Side To Side

Side To Side
S2 ~ EPILOG



SIDE TO SIDE


S2 \~ EPILOG


Pukul 17.00 sore di chapel, semua bodyguard dan pelayan di kerahkan mencari sosok Jayden dan Renny yang menghilang. Harusnya Renny retouch make up dan berganti gaun untuk resepsi malam ini. Semuanya sangat kelabakan karna baik Renny maupun Jayden tak terlihat.


“Ketemu nggak???” Mr Harjanto bertanya pada beberapa orang bawahannya.


“Nggak Tuan.”


“Ketemu nggak??” Andre melakukan hal yang sama.


“Nggak boss, semua pelayan sudah di tanya. Tidak ada yang melihat mereka berdua.”


“Pesta resepsinya di mulai setengah jam lagi.. Ke mana mereka??” Andre berkacak pinggang menahan emosi.


“Kenapa sayang?” Via berdiri di sampingnya.


“Anak nakal itu!!!! Aku kira sudah kapok!! Ternyata...”


“Renny?? Kenapa dengan Renny??”


“Renny nggak ketemu, Ma.” Brian masuk dengan terengah-engah, Brian mencoba mengatur nafasnya karna kelelahan memutari area Chapel dan villa untuk mencari Renny.


“Adududuh kepalaku..” Via langsung kliyengan.


“Duduk sini Ma.” Brian mengambilkan sebuah kursi.


“Akan aku pukul pantatnya kalau dia kembali.” Andre terduduk sebal.


“Bagaimana ini? Resepsinya? Tamu undangan sudah datang, makanan sudah siap, orkestranya sudah latihan, bajuku sudah bagus...” Via berteriak emosi.


“Maaf Mr Andre saya tidak bisa menemukan Jayden juga.” Mr Harjanto meminta maaf.


“Bukan salah anda, anak kamipun tak terlihat.” Andre menepuk jidatnya beberapa kali, mencoba memikirkan kemungkinan terbaik.


“Lalu bagaimana? Pesta resepsi tanpa pengantin bukanlah hal yang baik.” Via tertunduk lesu.


“Nicky..!”


“Ya boss??” Nicky tersentak kaget.


“Kau bawa pacarmu kemari?” Tanya Andre.


“I..iya boss..saya menghadiri pesta ini dengan dia.” Nicky gagap, bingung ada apa dengan pacarnya.


“Kalau begitu kamu yang menikah.. resepsi ini untukmy..” Andre mengelus pundak Nicky.


“APA???!” Nicky syok.


“Selamat...!” Via berdiri dan menyalami Nicky.


“Selamat Om.” Salam Brian.


“Selamat.. sekarang ganti bajumu dan bersiaplah.” Andre bertepuk tangan.


“......” Nicky membatu.


Akhirnya pesta resepsi kali ini berlangsung sangat meriah, pesta kembang apipun sudah di siapkan sebagai acara penutupan.


Namun bukan Jayden dan Renny yang berada di atas pelaminan tapi Nicky dan pacarnya.


“Aku tak tahu harus menangis atau bahagia.” Nicky memandang wajah pacarnya.


“Bahagia donk..!!” Wanita itu mencium bibir Nicky dan melumatnya dengan lembut.


“Ini pernikahan termegah yang ku impi-impikan.” Senyumnya senang.


“Oke. Kalau kau bahagia.” Nicky menggandeng calon istrinya dan memulai pestanya.


.....................


2 jam yang lalu...


“Selamat Renny.. Selamat!!” Bella, Nella dan Hilda berfoto dengan Renny, menggeser posisi Jayden.


“Hei aku juga pengantinnya.” Jay tak terima.


“Girls power.” Celetuk Bella.


“Lempar bunganya Renny.. ayo lempar!!” Setelah puas melakukan sesi foto, semua anak- anak muda menunggu dan berteriak menanti bunga dari Renny.


Menurut mitosnya, siapa yang berhasil menerima buket bunga itu akan segera menikah juga. Menyusul pengantin yang melemparnya, jadi nggak heran bunga ini di perrebutkan banyak orang.


“Satu...dua.. tiga...” Renny melemparnya dan jatuh tepat di tangan Elisa.


“Woooowww...” Sorak semuanya.


