
SIDE TO SIDE
ACT 21
Via berjalan lunglai dan sesekali menguap, semalaman dia nggaK bisa istirahat karEna Andre memaksa menginap.
“Ngantuk sekali.. Padahal aku shiff pagi.” Via menguap.
Andre pulang sekitar jam 3 pagi setelah asistennya menjemput untuk meeting online. Andre memberi Via secarik kertas dengan nomor ponsel Andre, tapi Via sama sekali tak ingin menelfonnya.
Akhirnya Via sampai di mini market tempatnya bekerja. Via punya 2 pekerjaan, sebagai kasir mini market dan sebagai pelayan di cafe. Via butuh banyak biaya untuk pengobatan Mamanya, saat ini Mamanya menderita kangker, dan dirawat di Rumah Sakit.
Kemarin belum sempat menjenguk mama. Nanti sore deh. Via memasukan tasnya ke loker.
“Pagi!” Mydeline menyapa Via, dia teman kerja Via.
Wajahnya imut, kulitnya putih bersih, rambutnya panjang dan lurus, sifatnya periang dan selalu ceria. Via merasa Meddy mirip dengannya dulu saat dia masih SMA.
Saat ini Meddy adalah mahasiswa kedokteran yang sedang koas di puskesmas desa T. Karna masalah biaya hidup juga akhirnya Meddy bekerja sambilan.
“Kamu terlihat capek?” tanya Meddy
“Iya, aku kurang tidur,” jawab Via.
Mereka berdua mengobrol dan berganti baju seragam.
“Semangat bekerja," ucap Meddy penuh semangat.
Via mengambil beberapa barang dan menatanya, memenuhi rak-rak display yang mulai kehabisan stok. Sesekali merapikan barang-barang yang mulai tak tertata dengan rapi.
“Selamat datang!” Meddy berseru tiap kali pelanggan ada yang masuk ke dalam mini market.
Wow ganteng banget. Meddy terpesona saat Andre masuk ke dalam toko.
Andre menoleh untuk mencari Keberadaan Via.
“Ngapain kamu ke sini?” Via kaget.
“Kangen!” jawab Andre singkat.
Baru berpisah 5 jam dia bilang kangen..! Via Berseru heran dalam hatinya.
“Kenapa kau nggak menelfonku?”
“Erm ....” Via ngga menyimpan no yang di berikan Andre semalam.
“Ayo ikut denganku.” Andre menggandeng tangan Via.
“Lepasin.. kau nggak lihat aku lagi kerja. Aku bisa dipecat sama bossku!” Via menarik tangannya dengan kuat.
“Tenang aja,mini market ini sudah aku beli.” Andre tersenyum licik.
Via melongo sambil berpandang- pandangan dengan Meddy yang juga kebingungan.
“Jadi sekarang kamu boss kita?” tanya Meddy.
Andre mengangguk.
“Akhirnya kita punya boss ganteng.” Meddy bersorak bahagia.
Via terlihat jengkel saat Andre memaksanya untuk pergi bersama dengannya.
“Lepasin!” Via nampak kesakitan.
“Masuk ke mobil, temani aku makan.” Andre menghentikan langkahnya di depan mobil.
“Ngga mau, aku mau kerja.”
“Sudah aku bilang mini market itu milikku sekarang!” Andre meninggikan suaranya.
“Aku nggak mau!” Via bersih keras menolak.
“Lepaskan! Dia bilang nggak mau kan.” Leo tiba-tiba datang dan menarik tangan Via dari Andre.
“Siapa kamu?” Andre geram
.
“Kamu sendiri siapa?” Leo malah bertanya balik.
“Aku pacarnya Via.” Andre menepis tangan Leo.
Leo melirik ke arah Via, “Kalau gitu aku juga pacarnya Via.”
Andre kaget, Leo kaget, Via lebih kaget lagi.
“Tunggu, kalian berdua.. siapa pacarnya siapa?” Via menengah i.
“Via dia ini siapa sih? Tau- tau muncul dan ngaku-ngaku pacarmu?” Leo masih memandang tajam ke arah Andre.
“Kamu sendiri emang pantas jadi pacarnya Via?” Andre mencoba mengintimidasi Leo.
Via pusing melihat tingkah Andre dan Leo. Dalam pandangan Via mereka seperti anjing yang lucu dan kucing yang manis sedang bertengkar.
“Aku pulang saja.”
“Tunggu.” Andre dan Leo berseru bersamaan, Andre menahan tangan kanan Via, sedangan Leo yang sebelah kiri.
“Lepasin dia!” Andre berteriak.
“Kamu yang lepasin!” Leo nggak kalah kenceng.
“Berisik!!” Via menarik kedua tangannya dan kembali masuk ke dalam toko.
“Wah hebat!! Ngga cuma kak Leo tapi boss baru kita yang super ganteng juga suka sama kamu.” Meddy yang dari tadi ikut melihat mengomentari kejadian itu.
“Hah ...!” Via menghela napas.
“Kamu beneran nggak suka sama salah satu dari mereka?” tanya Meddy.
“Entahlah, Med. Aku mau fokus merawat mamaku dulu,” jawab Via.
“Kalau gitu boleh nggak aku mengejar salah satunya?” Meddy tersenyum kepada Via.
Via hanya diam dan ngga menjawab.
“Bagaimana?” Desak Meddy.
“Terserah kamu.” Via mengambil tas dan menginggalkanmini market.
“Hai. Sudah bertengkarnya? Di mana Kak Andre?” Via berbicara sambil berjalan ke arah halte bus.
“Dia terburu-buru pulang sesaat setelah menerima panggilan.” Leo mengikuti langkah Via dan berjalan di sebelahnya.
“Oo."
“Kamu mau ke RS?”
