kaget mendengar suara yang begitu dikenalnya.
“Bagimana keadaan Mamamu?” tanya Leo.
“Hari ini oprasi, setelah kondisinya setabil Andre akan membantu Mama mendapatkan pengobatan yang lebih baik,” jawab Via.
“Jadi kau sudah memutuskan?” Leo meletakan tasnya dan duduk di sebelah Via.
“Leo, aku minta maaf. Kau teman terbaik dalam hidupku, aku nggak mau melukai perasaanmu.” Via menggenggam tangannya.
“It’s Ok, kebahagianmu kebahagianku juga.” Leo tersenyum.
“Leo ...!” Via merangkul Leo.
“Kau gadis yang baik, Kau berhak bahagia, Via.” Leo menepuk-nepuk punggung Via.
“Kenapa tokomu selalu tutup?” Via melepaskan pelukannya.
“Aku akan pindah ke kota J, kalau masih di sini aku nggak akan bisa move on darimu.” Leo setengah menggoda.
“Apaan sih.” Via tersenyum.
“Jaga diri baik-baik. Hubungi aku kalau kau butuh sesuatu. Seandainya aku bisa membantu, aku pasti membantumu.” Leo mengacak-acak rambut Via.
“Kau juga harus menghubungiku. Aku doakan kamu sukses Leo.” Sekali lagi Via tersenyum manis.
“Bye.”
“Bye.”
Leo berjalan semakin menjauh, kini Via hanya bisa melihat punggung yang hangat itu menghilang dari pandangannya.
Kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku Leo. Via meremas tangannya.
“Kenapa?” Tiba- tiba suara Andre mengagetkan Via.
“Kau membuatku kaget.”
“Kau menangis?” tanya Andre melihat mata Via yang berkaca-kaca.
“Nggak, kok.”
Andre memeluk Via. “Tenang mama pasti sembuh.” Andre mengusap lengan Via, menyalurkan semangat.
“Bukan karena mama saja ...,” tukas Via.
“Lalu?”
“Leo mengucapkan perpisahan denganku barusan,” jawab Via.
“Oh, baguslah!” Nada suara Andre malah terdengar lega.
“Hah ... dasar.” Via mencubit lengan Andre.
“Auch ...!” Andre meringis sakit.
“Kau nggak mau pindah ke Villaku?” Andre mencoba melemparkan pertanyaan yang sama dengan kemarin.
“Rumahku masih layak aku huni.” Via memberikan jawaban yang sama.
“Bagaimana kalau aku kangen?” Andre menyandarkan kepalanya di pundak Via.
“Telfon, chat, sosmed, banyak yang bisa dilakukan oleh ponsel jaman sekarang,” jawab Via.
“Bagaimana kalau aku ingin melahapmu?” Andre tersenyum licik.
“A—apa?” Wajah Via langsung berubah menjadi merah sangking malunya.
— SIDE TO SIDE —
“Presdir, perusahaan A mulai membuka investasi terhadap chip yang mereka kembangkan.” Linda memberikan laporan.
“Kamu sudah patenkan teknologi kita?” tanya Andre.
“Sudah, sedang proses. Tapi bagaimana kalau kita kalah cepat?” tanya Linda kawatir.
“Yang kau tunjukan baru hasil setengah jadi, keunggulan dari chip itu jauh lebih dari yang kau bayangkan, aku baru saja menyempurnakannya.”
“Baik, Presdir.”
“Laporan lainnya?”
“Resort mulai di bangun, investor mulai masuk.”
“Bagus, ada apa lagi?”
“Nyonya menelfon menanyakan kapan presdir pulang.”
“Nanti aku akan menelfonnya.”
“Baik saya permisi.” Linda keluar dari ruang kerja Andre.
•
•
•
“Hallo, Mama bagaimana kabarmu?” sapa Andre lewat video call.
“Dasar anak ini!!! Kerja mulu!! Kapan kamu pulang?? Mama kangen!!” Suara keras keluar bertubi-tubi dari speaker ponselnya.
“Sabar, Ma. Kalau sudah selesai pasti aku pulang.” Andre tersenyum.
“Kamu tersenyum??” Sarah kaget, sudah lama Andre nggak tersenyum hangat seperti sekarang ini.
“Kenapa heran melihat aku tersenyum?” Andre bingung.
“Gapapa, oh ya ini ada beberapa foto gadis gadis manis dari latar belakang yang bagus. Mama kirim, ya, kamu cobalah pilih untuk kencan buta.”
“Mama, aku bisa memilih jodohku sendiri.”
