Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 2



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 2


Sebuah heli tiba di kebun belakang keluarga Hartono. Andre memegang tangan Via untuk membantu Via menuruni heli.


“Renny sayang.” Via berlari memeluk anak gadisnya.


“Sayang jangan terlalu keras padanya ya!” Via beralih memandang wajah Andre, tersirat emosi di wajahnya yang tampan.


“Masuk ke ruang kerjaku!” Andre mengajak Renny masuk ke dalam ruang kerjanya, Renny hanya mengekor, diikuti Brian dan Carl.


“Silahkan tuan.” Carl menuangkan secangkir teh hangat dan menaruhnya di depan Andre, lalu bergegas keluar.


Andre menautkan jari jemarinya di depan wajahnya yang tampan. Walaupun sudah berumur 45 tahun, tapi wajahnya tetap terihat tampan dan semakin berwibawa.


“Renny duduk di depanku!”


“Papa.. aku..” Renny tampak takut tapi tetap bergegas duduk di depan papanya.


“Kau tahu yang kau lakukan itu bukan hal yang baik?” Andre menahan suaranya untuk tidak meninggi.


Renny hanya diam dan menundukan wajahnya.


“Kau mengundang hampir semua laki-laki di kota ini!! Apa kau mau membuat dirimu terlihat tidak ada harganya?!” Kali ini nada tinggi keluar dari mulut Andre.


“Sejak kapan papa peduli padaku?? Peduli pada harga diriku??” Renny memandang wajah Andre.


...


Andre diam, memberikan kesempatan Renny untuk bicara.


“Sudah seminggu aku ulang tahun. Tapi papa dan mama bahkan tidak menemaniku. Kalian sibuk dengan pekerjaan, dan bisnis keluarga.”


“Semua itu kami lakukan untukmu.” Jawab Andre.


“Nggak, papa nggak pernah sayang sama aku! Papa cuma sayang sama mama.” Renny menitikan air mata.


Sejak umur 10 tahun, Andre dan Via mulai sering meninggalkan Renny untuk mengelola bisnis di berbagai negara.


“Kalian selalu pergi bersama dan nggak pernah mengajakku.”


“Kamu masih sekolah.” Nada bicara Andre mulai meninggi.


“Aku berusaha sekolah dengan baik supaya cepat lulus dan membantu papa. Tapi papa juga lebih memilih dia.” Renny menunjuk Brian yang berdiri tegak di belakang Andre.


“Semua itu nggak ada hubungannya dengan Brian.”


“Betul miss, tuan Andre sangat menyayangi anda.” Brian ikut angkat suara.


“Siapa yang bilang kamu boleh bicara??!” Renny membentak Brian. Wajah Brian tetap datar dan tenang.


“Renny! Jaga bicaramu! Dia kakakmu.” Andre kesal dengan tingkah putrinya yang semakin tak menghormati orang lain.


“Lihat papa lebih membelanya daripada aku.” Renny menangis.


“Miss.”


“Diam!!” Renny melemparkan cangkir teh ke arah Brian.


Andre hendak menampar pipi Renny tapi menghentikan niatnya karna Via masuk dan menahannya.


“Jangan sayang.” Cegah Via.


“Kau terlalu memanjakannya. Lihat dia sekarang.” Andre bergegas keluar meninggalkan Via dan Renny.


“Saya pamit dulu nyonya.” Brian mengangguk dan berjalan keluar.


“Mama, papa jahat.” Renny terisak di dada Via.


Via memeluk dan mengelus rambut Renny yang masih sedikit basah, “Kenapa tiba- tiba kamu begini sayang?” Via memandang lekat mata Renny.


“Aku benci kalian yang selalu meninggalkanku. Bahkan di hari ulang tahunku kalian tetap pergi meninggalkanku.” Renny terisak, air matanya meleleh jatuh.


