
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 27
Jalanan hari ini terlihat lebih sepi dari biasanya. Brian memacu kendaraannya dengan cepat menuju ke rumah tempat Jay menginap. Jayden sedang berpamitan saat Brian sampai di sana.
“Antar aku ke sana Pak Kim..! Kumohon!!” Di rumah Renny sedang merenggek pada sekretaris kakaknya itu.
Akhirnya Renny bersama dengan sekretaris Kim dan beberapa orang bodyguardnya mengejar mobil Brian.
“Hallo, Jay!!” teriak Brian sesaat setelah turun dari mobil.
“Siapa kamu? Ada perlu apa dengan, Jay?” Sam mencoba bertanya dengan baik.
“Sam, masuklah.” Jay menahan tubuh Sam dan berjalan mendekati Brian.
“Kau masih berani kemari? Apa sudah lupa dengan rasa sakit yang ku berikan?” Brian mendekatkan tubuhnya.
“Jangan sombong, Brian. Renny tidak dan tak akan pernah mencintaimu.” Jayden melepaskan tasnya.
“Harusnya aku bunuh saja kamu dulu.”
“Salahmu sendiri membiarkanku hidup.”
Jayden dan Brian berhadap-hadapan, saling melemparkan pandangan penuh kebencian. Beberapa orang berseragam hitam datang dan berdiri di belakang Brian. Seorang dari mereka maju dan membisikan sesuatu.
“Miss Renny bersama dengan Mr. Kim menyusul kemari, Tuan.”
“Ck.. shit..!” Brian berdecak marah.
“Mari kita selesaikan ini.” Brian melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemejanya naik.
“Kalau aku menang kembalikan Renny padaku.”
“Jangan banyak bicara, Jay. Buktikan dulu.” Brian semakin mendekati Jayden.
“Jayden!!” Milla dan si kembar keluar untuk melihat apa yang terjadi.
“Its okay aunty. Jangan ikut campur.” Jay mengatur nafasnya.
Brian memberikan satu serangan awal, Jay menghindarinya. Jay menyerang balik, Brian mundur sedikit sehingga pukulan Jay hanya menyerempet wajahnya.
“Kau belajar boxing sekarang?” Tanya Brian.
“Bukan urusanmu.”
“Tetap saja itu nggak akan merubah hasilnya.”
Brian memberikan sebuah pukulan keras mengenai wajah Jayden. Jaypun melakukan hal yang sama. Brian terluka, Jay terluka. Darah segar mengalir dari hidung Jayden, Brian mengelap darah yang keluar di sudut bibirnya.
Brian memandang tajam ke arah Jay, mencoba mencari titik lemah dari lawannya. Begitu pula dengan Jay yang menunggu saat yang tepat untuk kembali melayangkan tinjunya.
BRUK!! Jayden memukul tepat di perut Brian, memberikan sensasi mual. Brian mundur beberapa langkah mencoba mengatur keseimbangan.
“Shit!!” Umpat Brian saat bangun.
“Pukulanmu lemah sekali.” Brian masih tersenyum dan meludahkan darah dari mulutnya.
“Brengsek.” Jayden kembali mendekati Brian masuk ke dalam jarak pukulannya.
Brian menghindari pukulan Jayden dan melesat ke bawah lalu menendang kakinya. Dengan sekuat tenaga Brian memukul wajah Jayden dan menghantamkan lututnya ke dalam perut Jayden.
“Hentikan!!!” Teriakan Renny menyadarkan emosi yang meluap dalam diri Brian.
“Hentikan Brian!!” Renny berlari dan memeluk Jayden.
“Renny..” Jay memandang wajah Renny yang basah karena air mata.
“Jay!! Kenapa kau menerima ini semua?? Kenapa sampai terluka demi aku? Kenapa nggak kabur saja?” Renny mengusap wajah Jayden yang penuh darah.
“Jayden!!” Milla berteriak dan datang menghampiri Jay dengan perasaan cemas.
“Renny..aku nggak bisa melepaskanmu.” bisik Jayden lirih di telinga Renny.
Brian menarik tangan Renny dan menyeretnya pulang.
“Lepasin Brian!!” Jay mencoba bangkit kembali.
“Jangan Jay!!” Renny berteriak, “Jangan..!! Aku nggak mau melihatmu terluka.” Renny bergeleng, lalu menangis lebih kencang.
“Jangan Jay..!!” cegah si kembar.
“Bawa Renny pulang, Pak Kim. Aku akan ke penthouse.” Brian memasukan Renny ke dalam mobil.
“Baik Tuan.”
Brian memandang Jay dan Renny yang masih terus saling menatap dengan perasaan kehilangan.
“Brengsek.” Setelah mengumpat Brian masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kencang.
Jayden hanya bisa memandang iring-iringan mobil Renny pergi meninggalkannya.
“Betapa menyedihkannya aku??!” Jay memukul tanah kering di sekitarnya. Menyesali kekalahan kedua dalam hidupnya.