“Tapikan jodoh nggak turun dari langit. Kau tetap harus berusaha!”
“Sudahlah, Ma.”
“Andre, akhir- akhir ini firasat Mama nggak enak. Mama khawatir sama kamu, kalau kamu terus menolak, siapa yang akan mendampingi dan merawatmu kelak?”
“Aku sudah menemukan wanita impianku sendiri, Ma.”
“Benarkah? Siapa? Kapan aku bisa menemuinya?”
“Segera. Sudah ya, aku tutup dulu.”
“Baik, hati- hati sayang, jaga kesehatan.”
“You too mom.”
Andre mengakhiri video callnya.
— SIDE TO SIDE —
“Mama, Mama sudah sadar?” Via terlihat bahagia, ia langsung menggenggam tangan mamanya.
“Via, tenggorokan Mama kering sekali.”
“Tunggu, Ma, Via ambilkan air.” Via bergegas mengambil air.
“Kita di mana?” tanya Riska, matanya masih berat saat mengamati kondisi disekitarnya.
“Di rumah sakit, Ma,” jawab Via.
“Kenapa kamarnya bagus sekali?”
“Ini ruang VIP, tentu saja bagus.” Via tersenyum.
“Kenapa di ruang VIP? Biayanya pasti mahal.” Riska tampak panik.
“Mama tenang, Ma. Mama baru saja siuman.” Via menenangkan mamanya yang mulai khawatir.
“Via, sudah berapa lama Mama nggak sadar?”
“Trus nanti setelah Mama stabil kita pindah ke Rumah Sakit di kota ya, Ma.”
“Darimana uang sebanyak itu, Nak?”
“Via pinjam dari teman,” jawab Via.
“Temanmu baik sekali??” Riska terlihat bingung.
“Kau masih mengenalkanku sebagai teman ke Mamamu?” Andre masuk dan mengagetkan mereka berdua
“Kak Andre.”
“Bagaimana keadaan Tante? Nama saya Andre.” Andre memegang tangan kurus di depannya.
“Masih sedikit pusing, apa kau yang membantu kami? Terima kasih.” Riska bersusah payah untuk mengeluarkan suaranya.
“Jangan banyak mengeluarkan tenaga dulu, Ma.” Via menahan tubuh mamanya.
“Untuk apa sungkan, kita akan menjadi keluarga.” Andre mengambil kursi dan duduk di sebelah Via.
“Jadi kalian?”
“Iya kami pacaran,” sahut Via.
“Setelah Tante sembuh, saya akan melamar Via.” Andre menggenggam tangan Via.
“Jadi Mama harus cepat sembuh.”
“Akhirnya, Mama bisa tenang kalau ada orang yang bisa menjagamu.” Riska tersenyum, air matanya menetes.
“Kenapa malah menangis, sih?” Via jadi ikutan berkaca-kaca.
“Sudah-sudah, Mama hanya bahagia. Via bisa kamu keluar sebentar? Mama ingin bicara dengan Andre.” Riska menyuruh Via untuk keluar.
“Hah?? Kenapa? Pake rahasia segala?” Via ngedumel tapi pergi juga.
“Apa yang ingin Tante bicarakan?” Andre bertanya dengan penasaran.
“Apakah kau betul-betul menyukai anakku?” tanya Riska.
“Kenapa bertanya hal itu? Tentu saja saya serius, apa Tante meragukanku?” Andre bertanya dengan lembut.
“Kau sangat tampan, Via hanya gadis biasa. Mana mungkin aku nggak bertanya-tanya.” Riska tersenyum.
“Aku akan selalu menjaganya, mencintainya, aku serius untuk melamarnya.” Andre menggenggam tangan Riska yang tampak pucat karena lama tidak terkena sinar matahari.
“Penyakitku ini serius, Tante nggak tahu kapan akan dipanggil Tuhan. Tapi begitu melihatmu mencintai Via setulus hati, Tante bisa tenang sewaktu-waktu meninggalkan Via.”
“Jangan ngomong sembarangan. Tante pasti sembuh.” Andre menepuk-nepuk tangan calon mertuanya itu.
“Terima kasih.” Senyum kembali terkembang di wajah Riska, garis halus di pinggir mata dan bibirnya terlihat semakin jelas.
Setelah berbincang sebentar Andre pamit keluar.
“Mama ngomong apa sih sampai aku nggak boleh dengar.” Via langsung mencerca Andre dengan pertanyaan.
“Kepo amat?” Andre mencubit pipi Via.
“Ngobrolin apa?” Via mendesak.
