
SIDE TO SIDE
SPECIAL EPISODE 6
“Be Mine Elisa..”
“I’m yours, and you’re mine.” Ucap Brian lalu memeluk Elisa.
Elisa tercengang..
.
.
.
.
“Miss..miss..” Panggilan Noel membuyarkan lamunan Elisa.
“Ah..iya.. kenapa?”
“Miss ini catatan prilaku tersangka yang anda minta kemarin.”
“Terima kasih Noel.”
“Ada lagi yang bisa saya bantu miss?” Tanya Noel.
“Nothing..” senyum Elisa.
“Oke saya permisi..”
“Eeh.. tunggu Noel. Bolehkah aku bertanya..?”
“Sure..”
“Menurutmu kalau seorang pria bilang ‘you’re mine’ artinya apa?”
“Ada yang bilang seperti itu kepadamu Miss?” Noel malah balas bertanya.
“Er..bukan aku, temanku.”
“Apa pria ganteng yang menemanimu sebulan belakangan?”
“Bukan aku Noel.”
“Wajah anda memerah miss.”
“Huh.. Oke..itu..aku..dia bicara seperti itu padaku.”
“Hmm..” Noel berpikir sebentar.
“Bagaimana?” Elisa menunggu.
“Ada dua arti miss.. pertama, dia mencintai anda secara posesif. Ke dua dia belum paham perasaannya tapi tidak mau kehilangan anda juga.”
“Ngegantung juga ya??” Elisa bersandar pada kursi kerjanya.
“Menurut saya sih kurang jelas. Kalau misal cinta dia pasti prefer bilang ‘I love you’ miss.”
“Huh..ujung-ujungnya dia menggantungku juga. Bodohnya aku yang menerimanya begitu saja.” Pikir Elisa.
“Oke Noel kau bisa pergi.”
“Kalau pria itu yang bilang padaku miss, mau dia cinta atau tidak, aku akan tetap memanfaatkannya. Aku akan menikmatinya setiap hari.” Goda Noel.
“Hei!! Jangan mesum..!” Suru Elisa.
“Sangat di sayangkan melewatkan tubuhnya yang sexy miss.”
“Kau benar, tubuhnya sangat menarik, dan wajahnya sangat tampan.”
“Oke miss. Saya permisi.”
“Thx Noel.”
......................
Di kediaman Hartono.
.
.
.
“ARG..!” Brian menghela nafas sebal.
“Kenapa Tuan muda?” Carl kaget saat menuang teh ke cangkir.
“Carl, apa menurutmu aku bodoh?”
“Anda anak paling pintar yang pernah saya temui.”
“Justru itu.. apa logikaku membuatku menjadi bodoh dalam urusan perasaan??” Brian memandang wajah tua Carl dengan memelas.
“Tuan muda, siapa wanita yang beruntung itu?” Tanya Carl ingin tahu.
“Aku tak tahu bagaimana perasaanku pada Elisa.”
“Aku marah saat dia jalan dengan orang lain, aku suka saat dia menciumku, tapi aku tidak punya rasa rindu dan cinta untuknya.”
“Cinta yang seperti apa?”
“Sama seperti saat aku memikirkan Renny dulu.”
“....”
“Aku bodoh ya Carl?”
“Kenapa anda tak mencoba untuk berbicara dari hati ke hati dengan wanita itu.”
“Sudah, tapi dia marah-marah dan bilang aku menggantungnya, friendzone atau apalah itu.”
“Tidak ada wanita yang mau di gantung dalam sebuah hubungan, Tuan.”
“Jadi bagaimana?”
“Mungkin anda harus mencoba berpacaran dengannya.”
“Langsung?? Tapi kalau aku tidak mencintainya gimana?”
“Setidaknya anda tidak akan kecewa karena telah berusaha.” Carl meletakan secangkir teh di depan Brian.
“Ok..aku akan menganjaknya dinner malam ini.”
“Jangan lupa bunga dan hadiah, wanita menyukai hal itu.” Carl mengerling.
..........................
.
.
.
Brian menunggu dengan cemas di sebuah fine dining Restauran. Sudah berpuluh-puluh kali mereka bertemu, ngobrol, dan bahkan tinggal bersama. Tapi malam ini Brian tetap merasa grogi. Brian ingin mencoba menembak Elisa malam ini, mengajaknya berpacaran. Brian memilih stelan jas yang terbaik dan tatanan rambut yang lebih rapi dari biasanya.
“Jam berapa ini?” Brian gusar dan berkali-kali melihat arlojinya.
“Oh Tuhan..ini lebih menakutkan dari nilai kontrak jutaan dollar.” Gumam Brian.
“Wah..well well siapa pria tampan ini?” Suara seorang wanita mendekati Brian.
Rambutnya lurus dan panjang, diikat naik ke atas.
“Masih ingat padaku?”
“Tidak..”
“Ah jahat sekali..”
“Terakhir yang aku ingat kau pergi karna aku adalah seorang anak angkat.”
“Siapa namamu dulu?”
“Shakilla Jin.”
“Ah..iya.. maaf miss Killa. Saya menunggu seorang wanita. Bisa kau pindah? Aku takut dia salah paham.” Tolak Brian halus.
“Oh ya?? Pantas ada sebuket bunga di atas meja. Aku penasaran wanita seperti apa yang berhasil meruntuhkan hatimu.” Nona Jin tak beranjak dari tempat duduknya.
