Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 17



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 17


Andre memandang tajam ke arah Jayden. Ruangan kecil di apartemen Jayden tampak semakin menyempit, bukan karna banyaknya orang yang berkumpul di situ, tapi karena aura membunuh yang keluar dari mata Andre.


“Kenalin Pa, Ma. Ini Jayden.” Renny berusaha memecahkan keheningan.


“Sudah tahu.” Jawab Andre.


“Sudah tahu??” Renny bingung.


“Papa sudah tahu siapa dia Renny, bahkan siapa orang tua dan apa pekerjaannya.” Jawab Andre.


“Maksud papa?”


“Kau itu meremehkan papamu ya? Dari hari pertama kamu kabur papa sudah tahu kamu kabur ke mana! Apalagi cuma menyelidiki latar belakangnya.” Andre kembali membentak Renny.


“Sabar donk yank..” Via menyenggol siku Andre.


“Hallo Jayden. Saya mamanya Renny, yang wajahnya di tekuk ini papanya.” Via memperkenalkan diri.


“Salam kenal Om Tante.” Jayden masih mengompres pipinya dengan es batu.


“Cowok lemah, gitu aja menangis.”


“Pa!! Jay nggak menangis, dan lagian siapa juga yang nggak meringis kesakitan kalau di tonjok macam itu.” Bela Renny.


“Renny..” Jayden menahan amarah Renny.


“Oke ikut aku, aku ingin bicara denganmu.” Andre mengajak Jayden keluar untuk berbicara.


“Papa..” Renny mencoba untuk menahan papanya, takut kalau Andre kembali melukai Jayden.


“Its Ok Renny.” Jay menggenggam tangan Renny dan mengekor Andre.


“Renny, mama mau bicara dengnmu.” Via menahan tangan Renny agar tak mengikuti Jayden yang keluar bersama Andre.


“Mama..” Mata indah Renny berkaca- kaca.


“Kamu kurusan, pasti berat ya hidup sendiri?” Via mengelus pipi Renny.


“Huum.. iya Ma.” Renny mengangguk dan memeluk Via. Menangis di dadanya.


“Tapi senengkan?” Via mengelus rambut Renny dan menggodanya.


Renny tersenyum dan mengangguk senang.


“Tanganmu jadi kasar begini.” Via mengelus tangan anak gadisnya.


“Renny bekerja ma, cuci baju sendiri, cuci piring sendiri, bahkan Renny bisa masak juga, tapi yang gampang- gampang.” Renny mengoceh dan menceritakan segala sesuatu yang telah dialaminya belakangan ini.


“Kasihan anak mama, kamu pasti tersiksa?” Via menggenggam tangan Renny.


“Nggak kok Ma. Renny malah senang bisa bekerja dan menjadi mandiri.” Senyum Renny senang.


“Baguslah, tapi ngomong- ngomong kenapa kamu bisa tinggal bareng Jay?” Tanya Via.


DUAR!! Bagai petir di siang bolong pertanyaan Via membuat kaget Renny.


“Mati aku, kalau aku bilang aku yang mau tinggal di sini, bisa dijewer sama mama.” Pikir Renny dalam hati.


“Kamar Renny roboh Ma. Ngungsi..! Tapi tenang Ma.. tenang.. Renny nggak ngapa-ngapain kok.” Renny tampak gagap saat menjelaskan situasinya.


“Jadi bener kalian tinggal berdua? Trus Apa yang kau maksud nggak ngapa- ngapain?” Via melirik tajam.


“Aduh...mati aku.. kok malah nge iyain kalau aku tinggal di sini.” Renny memejamkan matanya sedih dengan kebodohannya.


“Renny??”


“Maafin Renny Ma. Renny terlalu cinta sama Jay, jadi sampai tinggal sama Jayden.” Renny akhirnya mengaku.


“Tapi demi Tuhan Ma, Renny nggak ngapa- ngapain kok. Nggak kelewatan batas kok..” Lanjut Ren


“Huuuhh....” Via menghela nafas panjang.


“Maafin Renny ya, Ma. Jangan bilang papa plisss.. Jay bisa di bunuh sama papa.” Renny memohon.


“Oke.. oke.. mama tata hati mama dulu.” Via kembali duduk, mengatur nafasnya beberapa kali.


“Ma..” Panggil Renny lirih.


“Renny, ada yang mau mama omongin. Mama harap kamu sudah cukup dewasa untuk menerimanya.” Via mengambil posisi duduk menghadap ke arah Renny.


“Apa itu Ma.”


“Setelah dari sini mama dan papa akan pergi ke Jerman.”