“Hmmm ... mamamu tadi menyuruhku untuk segera membuat cucu-cucu yang lucu.” Andre menggoda Via.
“A—apaan sih.” Via memukul lengan Andre.
“Ayo kita pulang dan segera membuatnya.” Andre merangkul pundak Via dan mengajaknya berjalan.
“Ih, Kak Andre!!”
— SIDE TO SIDE —
“Mereka bersiap lauching chip itu presdir, mereka menggandeng perusahaan ponsel yang sedang naik daun.” Linda menyodorkan pamflet iklan pada sebuah tabloit.
“Ternyata lebih cepat dari dugaanku.”
“Lalu apa langkah selanjutnya?”
“Ya kita tuntut mereka dengan tuntutan meniru teknologi kita.”
“Ba—baik presdir.”
“Pastikan kau mengecek pasar saham Linda, saham mereka pasti turun dengan drastis.”
“Apa kau akan membeli saham mereka?”
“Tentu. Beli dan paksa pemegang saham lain untuk menjualnya.”
“Baik, Presdir, saya permisi.”
Presdir sungguh kejam, bahkan perusahaan besarpun mau dilahapnya. Pikir Linda.
Lihat saja Sinta, papamu akan kuhancurkan lewat tangamu sendiri. Aku balaskan rasa malu yang dialami papaku dan juga Via dulu. Andre memandang keluar jendela.
— SIDE TO SIDE —
BRAK!!
Suara Sinta menggebrak meja terdengar jelas.
“Bagaimana bisa begini?”
“Mereka menuntut kita, Nona. Semua surat kabar memuat beritanya.”
“Sekarang kita dituduh meniru teknologi mereka.” Lanjut sekretarisnya.
“Sialan!! Aku kira wanita itu telah berpihak kepadaku, ternyata dia ... arg, sial!!!” Sinta menyapu bersih barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.
“Saham kita menurun drastis, Nona.”
Papa pasti kecewa padaku. Pikir Sinta kalut.
“Ada yang membeli saham kita dalam jumlah besar.”
“Siapa??”
“Aku.” Tiba-tiba Andre masuk ke dalam ruangan kerja Sinta.
“Andre kau??” Sinta menunjukan wajahnya yang merah karena marah.
Keringat bercucuran dari wajahnya yang cantik. Andre mengangguk memberi isyarat pada Linda dan Nicky untuk meninggalkan mereka berdua.
“Sekarang aku punya 45% saham perusahaan ini.” Andre duduk di depan Sinta.
“Kau sengaja menjebakku!” Sinta menghapus keringat di wajahnya.
“Benar.”
“Tujuanmu sebenarnya apa?” teriak Sinta.
“Menurunkan Papamu dari jabatan CEO, sama seperti Papamu menurunkan Papaku dulu.” Andre menjawab dengan santai.
“Kau nggak akan bisa, sahammu hanya 45%.”
“Kau akan segera memberikannya padaku.” Andre mendekatkan mulutnya ke telinga Sinta.
“Jangan mimpi.” Sinta menampar wajah Andre.
“Berikan sahammu 8%, aku tarik tuntutanku atas perusahaanmu.” Andre tetap tenang dan kembali duduk.
“Kau ...!” Sinta kehabisan kata-kata.
“Sinta, kalau aku batalkan tuntutannya bukankah produkmu tetap bisa launcing. Aku tahu kau berinvestasi banyak di dalamnya.” Andre menautkan jari jemarinya.
“Setidaknya kau tidak akan mengalami kerugian besar, hanya Papamu saja yang turun dari jabatan CEO.” Andre bangkit berdiri.
“Aku beri ku waktu untuk memikirkannya.” Andre bangkit dan hendak melangkah keluar.
“Tunggu ...!!” Sinta mengejar Andre.
“Aku berikan sahamku. Jangan hancurkan perusahaan ini.” Sinta menggenggam tangan Andre.
“Baik. Setidaknya aku masih memandang hubungan kita dulu.” Andre menarik tangannya dan bergegas keluar diikuti Linda dan Nicky dari belakang.
Sinta menangis dan tersungkur kelantai.
“Kenapa jadi begini?? Sialan kau Andre!!!” Sinta berteriak keras.
Rambutnya berantakan, wajahnya merah karena marah dan kesedihan memuncak di kepalanya, air mata dan keringatnya bercampur menjadi satu.
“Akan aku ambil segalanya darimu, akan kubunuh Via!” Sinta menghapus air matanya dan bangkit kembali.
— SIDE TO SIDE —