“Maafkan mama dan papa ya. Biar nanti mama bicara sama papa. Tapi kamu juga harus minta maaf.” Via mengelus pipi Renny untuk menghapuskan air matanya.


“Nggak mau..” Gerutu Renny.


“Beneran nggak mau?” Ledek Via.


“Iya.”


“Kalau gitu mommy cabut semua credit card dan akun bank atas nama kamu ya.” Via tersenyum.


“Jangan..! Iya Renny minta maaf.” Renny mengaku kalah, dan tersenyum dengan kaku.


“Good. That’s my girl.” Via tersenyum penuh kemenangan, mencubit pipi Renny dengan lembut.


Seorang wanita apalagi seorang ibu emang paling tahu kelemahan anaknya.


......................


“Renny sudah meminta maaf padamu?” Via menyusul Andre naik ke atas kasur.


“Heem.” Andre mengangguk dan tetap berfokus pada layar pad ditangannya.


Via mengambil pad dari tangan Andre dan memandangnya, “Jangan acuhkan aku.”


“Kau yang terlalu memanjakan dia.” Andre mengalihkan padangan.


“Oke aku salah, tapi Renny sudah meminta maafkan.” Via menempelkan dahinya ke dahi Andre.


“Itu karna kau mengancamnya.”


“Iya aku mengancamnya memblokir semua credit cardnya.” Via tersenyum.


“Kau ini benar- benar lebih jahat dariku.” Andre mencubit hidung Via.


Via tersenyum dan melingkarkan tangannya ke leher Andre, dan mengecup bibirnya lembut.


“Seandainya kita bisa punya anak lagi, pasti Renny tidak akan kesepian.” Via bersandar di dada Andre, wajahnya berubah sendu.


“Jangan salahkan dirimu.” Andre memeluk dan mengelus rambut Via.


“Renny semakin membenci Brian. Dia merasa Brian merebut kasih sayangmu.” Celetuk Via.


“Iya, aku tahu. Brian sebenarnya anak yang baik. Dia terus saja tersenyum padahal Renny selalu menjahatinya.” Jawab Andre.


“Sudahlah lupakan masalah anak- anak sejenak. Kemarilah!” Andre memeluk Via.


Via kembali bersandar di dada Andre, menikmati suara detak jantung Andre.


......................


Bak..buk..


Brian memukul lawan sparring di depannya, sesekali memberikan tendangan dan pukulan sikut. Keringatnya membasahi seluruh badan, menimbulkan print lekuk tubuhnya yang indah di atas baju. Brian menyukai olah raga kick boxing seperti Andre.


Andre datang dan memakai sarung tinju serta pelindung dada. Setelah beberapa kali menyetel ukuran yang pas dia menaiki ring.


“Sparring denganku.” Ajak Andre.


“Baik.” Jawab Brian.


Brian melancarkan beberapa pukulan dan tendangan, Andre menangkis dan kemudian menyerang. Brian bertahan, Andre terus menyerang dan sampai akhirnya Brian jatuh.


“Ayo berdiri.” Andre mengulurkan tangannya membantu Brian untuk bangkit berdiri.


“Kau mengalah?” Andre menepuk pundak Brian.


“Tidak, tuan yang hebat.” Angguk Brian.


“Renny tak mengijinkanku.”


“Kau dan dia sama- sama anakku. Jangan hiraukan dia.” Andre turun dari ring, di ikuti Brian.


“Yuhu.. kemarilah!! Aku bawa cemilan.” Via datang dengan nampan berisi minuman dingin dan cemilan manis.


“Hei sayang.” Andre menyambutnya dengan kecupan ringan di pipi, lalu mendekat meminta balasan.


“Kau berkeringat!!” Via tak mau membalasnya.


“Kejam.”


Brian hanya tersenyum geli melihat tingkah laku ke dua orang tua angkatnya.


“Brian berhenti memanggil kami dengan sebutan tuan dan nyonya. Aku tidak menyukainya.” Via berkacak pinggang.


