Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 7



SIDE TO SIDE


S2 ~ ACT 7


“Papa memanggilku?” Brian masuk ke dalam ruang kerja Andre.


“Duduklah Brian.” Suru Andre.


Brian mendekat dan duduk di depan Andre. Di ruangan itu Via masih asyik membaca majalah di sofa, dan Nicky berdiri di belakang Andre membantunya mengurus segala sesuatu.


“Sebentar lagi usiamu 20 th kan? Kau mau hadiah apa?” Andre memulai pembicaraan.


“Aku sudah punya segalanya.” Senyum Brian.


“Kau tidak menginginkan apapun?” Andre kembali bertanya.


“Aku menginginkan Renny.” Pikir Brian dalam hatinya. Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya.


“Tidak Pa. Tidak ada yang aku inginkan.”


“Istri?” Tanya Andre.


“Maksud papa?” Brian tersentak kaget, masa Andre bisa membaca pikirannya.


“Jangan sperti Nicky, umur 40 masih jomblo.”


“Maaf boss saya bukan jomblo, saya single.” Nicky memperjelas statusnya.


“Cepatlah menikah Nicky.” Ledek Andre.


“Bagaimana bisa boss? Anda tak mengijinkan saya beranjak seharipun dari pekerjaan saya.” Keluh Nicky, hatinya ingin menangis.


“Hahahaha.. cutilah, cari pacar sana!” Andre tertawa.


Via berjalan mendekati Brian, duduk di sandaran tangan kursinya.


“Kau mau coba kencan buta?” Via meminta pad di tangan Nicky.


“Ini fotonya. Anaknya cantik dan dari keluarga yang baik.” Via mengelus pundak Brian.


“Ma..?” Brian mencoba untuk menolak.


“Hanya kencan buta Brian. Kau tak harus langsung berpacaran.” Via tersenyum.


“Bagaimana?” Via menyibakan rambut ke belakang telinganya.


“Coba dulu saja, kalau nggak bertemu dengan wanita mana mungkin bisa mengenal mereka.” Andre ikutan nimbrung.


“Papa..” Brian seperti ingin protes, tapi dia mengurungkan niatnya dan mencoba menyetujui permintaan Via mamanya.


“Oke.”


“Wah bagus, itu baru anak mama.” Via mengelus rambut pirang Brian. Brian hanya tersenyum kaku.


“Bagaiama kabar perusahaanmu Brian?” Tanya Andre lagi.


“Walaupun berat tapi perlahan marginnya mulai naik Pa. Marketing dan bagian seles sudah bekerja maksimal.” Brian menjelaskan.


“Kamu juga sudah berusaha yang terbaik. Papa bangga sama kamu.” Puji Andre.


“Terimakasih pa.”


Belum lama ini Andre memberikan sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang jasa dan pengerjaan furnitur. Andre memang sengaja memberikan perusahaan yang sedang sakit (merugi) kepada Brian. Hanya untuk mengasah jiwa bisnis Brian dan bagaimana cara dia memajukan perusahaan.


“Belajarlah Brian. Hadapi tantangannya, kenali cara kerjanya, dan majukan perusahaannya.” Ucap Andre sebelum menepuk punggung Brian dan meninggalkannya keluar bersama Via.


“Om, di mana Renny?” Tanya Brian pada Nicky.


“Kenapa tuan muda bertanya pada saya? Tentu saja saya tidak tahu.” Nicky tersenyum.


“Jangan bohong, menemukan Renny semudah membalik telapak tanganmu.” Sanggah Brian.


“Maafkan saya tuan muda, tapi kadang kita harus menutup mata dan telinga dengan masalah orang lain.”


“Renny bukan orang lain!!! Dia adikku!!” Bentak Brian.


“Maafkan saya. Lebih baik anda bertanya pada tuan Andre.” Nicky membungkukkan sedikit kepalanya dan berjalan keluar.


“Sialan!!!” Brian menjambak rambutnya pelan.


“Kenapa papa dan mama memblok keberadaan Renny?” Pikir Brian sedih, dia menundukkan kepalanya mencoba berpikir.


“Apakah mereka mengetahui kalau aku menyukai Renny?” Brian mengangkat kepalanya.


Brian memandang ke arah foto besar yang terpampang di diding ruangan. Foto keluarga mereka, Andre yang mangku Renny kecil, Via yang berdiri memeluk Andre dan Brian kecil yang berdiri di depannya.


“Aku sungguh tidak mau merusaknya.. merusak gambaran itu. Tapi aku harus bagaimana? Aku terlalu mencintainya.” Brian meninggalkan ruang kerja Andre.


....................


“Hoam..” Renny menguap beberapa kali sebelum bergegas mandi.


“Jay sepertinya baru saja pulang kerja sambilan.” Renny melirik ke arah jam dinding di atas kasurnya.


Setelah mandi Renny bersantai malas di bawah lantai, mencari rasa dingin. Tangannya terus mengipasi leher dan tubuhnya yang berkeringat. Tank top putih dan celana sport pink menjadi outfit favorit Renny saat di rumah, karna hawa panas di negara ini. Apalagi Renny harus menghemat Listrik agar tidak harus membayar terlalu mahal. Ac hanya dia pakai di malam hari, kalau siang cukup dengan kipas angin.


Kruyuuukk.. suara naga di perutnya keluar.


“Perutku lapar.. karna cewek tadi aku jadi nggak bisa menikmati makan siangku.” Renny memegang perutnya yang ramping.


“Ah masih ada mie instan yang ku beli kemarin.” Renny beranjak dengan semangat ke arah pantry.


Masak air..


Masukan mi..


Rebus 3 menit..


Tuang bumbu ke dalam mangkok..


Tiriskan mi..


Dan aduk sampai rata..


