Side To Side

Side To Side
PURA-PURA



SIDE TO SIDE - JAKA


PURA-PURA


Siang hari pulang sekolah, sebelum kejadian JAKA nge-gym di kelasnya kak V.





“Terima kasih.” Lenna menganggukkan kepalanya berterima kasih pada pelanggan mini market. Hari ini hari pertama Lenna masuk kerja.


“Lenna..”


“Tante???” Lenna terkejut.


“Bisa kita bicara?”


“Tunggu, Tan. Sebentar lagi jatahku istirahat.” Lenna menyuruh tantenya agar menunggu sebentar.


Setelah seperempat jam berlalu, Lenna datang ke kursi santai di depan mini market. Tante Fifi sedang menunggunya. Ia sudah menghabiskan sebatang coklat dan teh botol dingin sebelum Lenna datang.


“Tan, kok bisa tahu aku kerja di sini?” senyum Lenna.


“Tante ke kos kamu, mereka bilang kamu sudah pindah. Terus pas tante jalan ke sekolahan liat kamu masuk ke mini market ini. Abis makan siang tante langsung cuss ke sini.” jelas tante Fifi.


“Kok Tante di Kota J, Papa gimana?” mata Lenna berkaca-kaca.


“Dinas kantor. Mas Bima udah Gpp kok. Sudah baikan, sudah sadar. Besok sudah boleh pulang ke rumah, Mamamu titip salam juga buat kamu.”


“Syukurlah kalau mereka sehat.” Lenna menghela nafas lega.


“Dept collector masih kejar-kejar kamu?”


“Masihlah, Tan. Utang Lenna-kan masih banyak. Eh.. Papa nggak tahu kan?”


“Nggak, Tante nggak pernah bilang kok.”


“Jangan sampai Papa tahu, Tan. Bisa masuk RS lagi dia.”


“Kamu juga kenapa sih mesti minjem uang dari dept colector gitu?! Mana pake bawa-bawa nama Papamu segala?” Tante Fifi melipat tangannya di depan dada.


“Buat pesangon pegawe, buat berobat Papa, buat bayar tunggakan sekolah. Ya kan jaminannya Lenna, Tan. Jadi walaupun pakai nama Papa juga nggak akan ngaruh ke rumah dan aset kita saat ini.” Lenna memutarkan jarinya ujung melingkar kaleng minuman dinginnya.


“Tapi kamu terlalu nekat, Lenna.”


“Nggak ada cara lain.”


“Ada, kamu kan cantik! Cari cowok yang kaya, menikah.”


“Nggak mau, ntar aku jadi kayak novel femes di Noveltoon yang dipaksa-paksa menikah itu. Ogah ah.. nikah kok di paksa.”


“Tante bela-belain masukin kamu ke sekolahan itu juga biar kamu ketemu sama cowo tajir. Yang bisa ngelindungi kamu.” Tante Fifi menggenggam tangan Lenna.


“Eh, Tan. Tante tahu nggak Lenna sekarang tinggal sama siapa?” Lenna menaikkan alisnya.


“Hah?? Siapa?”


“Arron, anaknya Julius. Yang bikin Papa bangkrut.”


“Apa?!! Gadis gila!! Kamu tinggal sama cowok???” Tante Fifi memukul lengan Lenna.


“Auch.. auch.. auch...” Lenna mengaduh kesakitan.


“Nggak mau nikah tapi malah tinggal sama cowok??!!” Tante Fifi memegang dadanya menenangkan emosi.


“Tan, pliss jangan nge-gas donk. Sumpah Lenna nggak bakalan macem-macem.” Lenna mengangkat tanda V dengan jarinya.


“Trus tante suru gimana? Tenang aja gitu tahu keponakannya yang masih gadis ini tinggal sama cowok???”


“Hlah Lenna nggak macem-macem, kita juga nggak ngapa-ngapain, Tan.” Lenna mencoba berbicara dengan tenang.


“Semua cowok itu buaya!! Lengah sedikit aja melendung nanti kamu!!” Jewer Tante Fifi.


“Adududuh... Lepasin donk, Tan.”


“Tapi tunggu! Bukannya Julius itu kaya raya? Jadi anaknya juga kaya donk?! Oke ga-pa-pa.. kamu nikah saja sama dia!!” Tunjuk Tante Fifi dengan antusias.


“Enak aja, dibilang jangan dipaksa!” Lenna sebel.


“Trus mau ngapain?? Kalau ada yang tahu kamu tinggal berdua sama cowok bisa-bisa masa depanmu suram.” Tante Fifi kembali menegur Lenna.


“Lenna cuma sementara kok, Tan. Begitu dapet uang lagi Lenna pindah.”


“Ini Tante kasih uang, pindah gih!”


“Jangan Tan. Lenna tahu tante juga lagi butuh banyak uang. Apalagi Tante udah bantu banyak buat biaya RS Papa.” Lenna menolak bantuan dari Tantenya.


“Trus kapan kamu bisa pindah?”


“Soon deh. Lenna masih betah, soalnya Lenna mau balas dendam dulu sama Arron.” Cengir Lenna.


“Balas dendam?”


“Iya, lagian juga dia bisa ngelindungi Lenna dari para dept collector itu.”


“Jangan macem-macem, Lenna! Nanti kamu bisa jatuh cinta beneran.”


“Nggaklah, sekali musuh tetep musuh.” Lenna tersenyum.


“Dasar!! Gadis nakal.”


