
SIDE TO SIDE
ACT 25
Andre menghisap rokoknya di depan rumah Via. Bosan mondar-mandir dia duduk di sebuah anak tangga, tangannya sibuk melihat ke arah layar ponselnya, berharap ada kabar dari Nicky kalau dia sudah menemukan Via.
Belum sampai 10 menit dia duduk Via sudah sampai di rumah dan datang menghampirinya.
“Via!” Panggil Andre.
“Sejak kapan kamu merokok?” tanya Via.
Andre nggak menjawab, dia membuang dan menginjak rokoknya.
“Kau mau masuk?” Via kembali bertanya, tangannya memutar kunci untuk membuka pintu.
Andre langsung memeluk tubuh Via dari belakang. “Ke mana saja? Aku kawatir.”
Via memejamkan matanya menikmati pelukan Andre, hari ini terasa begitu berat baginya. Pelukan Andre membuatnya merasa lebih nyaman.
“Maafkan aku.” Andre memeluk Via lebih erat.
Via membalikan tubuhnya, sekarang dia mengangkat kepalanya untuk memandang wajah Andre. “Aku baru sadar, sekarang kau sangat tinggi.” Via tersenyum.
“Via kenapa pipimu? Siapa yang melakukan ini?” Andre kaget melihat lebam merah di pipi Via.
“Ini ... ah, aku terpeleset dan terjatuh.” Via berbohong.
“Jangan bohong!” Andre menyadari.
“Katakan siapa? Akan aku balas dia.” Tangan Andre mengelus pipi Via yang memerah.
“Kenapa kau masih saja baik padaku?” Via menyentuh wajah Andre.
“Aku nggak punya apa-apa untuk di banggakan, nggka punya hal menarik untuk dipamerkan. Aku hanya gadis miskin yang bodoh.” Air mata Via mulai mengalir.
“Jangan berkata seperti itu.” Andre menghapus air mata Via.
“Kenapa yang kulakukan selalu salah?” Via menangis dalam pelukan Andre.
“Biar pun satu dunia membenci dan menyalahkanmu aku akan tetap ada untukmu.” Andre mengelus lembut rambut Via.
Via menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Andre. Rasa khawatir, benci, amarah, malu, sedih yang baru saja bergejolak hilang tersapu oleh air mata dan pelukan hangat dari Andre. Andre menepuk punggung Via dan menenangkannya.
“Kau sudah tenang minum ini.” Andre memberikan minuman hangat kepada Via.
“Apa aku tampak jelek dan menyedihkan?” Via tertunduk.
Andre berjongkok di depan Via, jarinya mengangkat dagu Via sehingga mata mereka saling bertemu.
“Kau wanita tercantik yang pernah aku kenal. Kau sangat manis saat tersenyum. Membuatku ingin selalu menjaga senyumanmu.”
Andre mengecup bibir Via dengan lembut, Via membalas ciuman Andre, tangannya melingkar di pundak Andre. Via menikmati setiap ******* mesra Andre di bibirnya, samar-samar terasa begitu manis dan memabukan. Andre menggendong Via, dan kini mereka duduk di atas sofa.
“Kau mau melanjutkannya?” tanya Andre. Via menelan ludahnya dan mengangguk pelan.
Suara detak jantung yang mengeras dan rintihan pelan menjadi musik penghantar tidur malam ini.
Cinta itu terrasa seperti heroin, begitu memabukan dan membuatmu kecanduan.
— SIDE TO SIDE —
Esoknya Nicky melaporkan permintaan bossnya.
“Jadi belum bisa dipindahkan?” Andre bertanya pada Nicky.
“Kondisinya masih belum stabil, Boss. Takutnya ada apa-apa di jalan.” Nicky menjelaskan pernyataan dokter kepada Andre.
Andre berencana memindahkan mama Via ke rumah sakit yang lebih besar.
“Dengan heli? Sekarang banyak rumah sakit yang sudah ada helipad?” Andre mencoba memberikan opsi.
“Masalahnya nyonya Riska masih menggunakan alat bantu pernafasan, kalau lepas bisa gawat, Boss.” Nicky kembali menjelaskan resikonya pada Andre.
“Baiklah. Kau boleh keluar.” Andre mengibaskan tangannya.
