Side To Side

Side To Side
SPECIAL EPISODE 1



SIDE TO SIDE


SPECIAL EPISODE 1


(Alur ceritanya kembali ke waktu satu bulan setelah Renny sadar)


Elisa memandang ke hamparan laut yang membentang luas di depannya. Birunya laut beradu dengan birunya langit. Dalam hati Elisa bertanya-tanya, apakah birunya laut akibat pantulan warna dari birunya langit?


Seperti belahan jiwa yang selalu ada, langit dan lautan.. sama-sama memberikan warna dan bayangan yang sempurna. Saling melengkapi.


“Aku juga ingin ketemu belahan jiwaku.” Elisa melihat lautan luas dan menghela nafas panjang.


Angin menerpa wajahnya yang cantik, rambutnya melambai-lambai. Sesekali Elisa kembali menyelipkan rambutnya ke dalam telinga.


“Kau sedang apa di sini?” Suara Brian menyentaknya kaget.


“Lagi menikmati angin laut, musim semi sudah hampir berakhir, angin hangat terasa sangat nyaman.” Elisa tersenyum.


“Terima kasih Elisa.” Ucap Brian.


“Huum.”


“Maafkan aku.” Brian meminta maaf, kakinya ikut melangkah maju dan bersandar pada tralis pemisah lautan dan dermaga.


“Semuanya sudah kembali normal Brian, semua baik-baik saja. Tak perlu meminta maaf. Aku juga salah mengajakmu menghianati keluargamu sendiri demi ambisiku.” Elisa melihat burung camar di kejauhan.


“Jay mengembalikan semua saham Renny, papa memberikan semua sahamnya padaku dan pensium dini. Aku tidak tahu apakah aku layak menerimanya.” Brian menatap Elisa.


“Kau layak Brian. Kalau aku nggak menghianatimu Jay tak akan menang darimu.” Elisa menoleh dan memandang Brian.


“Tapi aku membuat banyak kesalahan.”


“Kau bisa memperbaikinya, belum terlambat.”


“Sory Elisa, aku menyakitimu.” Brian memandang Elisa.


“Its OK.” Elisa membuang mukanya dan menahan air matanya.


Elisa tahu Brian pasti masih menyukai Renny. Masih ada Renny di dalam hatinya dan belum bisa di geser oleh siapapun. Mungkin memang lebih baik untuk Elisa menyerah pada perasaannya. Pertanyaannya, apakah hatinya bisa menyerah begitu saja?


“Kau pasti menemukan wanita yang baik dan bisa membantumu melupakan Renny Brian.” Kata Elisa.


“Mungkin aku juga harus segera menemukan Pria yang baik dan segera menikah.” Lanjut Elisa lalu tersenyum.


DEG


Brian merasakan rasa yang janggal menyeruak dari hatinya saat mendengar ucapan Elisa.


“Kenapa diam saja?” Tanya Elisa yang tak mendengar jawaban apapun keluar dari mulut Brian.


“Tidak, bukan apa-apa.” Brian menoleh, menghindari tatap Elisa.


“Kenapa? Kenapa aku menghindar??” Pikir Brian.


“Kau masih 25 tahun, aku sudah hampir 28 saat ini. Aku nggak mau jadi perawan tua.” Elisa terkikih.


“Jangan cari pria lain Elisa.” Brian ingin mengucapkan hal itu dan mengambil tangan Elisa. Tapi tak punya keberanian untuk melakukannya.


“Aku akan mendukungmu Elisa.” Ucap Brian.


“Kenapa? Kenapa hati dan mulutku berkata lain?” Brian memejamkan matanya heran.


“Trims, aku pulang dulu Brian.” Elisa beranjak meninggalkan Brin.


“Tunggu,..” Spontan Brian menarik tangan Elisa.


“Kenapa lagi?” Elisa bingung.


“Kau mau latihan boxing denganku?” Tanya Brian.


“Boxing?” Seru Elisa.


“Bodoh!! Apa yang aku katakan!?” Brian mengumpati dirinya sendiri.


“Iya Boxing.”


“Sure, aku akan mencobanya.” Elisa tersenyum.


“Ayo.”


.......................


Setelah 3 bulan mencoba boxing.


Elisa ternyata menyukai juga olah raga berat ini. Olah raga yang banyak di minati oleh kaum adam ini nyatanya mampu membuat adrenalin Elisa terpacu. Elisa sekarang banyak berlatih di Seven Club Boxing, tempat Brian juga biasa latihan.


Elisa tampak keren dengan sport bra ungu, di padukan celana ketat berwarna hitam dan sepatu kets putih. Rambutnya yang pirang di kuncir naik ala pony tail agar tak mengganggu proses latihannya.


BAK.. BUK..


“Hiya..!” Elisa memberikan beberapa pukulan pada mat pelindung di tangan pelatihnya.


“Lagi.. Oke.. good. Istirahat sebentar.”


“Oke.” Elisa mengatur nafasnya, melepaskan sarung tinju dari tangannya.


“Minum?” Brian melemparkan sebotol air dingin pada Elisa.


“Thx.” Elisa meneguk habis seluruh isinya.


“Mo sparing sama aku?” Tanya Brian.


“Boleh!! Asal kau mengalah.” Senyum Elisa, nafasnya masih tak beraturan.


Brian melemparkan pelindung kepala dan dada pada Elisa, lalu membantu Elisa untuk kembali memakai satung tinjunya.


“Ready?” Tanya Brian.


“Bring it on.” Elisa menyatukan tinjunya beberapa kali.


Elisa memukul Brian, Brian menghindarinya. Elisa kembali mengarahkan tinjunya, Brian menghindarinya lagi.