“Sssstt.. udah sayang.” Pelukan Tante Fifi menenangkan hati Lenna.


“Tante pulang, gih! Lenna harus balik bekerja.” Lenna menghapus air matanya.


“Bener kamu nggak papa kan?”


“Iya, Tan.”


“Ingat, jangan sampai melendung!!”


“Apaan sih?”


“Segera pindah!”


“OK.”


Setelah melambaikan tangannya pada Tante Fifi, Lenna kembali pada pekerjaannya.


>>> JAKA <<<


“Aduh perut gw kok nggak nyaman, ya?” Lenna memegang perutnya saat berjalan menuju kembali ke bengkel.


“Ah, tanggal 10, pasti gw mau bulanan, nih.” Lenna mengingat-ingat tanggal tamu bulanannya datang.


Lenna menaiki tangga ke atas, bengkel terlihat gelap, berarti Arron nggak di rumah. Lenna mengambil air dingin dari dalam kulkas. Setelah meminumnya Lenna bergegas untuk mandi.


“Duh, nggak nyaman banget sih?!” Lenna sebel. Biasanya memang sakit sih, tapi kali ini lebih sakit dari biasanya, mungkin gara-gara air es yang diminumnya barusan.


“Yah..., keluar. Mana gw belum beli pembalut lagi.” Lenna mendengus sebal saat melihat air shower yang mengguyur tubuhnya sedikit bercampur dengan warna merah.


Selesainya berganti pakaian Lenna bergegas menyahut tasnya. Sepertinya masih ada cadangan 1 biji. Lenna memang biasa menyediakan sebuah pembalut di dalam tas sekolahnya. Jaga-jaga kalau bulanannya datang saat berada di sekolah.


“Untung masih ada satu.” Lenna tersenyum dan kembali ke kamar mandi.


Lenna hendak bergegas membeli pembalut saat mendengar suara pintu garasi di buka. Arron sepertinya sudah pulang entah dari mana.


“Duh, kok perut gw tambah nggak enak, ya? Mana nggak punya pembalut. Males banget mau ke mini market.” Lenna merebahkan diri di atas kasurnya, pelipisnya mulai mengeluarkan keringat dingin.


Arron bergegas naik dan membuka pintu rumahnya. Melemparkan tasnya pada sofa dan melepaskan sepatunya. Arron merasa sangat gerah dan pengen segera membersihkan diri.


“Adduuuhh..” rintihan Lenna terdengar.


“Len?!!” Arron mencari asal suara Lenna.


Arron berjengit kaget, wajah Lenna terlihat pucat. Lenna meringkuk sambil memegang perutnya, keringat dingin membasahi pelipisnya.


“Lenna? Lo kenapa?” Wajah Arron berubah khawatir.


“Arron, tolongin gw donk.” Lenna membuka matanya.


“Tolongin apa? Lo jangan bikin gw takut deh!! Jangan mati di sini, ntar kalau di jual nggak laku propertinya.” Arron duduk di samping Lenna.


“Brengsek lo!! Nyumpahin gw mati!! Sialan.” umpat Lenna, bocah nakal di depannya ini bikin esmosi, mana baru PMS lagi.


“Lo kok galaknya udah kaya kucing mo beranak gitu?” Arron mentowel pipi Lenna.


“Hei, Nerd!! Gw mo minta tolong, lo malah nyumpahin gw.. aduduh..!!!” Lenna memegang perutnya lagi.


“Minta tolong apa? Beliin Obat maag apa mencret?” Arron menautkan alisnya mencari jawaban.


“Beliin gw pembalut.. pliss... perut gw sakit banget, gw nggak bisa jalan jauh.” Lenna menjawab pertanyaan Arron.


“Pilihannyakan cuma dua, maag apa mencret. Kok jadi pembalut???” Arron menggaruk kepalanya salah tingkah.


“Arrroooooonnn!!!!! Gw itu MENS, butuhnya PEMBALUT, Bukan obat MENCRET!!” Lenna menekankan bagian demi bagian yang penting.


“Iya, iya, gw catet.. pembalut!! Ngapain sih pake beli pembalut segala? Emang bisa bikin sakit perut lo reda?”


Lenna cengoh, sebenernya ni anak tahu pembalut apa nggak sih??!


“Lo lulus materi reproduksi nggak?” Lenna bertanya.


“Lulus kayaknya. Sayang nggak ada prakteknya.” Arron mengangguk senang.


“Iiihhh.. gemes gw.” Lenna memukul Arron dengan bantal.


“Iya..iya gw beliin.” Arron bangkit.


“Ini gambarnya, gw share!!” Lenna mengirimkn gambar pembalut ke ponsel Arron.


“OK.” Arron membuat tanda OK dengan jarinya. Arron keluar dan bergegas mencari apa yang di minta Lenna.


Lenna bangkit dari tempat tidurnya. Mencari parasetamol untuk mengurangi rasa nyerinya. Beberapa saat kemudian Lenna berpikir, “kok lama banget, dia carinya ke mana? Jangan-jangan toko besi?”


Yak akhirnya si Ketos kita mengemban kembali tugas negara untuk mencari pembalut. Semoga Arron nggak tersesat, ya. Nggak beli di toko bangunan atau toko listrik.


>>> JAKA <<<


Jaka Up


Jangan lupa di comment dan di like.


Yuk ikut GC ku.


Bisa chat sama diriku cuint..


❤️❤️❤️


Baca MUSE lagi ada event berhadiah