“Jangan buat aku mengulanginya dua kali Miss Killa.” Wajah Brian menegas.
“Oke..jangan terlalu serius Brian. Pertimbangkanlah berkencan juga denganku..” Killa sedang mengelus tangan Brian saat Elisa datang.
“Oh..jadi kau mengajakku makan malam untuk mengenalkan pacar barumu?” Elisa berdiri dengan muka masam di samping mereka.
“Bukan Elisa, kami tak sengaja bertemu.” Sanggah Brian.
“Sampai pegangan tangan gitu?” Elisa berbisik di telinga Brian.
“Elisa dia yang pegang tanganku, bukan aku.”
“Tapi kamu maukan..”
“Ehem..” Deheman Killa membuat keduanya menoleh.
“Aku kira siapa..ternyata miss Kinsley.” Killa bangkit berdiri.
“Temui aku lagi Brian. Call me..” Killa bangkit, matanya mengerling dan mengelus pundak Brian. Membuat Elisa semakin salah sangka.
“Kau lupa bunganya.” Elisa melemparkan buket bunga di atas meja pada Killa.
“Thx.”
“Elisa..itu untukmu..!” Brian kaget.
“Aku nggak mau bekas wanita lain.” Elisa beranjak menuju pintu keluar.
“Elisa tunggu..” Brian menyahut jasnya dan mengejar Elisa.
Elisa berjalan cepat meninggalkan Brian. Brian mengejarnya sampai ke depan lobby.
“Kenapa lagi sih?!” Brian bingung.
“Ask your self.”
“Nggak biasanya kamu bersikap emosional gini.” Brian menahan lengan Elisa.
“Ah bener juga??! Kenapa aku begini?? Tapi tetep aja, hatiku dongkol banget.” Pikir Elisa.
“Lepasin!”
“Nggak.. ayo kita kembali dan bicara.”
“Aku nggak suka makan makanan mahal.”
“Kalau gitu di resto Korea dekat kantorku.. yang ayam gorengnya enak.” Ajak Brian.
“....” Elisa hanya diam dan menurut. Ikut masuk ke dalam mobil Brian.
Nggak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sebuah rumah makan ala Korea. Suasanyanya cukup riuh karena banyak anak muda yang makan di sana. Beberapa gadis muda melirik Brian dengan genit dan menggoda.
“Aku akan membayar semuanya, tolong usir semuanya dari sini.” Brian berkata pada pemilik Resto.
“Semuanya?”
“Iya, termasuk yang mereka makan.”
“Ba..baik..”
“Untuk apa kau melakukan pemborosan seperti itu??” Elisa tercengang.
“Aku nggak bisa ngomong sama kamu kalau seramai ini.”
“Lagian wajahmu sangat masam saat gadis-gadis itu melihatku.”
“Sialan..! Kau ke-geer-an ya?”
“Aku percaya dengan kegantenganku.”
“Terserah kamu saja.” Elisa meneguk sesloki soju.
“Kau bilang tidak akan minum lagi?” Tanya Brian.
“Aku harus minum untuk menghilangkan amarahku.”
“Kau marah denganku?”
“Siapa lagi?”
“Kenapa? Kau cemburu dengan miss Killa? Atau dengan gadis-gadis itu?”
“Tidak aku tak cemburu.”
“Hmm.. padahal aku senang kalau kau cemburu.” Brian ikut meminum segelas soju.
“...” wajah Elisa memerah, entah karena tersipu atau karena efek alkohol.
Brian mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya. Menggeser posisinya sampai di depan Elisa.
“Ayo kita pacaran Elisa. Aku akan belajar mencintaimu.” Ucap Brian, wajahnyapun bersemu merah.
“....” Elisa tertegun, memandang wajah Brian.
“Bagaimana?”
“Kau mengajakku pacaran di kedai ayam goreng?” Elisa tersenyum, tapi masih malu dan belum berani menatap Brian.
“Harusnya di hotel bintang lima, tapi apa daya kau tidak suka makan di sana.” Brian mengangkat bahunya.
“Oke..oke.. salahku.” Senyum Elisa.
“Aku akan belajar mencintaimu Elisa, jadi apa jawabanmu??” Brian mengambil cincinnya.
“Aku nggak bisa Brian..” Elisa terdiam sesaat, wajah Brian berubah, sedikit tegang.
“Nggak bisa nolak.” Elisa terkikih senang karena berhasil menggoda Brian.
“Ah sialan, aku kira aku bakalan tertolak lagi.” Brian membenamkan wajahnya di atas meja.
“Sorry...”
“Kemarikan tanganmu.” Brian menarik tangan Elisa dan memasangkan cincinnya pada jari manis Elisa.
“Thanks Brian.” Elisa memandang cincinnya dengan berbinar-binar.
“Ayo pulang..” Brian berdiri dan mengajak Elisa pulang.
“Kenapa terburu-buru?” Tanya Elisa bingung.
“Kita harus menyelesakan sisanya di rumah.” Brian menggandeng Elisa.
“Apa maksudnya???” Wajah Elisa tersipu..memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.
........................
Jadi apa yang akan terjadi di rumah??
Nggak bisa bayangin.
>.<
❤️❤️
Tetep like, comment dan klik Fav ya.
Love you
Bagi cinta untuk banyak orang.
Tetep cintai lingkungan dan binatang.