Side To Side

Side To Side
ARRON



SIDE TO SIDE - JAKA


ARRON


(Cerita ini bermula saat Arron SMP.)


Duak!!!


“Minggir sana!! Jalan kok nggak pake mata!! Dasar kutu buku..!” Seorang gadis menabrak Arron, bukannya meminta maaf dia malah menyalahkan Arron.


“...” Arron hanya diam, ia membereskan semua buku-bukunya dan kembali berjalan masuk ke kelas.


Kelas hari ini terlihat riuh dan ramai. Pelajaran Pak Nyoman kosong karena beliau sakit. Seperti anak-anak pada umumnya, kelas Arronpun selalu ramai saat jam kosong. Pak Nyoman hanya meninggalkan tugas Matematika untuk dikerjakan.


“Hei, Nerd.” Panggil Cellena, ia adalah gadis yang menabrak Arron di koridor pagi tadi.


“Gw nyontek donk!! Anggep aja permintaan maaf udah nabrak gw tadi.” Lenna duduk di depan Arron.


Arron tak menjawab permintaan Lenna. Ia hanya memandang wajah gadis itu dengan datar. Arron menghela nafasnya, nama gadis itu sama dengan nama Mamanya. Tapi kelakuan mereka bagaikan bumi dan langit. Mamanya sangat lembut sedangkan gadis ini sangat kasar. Walaupun secara wajah mereka sama-sama cantik.


Cellena Tjie, anak gadis keluarga Tjie. Keluarga terhormat di kota mereka. Kaya dan berkuasa, cantik dan punya sejuta pesona. Mungkin ini yang menjadikan Lenna tumbuh menjadi gadis yang sangat sombong.


Selain usil, Lenna juga sering merundung Arron. Mengerjai Arron dengan teman-temannya yang lain. Mulai dari menyembunyikan buku dan tas Arron. Menyiram Arron dengan air pas pelajaran olah raga, sampai menyebut Arron dengan julukan Nerd (kutu buku).


“Gimana, Nerd. Boleh, ya. Tugasnya susah banget.” Lenna memohon dengan nada manja, sedangkan tangannya sibuk mengorek-orek tangan Arron dengan bolpoin. Dengan iseng Lenna menuliskan kata Nerd pada punggung tangan Arron.


“Tidak, nanti guru akan curiga kalau jawaban loe sama persis sama punya gw.”


“Hei teman-teman!! Arron nggak mau minjemin kita!!” Lenna langsung berteriak mencari dukungan.


“Huuuu!!! Dasar pelit..!”


“Kutu buku!!”


“Sok pintar lu!!” Anak-anak lain melemparkan kertas ke arah Arron.


“Roonnn.. pliss?!” Lenna mengedipkan bulu matanya beberapa kali. Arron tetap tak bergeming. Membuat Lenna naik darah.


“Cih.. dasar anak hantu!!” Ledek Lenna sebal lalu pergi dari hadapan Arron.


“Apa loe bilang?” Arron langsung menarik pergelangan tangan Lenna.


“Anak Hantu!! Kenapa? Loe marah? Kan bener.. semua orang juga tahu Mama loe kaya hantu!!” Lenna menghempaskan tangan Arron.


“Gw terima loe nge-hina gw, tapi gw ga terima kalau loe bawa-bawa nama orang tua gw.” Arron marah, ia menahan kepalan tangannya di samping pinggang.


“Hei lu mau apa?” Anak-anak cowok lain berdiri menengahi, mereka membela Lenna.


“Jangan ikut campur!!” Arron marah.


“Lu yang harusnya tahu diri.” Para cowok mengerubung Arron dan memojokkannya.


Bruk..Brukk..


Bak Buk Bak Buk..


>>> JAKA <<<


Kriiinggg...


Bel masuk sekolah berbunyi.


Arron berjalan lemas menuju ke ruang kelasnya. Sudah 3 tahun peristiwa itu terjadi, kini dia sudah menginjak kelas 2 SMA. Arron masih terus terbayang kejadian masa lalunya. Setelah pengeroyokan dan pembullyan itu Arron memilih untuk pindah sekolah ke kota besar mengikuti Papanya.


“Anak-anak hari ini ada murid baru..” ucap wali kelasnya sesaat setelah jam pelajaran dimulai.


“Banyak banget murid barunya..” Pikir Arron, padahal kemarin dia baru saja mengantar murid baru keliling sekolah, dan hari ini sudah ada murid baru lagi.


“Namanya Cellena Tjie.”


Seorang gadis cantik masuk ke dalam kelas. Rambutnya sepanjang bahu, wajahnya cantik, manik matanya bulat dan lebar, dilengkapi bulu mata yang lentik dengan lipatan mata yang jelas. Bibirnya mungil dan sedikit tebal.


Deg..


Jantung Arron berdegup.. gadis itu punya nama yang sama dengan Mamanya. Juga nama yang sangat terngiang di benak Arron sebelum ia pindah dari sekolahnya dulu.