“Nona anda nggak bisa masuk begitu saja.” Linda mencegah Sinta masuk.
“Hallo..” Sinta tetap saja masuk menemui Andre.
“Pergilah Linda.” Andre menghela napas dan menyuruh Linda membiarkan Sinta masuk.
“Kelihatanya tidak berlaku untukmu,” jawab Andre.
“Wah kau terlihat tampan dengan setelan jas itu.” Sinta tersenyum.
“Langsung saja pada intinya.” Andre memandang wajah cantik Sinta.
“Menikahlah denganku, kita bisa saling menguntungkan. Perusahaanmu dan perusahanku bisa menjadi yang terbesar di negara ini.” Sinta berjalan mendekati Andre, ia melingkarkan tangannya memeluk Andre dari belakang.
“Sudah aku bilang jangan buang harga dirimu, Sinta. Meski pun untuk pernikahan politik aku nggak akan pernah mau.” Andre bangkit membuat Sinta melepaskan pelukannya.
“Kau ingin aku menjatuhkan semua yang kau rintis?” Sinta merapikan blousnya.
“Silahkan kalau memang bisa.” Andre meninggalkan ruangannya.
“Cih, Arogan sekali. Tapi justru itu yang aku suka darinya.” Sinta berdecisc ia lantas melipat tangannya di depan dada.
— SIDE TO SIDE —
Satu minggu telah berlalu setelah kejadian itu, Via merasa masih ada hal mengganjal yang harus dijelaskannya pada Meddy.
“Meddy maafkan aku.” Via memberanikan diri menghampiri Meddy di minimarket.
Meddy menghentikan kegiatannya menata rak-rak display, lalu bangkit berdiri dan menghampiri Via.
“Maafkan aku juga, aku terlalu cemburu.” Meddy berdiri dan memeluk Via.
“Meddy aku ...,” ucapan Via terpotong.
“Kak Leo sudah menceritakannya padaku.”
“Aku akan menjauhi Leo,” ucap Via
“Sudahlah, aku yang sudah bersikap egois Via, nggak seharusnya aku memaksakan perasaanku padanya, bahkan sampai menyakitimu.” Meddy mengambil 2 botol minuman dingin dan memberikannya pada Via.
“Tapi kau benar, Leo juga berhak bahagia. Dia berhak mendapatkan gadis yang baik seperti dirimu.” Via menerima botol dari Meddy.
“Kemarin dia sudah menolakku.”
“Meddy,” desah Via ikut iba.
“Sudahlah, Via. Oh, tunggu ada pelanggan.” Meddy bangkit dan pergi ke meja kasir.
“Baiklah, aku keluar dulu.” Via berpamitan pada Meddy.
“Sialan, perjalanan ke desa ini jauh dan berkelok-kelok, pasti selalu membuatku mual.” Sinta mendorong pintu Minimarket untuk membeli minuman dingin.
Sinta saat ini berhadap-hadapan dengan Via.
“Ka-kamu ... Viakan!” Sinta mengenali Via saat itu juga.
“Sin—Sinta.” Wajah Via sedikit memucat, kenangan buruk yang pernah terjadi antara mereka bertiga seperti terngiang kembali dalam memori di otaknya.
“Pantas saja Andre betah tinggal di desa ini.” Sinta tersenyum mengejek Via.
Via diam dan memilih untuk tidak membalasnya.
“Ternyata dia masih bersama gadis kampung sepertimu?”
“Kau!!” Via melirik marah.
“Aku kira dulu kau sudah sadar diri dan menyerah.”
“Aku mau keluar, kau menghadangi jalan.” Via mendorong tubuhnya keluar melewati Sinta.
“Hei tunggu, aku belum selesai bicara.” Sinta berusaha menarik Via, namun tangannya dihalangi oleh Andre.
“Andre!”
“Kau mau apa?” tanya Andre. “Kali ini aku nggak akan melepaskanmu kalau kau berusaha menyakiti Via lagi.” Andre melempar tangan Sinta.
“Memangnya aku dulu melakukan apa?” Sinta masih berusaha membela diri.
“Hanya kau dan Tuhan yang tahu.” Andre berpaling.
“Ayo, Via.” Andre merangkul pundak Via dan meninggalkan Sinta.
“Shit!!”
— SIDE TO SIDE —