“Baik ma.” Brian duduk di meja, meneguk habis minuman dingin di depannya.


“Di mana Renny??” Andre bertanya.


“Hang out dengan temannya.” Jawab Via.


Andre, Via dan Brian mengobrol dengan santai. Brian memandang mereka dengan perasaan senang. Sudah lama canda tawa seperti ini tidak dilihatnya. Kalau bukan karna Andre dan Via mungkin Brian sudah mengemis di jalanan.


Sejenak Brian teringat akan kenangan masa lalunya, bagaimana orang tuanya meninggal dan Andre mengangkatnya sebagai anak. Saat itu dia masih berusia 10 tahun, dan Renny 7 tahun. Masa- masa itu sangat indah saat Renny masih memanggilnya kakak.


10 th yang lalu.


“Kasihan sekali ya, padahal masih kecil.”


“Kecelakaan ya?? Kasihan.”


“Berapa usianya? Masih kecil kasihan banget.”


Itulah ucapan yang terucap tiap kali ada tahu yang datang melayat di pemakaman orang tuanya. Brian saat itu masih berusia 10 tahun, karna cerdas dia telah mengerti tentang kematian, tapi masih belum bisa merasakan kesedihannya.


Dia duduk dengan manis di sebelah peti ke dua orang tuanya, di temani beberapa orang kerabat terdekat. Brian menyalami setiap orang yang telah selesai berdoa. Sampai tiba giliran Andre dan Via, juga si kecil Renny yang mengekor.


“Halo Brian.” Sapa Andre.


“Halo paman.”


“Kau sangat tampan.” Via berjongkok dan mengelus rambut pirang Brian.


“Terimakasih.”


“Brian, maukah kau menjadi anakku?” Via tersenyum, Brian melongo kaget.


“Kaka!!” Renny tersenyum sangat manis dan memegang tangan Brian.


Brian merasakan kehangatan dan kenyamanan di tengah- tengah keluarga Andre.


“Tapi aku bukan anakmu.”


“Kau anakku.. dan selamanya akan menjadi anakku.” Via memeluk tubuh mungil Brian.


Brian menangis dalam pelukan Via, setelah beberapa saat dia mengerti apa artinya kehilangan. Kehilangan merupakan sebuah kesedihan yang menyesakkan dadanya. Senyumannya selama ini hanyalah untuk mengalihkan rasa perih yang terdapat di relung hatinya. Dan saat Via memeluknya, ada rasa hangat dan nyaman yang mengikis perih itu dan menghilang.


“Kaka..kaka.. janghan nanis, nti Lenny belikan pelmen. (Kakak.. kakak..jangan menangis nanti Renny belikan permen.)” Renny menyentuh ke dua pipi Brian dengan tangannya yang mungil.


Ayah brian adalah salah satu pegawai di perusahaan Andre. Kedua orang tuanya kecelakaan saat perjalan dinas. Andre dan Via menjadi merasa bersalah dan ikut bertanggung jawab atas kecelakaan itu.


Brian merupakan anak yang cerdas dan jenius. Andre sangat menyukai kepandaian dan kerajianan Brian. Bertolak belakang dengan Renny yang bodoh, Brian selalu mendapatkan peringkat pertama dan selalu memasuki kelas aselerasi.


Renny mewarisi gen paras wajah yang elok seperti papanya, tapi masalah otak dan kepandaian dia mewarisi Via mamanya. Jadi tiap masuk ke sekolah Renny selalu rankking 2 tapi dari bawah..


Hal ini membuat Renny sebel, dia merasa Andre dan Via lebih menyayangi Brian dibandingkan dirinya yang adalah anak kandung mereka sendiri.


“Papa sama mama lebih sayang kak Brian!!!” Renny membanting pintu dan menangis.


Andre dan Via menganggap itu hanyalah sebuah cara Renny merujuk, tidak memikirkan jauh ke depan bahwa Renny akan sangat membenci Brian.


