
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 16
“Fu*k!!!” Brian melemparkan sebuah gelas berisikan minuman keras ke dinding ruang kerjanya.
Di atas meja kerja ada banyak foto- foto yang memperlihatkan kedekatan Renny dengan Jayden.
“Jadi selama ini dia bersenang- senang dengan Pria ini!!!” Brian merebahkan dirinya di atas sofa.
“Padahal di sini aku hampir gila karna merindukannya.” Brian kembali melihat foto Renny dengan Jayden.
“Brengsek!!!!” Umpatan demi umpatan kembali terdengar.
Brian menyalakan airpod dan menelfon Sekretarisnya.
“Pesankan aku tiket ke Indo.”
“Tuan muda, akan ada rapat besar komite dan pemegang saham, bagaimana mungkin anda terbang ke Indo.”
“Sialan...!” Brian kembali mengumpat.
“Nona Elisa telah bekerja keras mempersiapkan surat- surat legalnya. Hanya tinggal menunggu komite mendesak tuan Andre menyerahkan posisinya.” Pak Kim kembali menasehati Brian.
“Kau benar, kalau aku ingin mendapatkan hasil yang baik aku harus mengikuti prosesnya.” Brian menarik nafas dan menenangkan dirinya.
“Baik tuan muda. Hubungi saya kalau anda butuh sesuatu.”
Brian mematikan panggilannya.
“Tunggu aku Renny, aku pasti mendapatkanmu kembali.” Brian meremat foto di tangannya.
.........................
“Dompetku hilang!” Seorang cewek di kelas Renny menjerit karena dompetnya hilang.
“Masa coba di cari lagi..” Semua orang berkerumun melingkar di bangkunya.
“Iya, sudah aku cari, nggak ada!!” Cewek itu menangis.
“Kita lapor guru aja.” Usul yang lain.
“Kenapa sih?” Renny bertanya pada Jay, mereka baru saja kembali dari kantin.
“Entahlah.” Jay mengangkat bahunya.
“Kenapa El?” Jay bertanya pada seorang temannya.
“Noni kehilangan dompetnya.”
Anak- anak akhirnya melaporkan masalah ini ke guru BK dan wali kelas mereka.
“Semuanya maju ke depan. Ibu akan periksa tas kalian satu- satu!”
“Baik Bu.” Semuanya menurut dan maju ke depan kelas.
Sedangkan para guru mencoba menggeledah tas mereka satu per satu.
“Ngapain di gledah? Kan ada cctv.” Renny berbisik pada Jay.
“Mungkin nggak kelihatan wajahnya.” Jawab Jay.
“Noni, kamu bilang dompetmu berwarna pink dan bergambar snoopykan?” Tanya bu Sari.
“Iya Bu.” Noni harap- harap cemas.
Bu sari menghentikan langkahnya di tas milik Renny, mengambil sebuah dompet pink bergambar snoopy. Renny terbelalak tak percaya dengan pemandangan itu. Mana mungkin dompet Noni ada di dalam tasnya padahal dia sama sekali nggak tahu apa- apa.
“Betul ini milikmu?” Bu Sari menyerahkan dompetnya kepada Noni.
“Betul Bu.” Jawab Noni setelah mengecek isi di dalamnya.
“Renny, ikut saya ke ruang guru.”
“Apa?? Saya tidak mengambilnya Bu!!” Seru Renny.
Semua teman- teman sekelas melihat ke arah Renny. Wajah Renny tampak pucat dan kebingungan.
“Jay sungguh aku nggak mengambilnya.” Renny melihat Jay dengan pandangan yang memelas.
“Tenang aja Renny. Kau ikut Bu Sari dulu, sebelum kita dapat buktinya.” Jay mengelus punggung tangan Renny.
“Bu dari tadi saya bersama Renny, dia tidak mungkin dia mengambil dompet Noni.” Protes Jayden.
