
SIDE TO SIDE
JAKA
Bambang minta ne nen, terus ne nen punya siapa??
Kenzo meraba dadanya siapa tahu mau ne nen punya dia. Jayden menangkup miliknya, isinya otot doang. Arron dan El menepok jidat Kenzo dan Jayden. Kurang didikan atau emang sengaja bikin orang naik darah sih?
“Itu aja,” tunjuk El. Keempatnya terbahak setelah merasa kalah dada dengan milik Lenna.
Lenna langsung menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan di depan dada saat keempat perjaka kita menoleh ke arah dadanya.
“Heh, tolong ya!! Gw masih perawan!!” Lenna mengdengus, mana mungkin dia punya air su su untuk Bambang ne nen?
“Iya nih tauk!! Bikin kesal!!” Rere bergeleng, yang ia maksud ne nen juga nggak seratus persen kudu nemplok di dada milik perempuan. Beli susu formula kan juga bisa. Katrok amat sih? Bo do dipelihara.
“Beli susu formula buat bayi, cari aja dulu yang ukuran kecil, cobain dulu cocok apa enggak! Terus jangan lupa beli dot juga, pempers, dan juga tisu basah buat cebok.” Rere sudah pengalaman, Ayahnya menikah lagi dan punya adik dari istri ke dua saat Rere lulus SMP, tentu saja Rere mengerti caranya merawat bayi.
“Pergi beli gih, Zo. Elo kan bapaknya.” Asael mendorong lengan Kenzo.
“Duitnya?”
“Masya ampun, bapak nggak bertanggung jawab! Berani punya anak nggak punya duit.” El bergedek keki.
“Belom gajian, gaji minggu lalu abis buat bayar hutang mi ayamnya kang subur.” Kenzo menatap sedih pada Arron, “Kas Bon, Bossque.”
“Ya udah, Kas Bon aja, yang penting Bambang bisa diem.”
”Ya udah sana beli, keburu Bambang kelaparan terus sakit.” Rere menyenggol lengan Kenzo dengan sikutnya karena tangan yang lain menggendong Bambang.
“Yuk! Temenin, El!!” Kenzo menarik Asael, pemuda yang selalu menjadi hibahan segala kelakuan Kenzo itu terpaksa menuruti sekali lagi ajakan sahabatnya untuk mencari pempers dan susu formula.
Oek … oek!! Bambang terus menangis tiada henti, namanya juga bayi yang sedang lapar, nggak bisa membayangkan bagaimana nasib bayi ini kalau Rere tidak datang.
“Tunggu ya, tunggu bapakmu balik.” Rere menggoda Bambang sampai bayi itu diam.
”Cup … Cup!!” Rere meniman Bambang lebih kencang.
Hampir satu jam mereka bergantian menggendong Bambang agar bayi itu tenang. Roh mereka seakan tersedot habis karena terlalu lelah berjaga menenangkan Bambang.
“Di mana sih Kenzo??” seru Rere syehbal.
Belum sempat yang lain menjawab Kenzo kembali dengan wajah pucat pasi.
“Dapet susunya? Kenapa wajahmu kayak tisu toilet? Pucet?!” Lenna dan Rere melihat ke arah Kenzo.
“Gila, mahal banget perlengkapan bayi!!! Uang papa habis ini!!” Kenzo menaruh barang belanjaannya, ada susu formula dan juga beberapa perlengkapan mengasuh bayi yang lain sesuai instruksi Rere.
“Ya elah!! Emang mahal! Baru tahu?? Makanya kalau belum siap jangan coba-coba deh mainan burung. Kalau tek dung bisa berabe, siapa yang mau tanggung jawab?” Lenna melirik Arron yang kebetulan sempat bikin burung kebanggaannya kena amukan Lenna. Dasar burung emang, ga tahu situasi dan kondisi, ngembang kempis aja gitu tanpa di suru.
“Betul!!” timpal Jayden.
“Ah, sok tahu!” Arron menempiling kepala Jayden.
“Udah sana, bikin susunya keburu Bambang nangis lagi.” Rere mendorong Kenzo.
.
.
.
Malam sudah menunjukan pukul 20.00 saat Kenzo mengambil alih gendongan Bambang dari tangan Rere. Bambang sudah tidur semenjak perutnya kenyang.
“Dasar rakus.” Jay mentowel pipi Bambang.
”Terus abis ini, siapa yang mau rawat si Bambang??” Celetuk Lenna. Semua langsung panik lalu saling pandang.
...— JAKA —...