
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 6
Andre melihat pad di tangannya, dari layar nampak gambar Renny yang sedang bercakap- cakap dengan Jay di luar. Andre mengirim beberapa drone di dekat area apartemen Renny.
“Ini yang namanya Jay?” Via menyembul dari balik tubuh Andre, berusaha melihat ke arah layar.
“Huum.” Andre mengangguk.
“Wah ganteng juga!!” Seru Via senang.
“Sama aku gantengan mana?”
“Ingat umur kitalah.” Balas Via sambil cekikikan.
“Dasar.” Andre menggelengkan kepalanya.
“Renny tampak bahagia.” Via tersenyum.
“Iya.. Tapi tetap saja aku belum bisa menerimanya.”
“Apartemennya kecil sekali??” Via menzoom in gambar di layar pad.
“Paling juga sebentar lagi dia menyerah. Aku sedih melihatnya seperti ini, dia biasa mendapatkan segalanya. Kini harus berjuang.” Mendadak Andre menjadi melo.
“Biarin aja, aku yakin dia bisa mandiri.” Via mengelus punggung suaminya.
“Iya.”
“Kalau begini siapa yang manjain dia??” Via mencubit lengan suaminya.
“Sudahlah.. kita berdua juga yang salah.” Andre meletakan padnya dan mencium lembut bibir Via.
.........................
“Jay.. tunggu!!” Renny bergegas memakai sepatunya dan menyusul Jay.
“...” Jay hanya diam tapi tetap menunggu Renny.
“Gimana penampilanku??!” Renny berputar, menunjukan penampilan barunya dengan seragam sekolah.
Jay hanya mengacungkan jempolnya dan kembali berjalan menuju gedung sekolah. Hari ini hari pertama Renny menjadi murid baru. Seragam sekolah dengan blazer biru ke abu- abuan, dasi kupu-kupu, dan rok lipat sedikit di atas lutut membuatnya tampil sangat berbeda. Ditambah dengan rambutnya yang dikuncir setengah kebelakang membuatnya sangat terlihat manis.
“Aku cantikkan??” Renny kembali bertanya.
“Iya cantik, sayangnya nggak bisa apa-apa.” Sindir Jay.
Sudah seminggu ini Renny tak memberikan ketenangan pada kehidupan Jay. Renny terus mengganggu dan bertanya tentang apapun yang dia ingin tahu (saat itu juga).
“Pujian apa sindiran?” Renny tersenyum.
“Menurut loooooeee??” Jay gemes.
“Pujian deh.”
“Ihhh..” Jay merasa ingin mencubit lesung pipit milik Renny.
“Jay kau tampan sekali saat pakai seragam sekolah.” Puji Renny.
“Aku sudah tahu.” Jawab Jay.
“Boleh aku memelukmu?”
“No!!”
“Pelit sekali.”
Jay menghentikan langkahnya.
“Renny, di negara ini budayanya berbeda. Kau tidak bisa main peluk pria begitu saja.”
“Aku nggak asal peluk kok. Kan sudah aku bilang, aku hanya mau sama kamu Jay.” Renny berjalan ke belakang, sambil tersenyum dan menunjuk Jayden.
Jayden hanya bisa tersipu memandang Renny. Senyum gadis ini sangat manis. Walaupun sedikit, sepertinya mulai timbul rasa yang tak tertafsirkan dalam hati Jay.
Kriiingggg... (bel masuk sekolah berbunyi.)
“Anak- anak ada teman baru. Namanya Maureen, dia dari Ausi.” Wali kelas XII IPS 3 memperkenalkan Renny di depan kelas.
“Hai, namaku Maureen, panggil saja aku Renny.” Renny memperkenalkan diri.
“Wah cantik sekali.” Mayoritas anak laki- laki bergumam.
“Sudah punya pacar belum..?” Tanya seorang dari mereka.
Pertanyaan yang di nantikan oleh seluruh anak cowok di kelas itu. Para anak cewek juga seperti banyak berharap agar Renny sudah punya kekasih. Jadi Renny tidak menjadi saingan berat mereka.
“Ehem pertanyaannya yang bener donk.” Wali kelasnya menengahi.