“Dasar pencuri..! Mana ada pencuri yang mau ngaku.” Teriak Noni.
“Aku bukan pencuri..” Teriak Renny, air matanya hampir menetes.
“Iya wajahnya cantik tapi kelakuannya jelek..” Ejek yang lain.
“Diam!! Nggak boleh ada yang ribut!! Ayo Renny ikut ibu ke kantor.” Ajak Bu Sari. Mau tidak mau Renny hanya bisa mengekor dari belakang.
“Dasar cewek miskin, nggak tahu dia butuh uang buat apa sampai berani curi dompet orang lain?!” Noni marah dan memaki Renny yang lewat di depannya.
“Jangan keterlaluan Noni!!” Jayden membentak Noni.
“Jayden!!! Cukup jangan bertengkar!!” Teriakan Bu Sari membubarkan keramaian di kelas mereka.
Jayden berlari menuju ke ruang monitoring OSIS. Tidak mungkin Renny mengambil dompet Noni, Renny terus bersamanya pagi ini.
“Arron pinjam komputermu ya.” Jay memutar kursi Arron.
“Hei, santai bro, ada apa sih?” Tanya Arron bingung.
“Komputer OSISkan terhubung ke sistem sekolahan, aku ingin mencoba merentasnya. Aku harus mengecek rekaman cctv di kelasku.” Jari jemari Jayden bergerak cepat di keyboard komputer.
Enter..
Dan keluar rekaman cctv di kelas IPS 3.
Seorang cewek berambut panjang dan berwarna coklat kemerahan memasuki kelas pagi ini. Semua anak- anak masih berada di luar kelas pas pelajaran kesenian. Postur dan rambutnya sangat mirip dengan Renny, namun wajahnya tidak terlihat karna terus menunduk.
Cewek itu mendekati sebuah tas dan mengambil dompet, lalu memasukannya diam- diam ke tas Renny.
“Itu Renny?” Tanya Arron.
“Bukan. Itu bukan Renny.” Jayden berlari menuju ke ruang Guru.
“Permisi, Bu Sari.” Jayden mengetok ruang kantor wali kelasnya itu.
“Jayden?? Apa lagi?” Gerutu bu Sari saat membukakan pintu.
“Bukan Renny, bukan Renny yang mengambilnya. Ibu bisa cek cctv di kelas.” Jayden terengah- engah.
“Kami sudah cek Jayden, perawakan dan rambutnya milik Renny.” Jawab Bu Sari.
“Tidak Bu, Tangan Renny terluka karna kemarin kami bertukar cincin. Ada hansaplas di tangan kanan Renny.” Jayden mendekati dan mengangkat tangan kanan Renny.
“Di cctv tidak ada.” Jayden menggenggam erat jemari Renny.
“Jay..” Renny menangis.
“Jay.. sebenarnya ibu juga nggak ingin percaya Renny pelakukanya. Tapi hal sekecil itu tidak akan bisa membebaskan Renny.” Bu Sari kembali menghela nafas.
Jayden mengeluarkan rambut dari kantong yang di bawanya, rambut berwarna coklat kemerahan.
“Apa ini?”
“Wig. Saya menemukannya di sampah lapangan belakang.” Jawab Jay.
“Bu, ada yang menjebak Renny. Percayalah Bu.”
“Jay, sudahlah..” Renny menarik lengan blezer Jayden.
“Baik- baik. Kita lihat lagi Jayden. Kita ke ruang keamanan.” Ajak Bu Sari.
“Tenang saja, aku akan mencari buktinya Renny.” Jayden menyentuh pipi Renny dengan kedua tangannya.
“Makasih Jay.” Renny tersenyum manis.
“Hapus ingusmu.” Jay memberikan tisu pada Renny.
“Apaan sih.” Renny malu, entah kenapa setiap menangis ingusnya pasti ikutan keluar.