Renny tersenyum pada Elisa. “Hajar kakakku Lisa, hajar dia sampai menyerahkan cintanya padamu.”


“Aku menikmati semua prosesnya Renny.” Elisa memeluk Renny.


“Bahagiakan kakakku. Aku banyak membuatnya menderita.” Renny membalas pelukan Elisa.


“Kau juga harus bahagia.” Elisa memandang wajah Renny yang penuh dengan senyuman.


“Pasti.”


Renny dan Jay berdiri di dekat kerumunan dan menyalami mereka.


“Lelah?”


“Iya, bulu mataku seberat dinosaurus.” Renny mengedipkan matanya.


“Kenapa mesti dinosaurus? Kenapa nggak ikan paus atau gajah aja?” Jay Heran.


“Karena dinosaurus keren...” ucap Renny.


“.....” Jay kehabisan kata-kata, lalu tersenyum geli.


“Jay..” Renny menarik lengan Jayden.


“Heem?” Jay sedikit menunduk untuk mendengar bisikan Renny.


“Habis ini resepsikan.. ayo kita kabur aja!” Renny menyeringai lebar. Jay ikutan tersenyum dan menggandeng Renny untuk mundur pelan-pelan.


“Kau mau kabur ke mana?


“Kemana saja.. asal bersamamu.” Renny membuang heelsnya dan berlari kecil.


Kakinya menyentuh rerumputan basah, sedikit berjinjit. Jay yang melihatnya langsung menggendong Renny. Mereka mengambil mobil milik Thea.


“Rahasiakan ini Oke!!” Jay menerima kunci dari Thea.


“Pastikan kalian mengembalikannya dengan utuh.”


“Tentu.” Jay dan Renny masuk dan melesat kencang menyelusuri jalanan di pulau B.


“Buka atap mobilnya Jay.” Renny meminta.


Jay melaju dengan tenang di perdesaan dekat pantai. Mereka menikmati hamparan hijau lahan pertanian dan kebuh pohon kelapa. Matahari sorenya berwarna sangat Merah, Renny melepaskan furing yang melekat di sanggulnya. Furing itu terbang tertiup angin. Renny menggerai rambutnya dan mengangkat tangannya senang.


“Kau bahagia..?” Tanya Jay.


“Tak pernah sebahagia ini Jay..” Renny tersenyum.


Angin masih menerpa mereka berdua, terik matahari tak lagi terasa panas. Hembusan angin bercampur hangatnya matahari menemani perjalanan mereka berdua.


“Aku baru menyetir Renny!!”


“Beneran nggak mau??”


“Mau..!!!” Jay mencium lagi bibir Renny.


(Jangan ditiru!! Ini bahaya..)


.......................


Jay dan Renny berhenti di sebuah pantai, malam sudah semakin larut. Pantaipun sudah semakin senyap, tidak ada lagi manusia bermain di sana. Mereka berdua tidur di cap mobil dan memandang bintang di langit. Jay merelakan tangannya sebagai bantalan tidur Renny.


“Kaya camping ya, Jay.” Renny tertawa geli.


“Hahahaha.. iya, kaya camping. Kali ini ada bintangnya beneran.” Jayden mempererat pelukannya.


“Sebentar lagi pesta kembang apinya mulai.” Renny bangkit dan duduk.


Jay mengikutinya.


Mereka berdua melihat pesta kembang api dari kejauhan. Harusnya mereka ada di sana, menjadi raja dan ratu sehari. Tapi malah kabur ke pantai ini, menikmati pesta itu dari kejauhan.


“Indahnya.” Renny bergumam.


“Iya, tapi kau jauh lebih indah.” Jay menyelipkan telapak tangannya di bawah pipi Renny.


Jay mencium bibir Renny, perlahan-lahan, semakin lama semakin cepat. Jay menyukainya, sensasi yang sudah lama tak di rasakannya. Rennypun merasakan hal yang sama.


“Kita sudah sah kan?” Tanya Renny.


“Harusnya sudah.” Jawab Jay.


“Jadi boleh nggak?” Tanya Renny.


“Harusnya boleh.” Jawab Jay.