Arron masih mengamati setiap jengkal wajah sampai tubuh gadis itu. Tak ada yang mencolok, gadis itu sangat sederhana. Tak ada barang bermerek yang melekat pada tubuhnya. Cellena Tjie yang dikenal Arron adalah gadis glamor yang penuh pesona. Kenapa ia bisa berubah?


“Panggil saja saya Lenna.” Sapanya lembut.


“Arron, temani Lenna berkeliling sekolah, ya.” Bu Hana menunjuk Arron sebagai guide Lenna.


“Apa?! Saya Bu?! Saya tidak bisa, Bu.”


“Kenapa? Bukankah itu tugas Ketua OSIS?” Bu Hana keheranan, tak biasanya Arron menolak.


“E...tidak ada apa-apa Bu.”


“Kalau begitu antar dia nanti.”


“Baik, Bu.”


“Duduklah di sana Lenna.”


Lenna mengangguk dan duduk pada bangku kosong di samping Arron.


Lenna tak banyak berbicara, dia seakan menghindari tatapan ingin tahu Arron yang begitu besar.


“Nggak usah nganterin gw keliling. Gw ada urusan sepulang sekolah. Lama-lama juga gw bakalan hapal kelas-kelasnya.” Kata Lenna, tapi pandangan matanya tetap lurus ke depan.


“Ok. Tapi jangan bilang kalau gw nggak mau nganterin, ya.” jawab Arron, dia nggak mau ambil pusing dengan keputusan Lenna.


.


.


.


.


Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Lenna bergegas merapikan barang-barangnya dan berlari keluar kelas. Arron mengamatinya dengan keheranan. Dari jendela kelas ia masih bisa melihat bayangan Lenna yang berlari cepat keluar sekolah.


“Hmm.. mau ke mana dia?”


Arron membereskan tasnya dan bergegas keluar juga. Sopirnya Pak Gino sudah menunggu di depan sekolahan. Dengan sigap Pak Gino membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Arron masuk.


“Hari ini Tuan Muda mau ke mana? Les atau pulang?” Senyum Pak Gino.


“Papa bilang hari ini dia pameran. Aku mau ke sana.” tukas Arron.


“Oke, siap Tuan Muda.”


Arron menikmati perjalanannya menuju ke gedung seni Ayahnya. Di tengah perjalanan Arron melihat Lenna memasuki sebuah toko bakery dengan seragam pelayan.


“Pak Stop!! Berhenti!!”


“Eee..iya iya.. kenapa Tuan muda?”


“Laper, mo ke toko roti.” Arron mencari alasan.


“Baik Tuan Muda. Saya menepi dulu.”


Arron berlari kecil masuk ke dalam toko roti. Kenapa Cellena Tjie bekerja di toko bakery? Bukankah dia sangat kaya?


“Selamat datang..” Sapa petugas toko roti, mereka semua terkesima dengan wajah tampan Arron.


Memang sih, di SMA Arron terkenal tampan dan juga elegan. Cowok pintar, kaya dan berkaca mata. Duh siapa yang nggak tertarik dengan pesona elegan si Tuan Muda Arron? Ketua OSIS lagi, kalau nggak gara-gara Jay dan Kenzo (El anak baru) sudah pasti hampir satu sekolah bertekuk lutut padanya.


“Bisa di bantu?”


“Gw beli ini, ini, ini, dan ini.” Arron tak melihat belajaannya dia sibuk celingukan mencari Lenna.


“Silahkan bayar di kasir, Dek.”


“OK.”


Arron berjalan menuju meja kasir, “berapa totalnya?”


“Baik saya hitu...” Lenna memutar tubuhnya, tiba-tiba lidahnya kelu karena melihat Arron di depannya saat ini.


“Lenna?? Loe benaran Lennakan? Kita teman SMP-kan?”


“....”


“Apa loe ke sini buat ngehina gw?” Lenna memandang nanar pada Arron.


“Nggak kok, gw cuma penasaran pas loe masuk ke sini.. kok loe kerja di sini? Apa toko ini milik keluarga Tjie? Loe dulu-kan sangat kaya?” Arron melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Lenna.


“Loe udah ngehancuri hidup gw dan keluarga gw.. dan loe masih berani nanya hal kaya gini ke gw? Loe sadar diri nggak sih?”


“Apa maksud loe? Ngancurin idup loe? Gw?”


“Nggak usah pura-pura ****!! Dasar Nerd!!” Air mata Lenna menetes turun perlahan dari kedua pelupuk matanya.


“Gw beneran nggak ngerti, Len..!”


“Percuma ranking 1, kalau ternyata loe nggak punya rasa!!” Lenna melepaskan apronnya dan berlari masuk ke dalam.


Arron diam membeku, apa salahnya sampai bisa membuat hidup Lenna hancur seperti itu?


.


.


.


“Sudah beli rotinya?” tanya Pak Gino setelah Arron masuk ke dalam mobil.


“Sudah Pak. Ayo jalan.” Arron masih terdiam kaku.


