Side To Side

Side To Side
ACT 6



SIDE TO SIDE


ACT 6


Jreeesss ...


Shower mengguyur setiap bagian tubuh Via. Mandi air hangat adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan saat galau melanda.


Aku harus bagaimana? Ku akui kalau aku juga menyukainya, tapi diakan sudah punya pacar. Via memejamkan matanya, menikmati setiap guyuran air hangat yang jatuh membasahi kepalanya.


Via mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Matanya bergerak, melirik ke arah meja, melihat boneka Teddy bear pemberian Andre. Via mengambil boneka itu dan memangkunya. “Hei Teddy ... aku harus bagaimana kalau bertemu dengannya besok?” Via memencet hidung boneka coklat itu.


“Hah ...!” Via mendesah kesal, tangannya memeluk boneka Teddy, sedangkan wajahnya terbenam di atas meja belajar.


“Nggak bisa, harus aku tolak. Aku nggak boleh jadi orang ketiga dalam hubungan mereka.” Via mendadak mengangkat wajahnya. Kertas-kertas gambar design kostum menempel pada dahinya.


“Kostum yang ku gambar pasti lebih baik untuk dikenakan Andre dan Sinta, bukan Andre dan Via.” Via melihat design itu.


“Cukuplah kembali mengaguminya seperti biasa.”


— SIDE TO SIDE —


Esoknya Via berjalan gontai menuju ruang kelas. Nggak seperti biasanya yang selalu bersemangat saat melihat ke arah gerbang sekolah menunggu Andre datang, Via malah justru berdoa untuk tidak bertemu dengan Andre. Perasaannya masih galau, kalau bertemu lagi mungkin hatinya belum siap.


“Woi ...! Ayo ke kantin.” Ajak Sandra.


“Nggak mau ... ajak Glen aja.” Via menepis ajakan Sahabatnya.


“Glenkan hari ini nggak masuk, dia sakit,” jawab Sandra.


“O ....” Via hanya ber O ria.


“Ayoooooo ah ... temenin aku.” Sandra menarik lengan Via, akhirnya mau nggak mau Via mengikuti kemauan sahabatnya.


Via berjalan mengendap-endap, pelan-pelan, beberapa langkah langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, beberapa langkah begitu lagi.


“Woi! kamu kenapa sih?” Sandra yang melihatnya bingung dengan kelakuan Via.


“Lagi belajar jadi ninja,” jawab Via, padahal dia begitu karena mengantisipasi kalau-kalau berpapasan dengan Andre.


“Berhenti bersikap konyol, Via,” gerutu Sandra.


“Maaf aku hanya ....” Via belum menyelesaikan kata-katanya saat Andre muncul bersama Sinta di balik belokan koridor.


Via kaget dan langsung berbalik arah menghindar.


“Akh!! Via.” Panggil Sandra kaget karena ditinggalkan tiba-tiba.


Langkah Andre terhenti, menatap Via yang berlari menghindar. Membuat Sinta menabraknya.


“Kenapa berhenti, Ndre?” tanya Sinta, Andre hanya diam.


“Kenapa sih tiba-tiba?” Sinta bingung.


“Sinta aku kembali ke kelas dulu, aku lupa ada PR yang belum aku kerjain.” Andre memutar arah.


“Kita nggak jadi ke kantin?” Sinta sewot.


“Kalau kamu mau, ke kantin saja sendiri.” Andre mempercepat langkahnya.


Sial kenapa jadi begini? Kenapa dia malah menghindariku? Pikir Andre dalam hati.


— SIDE TO SIDE —


Via menarik napas dalam-dalam mengatur irama napasnya yang masih ngos ngosan.


“Bodoh, kenapa mesti lari?” Via bersandar pada tembok. Tiba-tiba ada anak club drama yang mendatangi Via.


“Via.” Desy menyapanya.


“Kenapa, Des?” tanya Via kaget.


“Kapan mau bikin kostumnya? Ukuran bajunya juga belum dapat.” Desy juga merupakan anggota klub drama di bagian kostum, sama seperti Via.


“Iya, nih, nanti aku ukur.”


“Segera, Vi, tinggal 40 hari lagi kita pentas. Kita perlu bicarain bugetnya juga.”


“Oke, besok pas latihan aku ukur deh.” Via berjanji.