Setelah melihat kembali rekaman CCTV di temukan bahwa Renny sedang berada di kelas kesenian bersama dengan Jay.
Sedangkan cewek yang menyamar menjadi Renny menghilang di lapangan belakang yang tidak ada kamera pengawasnya. Jadi walaupun pelakunya belum bisa di temukan tapi setidaknya sementara Renny terbebas dari tuduhan ini.
“Terimakasih Jay. Aku nggak tahu kalau nggak ada kamu.” Isak Renny di dada Jayden.
“Hei, jangan menangis lagi.” Jayden mengelus rambut Renny dengn lembut.
“Ayo kita pulang. Kita pesan pizza buat makan siang.” Jayden mencoba menghibur Renny.
“Ada apa?” Tanya Jay, Renny masih menyembunyikan wajahnya.
“Aku dengar kelas kakak ada pencurian. Kak Renny di fitnah, aku cuman mau kasih dukungan sama kak Renny.”
“Ren, Kisna tuh.”
“Kakak nggak papa kan?” Kisna berusaha bertanya dan tampil semanis mungkin.
“Nggak papa kok.” Jawab Renny.
“Semangat ya kak Renny, Pelakunya jahat banget ngefitnah kakak.” Kisna ikut berjalan di antara mereka.
“Thanks.” Jawab Renny singkat.
“Aku duluan ya kak, sekali lagi semangat ya.” Kisna tersenyum dan meninggalkan mereka.
Kisna berjalan dan berbaur dengan teman- temannya. Ada yang aneh dengan caranya berjalan, Jay tampak mengamatinya.
“Jay, ayo pulang, katanya mau makan pizza.” Tarik Renny.
“Oh iya. Ayo.” Jayden kembali menggandeng Renny dan berjalan pulang.
......................
Renny duduk di sofa dan mengeluarkan pekerjaan rumahnya. Ada PR matematika yang sama sekali nggak bisa dikerjakannya.
“Jay kau nggak kerja?” Tanya Renny yang heran karena Jay duduk di sampingnya.
“Aku ijin, mau menemanimu, kau bilang mau makan pizza denganku.” Jayden menyandarkan kepalanya di bahu Renny.
“Asyik sudah lama aku ingin makan itu.” Senyum Renny.
“Kau mau yang topping apa?” Jay melihat- lihat menu di delivery online.
“Banyakin daging, beli cola juga.” Mata Renny berbinar senang.
“Oke.”
“Mumpung kamu libur, bantu aku kerjain PR.” Renny mengetuk buku di depannya dengan ujung pensil.
“Ada PR ya?” Jayden malah nggak tahu, padahal mereka satu kelas.
“Soal ini susah sekali.” Renny mengangkat bukunya.
“Sini pensilnya aku ajari.” Jayden mengambil pensil dan mulai menjelaskan cara pengerjaannya.
Renny tampak antusias melihatnya, sesekali mencuri pandang ke wajah Jayden yang tampan.
“Ngerti nggak?”
“Sedikit.” Senyum Renny.
“Kau bukannya liatin rumusnya malah ngeliatin aku.” Kata Jay kesal.
“Hahahaha, habis wajahmu ganteng banget sih, kan jadi nggak fokus.” Renny ngeles.
“Kemari duduk di sini, jadi kau nggak bisa ngeliatin wajahku.” Jay menarik Renny untuk duduk di antara kakinya, sehingga Jay harus memeluk Renny saat menjelaskan. Dagu Jayden bersadar di bahu Renny, tangan kirinya memeluk perut Renny dan yang kanan menulis di atas meja.
“Aduh Jay kalau begini lebih bahaya lagi. Aku tambah nggak bisa konsen donk..” Teriak Renny.
“Kamu jangan berpikir mesum donk!!” Jay memukul pelan kepala Renny dengan buku.
“Biasanya cowok yang mesum, ini yang cewek.” Jay bergeleng heran.