“Jangan panggil aku Renny, panggil aku Miss Renny. Kau bukan kakakku!!” Itulah kata- kata kasar yang terucap dari mulut mungil Renny saat menginjak SMP.


“Renny.”


“Jangan panggil aku Renny!! Kau hanya anak pungut.” Renny menangis dan meninggalkan Brian yang terdiam membeku.


Kesibukan Andre dan Via mengharuskan mereka sering berpergian. Sehingga baik Renny maupun Brian jarang bertemu dan mendapatkan kasih sayang. Berbeda dengan Brian yang mampu menyikapinya dengan dewasa, Renny justru merasa semakin di buang oleh kedua orang tuanya.


“Papa mama milikku!! Jangan memanggilnya papa dan mama!!”


“Renny, kenapa kau sekarang membenciku?” Brian mengeluarkan argumennya.


“Miss!! Tambahkan kata miss!! Kau bukan kakakku.”


“Baiklah, miss Renny. Kalau itu maumu. Aku juga tidak akan memanggil mereka papa dan mama.”


“Baguslah.” Jawab Renny.


“Apakah dengan begini kau sudah mau berbaikan denganku?”


“OK!!”


Renny membuat kualahan Andre dan Via dengan tingkah manjanya. Andre semakin marah saat tahu Brian tak lagi memanggilnya papa. Tapi Brian bersihkeras dan Andre hanya bisa memakluminya. Menghukum Renny hanya akan menambah kadar kebencian dan kecemburuannya terhadap Brian.


“Kau melamun apa?” Via mengibaskan tangannya di depan wajah Brian yang tampan.


“Nggak kok ma. Hanya teringat masa lalu.” Ucap Brian.


“Maafin Renny ya, dia hanya belum dewasa.”


Brian menjawabnya dengan anggukan pelan.


“Kau sudah masuk ke perusahaankan? Bagaimana kemajuanmu?” Andre ganti bertanya.


“Sudah pa. Om Nicky dan tante Linda mengajarkan banyak hal kepadaku.” Jawab Brian.


“Papa berharap banyak padamu. Aku ingin pensiun dini dan berbulan madu setiap hari.” Andre menggoda Via.


“Kita belum ke Honolulu, apa besok kita berangkat?” Via tersenyum.


Brian hanya tertawa melihat kelakuan orang tuanya yang kelewatan mesra. Kadang- kadang mereka tidak sungkan memamerkan kemesraan mereka di muka umum. Brian ingin sekali merasakan cinta yang tulus seperti mereka. Tapi apa dayanya kalau wanita yang selama ini dia cintai adalah adiknya sendiri..


Brian mencintai Renny adiknya, walaupun tidak ada hubungan darah yang mengalir, tapi secara hukum Renny tetap adalah adiknya.


“Aku mandi dulu.” Pamit Brian.


“Oke. Istirahatlah sayang.” Via mengelus lengan Brian.


Via memandang punggung Brian yang menjauh, lalu menghela nafas dan kembali duduk.


“Aku mengkhawatirkan Brian, Renny terlalu kasar padanya.” Ucap Via.


“Dia terlalu banyak memendam perasaannya. Aku tahu dia menyukai Renny, mencintai Renny.” Andre meneguk minumannya.


“Bagaimana kau tahu?”


“Sorot matanya saat melihat Renny, sama dengan sorot mataku saat melihatmu dulu.”


“Apa kita harus menghentikannya?”


“Aku juga tidak tahu harus bagaimana.. Perasaan manusia adalah hal yang paling rumit.”


“Lalu harus bagaimana? Aku nggak mau keduanya saling melukai. Mereka sama- sama anakku.”


“Aku akan pikirkan caranya, yang terbaik untuk keduanya.”


Baik Andre dan Via merasa buntu dengan hal ini. Masalah yang dialami anak- anaknya ternyat lebih rumit dari pada dugaan mereka saat ini.