“Lalu?”


“Setiap tahun papa harus mendapatkan steam cell untuk memperbaiki ginjalnya yang mulai rusak.” Via menahan air matanya.


“Apa??” Renny kaget mendengarnya.


“Setiap ulang tahunmu kami nggak bisa menemani karena masalah ini.” Via kembali menunduk.


Air mata meleleh dari mata Renny.


“Bukan karna nggak sayang sama kamu Renny. Tapi memang karna nggak bisa.” Via menepuk pipi Renny pelan.


“Maafin Renny, Ma. Renny selama ini udah jadi anak pembangkang.” Renny menangis lagi.


“Sudahlah.. jangan menangis. Papa dan mama hanya ingin bikin kamu khawatir jadi nggak pernah menceritakannya.”


“Renny salah, Ma. Tetep aja Renny nggak bener.”


“Sekarang kamu sudah bisa berpikir seperti itu. Kamu bener- bener sudah berubah.” Via tersenyum.


“Satu lagi. Setelah ini papa akan stay di Jerman untuk menunggu pendonor dan transplantasi ginjal juga proses pemulihan, entah setahun, entah dua tahun, entah tiga tahun, kami belum tahu pastinya.” Via menghela nafas.


Renny menangis lebih histeris.


“Renny diam dulu dengerin mama!” Tiba- tiba mimik wajah Via mulai serius.


“Kenapa Ma?”


“Ini tentang Brian.”


“Kenapa dengan Brian.”


“Apapun yang dia lakukan itu semua karna dia menyayangimu. Baik Brian maupun kamu adalah anak mama.” Via terdiam sejenak.


“Semoga yang mama takutkan tidak terjadi, tapi apapun yang Brian lakukan, maafkanlah dia. Mama percaya Jayden mampu menjagamu, dan kalau kalian memang saling mencintai, kalian pasti akan menemukan jalannya.” Ucapan Via membuat Renny tertegun, ada beberapa hal yang sulit di terima oleh akal pikiran Renny.


“Memangnya Brian kenapa? Apa Brian marah karna selama ini Renny membencinya?”


“Nggak sayang, yang penting tetap jauhi Brian sampai papa dan mama kembali.” Via mengelus dan menghapus air mata Renny.


“Mama..” Peluk Renny.


“Kamu pasti lapar, mama masakain buat makan malam.” Via bangkit dan menuju ke pantry.


...........................


“Jadi sudah sampai mana??” Pertanyaan Andre langsung membuat wajah Jayden pucat.


“Maksud Om?”


“Nggak usah pura- pura nggak ngerti maksud saya deh!!” Seru Andre.


Mereka berdua berjalan sampai di taman dekat apartemen.


“Ciuman Om.” Jawan Jayden malu- malu.


“Bohong??! Nggak mungkin kamu nggak tertarik dengan wanita secantik Renny..!” Tuduh Andre.


“Nggak bohong kok Om. Sayakan cinta sama Renny, jadi saya pasti jagain dia.” Jay menyangkal tuduhan Andre. Emang susah sih nahan nafsunya, tapi praise God, selama seminggu tinggal bareng nggak pernah terjadi apa- apa. Jayden selalu menghabiskan tenaganya dengan jogging dan berlari saat pulang dari bengkel.


“Serius?” Andre menatap tajam ke arah Jay.


“Se..serius om.” Jawab Jayden.


“Huft..Baiklah, aku kemari juga bukan untuk membahas hal ini.” Andre menghela nafas panjang.


“Apa kau benar- benar mencintai Renny?” Tanya Andre.


“Iya, saya cinta sama Renny.” Jawab Jay mantab.


“Kamu mau menjaganya saat aku pergi?” Andre mendekati Jayden.


“Pasti Om.”


“Bagus, ucapan laki- laki itu harga mati hlo!” Andre menepuk pundak Jayden.


“Duduklah di sampingku Jay.” Andre duduk di bangku taman.


“Baik Om.”


“Aku punya sebuah perusahaan, 20% saham sudah aku wariskan ke Renny, sedangkan yang 35% akan aku berikan pada kakaknya saat aku pensiun.” Andre memulai maksud pembicaraannya.


“Lalu, Om?” Tanya Jay penasaran.


“Ternyata anak laki- lakiku mengumpulkan seluruh pemegang saham yang lain untuk membelinya untuk membuatnya memegang kursi Presdir.”


“Kok bisa? Masa anak sendiri tega?” Jayden tampak tak percaya.