Setelah perjalanan singkat Arron sampai ke gedung gallery seni. Ia langsung bergegas masuk ke dalam dan mencari Papanya.


“Hallo Tuan Muda. Presdir masih menemui klien. Anda bisa menunggunya di area gallery.” Manager Yoan menyapa Arron. Beberapa pegawai wanita menerima tas Arron dan menyimpannya.


“Ok, Om.” jawab Arron singkat.


Arron berjalan mengelilingi area gallery. Pameran foto hari ini dipenuhi oleh wajah dan tubuh Mamanya dalam balutan kain sutra berwarna hijau. Julius, Papanya menggunakan konsep tema foto Hitam dan Putih. Sehingga membuat warna hijau menjadi merah, dan kulit putih Lenna tak terlihat.


Arron berjalan menyelusuri semua foto yang terpajang pada gallery. Mengaggumi kecantikan Mamanya. Sampai sebuah tepukan ringan membuatnya berjengit kaget.


“Papa.. bikin kaget saja.”


“Cantikkan Mama?” Julius tersenyum saat memandang foto paling besar di area gallery.


“Cantik.”


“Yang ini Papa foto pas Mama hamil dirimu.”


“Iya, aku tahu.” Angguk Arron.


“Kenapa wajahmu tegang?”


“Pa.. apa yang kau lakukan pada keluarga Tjie?” Arron langsung melontarkan pertanyaan frontal pada Ayahnya. Arron baru menyadari, Ayahnya adalah orang yang hebat dan sangat mencintai keluarganya.


“Ah.. bagaiamana kau bisa tahu? Bukankah hal itu sudah lama berlalu..”


“Papa keterlaluan!!” Ucap Arron.


“Dia menghinamu.. dia menghina Mamamu.. di memukulmu.. mengingatnya saja membuat Papa ingin marah.” Julius memandang wajah anaknya.


“Tapi apa harus sampai membuat keluarganya hancur? Apa harus membuatnya kehilangan segalanya.”


“Harus!! Agar dia tahu siapa dia..! Ada hak apa dia membuat anakku menangis?!”


“Aku tak pernah menangis.”


“Tapi Mamamu menangis siang dan malam untukmu!!”


“Aku bisa bangkit.”


“Semua itu karena Papa dan Mama mendukungmu.” Julius menepuk pundak Arron.


“Tidak, semuanya karena usahaku sendiri.” Arron menolak percaya.


“Kau bangkit memang karena usahamu sendiri, Nak. Tapi Papa Mama juga membantumu.”


“....”


“Papa mencintai keluarga Papa lebih dari apapun. Dan Papa ingin menjaganya.” Ucap Julius lagi.


“Dengan menghancurkan hidup sebuah keluarga lainnya?”


“Stop.. Papa nggak mau berdebat denganmu.”


“Papa kenapa kau sangat kejam?”


“Semuanya aku lakukan untuk keluargaku.”


“Kalau begitu aku nggak mau jadi keluargamu.”


PLAK!!


“Arron!!” Julius berteriak marah.


“....” tamparan Julius terasa begitu menyakitkan.


“Baiklah kalau kau memang nggak mau jadi bagian dari keluarga Bintoro lagi.”


Arron masih terdiam, Papanya ternyata sangat marah. Memang ucapannya sangat keterlaluan.


“Cobalah hidup dengan tanganmu sendiri selama dua tahun!!” Julius menantang Arron.


“Baik.”


“Buktikan kau bisa hidup lebih baik tanpa keluarga. Papa juga akan pergi dan tak akan mencampuri urusanmu lagi.”


“Pa...!”


“Yoan!! Ambilkan cek.”


“Ini Presdir.”


“Ini cek senilai 50 juta, jumlahnya bahkan tak lebih banyak dari uang sakumu satu semester. Hiduplah dengan uang ini. Pakai gudang kita yang terbengkalai di dekat sekolahmu. Kau bisa tinggal di sana.”


“....”


“Ayo Yoan, kita pergi..!!” Julius meninggalkan Arron yang mesih menunduk sendirian.


.


.


.


“Presdir apa anda yakin?”


“Huh...” Julius hampir menangis se sampainya di dalam mobil.


“Ini, Tuan.” Yoan memberikan tisu.


“Biarlah.. aku dulu juga merangkak naik dari enol. Tanpa perjuangan sedini mungkin ia tak akan bisa berhasil.” Julius menegarkan hatinya.


“Jadi anda ingin mendidiknya?”


“Iya, diakan anak seorang Julius!! Dia harus belajar meraih semuanya sendirian.” Julius menghapus air matanya.


“Apa Nyonya tahu?”


“Belum, akan aku ajak dia pulang ke kota S suapaya dia nggak mengetahuinya.” Julius memandang Arron yang masih berdiri di depan foto Mamanya.


“Berjuanglah Nak!!”


>>> JAKA <<<


Like dan comment ya readers


Maaf sekali di reviewnya lama


Jd keluarnya ga bisa setiap hari ya


❤️❤️❤️❤️