Jay yang duduk di belakang hanya diam, sesekali dia mengalihkan pandangannya kelur jendela untuk menghindari kontak mata dengan Renny.
“Aku sudah punya pacar kok. Itu orangnya.” Renny menunjuk ke arah Jay.
Spontan seluruh kelas menoleh ke arah Jayden. Dagu Jayden terpleset dari sanggaan tangannya karna syok.
“Iyakan Jay???” Seru Renny dari depan kelas.
Jay hanya bisa mendongak dan menutup wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya yang lebar.
“Huuuuu...” Sorak semua anak di kelas itu.
“Diam diam...! Renny kau duduk di sana.”
“Nggak mau bu. Maunya duduk sama Jay.”
“Nggak bisa, sudah nggak ada tempat kosong lagi.” Jawab Bu Sari gemes. Punya murid baru satu aja seenaknya sendiri.
“Iya bu.” Dengan berat hati Renny berjalan menuju bangku kosong berjarak 3 meja ke kanan dari bangku Jay.
“Buka buku kalian.”
Renny membuka bukunya dan mencoba memahami pelajaran di sekolah barunya. Sesekali dia mencuri pandang ke Jay. Kalau pandangan mereka bertemu Renny selalu tersenyum dan melambaikan tangannya. Jay membuang muka ke lipatan sikunya karna malu.
...................
“Kisna.. Kisna..”
“Apaan sih? Selow gaes.” Ucapa Kisna pada teman- teman ganknya.
“Ada kabar baik dan buruk, kau mau dengar yang mana dulu?” Tanya Mira.
“Hmm.. yang baik dulu deh.”
“Jay sudah masuk sekolah.”
“Yang bener???” Kisna tampak senang. Akhirnya setelah liburan panjang dia bisa ketemu lagi dengan Jay.
“Trus buruknya apa?” Tanya Kisna lagi.
“Apa???” Wajah Kisna langsung berubah lesu.
“Iya kok. Kalau nggak percaya pas makan siang kau bisa membuktikannya.” Tambah Mira.
“Hah????” Kisna merasa hatinya sangat sakit, padahal beberapa bulan belakangan ini Jay sudah mulai mau tersenyum padanya. Bagaimana bisa Jay yang dikenal sangat dingin sama cewek hanya dalam satu bulan sudah punya pacar?!
Kecemasan melanda perasaan Kisna, cewek imut ini merasa harapnnya hancur saat melihat Renny terus mengekor di belakang Jay.
“Dia sangat cantik, pantas saja Jay bisa menyukainya.” Mata Kisna berkaca- kaca, dengan segenap kekuatan Kisna terus menjaga supaya air matanya tidak meleleh keluar.
“Kiss..” Peluk Mika.
“Harusnya aku nggak melihat ini.”Ucap Kisna.
“Sabar, kelihatannya Jay nggak menyukainya.” Mira dan Mika mencoba menenangkan Kisna.
“Maksudmu?”
“Kau lihat mereka, Cewek itu terus mengekor pada Jay, tapi Jay sepertinya sangat acuh padanya.”
“Kau benar. Jay tidak begitu mempedulikannya.” Kisna kembali bersemangat.
“Mungkin hanya gosip bohongan saja.”
“Tapi dia sangat cantik.” Kisna sedikit minder saat melihat wajah Renny.
“Kau juga cantik kok, imut.” Mika memberi semangat.
“Sudah lama aku nggak bertemu Jay, aku akan coba menyapanya.” Kisna menghapus sisa air matanya.
“Semangat sayang.” Mira mengepalkan kedua tangannya.
Kisna menenteng nampan berisikan makan siang menuju ke meja tempat Jay dan Renny makan.
“Kak Jay, boleh kami makan di sini? Semua meja penuh.” Kisna duduk di samping Jayden.
“Silahkan.” Jay mempersilahkan Kisna duduk.
Renny kaget dengan kehadiran Kisna yang duduk di samping Jayden. Padahal tadi Jay menolak saat Renny ingin duduk di sampingnya.
“Siapa sih cewek ini ganggu aja?!” Tanya Renny dalam hatinya.
“Ternyata emang bukan pacarnya Jay.” Pikir Kisna dalam hatinya.
