Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 13



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 13


Selamat siang mau pesan apa?” Renny menyapa setiap pelanggan di cafe seperti biasanya.


“Latte ya, whipcreamnya yang banyak.


“Baik.”


“Selanjutnya.” Renny memanggil antrian mereka satu per satu.


Sampai tiba giliran seorang cewek yang sangat di kenal oleh Renny.


“Kaukan si cewek jahat..!” Kisna kaget saat akan memesan.


“Kamu... si muka dua.” Renny kaget melihat Kisna yang berdiri di depannya.


“OMG!! Ternyata kamu bekerja di sini.” Ledek Kisna, dia sangat senang menemukan sisi mengenaskan Renny.


“Mau pesan apa?” Renny berusaha acuh.


“Hazellnut latte. Aku mau gulanya jangan banyak- banyak, trus esnya sedikit, kasih parutan coklat dan whipcream ekstra.” Kisna sengaja menyulitkan Renny.


“Itu aja? Ada lagi?”


“Itu aja.”


Kisna membayar dan menunggu kopinya selesai dibuat.


“Hei aku kan bilang tadi gulanya normalkan, ini terlalu pahit.” Kisna memprotes, menyela transaksi pelanggan yang lain.


“APA??! Kau bilang tadi gulanya jangan banyak- banyak!” Gerutu Renny.


“Siapa yang bilang? Aku bilangkan banyakin.” Balas Kisna.


“Sudahlah.. kemarikan, aku ganti.” Renny menghampiri Kisna dan mencoba mengganti kopinya dengan racikan baru.


“Kali ini jangan salah ya.”


“Iya bawel..!” Renny kembali ke barista untuk membuatkan pesanan Kisna.


“Ini pesananmu.” Renny kembali dengan kopinya.


“Rasanya sudah pas, tapi nggak ada coklatnya, nggak ada whipcream cuma dikit.” Kisna kembali cari gara- gara.


“Kamu sengaja ya??!” Renny merasa sangat marah.


“Hei.. ntar aku bilang ke managermu hlo..” Ancam Kisna.


Renny hendak marah saat Jay masuk ke dalam.


“Jay..” Panggil Renny.


“Hallo..” Jay datang dan mendekati mereka berdua.


“Ada Kisna di sini?” Sapa Jay.


“Halo kak Jay.” Kisna menatap lekat wajah Jayden yang tampan.


“Jangan lihat- lihat!” Renny berdiri di depan Jay.


“Ih dasar cewek jahat..!” Pikir Kisna.


“Kenapa kalian ribut?” Tanya Jay yang bingung dengan kelakuan mereka berdua.


“Dia gangguin aku kerja.” Jawab Renny.


“Nggak kok, aku cuman bilang ke dia kalau kopinya enak banget.” Kisna berusaha tersenyum dengan natural.


“Baguslah. Jangan marah-marah terus. Aku tunggu di luar ya.” Jay mengelus lengan Renny dan berjalan ke luar.


“Aku juga ikut kak.” Kisna mengekor pada Jay.


“Hei!!! Ugh!! Sebel..” Renny cemberut, tapi bagaimana lagi dia harus kembali ke mesin kasir karna antrian yang mulai panjang.


Renny terus memandang ke arah luar di mana Jay sedang ngobrol dengan Kisna. Membuatnya tidak konsentrasi dalam bekerja.


.....................


“Hari ini cemberut terus?!” Tanya Jay heran karna sepanjang jalan Renny tidak berkotek seperti biasanya.


“Huh!!” Renny membuang muka.


“Biasanya kaya siaran radio, kok tumben jadi radio rusak?” Goda jayden.


“Gara- gara kamu!”


“Aku kenapa sih??!” Jay tampak bingung.


“Gara- gara kamu ngobrol sama si muka dua.”


“Hah?? Kisna?”


“Pokoknya aku nggak suka sama dia. Dia juga pasti yang siram aku dulu.”


“Tapi dia bersamaku, aku betulin otopednya.” Jay mencoba menjelaskan.


“Kok kamu jadi belain dia Jay??!!” Renny menghentikan langkahnya.


“Nggak belain kok, tapi aku beneran bareng dia waktu itu.”


“Tuh kan malah ngaku kalau berduaan..kamu jahat Jay!!” Renny mencibirkan bibirnya dan berjalan lebih cepat, meninggalkan Jay yang kebingungan.


“Salah aku apa coba?? Emang bener isi hati wanita itu kaya isi di dalam tas mereka, RUMIT!!” Pikir Jay sebal.


“Tunggu Renny!!” Jay mengejar Renny yang masih ngambeg.


