Side To Side

Side To Side
JUST HOLD ON II



SIDE TO SIDE - JAKA


JUST HOLD ON II


Kenzo berlari kencang menuju ke ruang BP, mencari-cari kunci gudang olah raga. Napasnya tersengal-sengal dan sangat tak beraturan. Tenggorokannya kering kerontang, dan peluhpun menetes tak terhenti.


“Ini dia.” Kenzo menyahut kunci gudang, ia masih mengenali gantungan kunci yang melekat pada ujung kuncinya.


Kenzo kembali berlari sekuat tenaga, tangannya sedikit gemetar saat mutar kunci.


“Sialan!!!” Umpat Kenzo saat kunci yang di masukkannya salah. Ia mencoba kunci yang lain.


Klik..


Pintu terbuka.


“Rere??!!” Panggil Kenzo. Rere sudah tak sadarkan diri, gadis itu pingsan.


“Rere.. bangun!! Re...” Kenzo memanggil nama Rere berkali-kali. Tak ada jawaban, tak ada tanda-tanda Rere akan sadar.


Kenzo langsung mencari ponselnya di dalam tas. Ia menelfon Kezia, “Zi, tolongin gw..!”


Setelah mematikan ponselnya, Kenzo langsung menggendong Rere keluar dari gedung olah raga menuju ke luar sekolah.


“Hold on, Re!!!”


Nggak butuh waktu lama saat Mobil Kezia datang, “masuk, Zo!” Kezia membuka pintu mobil untuk Kenzo dan Rere.


Mereka bertiga menuju ke Rumah Sakit terdekat.





Setelah mengantar Rere dan menghubungi pihak keluarganya. Kenzo dan Kezia pulang ke rumah. Tak ada yang bisa mereka lakukan di Rumah Sakit. Lagi pula sudah ada Papa dan Mamanya yang menjaga Rere di sana.


“Pacar?” Kezia membuka obrolan.


“Bukan. Temen deket.” Jawab Kenzo, mereka emang belum berpacaran walaupun rasa di dalam hati mereka masing-masing udah ada.


“O...”


“Ah.. benernya dia sakit apa sih?!” Kenzo menutup wajahnya dengan telapak tangan.


“Mana gw tahu, elo aja nggak tahu.” Kezia mengangkat bahunya.


“Gw kan jg nggak minta elo buat nge-jawab.” Lirik Kenzo sebal, kakak perempuannya ini nggak bisa apa lembut dikit gitu?


“Ambil tisu basah di tas gw, lap tangan sama baju lo. Mama bisa pingsan liat darah dibaju lo itu!” Kezia melemparkan tasnya pada Kenzo dan kembali fokus menyetir.


“Iya.. iya..” Kenzo menurut, ia mengelap semua bagian tubuhnya yang kotor. Darah Rere yang menetes mulai mengering. Tubuh Kenzo bergetar saat membersihkan darah itu.


“Jangan nangis, elo cowok!!” Kezia menepuk pundak Kenzo.


Kezia memang cewek yang sedikit tomboi, mungkin karena dia adalah pemain drum. Kezia baru satu tahun ini berkuliah, jurusan gizi. Jadi nggak bisa terus ngawasin Kenzo seperti pas masih SMA. Walaupun kesannya kasar dan cuek, tapi Kezia begitu peduli dengan nasib adiknya yang nakal banget ini.


>>> JAKA <<<


Hari ini genap tiga hari Rere di rawat di RS. Kenzo terus memandang bangku Rere yang kosong. Teringat dalam benaknya saat-saat mengusili Rere, wajah Rere saat ia marah, wajah Rere saat ia sebal, wajah Rere saat ia tersenyum, saat ia menyalahkan Kenzo, caranya menyindir sampai caranya tertwa. Kenzo merindukannya.


“F*ck!!!” Umpat Kenzo, ia berdiri di tengah-tengah kelas.


“Kenzo!!!” Pak Nyoman guru matematika langsung terperanjat kaget mendengar umpatan dari Kenzo.


“Sorry, Pak. Nggak sengaja.” Senyum Kenzo.


“Dasar anak nakal!!!” Pak Nyoman mendekat. Kenzo langsung menyahut tasnya dan berputar ke belakang kelas.


“Mau ke mana kamu?” Wajah Pak Nyoman berubah sangar.


“Pulang Pak. Sakit perut.” Tanpa menunggu izin pak Nyoman, Kenzo keluar dari kelas dan berlari keluar gerbang.


