
SIDE TO SIDE - JAKA
JUST HOLD ON
Esoknya...
Rere berdiri pada koridor sekolahannya, mengamati ke arah pintu gerbang dari atas. Sudah setengah jam Rere berdiam diri, memandang Kenzo yang masih menunggu dirinya di depan gerban sekolahan.
“Huft.. cowok itu nggak ada kapoknya.” Rere bermonolog dengan dirinya sendiri.
“Apa gw bales dendam aja ya?” Tiba-tiba muncul ide gila dalam benak Rere. Rere menuruni dua anak tangga sekaligus supaya segera sampai ke bawah.
“Re..!” Panggil Kenzo.
“Lo lagi. Ngapain sih? Nggak risi ya gw tolak terus?” Rere berjalan santai, Kenzo mengikuti langkah kaki Rere.
“Nggak sampe gw tahu kenapa elo dulu ninggalin gw.” Kenzo menarik siku tangan Rere sampai ia berputar dan menghadap Kenzo.
Kenzo memang melakukannya untuk menyita perhatian Rere. Rambut panjangnya tergerai bak iklan shampo. Wajah keduanya bertemu, manik mata Kenzo yang berbinar terang membuat Rere terkesima. Belum pernah ada mata secantik itu untuk seukuran cowok.
“Jawab Re. Abis itu gw nggak akan pernah gangguin elo lagi.” Kenzo mengiba.
“Gw sendiri juga nggak tau, Enzo. Gw nggak inget. Gw uda lupa semuanya.” Ucap Rere, jawabannya membuat Kenzo keheranan. Apa benar yang di bilang Arron? Penyakitnya dulu separah ini sampai Rere lupa ingatan, melupakan semua kenangan manis mereka.
Akhirnya Kenzo melepaskan lengan gadis itu. Haruskah dia menyerah pada gadis itu? Kalau boleh jujur hati Kenzo masih merindukannya.
“Ya udah gw pergi.” Pamit Kenzo, tapi kini giliran Rere yang menghentikan langkah kakinya.
“Elo nggak pernah mau coba bantuin gw buat mengingat memory indah kita dulu?”
Rere memasang wajah se imut mungkin. Yah, inilah awal balas dendam Rere ke Kenzo.
“Lo mau tahu?” Wajah Kenzo bersemu merah.
“Why not?” Rere tersenyum dan kembali berjalan pulang.
“Oke gw cerita.”
“Gw dengerin.”
•
•
•
2 tahun yang lalu, SMP kelas 3 ( satu tahun setelah kedekatan Kenzo dengan Rere )
“Ayo Re! Ntar telat.” Kenzo menyetarter motornya, Rere sudah berlari kecil mencoba mengimbangi langkah Kenzo yang lebar.
“Elo ya!! Benci gw, ngapa sih mesti lari?!” Rere menjewer telinga Kenzo.
“Keburu di hukum kitakan?!” Kenzo membantu Rere membonceng motornya.
“Dihukum juga nggak masalah, dari pada lelah. Lo liat keringet gw? Uda segedhe brondong jagung.” Rere sebal, pagi-pagi mesti olah raga dulu.
“Sini gw lap!!” Kenzo menyeka keringat Rere dengan lengan jaket jeansnya, membuat wajah Rere yang pucat berubah warna.
“Besok lagi jemput gw di dalam gang lah!! Biar gw nggak mesti lari-lari.” Rere menepis tangan Kenzo, takut perlakuan manis Kenzo semakin menjadi-jadi.
“Gw takut sama anjiing-nya Pak Elmo tetangga lo yang galak itu.” Kenzo terkikih, cowok garang takut sama anjingg shitzu.
“Ck...! Anjingg kaya boneka gt apa yang mesti di takuti, alesan lo aja nggak mau repot!!” Rere mencubit pinggang Kenzo.
“Hei jangan cubit-cubit! Motornya oleng ntar.” Memang sih, laju motornya agak berkelak kelok.
Nggak lama mereka sampai di gedung sekolah. Mereka berdua telat..
Jeng.. Jeng...!!!
Pak Kumis lele udah nungguin mereka di depan gerbang. Sebagai guru BP yang bertugas mendisiplin siswanya yang berandalan, telat, nyeleneh, dan nggak tertip, Pak Kumis kudu pasang tampang garang, padahal sebenernya hati Pak Kumis hello kitty banget. Sayang anak sayang istri. (Eh..kok malah keluar jalur cerita)
“Pak jangan dikancing donk!!” Rere memelas.