Jay kembali mencium dan menautkan lidahnya, semakin lama semakin panas dan menggebu-gebu. Jay memindahkan ciumannya ke balik telinga dan leher Renny, membuat Renny mengeluarkan rintihan-rintiham pelan.


“Jay, bisa kita pindah ke dalam mobil?”


“Iya.” Jay menggendong Renny masuk ke mobil.


“Oke..ayo mulai lagi.” Renny melingkarkan tangannya ke leher Jayden.


“Ayo.”


Jay mencium leher Renny dan memberikan hisapan-hisapan pelan. Tubuhnya semakin terasa panas. Renny membantu melepaskan kancing kemejanya, dan Jay melepaskan satu per satu tali yang terikat kencang di belakang gaun Renny.


“Pengalaman pertama yang mendebarkan.” Renny berpegangan pada sandaran kursi.


“Kenapa ini susah sekali?? Banyak sekali talinya?!” Jay terlihat sebal.


“Kalau nggak kencang mlorot donk gaunnya.” Renny dongkol.


Akhirnya setelah beberapa saat, Jay berhasil membuka seluruh tali yang mengekang dada Renny.


“Akhirnya aku bisa bernafas lega.” Renny cekikikan.


“Tanganku sampai kebas membukanya, kau harus tanggung jawab Renny.” Jay mencium punggung Renny.


Ciumannya kembali berpindah, Jay menggigit bibir bawah Renny, dan melumatnya.


Jay memlepaskan kemejanya, otot-otot tubuhnya yang kencang terlihat. Renny tersipu dan memalingkan wajahnya yang merona sangat merah.


“Jangan berpaling Renny, lihat aku.” Jay memasukan lidahnya dan meraba setiap lekuk tubuh Renny, melorotkan lagi gaun Renny sampai dadanya terlihat.


“Jay!! Aku malu.” Renny menutup lagi tubuhnya, menyilangkan tangannya di depan dada.


“Dulu kau tak malu-malu, sekarang malah malu?!” Jayden menahan tangan Renny dan mencium dadanya. Menimbulkan sensasi geli dan rasa yang tidak tertahankan.


“Arg..” Renny merintih..


Jay meneruskan ciuman dan sentuhannya. Melewati setiap lekukan dan halusnya permukaan kulit Renny. Jay merasakan nyamannya skin to skin saat bersama Renny.


Peluhnya menetes membasahi tubuh Renny. Pandangan mereka bertemu, Renny melingkarkan kembali tangannya dan menarik Jay mendekat.


“I love you Jay.”


“I love you Renny.” Jay mencium pergelangan tangan Renny. Lalu menggenggam erat tangannya.


“Kau mau merasakan lebih banyak cinta?” Jay menarik gaun Renny lagi.


Tiba- tiba Renny merasakan sesuatu muncul dan membuat perutnya merasa tak nyaman.


“Jay jangan!!” Renny menahan tangan Jayden yang sudah hendak melepaskan gaunnya.


“Kenapa?” Jay menghentikan aksinya.


“Anu..itu...” Renny sedikit bingung menjelaskan.


“Kau tak mau merasakanku?”


“Bukan..bukan nggak mau.. tapi nggak bisa..” Renny menarik lagi gaunnya.


“Kenapa?”


“Kelihatannya aku datang bulan.” Senyum Renny lebar.


“APA???” Jay kaget,


“Kenapa juga harus hari ini sih??” pikir Jayden sebal.


“Maaf..maaf ya Jay.” Renny merangkul Jayden.


“Hah...” Jay menghela nafas panjang. Menerima nasibnya.


Penantian bertahun-tahun, dan hasrat yang menumpuk selama ini. Kembali tak tersalurkan, Jay harus menunggu setidaknya satu minggu lagi.


“Belikan aku tampon atau pembalut Jay.”


“Benda apa lagi itu??!” Jawab Jay.


“Pakai bajumu! Kita ke minimarket.”


“Iya iya..” gerutu Jayden.


Dan berakhirlah malam pertama Jayden dan Renny. Tanpa sebuah penyelesaian dan menyisakan sebuah perasaan yang tak tersampaikan.


........................


Hallo...


Thx for reading ya ^^


I love u readers


❤️❤️


Love berhamburan..


Jangan lupa kasih like and commentnya ya


🥰🥰🥰🥰