“Brian sangat pintar mengelola perusahaan, dia sangat pintar dan juga tekun.” Puji Andre.


“Saya bingung Om.” Ucap Jay sambil garuk- garuk kepala.


“Saat ini sahamku hanya 35%, karna 20%nya milik Renny. Dulu aku berharap Renny hidup enak dengan saham itu tanpa harus bekerja dan mengelola perusahaan.”


“Oh gitu.” Jayden terkikih membayangkan Renny memakai baju sultan dan duduk di singgasananya sambil menyebar uang.


“Brian punya 17% saham, kalau Brian memaksa yang lain mendukungnya, pasti Brian bisa menjadi Presdir selanjutnya.” Andre tersenyum.


“Bukankah itu yang anda inginkan, Brian sebagai penerus..?” Jay tambah bingung.


“Brian mencintai Renny, Jay. Dengan cara apapun dia pasti akan mendapatkan Renny. Brian tidak pernah punya hasrat memiliki perusahaanku. Tapi dia selalu berhasrat memiliki Renny.” Terang Andre.


“Apa???!” Ucapan Andre membuat syok Jayden, wajahnya berubah sangat bingung.


“Iya, begitu dia punya perusahaan cepat atau lambat Brian pasti merebut Renny darimu.”


“Bukankah mereka bersaudara?”


“Brian bukan anak kandung kami, bukan kakak kandung Renny.” Jawab Andre.


Deg..


Jantung Jayden berdegup kencang. Jauh di luar sana ada saingan berat yang juga menginginkan Renny menjadi miliknya.


“Apakah Renny tahu?” Tanya Jayden.


“Lebih baik dia tidak tahu.”


“....” Jayden diam.


“Aku titip Renny selama aku pergi Jay. Jaga dia dari Brian, mereka berdua anak- anakku. Aku tidak akan menyakiti ke duanya. Ataupun mengorbankan salah satunya. Aku percaya padamu.” Andre bangkit dan meninggalkan Jayden yang masih merenung sendirian.


“Aku bisa gila..” Jayden mengusak- asik rambutnya.


..........................


“Tara makan malamnya sudah siap.” Via memindahkan sepanci hot pot di meja bawah.


“Kita makannya lesehan aja ya.” Renny menata mangkok dan peralatan makan.


“Wah baunya enak banget.” Andre duduk bersila di lantai.


Jayden mengikuti Andre duduk di samping Renny.


“Makan yang banyak.” Via mengambilkan semangkuk sup untuk Renny.


“Terimakasih.”


“Ini untuk Jay.” Via kembali mengambilkan semangkuk sup.


“Terimakasih tante.”


“Wah asyiknya makan begini.” Renny tersenyum senang.


“Masakannya enak tante.”


“Tentu saja donk, mama siapa dulu.” Renny berbicara dengan mulut penuh makanan.


“Oh iya Renny mama bawakin sesuatu.” Via merogoh tasnya.


“Apaan ma?”


“Ponsel, dan semua priority cardmu.”


“Hebat!! Kekasihku kembali.” Renny mencium kartu- kartunya.


“Jangan menggunakannya sembarangan.” Via menasehati.


“Oke siap Ma.”


“Dan kamu nggak boleh tinggal bareng Jayden lagi! Atau aku potong punyanya!!” Andre menambahkan.


“Uhuk..” Jay keselek sup.


“Apa yang dipotong Pa?” Tanya Renny dengan polosnya.


“Entahlah!! Tangannya mungkin, atau yang lain.” Andre kembali menikmati supnya.


“Tapi kamarkukan masih dalam tahap perbaikan.”


“Tolong Renny turuti saja apa kata papamu.” Jay berbisik.


Andre masih memandang tajam Jayden dan Renny yang berkasak kusuk sendiri.


“Nicky, beli apartemen ini dan perbaiki kamar Renny.” Andre menelfon Nicky.


“Siap boss.”


“Besok harus sudah jadi.”


“Oke boss.”


“Papa!!” Renny protes.


“Sudahlah, jangan rusak suasananya.” Via menarik lengan Andre.


“Oke sayang.” Andre menurut.


“Mereka terlihat sangat mesra.” Jay berbisik.


“Iya, papa susah dapetin mama dulu.” Renny membalas bisikan Jayden.


“Oo...”


“Untung aja aku nggak susah dapetin kamu Jay.” Senyum Renny.


“Padahal dulu aku sudah jual mahal hlo.” Goda Jayden.


“Sekarang obral, jual murah?” Renny tertawa.


........................


Jangan lupa..


Buang sampah pada tempatnya..


Kurangi sampah plastik.