“Nggak bisa, uda 3 kali bapak kasih kesempatan. Ini yang ke 4, lama-lama kalian manja, gak konsekuen..!” Bentak Pak Kumis.
“Yah.. Yah..” Rere menyesal saat pintu gerbangnya hampir menutup.
“Eits Tunggu Pak..!” Kenzo nyelip.
“Hei!! Anak ini!!” Jeweran Pak Kumis bersarang pada telinga Kenzo.
“Adududuh kok malah di jewer sih Pak?!” Kenzo protes.
“Gemes liat tindik lo yang selusin banyaknya.” Pak Kumis melepaskan jewerannya.
“Aduh sakit Pak.” Kenzo mengusap telinganya yang memerah.
“Mau jadi apa kamu hah? Berandalan kaya gini?!” Mata pak Kumis mendelik.
“Dokter bedah Pak!” Jawab Kenzo. Jawabannya sukses membuat Pak Kumis ngakak tak percaya.
“Dokter bedah kok tindik selusin? Baju compang camping, rambut warna warni.”
“Belom ada yang kaya gitu kan Pak? Gw ntar jadi yang pertama. Dokter Kenzo, spesialis bedah umum, dokter paling nyentrik dan cakep sedunia.” Kenzo tertawa.
“Heh!! Ngimpi ni anak.”
Rere mengendap-endap masuk ke dalam. Lalu berlari menuju ke kelas. Memanfaatkan omelan Pak Kumis pada Kenzo yang nggak ada titik sama komanya.
“Tunggu gw, Re!!!” Kenzo berlingsut dan ikut berlari.
“Eee.. dasar anak-anak nakal!!” Pak Kumis geram, tapi tubuh gendutnya membuatnya malah berlari untuk mengejar mereka.
•
•
•
Sekolah sudah hampir selesai saat tiba-tiba speaker pengeras suara online terdengar.
Panggilan untuk Kenzo dan Reindah dari kelas 3A. Mohon menghadap ke ruang BP sepulang sekolah..
Kenzo dan Rere saling pandang.
“Elo sih!!!” Salah Kenzo.
Sorakan seluruh penghuni kelas 3A mengantarkan Kenzo dan Rere keluar kelas. Semenjak mengenal Kenzo, Rerw berubah. Dari anak teladan jadi anak telatan tur edan. Rere juga ikut menindik telinganya, sudah ada 4 lubang di telinganya sekarang. Saat Rere bisa saja pergi ke sekolah di antarkan Mama atau Papanya, Rere lebih memilih menunggu Kenzo yang udah pasti datang terlambat. Entah apa yang membuat Rere berubah? Yang pasti ia merasa hidupnya lebih hidup saat mengenal Kenzo.
“Kalian di hukum, beresin gudang olah raga. Nggak boleh pulang sebelum bersih. Ini kuncinya.” Pak Kumis menyodorkan segrombyong kunci pada Kenzo dan Rere.
Kenzo dan Rere saling pandang. Lalu dengan berat hati mereka melangkah keluar dari ruang BP menuju gedung olah raga.
“Nyebelin, gara-gara elo!!”
“Salah sendiri lo nunut gw..” Kenzo melepaskan baju seragamnya, ada kaos daleman warna hitam bergambar logo band Papanya.
“Papa lo anak band? Pantes aja elo urakan.” Tawa Rere.
“Hahahaha.. bener.”
“Mama lo?”
“Dokter gigi. Kalau elo?”
“Mama Papa uda cerai. Sekarang gw tinggal ama Mama dan Papa tiri gw.” Jawab Rere.
“O.. kenapa cerai?”
“Gara-gara gw sakit. Mama bilang Papa nggak bisa nyukupi kebutuhan pengobatan, sedangkan Papa bilang gw sakit gara-gara Mama.” Ucap Rere, mereka memulai memakai sarung tangan dan masker sebelum masuk ke dalam gudang.
“Oh.. kasihan.. Papa Mama gw hampir tiap hari marah sama gw. Kadang juga gw heran, salah gw apa coba?” Kenzo memindahkan dan menata beberapa bola yang menggelinding pada keranjang.
“Salah lo banyak!! Pliss nyadar diri.” Kikih Rere.
Nggak terasa mereka ngobrol sambil membersihkan gudang. Sudah hampir tiga jam mereka di dalam. Hari mulai sore, perut mereka kelaparan.
“Cabut yuk.” Ajak Kenzo.