“Sip.” Desy tersenyum dan meninggalkan Via.


Via berjalan kembali ke dalam kelasnya, memikirkan alasan untuk Sandra. “Haduh, kalau aku kembali ke kelas, Sandra pasti bertanya macam-macam.”


— SIDE TO SIDE —


Hari ini club drama mengadakan latihan. Via juga bergegas masuk ke dalam ruang club. Tangannya membawa beberapa contoh kain, payet, jarum pentul, dan nggak lupa meteran pita untuk mengukur.


“Oke, nanti baris satu-satu, ya. Via sama Aku akan mengukur badan para pemain.” Desy berteriak supaya suaranya terdengar seisi ruang club.


Semoga aku nggak ngukur Andre. Pikir Via, dari tadi matanya selalu menghindari tatapan Andre. Beberapa hari ini juga Via selalu menghindar saat bertemu dengan Andre. Via juga nggak pernah datang saat Andre latihan basket. Hal ini membuat Andre sedikit sebal dan merasa kehilangan.


Atas ajakan Sinta Andre menerima tawaran untuk berperan sebagai Romeo dalam drama pensi kali ini. Sebenarnya alasan Andre mau menerima ajakan Sinta tak lain adalah karena Via juga merupakan anggota club drama. Jadi Andre bisa memandang dan bertemu dengannya lebih lama saat berada di sekolahan.


“Silahkan berikutnya.” Via memanggil.


Seharusnya Willy mendapat jatah, namun Andre bergegas mengambil antrian Willy. Via memandang canggung ke arah Andre.


“Eee ... to-tolong tangannya di angkat.” Via meminta Andre mengangkat tangannya untuk mengukur lingkar dada dan pinggangnya.


“Kenapa kamu menghindariku?” tanya Andre straight to the point.


....


Nggak ada jawaban keluar dari mulut Via, tangannya masih bekerja, wajahnya tak sedikit pun melirik ke arah Andre. Andre kesal, ia menarik tangan Via, sampai Via tertarik dan mendekat ke arah tubuh Andre. Pandangan mereka bertemu.


“Apaan, sih? Bagaimana kalau kak Sinta tahu?” Via melepaskan tangannya.


“Maaf, Kak.”


Via nggak meneruskan kata-katanya, tangannya sedikit gemetar namun masih terus bekerja.


“Berikutnya.” Via melepaskan pita pengukur dari tubuh Andre. Andre akhirnya meninggalkan Via, dari kejauhan Sinta melihatnya.


“Apa yang terjadi?” tanya Sinta.


“Bukan urusanmu,” jawab Andre lalu meninggalkan ruang club drama.


— SIDE TO SIDE —


Via, Desy, dan Momo kebagian dalam tim kostum club drama tahun ini. Mereka sibuk memotong kain, menjahit dress, kemeja, hairpiece untuk para pemain. Via tampak menikmatinya.


“Vi, hasil designmu bagus juga,” puji Momo saat melihat dress yang akan dipakai oleh Juliet.


“Kak Sinta pasti kelihatan cakep.” Desy manggut-manggut.


“Ah, kalian bisa aja.” Via malu.


“Hairpiece nya juga lucu, kelihatannya kamu bakat design. Kuliah ambil design baju aja, Vi,” kata Momo.


“Iya bener kata Momo.” Desy menambahkan.


“Coba aku pikirin dulu.” Via tersenyum.


“Sudah jam 2 nih, lapar. Aku pulang dulu, ya.” Momo mengambil tasnya dan berpamitan.


“Aku juga mau pulang, kamu nggak pulang, Vi?” Desy bangkit berdiri.


“Tanggung nih, tinggal sedikit. Lagian pujian kalian bikin aku semangat.” Via tersenyum.


“Oke deh, semangat, ya!” Desy mengepalkan tangannya, Via membalasnya dengan gerakan yang sama.


Akhirnya Desy keluar, Via menyelesaikan jahitannya sambil tersenyum. “Bener juga, menjahit satu-satunya hal yang kusukai.”


Detik dan menit berlalu, nggak terasa jam telah menunjukan pukul 3 sore.