Renny dan Kisna saling beradu pandang, menyiratkan rasa tak suka antara satu dengan lainnya. Perang batin antar wanita yang membuat merinding bulu kuduk sang pria.
“Hawa menusuk apa ini?” Pikir Jay dalam hati.
“Kalian selesaiin aja makannya.” Jayden bangkin untuk mengembalikan nampan.
“Tunggu Jay.” Renny hendak ikutan bangkit dan menyusul Jay.
Kisna melirik ke arah Renny dengan sebal, tanpa pikir panjang dia menyenggol dan menumpahkan segelas es teh ke arah Renny, membuat baju seragam dan Rok Renny basah.
“Ah maaf aku nggak sengaja.” Kisna bangkit dan berpura- pura meminta maaf. Tangannya memberikan tisu dan mencoba membersihkannya.
“Kau sengajakan?!” Renny merebut tisu dari tangan Kisna.
Jay menghentikan langkahnya dan menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi. Hal itu menarik banyak anak- anak untuk melihatnya.
Renny melepaskan Blezernya yang basah, seragam dalaman kemeja putih Renny juga basah dan bernoda. Seragam yang basah membuat print tubuh Renny terlihat. Entah kenapa Jay sangat sebal dengan pemandangan ini.
“Pakai ini.” Jay kembali dan melepaskan blezernya menutup tubuh Renny.
Kisna terlihat sangat kaget dengan perlakuan Jay pada Renny. Cowok dingin itu bisa bersikap sangat gantle terhadap seorang cewek.
“Kak Jay, aku benar- benar ngga sengaja.” Kisna mendekati Jay.
“Lain kali hati- hati.” Jay menggandeng tangan Renny untuk pergi dari sana.
“Weeekkk...!” Renny menjulurkan lidahnya dan mengacungkan jari tengah, mengejek Kisna di belakang Jay.
“Iiiijjj... dasarr cewek jahat!!” Kisna sangat gemes karna sebal.
Jay menggandeng tangan Renny, membuat Renny merasa sangat senang. Padahal gandengan seperti ini hanyalah hal umum biasa, tapi entah kenapa kalau Jay yang menggenggamnya terasa sangat berbeda. Sangat hangat dan nyaman. Renny sangat menyukai perasaan ini.
“Sekarang aku tahu kenapa papa sangat sayang sama mama.” Pikir Renny dan tersenyum.
Bau badan Jay yang maskulin melekat di blezernya, Renny merasa seperti di peluk oleh Jay.
“Kita pulang saja.”
“Eee... bolos??” Renny kaget.
“Iya.. nggak mungkinkan kamu basah- basahan gitu di kelas.” Jay menghentikan langkahnya.
“Tapi aku bisa ketinggalan pelajaran.” Renny khawatir dengan nilainya. Bisa di terima saja sudah merupakan sebuah keajaiban.
Sekolah Renny saat ini merupakan sekolah elit, kalau bukan pandai ya berarti kaya. Bagi Renny yang sudah tidak punya uang dia hanya bisa mengandalkan tes masuk saja. Walaupun nilai mat dan akutansinya pas- pasan, untunglah nilai bahasa inggrisnya sempurna. Yaiyalah, secara itukan bahasa sehari- hari yang dipakai Renny saat di Ausi.
“Aku ambil tas dulu.” Jay berlari mengambil tas mereka.
Renny terpaku melihat Jay berlari. Wajahnya langsung memerah.
“Ah.. enaknya di perhatiin. Kalau gini seperti pacaran beneran.” Renny sangat senang.
.........................
Pengenalan tokoh:
(Sumber: google search, artis: Sucharat Manaying.
Hanya sebatas visual karakter mirip- mirip aja, karna banyak yang minta. Selebihnya berhalusinasi sendiri saja ya readers ^^)
Nama : Maureen Hartono.
Panggilan : Renny
Tinggi badan : 170 cm
Warna kulit : Putih.
Warna mata : Biru kristal.
Warna rambut : coklat kemerahan.
Like : Jay.
Dislike : Ulat
Kelebihan : Tidak suka jaim atau menyembunyikan perasaannya. Ceria dan selalu bersemangat.
Kekurangn : Manja & pemarah.
.........................