“Ayuk.” Rere setuju, pasalnya dia belum makan dan harus meminum obatnya.
Klek.. jeglek.. klekkk...
“Hloh kok???!!!” Kenzo kaget saat pintu gudang tak bisa terbuka.
“Kenapa?” Rere mendekat, wajahnya terlihat pucat karena capek.
“Terkunci!!”
“Hlah kok bisa?!! Bukannya kita tadi bawa kuncinya?” Rere syok.
“Tadi tergantung di luar. Masa sih ada yang ngunci pas kita beres-beres tadi?!” Kenzo menepok jidatnya.
Memang benar, OB sekolahan yang kebetulan lewat kaget karena pintu gudang tertutup dan kunci masih menggantung di luar. Tanpa pikir panjang ia mengunci pintu dan mengembalikannya pada ruang BP.
“Ponsel Re. Telpon siapa gt..!” Perintah Kenzo.
Rere bergegas mengeluarkan ponselnya. Tapi batrenya abis, “Batrenya abis Zo!! Punya lo?”
“Diluar. Kan gw tadi ganti dulu. Tasnya gw taruh luar biar nggak kotor.” Kenzo menyesali keteledorannya.
“Duh gimana donk?!”
“Stop jangan panik. Wajah lo pucat, lo duduk dulu deh.” Kenzo menyuruh Rere istirahat. Rere menurut, ia duduk bersandar pada papan loncatan.
Kenzo berteriak dan menggedor-gedor pintu, berharap ada orang yang lewat mendengar sinyal minta tolongnya.
“Brengsekkk!!!” Umpat Kenzo, ia menendeng pintunya, berharap pintu itu hancur.
“Duduk sini, Zo. Kita tunggu sebentar lagi, anak-anak klub basket pasti latihan sore ini.” Rere menepuk tempat kosong di sampingnya.
Kenzo menurut, ia duduk di samping Rere. Mengatur napasnya yang berat karena tubuh yang lelah dan ruangan yang sempit.
“Gw capek, pusing.” Rere mengusap keringatnya, keringat dingin membasahi wajahnya yang cantik.
“Sandaran aja.” Kenzo mempersilahkan Rere menyandarkan kepalanya pada bahu Kenzo.
Dengan ragu Rere bersandar, ternyata rasanya sangat luar biasa. Setruman pelan dan gelitik ringan membuat perutnya berdesir. Jantungnyapun berdetak tak karuan. Ada apa ini? Ia hanya bersandar tak lebih dan tak kurang.
Begitu juga dengan Kenzo, tak biasanya dia punya degupan jantung yang begitu melaju dengan cepat. Aneh!! Bagaimana mungkin playboy seperti dirinya berdesir pada cewek yang hanya bersandar pada bahunya?
“Re.. gw... itu..” Kenzo berubah kikuk.
Rere mengangkat wajahnya, melihat wajah Kenzo yang tersipu membuatnya ikut terbawa suasana.
Tanpa bertanya dan tanpa di suru, Rere mencium bibir Kenzo. Mengecupnya pelan, Kenzo terbelalak.
“Sory..”
“Nggak bisa, lo mesti tanggung jawab!” Kenzo mencium kembali bibir Rere, melumatnya pelan dan berirama. Suara degupan jantung terdengar memenuhi ruang sempit itu.
“Rere??!” Kenzo menghentikan ciumannya saat rasa anyir ikut terasa, Rere mimisan.
“Ah.. pantes aja kepala gw pusing banget.” Rere mengambil sapu tangan dari dalam tasnya.
“Elo gpp?”
“Gpp.. tapi gw harus minum obat. Kalau nggak gw pasti pingsan.” Senyum Rere getir, sangkin udah terbiasanya dengan rasa sakit ini Rere tak pernah mengeluh.
“Just hold on Rere. Gw cari cara biar kita bisa keluar.”
Rere mengangguk lemas sebagai jawaban.
Kenzo memutar matanya, hanya jendela kecil di bagian atas yang bisa mengeluarkannya. Kenzo mengambil kain kotor dan melilitkannya pada tangan, dan memanjat lemari.
PRANG!!!
Kenzo memecahkan kaca jendela.
“Tunggu Rere. Hold on. Gw segera kembali!!” Kenzo mendorong kaca yang masih tersisa dan meloncat turun.
>>> JAKA <<<
Hold on ya Rere
Kenzo siap menolongmu.
Like dan Comment.
Bagi vote untuk saya ya..
😘😘😘