
JAKA
PACARAN II
Pagi hari yang cerah, Kenzo menboncengkan Rere menyelusuri jalanan di seputar pantai. Mereka menikmati angin yang berhembus lembut dari perjalanan saat Kenzo mengayuh sepeda.
Kenzo dan Rere berhenti di sebuah warung tenda yang menyediakan berbagai macam minuman dari kelapa muda dan hidangan laut. Mereka duduk sambil meminum es kelapa muda.
“Lo mau ngelakuin hal gila apa, Re?”
“Apa ya?”
“Ngebolos?” Usul Kenzo
“Uda biasa..” jawab Rere
“Ngerokok?” Usul Kenzo lagi.
“Mana boleh dodol, cepet mati ntar gw!!”
“Bikin bayi?!” Alis Kenzo naik turun.
“Gila!!!” Rere menjewer telinga Kenzo.
“Yah.. padahal kalau bikin bayi gw langsung mapan, gw temenin tiap hari.” Ledek Kenzo.
“KTP aja belom punya, SMA aja baru mau mulai. Siapa yang mau ngurusin tu jabang bayi?!” Rere nggak habis pikir dengan otak Kenzo yang kelewat mesum.
“Nenek sama Kakeknya lah. Kita ma happy, lanjut sekolah ato nikah.”
“Trus mau di kasih makan apa?”
“Tergantung, kalau bayi ya Asi, uda gedhe ya nasi. Jangan di bikin repot donk.” Kekehan Kenzo mendapat hadiah sebuah jeweran lagi dari Rere.
“Dasar gila, sinting, mesum, cowok hina.” Semua titel raja gombal yang dulu tersemat pada ayahnya Erza kini hinggap pada Kenzo melalui omelan Rere.
“Hina hina gini juga lo cinta-kan?”
“Nggak, mo muntah. Putus aja yuk. Heran gw kok mau pacaran sama elo?” Rere tertawa dengan keputusannya.
“Yakin nggak nyesel putus ama gw?”
“Nggak.”
“Oke fix, kita putus.”
“Hahahaha.. jangan donk..” tawa Rere.
“Tuh kan.. nggak ada cewek yang nggak bertekuk lutut pada pesonaku.” Kenzo memeluk pundak Rere.
“Geer..”
“Habisin yuk, paling Mama sama Papa mau ajakin pulang. Besok Zizi mau ujian.”
“Oke.”
>>> JAKA <<<
Pas ngambil hasil ujian kelulusan Kenzo menghampiri Rere.
“Jadi mo lihat dunia nggak?” Tanya Kenzo.
“Emang beneran bisa?”
“Bisa, ayo naik, gw anterin elo keliling dunia.”
“Oke.”
Kenzo mengendarai motornya menuju ke sebuah planetarium yang ada di pusat kota. Membeli dua buah tiket dan menggandeng Rere masuk ke dalam.
“Ini kan planetarium!”
“Iya, kan elo mau lihat dunia.”
“Inikan lihat pelanet.”
“Emang dunia bukan pelanet?”
“Planet sih.”
“Ya udah ayo..!”
Rere mengikuti Kenzo dan duduk, melihat bagaimana cara dunia ini terbentuk, matahari, bulan dan planet-planet lain dalam galaksi bima sakti.
“Gimana?”
“Keren!!” Rere mengacungkan jempolnya, zaman memang sudah modern dan penayangan atraksi di planetarium sekarang lebih mengesankan.
“Ayo ikut gw, Re, gw uda siapain hal gila buat lo lakuin.”
“Beneran??”
“Hoo.”
Rere mengikuti Kenzo kemanapun KenZo mengendarai motornya. Rere mendekap erat pinggang Kenzo. Rasanya sangat nyaman, sangat hangat. Detak jantungnya yang berdebar terasa begitu indah. Dan kenyamanan saat memeluknya sungguh amat tak tergantikan.
“Siapa bilang cinta monyet nggak biaa indah?” Kikih Rere dalam hatinya.
Mereka sampai pada ruas jalan di sepanjang pecinan dan pertokoan. Kenzo memarkirkan motornya dan berlari menuju ke sebuah toko cat. Ia membayar pesanannya dan kembali pada Rere.