Kenzo benar-benar nekat saat ini. Ia benar-benar merindukan Rere. Kenzo harus menjenguknya, mendengar suara dari mulut mungilnya, melihat senyum hangat dari sudut bibirnya.


Wajah pucat Rere begitu terbayang lekat memenuhi benak Kenzo. Air mata Kenzo menetes. “Kenapa hati gw sakit??!!!”


>>> JAKA <<<


Kenzo tiba di Rumah sakit tempat Rere di rawat. Ia bergegas masuk ke dalam kamar perawatan. Rere masih tertidur dengan pulas saat Kenzo masuk. Selang infus masih terpasang pada punggung tangan Rere. Kenzo lega melihat Rere baik-baik saja.


Kenzo menghela napasnya sebelum duduk di samping Rere. Kamar itu nampak sepi, kedua orang tuanya terpaksa meninggalkan Rere sendiri untuk bekerja. Bau aromatherapy citrus memenuhi ruangan kecil itu. Kenzo jelalatan, selain sebuah lemari dan meja nakas tak ada prabotan lainnya.


“Kenzo?!” Rere tersentak kaget saat tangannya tak sadar mengelus rambut Kenzo.


“Oh..hai Re..” Kenzo mengucek matanya, tidurnya cukup nyenyak.


“Ngapain di sini? Elo nggak sekolah?” Rere kaget, Kenzo berkeliaran pas jam sekolah berlangsung.


“Nggak ada elo gw bosen.” Kenzo tersenyum manis, membuat wajah Rere bersemu merah.


“Lo bisa aja.” Rere menemplak dahi Kenzo.


“Uda baekan?”


“Uda.” Angguk Rere.


“Lo sakit apa sih?”


“Rahasia.”


“Halah.. kita uda pernah ciuman dan elo masih main rahasia-rahasiaan ama gw?” Kenzo duduk di pinggir ranjang rumah sakit, menggoda Rere dengan wajah gantengnya.


“Hei!!” Cubit Rere, wajahnya panas mengingat kejadian itu. Ciuman Kenzo yang hebat dan rasa manis yang tersisa, Rere tak bisa melupakannya.


“Lo sakit apa sih?” Kenzo tak menyerah.


“He he he.. gw belom bisa bilang. Besok deh kalau gw uda sembuh.” Rere tersenyum. Ia bangkit untuk duduk.


“Oke deh. Tapi janji ya, elo harus sembuh.” Kenzo menyerah.


“Siap komandan!!” Rere memberikan anggukan dalam pada Kenzo.


“Sini gw cium!!”


“Eehhh!!! Enak aja..” tolak Rere.


“Kenapa?”


“Kita bukan apa-apa, pacaran juga nggak. Kejadian kemarin juga nggak terduga.” Rere menghindar.


Hatinya sakit saat mengingat Kenzo adalah cowok sehat, energic, dan punya banyak penggemar. Nggak kaya Rere yang sakit-sakitan, sekitarnya selalu berasa suram. Mana mungkin cowo kaya Kenzo suka sama cewek penyakitan kaya dia.


“Ya udah pacaran aja.” Senyum Kenzo.


Deg.. jantung Rere hampir meledak saat mendengarnya.


Rere langsung mengangkat wajahnya tak percaya. Beneran Kenzo baru saja mengajaknya pacaran? Beneran? Nggak salah dengerkan?


“Lo bilang apa?” Rere masih mencoba mencerna ucapan Kenzo.


“Ayo pacaran.” Kenzo mengelus punggung tangan Rere.


Air mata mengalir turun dari kedua sudut mata Rere. Entah kenapa ucapan Kenzo membuatnya senang sekaligus sedih. Apakah ada yang harus ia korbankan untuk memperoleh kebahagiaan ini?


“Elo serius?”


“Serius.” Kenzo memeluk Rere, menyalurkan kehangatan dan suka cita.


“Thanks Kenzo.”


“Gw sayang sama lo, Re.” Kenzo mengelus punggung Rere.


“Gw juga sayang sama lo.” Rere mengangkat tubuhnya dari pelukan Kenzo.


Kenzo mengelus wajah Rere dan mencium bibirnya. Basah dan hangat, manis dan menyenangkan...


Rasa itulah yang menggelitik jauh sampai ke relung hati mereka berdua.


>>> JAKA <<<


Jaka Up..


Yuk di baca, comment, like


Klik Fav..


Wkwkwkkwk


Makasih makasih


❤️❤️❤️❤️