Lagi..dan lagi...


“Kau terus saja menghindar!!” Elisa marah.


“Kau bilang aku harus mengalah.. aku belum menyerang balik hlo.” Goda Brian.


“Hiya..!” Elisa menedangkan kakinya ke arah Brian. Lagi-lagi Brian berhasil menghindar, membuat Elisa terjatuh.


“Auch!!!” Elisa merasa pergelangan kakinya sangat sakit saat menepak.


“Kenapa??” Brian membuang sarung tinjunya dan segera mendekati Elisa.


Elisa meninju pelan ke wajah tampan Brian.


“Kau curang..!!” Seru Brian.


“Salahmu kenapa menghindar terus.” Jawab Elisa.


“Kau pura-pura sakit!!”


“Beneran sakit, kelihatannya pergelangan kakiku terkilir.” Elisa masih mengelus kakinya.


“Jangan! jangan di pijat sembarangan.” Brian menepis tangan Elisa dari pergelangan kakinya yang mulai membengkak.


“Ayo aku gendong.”


“Wo..wo..wo..” Elisa kaget saat Brian tiba-tiba menggendongnya turun dari Ring.


“Brian turunkan aku!!”


“Bukankah kakimu sakit?!”


“Aku akan berjalan pelan-pelan.” Elisa menutup wajahnya malu.


Semua orang di club melihat mereka dan menyorakki kejadian itu.


“Orang-orang ini bukannya nolongin malah nyorakin.” Elisa bergumam sebal.


“Duduk sini dulu, aku bereskan barangmu. Kita ke dokter.” Brian menaruh dengan lembut Tubuh Elisa di atas bangku.


“Jantungku tolong berhentilah berloncatan.” Elisa mencoba mengatur irama jantungnya.


“Aku berniat melupakan Brian, kenapa malah semakin berdebar-debar dengannya??” Elisa menutup wajahnya malu.


.....................


Brian menggendong tubuh Elisa masuk ke dalam apatementnya. Elisa sangat malu saat melewati lobby dan resepsionis. Semuanya tersenyum dan berkasak-kusuk di belakang mereka. Elisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Brian. Suara degupan jantung dan aroma musk yang hangat tercium, membuat pikiran Elisa berhalusinasi entah ke mana?


“Brian please turunkan aku!!” Bisik Elisa.


“Kata dokter kau tak boleh banyak bergerak dan membebani kakimu.” Jawab Brian.


“Please.. kita naik lift bukan tangga!! Nggak akan membebani.” Sanggah Elisa.


“Kenapa kau tak menurut saja?” Brian memandang wajah Elisa.


Pandangan mereka saling bertemu, wajah Elisa langsung merona. Begitu pula Brian yang langsung membuang muka karena malu.


“Turuti saja apa kata dokter, lagian kakimu di gips, akan susah berjalan.” Brian keluar dari lift dan menuju ke pintu masuk.


“Kodenya?”


“Ehem..bisa kau tutup matamu.”


“Hei, kalau aku tahupun aku tak akan masuk tanpa ijin dan mencuri apapun tahu?!” Brian sebal.


“Tetap saja aku mohon tutup matamu!!” Elisa malu mengakui kalau kode rumahnya adalah tanggal lahir Brian.


“Demi Tuhan Elisa, aku tak akan masuk tanpa ijinmu.”


“Oke, oke..” Elisa menghela nafas.


Dengan sedikit menyipitkan mata dan secepat kilat Elisa memencet deretan angka tersebut.


Klik.. pintu terbuka..


Brian membopong Elisa masuk dan merebahkannya ke atas kasur.


“Aku akan bertanggung jawab Elisa, aku akan menginap di sini dan membantumu.”


“What???”


“Why??”


“No.. aku bisa melakukan semuanya sendirian!! aku biasa melakukan semuanya sendirian!!” Tolak Elisa.


Bagaimana mungkin membiarkan orang yang kau taksir tinggal serumah denganmu?? Bisa-bisa bukannya sembuh kakinya malah ketambahan sakit jantung.


“Aku hanya ingin bertanggung jawab.”


“Kau harus ke kantorkan.” Elisa bersih keras menolak.


“Sudah aku cencel semua meeting dalam seminggu ini.”


“Apa??!”


“Kenapa?!” Elisa bingung.


“Entahlah.. Kenapa ya?” Brian lebih bingung.


“Aku mau istirahat.” Elisa menarik selimutnya sampai menutup wajah.


“Aku akan beli makanan, bisa kau beri tahu kode pintunya..?”


“Nggak!!!” Teriak Elisa ngegas.


Brian menghela nafas dan duduk menonton tivi di sofa luar. Karena kecapekan lembur semalam Brian tertidur.


Elisa mengamati situasi dan menelfon Renny, meminta bantuannya.


“Mungkin kakakku jatuh cinta padamu Elisa.. tapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya. atau mungkin dia belum sadar akan perasaannya.” Renny tertawa saat menerima pengaduan dari Elisa.


“Itu tidak mungkin!!”


“Siapa tahu.. aku hanya butuh sepersekian detik untuk jatuh cinta pada Jay!!” Teriak Renny dari balik telfon, membuat Elisa harus menjauhkan speaker dari telinganya.


“Pokoknya suru kakakmu pulang sekarang Renny. Aku bisa mati jantungan dan kehabisan nafas.” Elisa menutup telfonnya.


Elisa mendengus sebal dengan dirinya.


“Agh.. apa yang harus aku lakukan untuk mengusirnya??” Teriak Elisa dalam hati.


.....................


Slow update gaes..


Tetep di tunggu ya..


I lap u cintah...❤️❤️


Jangan lupa, like dan commentnya.