“Sudah ayo kita lanjutkan.” Renny menahan tawa dan geli.
“Jadi ini harus begini, terus di bagi nilai x nya supaya jawabannya ketemu..” Jay menjelaskan panjang lebar.
“Ah sialan, suaranya aja bikin meleleh..” Renny membanting pensilnya dan berbalik mencium Jayden.
“Renny..?” Jayden kaget.
“Nggak usah ngelawan, nikmati saja.” Renny tertawa dan kembali mencium Jayden.
Akhirnya Jay menyerah dan menikmati ciuman Renny. Lutut Renny berada di antara kedua kaki Jay, lengannya melingkar di leher Jayden. Jay mendoakan kepalanya untuk menyambut ciuman Renny.
“Kenapa ya ciuman itu sangat enak?” Renny menghentikan lumatannya.
“Entahlah.” Jayden kembali menarik tubuh Renny mendekatinya dan menciumnya lagi.
Jayden meraba punggung dan turun ke pinggang Renny yang ramping.
Tok tok tok..
Sebuah ketukan mengagetkan mereka.
“Delivery..” Seru pengantar Pizza.
“Ah gangguin aja.” Jayden menghentikan ciumannya, sedikit malas beranjak dari sofa karna ciuman Renny mulai meningkatkan hasratnya.
“Hihihihi..” Renny terkikih geli.
Kreet..(pintu terbuka)
“Ini pesanan anda.”
“Terimakasih.” Ucap Jayden.
“Terimakasih juga..” Seru paman pengantar Pizza.
Jayden menaruh Pizza di meja pantry dan kembali mendekati Renny.
“Aduh geli Jay..!” Renny merasa geli saat Jayden mencium pipi dan menggelitik perutnya.
“Kau jangan menangis lagi ya!” Jayden memeluk Renny.
“Nggak janjilah, air mataku itu senjataku.” Celoteh Renny senang.
“Aku benci melihatmu menangis.” Jay mengangkat kepalanya, memandang wajah cantik Renny dan kembali menciumnya..
Tok tok tok..
Sebuah ketukan kembali mengganggu mereka.
“Ah siapa lagi sih??!” Jayden kembali sebal.
“Ahahahaha..nggak usah di bukain Jay.” Tarik Renny.
Tok.. tok tok..!!!
Ketukannnya lebih cepat dan lebih keras.
“Siapa sih?? Kasar sekali.” Jay bangkit menuju pintu dan membukanya.
KReet..(pintu terbuka)
Buk!!!
Sebuah pukulan tepat mengenai wajah Jayden, membuatnya pusing dan sedikit mendengung.
“Brengsek!! Buka pintu aja lama banget!”
Jay menggelengkan kepalanya mencari kesadaran, lalu melihat siapa yang tiba- tiba memberikan pukulan ke wajahnya.
“Papa!!!?” Renny terbelalak kaget.
“Hallo Renny.”
“Mama!!!?” Renny kembali kaget.
“Apa??? Papa dan mama???!” Wajah Jayden terihat sangat kaget saat mendengar panggilan Renny pada tamunya itu.
Wajah Andre terlihat marah, otot lehernya menegang. Andre masih memegang tangannya yang terasa sakit karna menghantam Jay tanpa pelindung apapun. Via berdiri dan masih terus tersenyum manis, kini Jay tahu dari mana Renny punya wajah cantik dan senyum semanis itu.
Renny berlari memeluk papa dan mamanya. Walaupun sangat takut dengan ekspresi papanya yang bisa membunuh Jay kapanpun, tapi rasa kangen di hati Renny membuatnya ingin sekali memeluk mereka.
.......................
Hawllooow..
Side to Side season 2 sudah sampai setengah jalan. ^^
Terus dukung kisah cinta Renny, Jay dan Brian ya.
Like comment + fav gaes
Biar semangat gaes ^^
❤️❤️❤️❤️