....................


Hujan deras mengguyur kota J malam itu, Renny masih marah dan mengurung diri di dalam kamarnya. Hari ini dia merasa sangat sebal dengan kelakuan Jay.


“Kenapa malah belain tu cewek sih!!!” Renny mendekap erat bantal di pangkuannya.


GLEGAR...!!!!!


Suara gemuruh petir.


“Duh mana hujan angin, petirnya juga kenceng banget, dan aku takut, tapi gengsi mau ketempat Jay.” Renny meratapi nasipnya. Kenapa bertengkarnya harus hari ini.


“Semoga nggak mati lampu.” Renny berdoa.


DUAR!!!!


Petir menyambar dan PET....lampu mati.


Gelap gulita...


“Kyaaaaaaa!!!!” Teriak Renny.


Renny terhuyun- huyun turun dari ranjangnya dan meraba- raba apapun di depannya untuk bisa segera keluar dan mencari Jayden.


“Jay..Jay!!!” Panggil Renny.


“Buka Jay..!” Renny menggedor pintu kamar Jayden.


Kriiiett..(pintu terbuka)


“Hei hei.. jangan takut.” Jayden memeluk dan menenangkan Renny.


“Aku takut, tahu- tahu lampunya mati.” Renny mempererat pelukannya.


“Lepasin, nggak bisa nafas.”


“Iya.” Renny melepaskan pelukannya dan berlari masuk ke dalam kamar Jayden.


Renny duduk di sofa, ada sebuah emergency lamp yang menyala di atas meja kaca. Cahaya remang- remang membuatnya lebih tenang.


“Aku takut, aku nginep di sini ya Jay.” Pinta Renny.


“Hah???” Jay terlihat kaget.


Mana mungkin cewek dan cowok tidur di satu kamar yang sama. Apa kata dunia ntar???!


“Kau bisa tinggal di sini, tapi kalau lampunya nyala balik ke kamarmu.” Pinta Jay.


“Huum.” Renny mengangguk.


Jam dinding berdetik pelan-pelan, jam sudah menunjukan pukul 11 malam tapi tidak ada tanda hujan akan berhenti.


“Jay aku sangat mengantuk.” Renny mengusap matanya.


“Tidurlah Renny, aku akan menjagamu.” Jay menyuruh Renny untuk tidur terlebih dahulu.


“Kemarilah Jay, temani aku.” Panggil Renny.


“Apa kau gila Renny??? Aku ini cowok!!” Pikir Jay, wajahnya memerah.


“Jay!!! Jay!!! Jayden...” Renny terus merenggek.


Jayden akhirnya datang dan tidur di samping Renny.


“Katanya ngantuk?!” Tanya Jay, dia keheranan melihat Renny malah memandang wajahnya.


“Lagi terkesima, kenapa aku bisa suka sama kamu?” Renny terkikih geli.


“Bukannya lagi ngambek?” Ledek Jay.


“Iya ya, akukan lagi ngambek! Tapi karna mati lampu aku maafin deh, soalnya aku takut.” Senyum Renny.


“Ih.. karna ada maunya aja.”


“Jay, ada pasar malam di pusat kota, aku belum pernah ke tempat seperti itu. Pulang kerja kita ke sana yuk?!” Ajak Renny.


“Kau mengajakku kencan?” Senyum Jay.


“Kencan pertama kita.” Ucap Renny senang.


“Boleh.”


Renny menarik selimutnya, hawa dingin begitu terasa di lantai teratas gedung ini.


“Kaya camping.” Renny menatap langit- langit.


“Sayangnya plafon, bukan bintang.” Jay meledek imajinasi Renny.


“Ambil emergency lampnya Jay!” Pinta Renny.


“Buat apa?” Jayden heran tapi mengambilkannya juga.


“Masuk sini.” Renny menarik selimutnya menutupi mereka berdua, lampu remang- remang itu di letakan di tengah- tengah.


“Gimana?? Dah kaya camping benerankan.” Renny tampak puas dengan idenya. Mereka tengkurap dan memandang lampu.


“Ada- ada aja, aku kira ngapain.” Jay sangat kaget dengan tindakan spontan Renny, jantungnya berdetak sangat cepat.


Renny tersenyum dan memandang wajah Jayden yang terlihat sangat tampan karna cahaya lembut yang menyinarinya.


“Aku sayang kamu Jay.” Renny mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Jayden.


Jayden menikmati hisapan lembut bibir Renny yang melekat di bibirnya. Semakin lama mereka masuk ke dalam buaian manis dan rasa hangat.


Jay ingin memiliki Renny dan Renny ingin memiliki Jay.