“Wah, capek banget, masih ada 15 menit sebelum Sandra pulang. Istirahat sebentar, ah.” Via merenggangkan kedua tangannya. Via mengambil kain sebagai bantalan, tak lama Via yang kelelahan tertidur di atas meja.





CLING!


Via membuka mata spontan.


Langsung beranjak bangkit dari bangkunya.


“Gawat beneran ketiduran!!! Jam berapa sekarang??” Via mencari-cari ponselnya untuk melihat jam.


“Sandra pasti marah ini, padahal aku janjian pulang bareng dia.” Via kaget melihat sudah pukul 4 sore.


“Eeeee ...?” Via lebih kaget lagi ketika tahu ternyata Andre tengah berdiri di sebelahnya, memandang dengan geli.


“Kamu sudah bangun? Tidurmu tadi pulas sekali. Kok bisa, sih? Padahal di atas meja.” Andre bertanya dengan heran.


“Kok Kakak ada di sini?” tanya Via bingung.


“Kebetulan habis latihan drama aku melihatmu sibuk sendiri, terus pengen nyamperin aja.” Andre berjalan mendekati Via.


“Kalau gitu saya pulang dulu, ya, Kak.” Pamit Via mencoba untuk menghindar.


“Tunggu!!” Andre menahan tangan Via.


“Anu, kalau ada masalah besok saja, Kak.”


“Kenapa sih kamu masih saja menghindariku?” tanya Andre.


“Apa karena ucapanku kemarin?” lanjut Andre lagi. Via tak menjawab pertanyaan Andre. Walaupun cinta juga Via tahu batasannya, tak mungkin ia merebut pacar seseorang.


“Kenapa kamu diam saja?” desak Andre, ia meraih pergelangan tangan Via.


Via akhirnya marah, ia menepis tangan Andre. “Lepasin, Kak!”


“Via!!”


“Kak Andre itu kenapa, sih?? Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu itu? Baru kenal sudah ajakin aku pergi (dan bodohnya aku mau), trus tiba-tiba bilang suka sama aku! Padahal kamu masih punya pacar!” tutur Via dengan nada tinggi.


“Makanya dengerin aku dulu.” Andre berusaha meredakan emosi Via. Tak salah bila Via berpikir macam-macam atau bahkan mempertanyakan tentang ketulusan perasaannya. Faktanya Andre memang pacar Sinta, walaupun ia tak pernah sedikit pun memberikan hatinya.


“Nggak mau!! Jangan main-main, Kak!! Kakak tahu nggak perasaanku seperti apa? Kacau!” Nada suara Via malah semakin tinggi, ia merasa Andre sedang mempermainkan perasaannya.


“Mana mungkin aku bisa bersikap biasa-biasa aja di depanmu?” Lanjut Via.


“Maafin aku Via, aku nggak memikirkan perasaanmu. Aku terlalu menyukaimu, nggak mau kehilanganmu.” Andre mendekat.


“Aku tahu aku egois, aku bahkan cemburu saat kamu dekat dengan temanmu waktu di atas atap dulu.” Andre mengulurkan tangannya menyentuh wajah Vianie, “Tapi sungguh dalam hatiku, dalam pikiranku, aku cuma mau kamu Via. Jadi ku mohon, jangan menghindariku lagi.”


Andre memohon kepada Via. Pandangan matanya berubah sayu, ia begitu mengharapkan sambutan perasaan dari gadis mungil di depannya. Matanya yang biru memandang Via semakin lekat, jemarinya menggenggam jemari Via, dan bibirnya mengucapkan perasaan yang tulus kepada Via.


Jantung Via berdegup keras, kenapa malah berkata seperti itu?! Hanya Membuatku semakin menyukaimu. Pikir Via sebal, ia hampir saja terbawa perasaan.


Via memandang wajah tampan Andre, hatinya semakin ingin mengatakan kalau dia juga mencintainya. Bahkan sangat mencintainya. Via ingin mengatakan bahwa perasaan mereka itu sama, bahwa Via juga merasakan degupan yang sama, sama-sama ingin saling memiliki.


Tapi ternyata mulutnya berkata lain,” Maaf, Kak, kita berteman saja,” perkataan Via membuat tubuh Andre membeku, Via melingsut dan pergi dari hadapannya.


— SIDE TO SIDE —


IG @dee.Meliana


LOVE LIKE VOTE COMMENT