“Iya, kemarin nggak jadi karena hujan.” Via nggak mungkin kasih tahu alasan yang sebenarnya ke Leo.
“Mau aku temani?” tanya Leo, tangannya masuk ke dalam saku jaket, mencari sesuatu.
“Bukannya kamu sebentar lagi ada pameran?” Via memandang ke arah Leo.
“Aku bisa menggerjakannya nanti.” Leo menguncir rambutnya.
“Pulang saja, aku nggak mau merepotkanmu.”
“Siapa pria tadi? Kenapa dia mengaku pacarmu?” Wajah Leo terlihat penasaran.
“Mantan pacar sih lebih tepatnya.” Via melambaikan tangan pada sebuah bis yang mulai mendekat.
“Maaf aku tadi mengaku sebagai pacarmu.”
“Bukan masalah.” Via tersenyum dan hendak naik ke dalam bis.
“Via ....” Leo menarik tangan Via, membuat Via menolehkan wajahnya.
"Heung?"
“Tapi ucapanku serius, kalau kau butuh sandaran, aku mau menjadi tempatmu bersandar Vi.” Wajah ganteng Leo memerah.
Via melangkah masuk ke dalam bis, wajahnya memerah karena pengakuan dari Leo barusan.
Dari kejauhan Andre melihat mereka dari dalam mobil. Melihat Via berjalan berdua dengan Leo dan saat Leo mengungkapkan isi hatinya membuat Andre geram.
-- SIDE TO SIDE --
Via melangkah masuk ke dalam ruangan di sebuah RS, tangannya berkeringat dingin, wajahnya mendadak pucat. Entah mengapa setiap masuk ke RS hati Via selalu ngga tenang, gugup dan kawatir. Via takut kalau dokter mengatakan hal buruk tentang kondisi mamanya.
Sreeekk.
Via membuka pintu geser. Via memberikan salam ke beberapa teman sekamar mamanya.
“Ma, maaf Via baru bisa jenguk pagi ini.” Via duduk di sebelah ranjang Riska.
“Kau nampak kurus sayang.” Riska membelai wajah putrinya.
“Aku baik-baik saja.” Via berusaha tersenyum senatural mungkin.
“Bagaimana perasaan mama saat ini?” Via menggenggam tangan mamanya, menunggu Riska bercerita dengan antusias.
“Mama merasa baik, kemarin mama mimpi bertemu dengan papa.” Ucap Riska.
“Apakah Via ikut?” tanya Via.
“Hmm, sepertinya tidak.”
“Kalian jahat.” Via kembali tersenyum.
“Via.. menikahlah.. pikirkan dirimu juga. Mama bisa meninggalkanmu dengan tenang kalau sudah ada seseorang yang menjagamu.” Riska mengubah nada bicaranya.
“Mama!! Kenapa mau ninggalin Via?” Via memberontak.
“Via nggak butuh orang lain, Via hanya butuh mama.” Akhirnya butiran kecil kristal keluar dari mata Via yang bulat.
“Nak, mama sayang sama kamu. Mama ingin melihatmu bahagia juga. Kalau Mama bertemu dengan Papa, Mama tidak akan takut dimarah i.” Riska memegang tangan Via, tangan Via yang dingin berubah menjadi hangat.
“Cukup, Ma ,.. jangan bicarakan hal ini lagi.” Via memeluk tubuh Riska yang mulai kurus.
“Via akan mencari suami yang baik.” Sekali lagi Via berbohong untuk menenangkan Mamanya.
“Bagus, Nak.”
Via melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang masih menempel.
“Ma, Via cari dokter dulu ya.” Riska membalas dengan anggukan lemah.
Via mencari dokter yang menangani mamanya. Siang dok. Bagaimana kondisi mama saya?” Tanya Via sopan.
“Via, bagaimana kabarmu?” Dokter Ethan terlihat berbasa-basi.
“Baik dok. Mama saya bagaimana?” Via mencerca dengan pertanyaan yang sama.
“Via.. sama seperti sebelumnya. Kangker harus di oprasi, tapi bukan jaminan juga oprasi bisa menyembuhkan mamamu.”
“Heparnya sudah membesar Via, Mamamu menahanya cukup lama sampai terlambat ketahuan. Aku takut kangkernya sudah menyebar kemana-mana.” Lanjut dokter tua itu.
“Lalu bagaimana dok? Apakah ada harapan untuk sembuh?” tanya Via.
“Selalu ... selalu ada harapan, Nak, kalau kita mau berdoa. Kita sebagai manusia hanya berusaha, segala hasilnya kita serahkan pada kehendak Tuhan.” Dokter Ethan menasehati Via untuk terus berharap.
“Lalu apa langkah yang harus saya tempuh, Dok? Bisakah operasi meringankan kondisi mama saya?”
“Saya rasa bisa Via, besarnya hepar membuat perutnya penuh dan napasnya sesak. Mungkin harus menyedot cairan di dalamnya, dan selanjutnya menjalankan kemoterapi.”
“Bagaimana dengan transplantasi hati? Ambil saja hati saya dok.” Jawab Via.
“Via. Kamu masih muda, terlalu sayang dengan resikonya.” Dr Ethan tersenyum.
“Kalau Oprasi berapa biayanya dok?” tanya Via.
“Coba kamu tanya ke bagian informasi.”
“Baik, saya permisi, Dok. Terima kasih.” Via keluar dari ruangan dokter Ethan.
Via kembali ke kamar mamanya, saat ini melihat wajah mamanya yang tertidur membuat hati Via sakit.
“Jangan tinggalin Via ya, Ma.” Via mengelus rambut mamanya yang mulai memutih.
“Via akan lakuin apa saja supaya mama sembuh.” Via menangis.
--SIDE TO SIDE--