Side To Side

Side To Side
JUALAN JENGKOL



SIDE TO SIDE


JAKA


Bau semerbak jengkol balado memenuhi gedung tempat tinggal Arron, bahkan sampai ke bengkel bawah. Lenna bahkan memakai masker supaya tidak menghirup asap beracun yang membuat napasnya sesak.


”Woah! Luar biasa, banyak sekali jengkolanya!!” Kenzo datang, mengecek dengan cermat saat Lenna memasukkan masakan jengkol ke dalam plastik makanan, menimbang jengkol lalu membungkusnya dengan rapat.


”Bauknya sumpah!!” El masuk, menutup hidung.


“Sedap!” seru Kenzo yang emang penggemar jengkol.


“Wah, bakalan untung berapa nih kalau laku semua?” Arron masuk, menggendong Bella dalam pelukannya. Unggas cantik itu terus bersin-bersin karena aroma jengkol yang berpadu dengan sambal balado buatan Lenna.


“Nggak usah manja!! Emangnya ayam bisa bersin?? Dasar pelakor!” Lenna cemburu dengan Bella.


“Ulu ulu!! Emang apa salah Bella sampai Nyonyah begitu membencinya?” Kenzo mengambil alih gendongan Bella dari tangan Arron. Bella langsung meloncat dan ngangkrem di atas kepala Kenzo.


“Awas aja kalau Eek!” Kenzo berseru, Bella tak peduli, yang penting dapat sarang hangat dan nyaman untuk tidur siang.


“Sudah beres, tinggal jualan. Mau di jual di mana?” tanya Lenna, akhirnya seratus bungkus jengkol telah jadi. Lenna memasukkannya ke dalam kardus supaya mudah di bawak ke lapak.


“Jual keliling di perumahan?”


“Atau di taman kota??”


“Mana ada yang mau beli? Mending perumahan aja.”


“Ya ampun, tensi dong gw kalau di lihat cewek-cewek kece seantero perumahan. Masa iya cowok ganteng kayak gw jualan jengkol?” Protes Kenzo nggak mau jualan di perumahan.


“Ya udah, ke taman kota aja, di sana banyak pedagang kaki lima yang juga jualan kan!” Arron memberi ide.


“Arron benar, ayo gw bantu angkat-angkat ke motor.” El mengangkat satu kardus besar, totalnya ada dua kardus.


“Okelah, kalau di taman kota paling musuhnya ibuk-ibuk kompleks ngegosip.” Kenzo setujuh.


Kenzo dan El berangkat ke taman kota. Hari ini Jayden nggak kelihatan soalnya lagi sibuk dengan bengkel. Tanpa kehadiran Kenzo dan El, pekerja bengkel cuma tinggal dua orang dan berarti kerjaannya bertambah dua kali lipat.


.


.


.


“Dibeli dibeli!! Jengkol premium dari hasil kebun sendiri, yang dibesarkan dengan sepenuh hati seperti anak sendiri, diolah dengan metode modern dan higienis. Tanpa MSG, tanpa mercury, dan tanpa pemanis buatan. Ayo dibeli dibeli … dijamin tak menyesal, buruan sebelum ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.” Kenzo berseru-seru menawarkan dagangannya. Seruan si Ipil membuat si Upil menjadi kebingungan. Ini mau jualan jengkol atau hati nurani sih??


“Yang bener aja lu!! Jualan apa curhat??” El nyolot.


“Bener juga, kok gw curhat sih di tinggal pas lagi sayang-sayangnya.” Kenzo teringat kisah cintanya pada Rere, terus mimbik-mimbik. Ngerasain di tinggal pas lagi sayang-sayangnya itu nggak enak my men.


“Lebay ah, Rere nggak ninggalin elo kok.” El menghela napasnya panjang, kasihan juga si Kenzo. Menurut cerita Rere, Kenzo sebenarnya nggak bersalah, tapi … ah sudahlah. Nggak bisa dibilang bener juga.


“Emang elo tahu apa?? Rere cerita ya kenapa dia ninggalin gw?” Kenzo langsung menarik lengan Asael.


”Enggak kok,” jawab El spontan bergeleng, padahal iya, Rere cerita pas di atap sekolahan habis pensi minggu lalu.


“Kirain dia cerita,” lirih Kenzo cedih.


“Udah, nggak usah mello, ayo jualan aja!!” El menepuk-nepuk pundak sahabatnya.


Kenzo mengangguk, ia pun mulai menggelar dagangannya. Berkeliling ke seluruh penjuru taman. Mulai dari bak pasir tempat para balita bermain, sampai ke area skate board tempat para remaja berkumpul. Perjuangan mereka membuahkan hasil, sedikit demi sedikit jengkol mereka laku. Apa lagi Lenna memang pintar masak, tak hanya baunya yang sedap, tapi rasanya juga enak.


“Gila, habis ludes, Zo!!” Asael tersenyum manis saat melihat kardus terakhir sudah ludes, berarti dagangan mereka sudah habis. Kenzo pun dengan bangga membusungkan dadanya. Berkat kegantengan dan keahliannya merayu emak-emak agar beli jengkol makanya masakan rumahan itu laku keras.


“Yuk cap cuss pulang.” Kenzo mengajak El pulang.


“Yuks.”


Namun, saat mereka membereskan kardus, ada suara aneh di dalam kardus kosong yang mereka tinggalkan saat berkeliling taman. Suara itu membuat Kenzo dan El saling pandang lalu menelan ludah dengan berat.


Oeekkk … Oeeekkk …


“Masa sih, Zo??” Asael berkeringat dingin, tangisan bayi semakin kencang terdengar dari dalam kardus.


“Coba buka El, siapa tahu cuma boneka!!” Kenzo mendorong tangan Asael.


Asael dengan ragu-ragu membuka tutup kardus. Perlahan tapi pasti, kardus terbuka. Seorang bayi berada di dalam kardus.


“Yah … Zo!! Bonekahnya eek!!” seru Asael saat bau harum mistis menjelajahi hidungnya.


...— JAKA —...