“Jay, kita obati dulu lukamu.” Milla membatu Jayden berdiri.
....................
Brian terkapar, duduk bersandar di dinding bawah meja barnya. Wajahnya tampak menyedihkan, dipenuhi luka lecet dan lebam. Dulu Jay hanya bisa memukulnya satu kali, sekarang dia bisa memberikan luka-luka serius di tubuh dan wajah Brian.
“Brian??!” Elisa masuk perlahan-lahan.
Tidak ada jawaban.
“Brian..!” Pekik Elisa saat melihat Brian terkapar menyedihkan.
“Elisa, kau sudah datang?!”
“Kau mabuk?? Kau minum berapa botol??” Elisa kaget saat melihat ada 2 botol wisky yang telah kosong, dan satu botol lagi di tangan Brian.
“Aku belum mabuk. Kemarilah temani aku minum.” Brian menepuk lantai di sampingnya.
Elisa menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju kotak P3K.
“Setidaknya bersihkan dulu lukamu.”
Elisa mengambil handuk hangat dan membersihkan luka di wajah Brian. Dengan telaten dia mengoleskan salep dan obat merah di luka yang terbuka.
“Kau menghajar atau dihajarnya?” Elisa bertanya.
“Entahlah.. aku nggak menang, juga nggak kalah.” Brian mulai sedikit sadar karena rasa perih di wajahnya.
“Kenapa minum sebanyak ini?” Elisa menyudah i perawatannya dan duduk di samping Brian.
“Melupakan kehidupanku yang menyedihkan.” Senyum Brian.
“Menyedihkan??”
“Renny tak mencintaiku, cintanya hanya untuk anak itu.” Mata Brian berkaca-kaca.
“Aku minta.” Elisa merebut gelas Brian dan meneguknya habis dalam sekali minum.
“Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mencintaimu? Papa Mamamu? Kau punya mereka yang juga mencintaimu Brian.” Elisa merasa sebal.
Brian diam sesaat, alkohol kembali menguasai pikirannya. Brian meneguk lagi minuman itu dan jatuh di pangkuan Elisa.
“Aku lelah..Lisa.. aku mengantuk.” Brian menutup matanya dan tertidur.
Elisa hanya diam dan tak bergerak. Diambilnya botol dari tangan Brian dan ikut menenggak isinya lagi.
“Aku juga mencintaimu Brian.” Elisa bergumam lirih.
“Ternyata kita sama-sama menyedihkan, tidak bisa mendapatkan cinta dari orang yang kita cintai.” Elisa tersenyum dan kembali minum.
“Renny..” Brian mengigau.
“Pernahkah kau memimpikanku juga?” Elisa memandang dengan penuh kesedihan.
Sedih dan sakitnya kehilangan Elisa pernah mengalaminya. Sedih dan sakitnya penyiksaan Elisa juga pernah mengalaminya. Sedih dan sakitnya terbakar api Elisa juga pernah mengalaminya. Tapi kenapa? Kenapa dadanya malah sesak saat mencintai seseorang? Bahkan lebih sesak, lebih sakit, lebih sedih dari rasa sedih yang pernah dialaminya dulu.
Air mata Elisa terjatuh, padahal Elisa sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
“Aku mencintaimu Brian.” Elisa mengecup lembut bibir Brian.
.....................
Renny menangis dari malam sampai pagi. Matanya sangat terlihat sembab dan merah. Semuanya orang prihatin dan kasihan melihat keadaannya. Carl ingin menghubungi Andre dan Via, namun di hentikan oleh sekretaris Kim.
Brian sendiri sama sekali tak nampak batang hidungnya. Dia lebih memilih menyembunyikan dirinya di Pent house agar emosinya tak semakin meluap dan melukai Renny.
“Bagaimana keadaan Jay sekarang?” Pikir Renny dalam hatinya.
“Kenapa dia begitu bodoh??! Kenapa nggak kabur saja.” Renny menangis lagi.
“Apa aku harus melepaskannya?” Renny menggelengkan kepalanya.
......................
Jayden melihat keluar jendela pesawat. Hari ini keputusannya sudah bulat. Dengan sekuat tenaga dia akan merebut Renny dari Brian. Apapun yang terjadi Renny harus menjadi miliknya.
“Aku pasti kembali. Tunggu aku Renny. Jangan pernah lepaskan aku.”
Jayden menutup matanya dan menikmati penerbangan. Perihnya bekas luka tidak seperih hatinya saat melihat Renny menangis untuknya.
Jay merasa seperti seorang pecundang. Di kalahkan Brian 2 kali di depan orang yang di cintainya. Membuat orang yang di cintainya harus tersiksa dan memohon untuk keselamatanya.
“Aku harus maju, aku harus bangkit.”
........................
Hallo gaes..
Slow update ya..
Lagi nggak enak body. ^^
Muupin saya ya gaes..
❤️❤️
Kasih love like and comment ya.