“Apa ini?”
“Pilox.”
“Mo ngapain?”
“Mau orek-orek temboklah!!” Lanjut Kenzo.
“Ooo...” Rere tersenyum senang.
“Ayo..” Kenzo menggandeng tangan Rere, mencari spot dinding yang lebar dan sepi.
Kenzo mberikan masker pada Rere sebelum memulai gambarnya. Mereka menulis kata KenzoRere❤️
Simpel dan sederhana, tapi penuh makna bagi mereka berdua.
Sebelum mereka menyelesaikan tulisan itu, beberapa petugas keamanan datang bersama pemilik bangunan untuk mengejar mereka. Mengotori dinding memang merupakan kejahatan ringan, tapi tetap saja pemiliknya pasti sangat sebal.
Terpaan angin kencang saat berlari membuat hidup Rere serasa lebih hidup. Gandengan tangan Kenzo yang menggenggamnya erat tangannya membuat Rere merasa jauh lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya.
“Hah.. hah.. hahahaha..” Rere berkeringat, setelah berlari menghindar cukup jauh ia mengatur nafasnya. Bahunya naik turun tak beraturan.
“Elo gila..” tunjuknya pada Kenzo.
“Gilakan?!” Kenzo senang.
“Hoo..”
“Sini..!” Kenzo memeluk Rere
“Thanks..”
“Apapun buat lo, sayang!!”
“Hahaha..”
“Berarti tinggal foto ala princes sama makan gorengan di gunung!!” Teriak Rere.
“Kok lo gitu sih, Babe?”
“Kenapa gw?”
“Kok lo bikin list seakan-akan elo beneran mau ninggalin gw?” Kenzo berubah, perasaannya gelisah.
“Ah.. nggak kok.” Rere tersenyum, “itu emang hal-hal yang pengen gw lakui belakangan ini.” Rere berbohong, Rere nggak tahu kalau Kenzo udah pernah membaca diarynya.
“Pokoknya nggak boleh!! Nggak boleh pergi ya..!” Kenzo mengecup kening Rere.
“Iya. Gw janji.”
>>> JAKA <<<
Kembali ke masa kini...
“Jadi begitu ceritanya. Habis itu lo uda nggak kelihatan selamanya.” Kenzo mengembalikan gelas es cincau pada abang penjualnya.
“Trus gw ngilang gitu aja?” Rere juga memberikkan gelasnya.
“Iya.” Kenzo ngeluarin dompet.
“Lo nggak nyariin gw?”
“Nyariin lah. Hati gw sakit tahu, apalagi ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.” Kenzo membayar es cincau yang di minum mereka berdua.
“Ketemu?”
“Nggak..”
“Lo beneran nyari nggak?”
“Benerlah, masa bohongan. Gw cari rumah lo, sekolahan, rumah sakit, tempat-tempat kita pacaran.”
“Lo nggak pernah nyari ke dalam jantung hati lo?”
“Heung?? Emang kenapa? Emang elo muat masuk ke jantung gw gt?”
“Kali aja.” Rere tersenyum dan kembali berjalan.
“Ternyata memang Kenzo tak mengingat semuanya.” Rere menghela nafas, hatinya sakit mengetahui Kenzo hanya mengingat sebagian kecil dalam masa lalunya.
“Tunggu Re.” Kenzo mengikuti langkah kaki Kenzo.
“Kenapa sih elo bisa sejahat ini?” Pertanyaan Rere membuat Kenzo bingung.
“Hah?? Kok malah gw yang jahat? Harusnya elo donk!! Kan elo yang ninggalin gw.”
“Bener juga.”
Rere melangkah dengan berat di samping Kenzo. Air matanya hendak turun karena bayangan masa lalu yang terus terngiang dalam benaknya.
“Lo kudu bahagia Kenzo.”
“Hah???”
“Udah gw pulang dulu.” Pamit Rere, ia berbelok di ujung jalan. Meninggalkan Kenzo yang masih terbengong-bengong kebingungan.
>>> JAKA <<<
Jaka Up..
Plisss like ya readers
Kasih comment
Banyak tinggalin jejak
Lap yu so much
❤️❤️❤️