Tada.. mi goreng siap dinikmati..


“Wah berhasil.. aku berhasil bikin mi..” Renny melompat kegirangan. Biasanya minya terlalu lembek atau terlalu keras, bahkan kadang mi goreng Renny masak secara rebus.


“Aku harus kasih tahu Jay.” Renny langsung membawa sepiring mi untuk menemui Jayden.


dok dok.. !!


tok tok..!!


“Jay buka pintunya Jay..! Jay!” Panggil Renny terus menerus.


Kreeek.. (pintu terbuka)


Jayden masih basah dan bertelanjang dada. Dia hanya memakai celana kolor seadanya karna tergesa- gesa keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang hitam semakin legam karna basah. Air masih terus mengalir dari rambut dan turun ke tubuhnya.


“Jay lihat aku berhasil bikin Mie..” Renny mengangkat piringnya dan nyelonong masuk ke dalam kamar Jay.


“Aku kira ada apa!!!!” Wajah Jay sangat masam..


Jay kira ada kejadian berbahaya atau masalah urgent apa, ternyata hanya mi.. hanya berhasil bikin mi goreng!! Instan lagi! Jay memejamkan matanya menahan emosi.


“Sabar Jay.. sabar..” Jay mengelus dadanya.


Renny meletakan piring mi ke atas meja pantry.


“Cicipin Jay.” Renny tersenyum senang.


“Nggak mau ah.” Jay masih merasa sebal.


“Jahat..!”


“Kamu ini, lain kali kalau nggak ada masalah yang serius jangan asal main ketok aja donk..!” Jay mengerutkan dahinya.


“Ini masalah besar tahu! Aku berhasil bikin mi dengan sempurna.” Renny membuat tanda perfect dengan menautkan ibu jari dengan telunjuk membentuk lingkaran.


“Kamarku jadi basah semuakan.” Jay memandang genangan air yang ditimbulkan karna dia beranjak keluar dari kamar mandi.


“Aku akan membantumu mengepelnya.” Renny mendekat hendak mencari pel di pantry.


“Jangan nanti terpeleset.” Jay mencoba menahan pergerakan Renny.


Namun terlambat, Renny beneran terpeleset.


“Awas..!!” Jay mencoba menarik tangan Renny namun tak berhasil dan malah ikutan terpeleset.


“Aduh!!” Jay terjatuh tepat di atas tubuh Renny, tapi Jay masih bisa menahan tubuhnya dengan tangan.


“Sakit!!” Renny merintihi pantatnya yang membentur lantai.


“Kau tidak apa- apa?” Tanya Jay, dia terlihat khawatir.


Jay menahan tubuhnya dengan tangan supaya tidak menindihi Renny. Otot- otot lengannya menegang karna berat, lekukannya terlihat sangat sexy di depan Renny.


“Jay..” Panggil Renny.


Jayden menatap mata Renny yang berwarna biru, mata yang sangat berbinar indah. Jay seakan- akan terbius dengan mata Renny, semakin mendekatkan wajahnya. Tetesan air menetes dari rambut hitam Jay membasahi wajah Renny.


“Kau tidak apa- apa Jay?” Tanya Renny.


Jay hanya diam terpaku, tidak beranjak dan tidak bergerak. Tidak menjawab pertanyaan Renny. Dia hanya memandang wajah cantik dengan mata indah milik Renny.


Rennypun memandang wajah tampan Jay. Memang betul kata Alice, wajah asia memang punya pesona tersendiri. Kelihatannya Renny termakan oleh omongannya sendiri, dia menyukai cowok Indo di depannya. Sangat menyukainya.


“Jay..” Renny melingkarkan tangannya dan merangkul leher Jayden.


Menarik lehernya semakin rendah, dan wajah mereka semakin mendekat. Renny mengecup lembut bibir Jay, Jay tak menolaknya. Kelembutan dan kehangatan bibir Renny mencairkan hatinya yang dingin.


“Aku menyukaimu Jay.” Renny kembali mencium bibir Jay dan memejamkan matanya.


Jayden ikut terpejam saat melumat lembut bibir Renny yang mungil, rasa manis memenuhi rongga mulutnya. Membangkitkan setiap hasrat pria yang selama ini di pendamnya. Semakin lama ciumannya berubah menjadi semakin panas. Jay memasukan dan menautkan lidahnya.


“Jay berhenti.. Jay.” Tolak Renny.


Jay tersadar dan menghentikan ciumannya.


“Maaf..” Wajah Jay memerah.


“Nggak.. aku hanya kaget. Baru pertamakali aku berciuman.” Renny memegang bibirnya.


“Apa?” Jay melongo tak percaya.


“Iya. Kau yang pertama Jay.” Senyum Renny.


Senyumnya sangat manis, detak jantung Jay terpacu sangat cepat. Dan entah kenapa bau tubuh Rennypun terasa sangat manis dan memabukan.


“Pulanglah.” Usir Jay.


“Kenapa?” Renny kaget.


Jay mengangkat tubuhnya dan beranjak masuk ke kamar mandi, meninggalkan Renny yang masih terbengong- bengong sendirian.


.....................


Pengenalan tokoh:



(Sumber: google search, artis: yoseph zeng


Hanya sebatas visual karakter mirip- mirip aja, karna banyak yang minta. Selebihnya berhalusinasi sendiri saja ya readers ^^)


Nama : Jayden Harjanto.


Panggilan : Jay


Tinggi badan : 187 cm


Warna kulit : sawo matang


Warna mata : Coklat tua.


Warna rambut : hitam


Like : Mechanical.


Dislike : Renggekan Renny.


Kelebihan : Sangat berbakat dalam memperbaiki sesuatu. Terutama mesin.


Kekurangn : Terlalu cuek dan dingin sama cewek


.........................