Jay menautkan lidahnya, bermain di dalam mulut Renny. Bertukar rasa manis, di setiap hembusan nafasnya yang hangat membangkitkan gejolak dalam diri Jay, semakin dan semakin ingin terus memiliki Renny.


Renny melepaskan kaos yang dipakai oleh Jay.


Jay menarik Renny naik ke atas tubuhnya, melepaskan piama yang dipakai Renny. tangannya mulai bergrilya di setiap lekuk tubuh Renny dan berhenti di kedua pipi Renny.


“Pipimu sangat merah Jay.” Senyum Renny.


“Kau juga.” Jay menarik tubuh Renny dan menukar posisinya.


Jay mulai menahan dirinya untuk tidak terlalu **** tubuh Renny yang ramping. Rennypun tampak sangat menikmati cumbuan itu. Bahkan peluhpun terasa sangat manis dan menggiurkan.


Jay mencium pelan telinga, leher dan semakin turun ke arah dada. Renny sesekali merintih pelan saat hembusan nafas Jayden mengenai kulitnya.


“Jay..” Panggil Renny, panggilan yang terasa sangat merdu di telinga Jayden.


“Renny..” Jayden menggenggam erat tangan Renny.


Jayden kembali melumat mesra bibir Renny.


“Apa kamu takut??” Tanya Jay.


“Sedikit. Ini pertamakalinya untukku.” Renny memalingkan kepalanya. Wajah Renny merona sangat merah, dadanya bergerak naik turun karna nafasnya yang tidak teratur. Detak jantungpun terdengar sangat keras. Tangannya sedikit gemetaran.


Jay terdiam cukup lama, membuang muka menghindari tatapan Mata Renny yang cantik.


“Maafkan aku.” Jay mencium pergelangan tangan Renny lalu melepaskan pelukannya.


“Harusnya aku menjagamu.” Jay terduduk dan mulai mengumpulkan akal sehatnya.


“Jay..” Renny memeluk Tubuh Jayden dari belakang.


“Tidurlah Renny. Sudah malam.” Jay mengelus rambut Renny dan menyuruhnya tidur.


“Untungnya masih bisa ku tahan.” Pikir Jay, ia memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Walaupun hasrat prianya tak mengijinkannya untuk berhenti tapi untung saja akal sehatnya masih berfungsi.


Hujan masih turun dengan deras, Renny tertidur di samping Jayden. Jay sangat gusar dan frustasi, kenapa nafsunya tidak bisa terkontrol?! Menyebalkan memang, kalau ada cewek secantik Renny di sampingmu tentu saja akan sangat susah mengontrolnya.


Ternyata percobaan itu tidak sampai di situ.. Karna plafon di kamar Renny runtuh akibat hujan deras. Jadi selama seminggu ini Renny menginap di kamar Jay.


Esoknya..


“Jay.. kamarku hancur.” Renny menunjuk runtuhan Gypsum dan usuk kayu yang roboh.


“Bagaimana madam Nur.” Tanya Jayden.


“Saya dulu sudah bilang kamar ini tak layak pakai, lapuklah...” Madam Nur masuk dan memeriksa keadaan.


“Trus bagaimana?” Renny kebingungan.


“Saya betulin sekalian semuanya, kamu bisa pindah ke kamar di lantai satu nak Renny.”


“Oke.” Jawab Jay.


Renny memandang Jay dengan bingung, dianya nggak mau berpisah dengan Jay.


“Baiklah saya urus dulu, maaf ya.” Madam Nur menuruni tangga dengan gemetaran karna sudah tua.


“Nggak mau pisah!!!” Renny menarik lengan Jayden. Jayden diam dan melirik tajam ke arah Renny.


“Nggak mau pisah!!” Renggek Renny lagi.


“Renny, paling cuman satu minggu.”


“Makanya itu, cuman satu minggu nginep di kamarmu aja.”


“Renny.. kamu cewek aku cowok, untung saja semalam aku bisa ngerem, kalau blong bagaimana??” Jayden mencengkram lengan pacarnya.


“Blong ya nabrak donk!!” Senyum Renny.


“Renny..” Jay sedikit meninggikan nada suaranya, kesal karna cewek ini nggak ada takut- takutnya.


“Pokoknya nginep sini.” Renny membereskan baju dan bukunya, ada beberapa yang basah jadi Renny harus mencucinya.


“Jangan salahkan aku kalau remnya blong.” Gerutu Jay lalu membantu Renny mengangkat tasnya.


“Kan ada air bag!! Hahahahaha...” Renny tertawa dengan lantang.


.....................