
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 26
“Jay!!” Sam dan Sean berteriak bersamaan saat melihat Jayden datang.
Milla tersenyum dan ikut dengan si kembar menyambut Jayden.
“Hallo Twin. Hallo Aunty.” Jay memeluk Milla erat.
“Tumben nggak kasih kabar duluan?” Milla melepaskan pelukannya.
“Dadakan juga.”
“Are u okay baby?” Tatapan Milla terlihat sayu saat melihat tatapan Jay yang tak bersemangat seperti biasanya.
“Selain hatiku yang hancur, semuanya baik- baik saja.” Jay tersenyum dan ikut berjalan masuk ke dalam rumah.
Mereka masuk ke dalam ruang keluarga, seperti biasa Jay merasa sangat nyaman berada di sini. Sofa empuk berwana kopi susu menghadap ke perapian, dan meja kayu oak dengan finishing glossy, menambah kesan hangat di dalam ruangan. Jay duduk dan melihat-lihat ke sekelilingnya, nggak banyak yang berubah, hanya bertambah beberapa foto si kembar saat kelulusan SMA.
“Kalian sudah dapat pacar??”
“Tentu saja, kami tembak mereka saat prom night, dan kau tahu Jay? Mereka juga kembar!” seru si Kembar Sam dan Sean senang.
“Wah hebat.” puji Jayden.
“Kau sendiri bagaimana? Renny bagaimana?” Milla kembali dengan segelas coklat hangat.
“Aku merindukannya sampai hampir gila.” tangan Jay menerima gelas dari Milla.
“Dulu nggak mau pacaran sama cewek gila!” seru Sam.
“Sekarang ikutan gila!” tambah Sean lalu tertawa bersama.
“Kalian ini! Keluar sana bantuin daddy!” perintah Milla.
“Oke, Mom.” Keduanya menurut.
“Kau pasti lelah Jay, sudah malam juga. Istirahatlah.” Tepuk Milla beberapa kali di pundak Jayden.
“Aunty, bisa aku minta tolong sesuatu padamu?” Jay menarik tangan bibinya itu.
“Sure..”
“Bisa kau buat janji dengan pengacara ini?” Tanya Jay.
“Elisa? Akan aku coba.” Milla menerima kartu nama dari tangan Jayden.
“Terimakasih aunty.” Senyum Jay senang.
“No problem.”
Jay menghabiskan secangkir coklat dan berjalan menuju bengkel tempat pamannya bekerja. Saat masih remaja Jay terlalu nakal dan mamanya mengirim Jay ke tempat ini. Uncle Harry mengajari Jay disiplin dan bagaimana cara membetulkan mesin.
Jay merasa senang saat berhasil membetulkan sesuatu, dia merasa kembali bersemangat saat sebuah mesin kembali berhasil di nyalakan. Jay mencintai kehidupannya sebagai seorang mekanik, bau oli, minyak, dan asap kendaraan yang tercium membuat perasaan Jay menjadi lebih baik.
“Need help uncle?” Jay mendekati uncle Herry.
“Hello Jay. Sure..”
“Kak Jay, bukankah mommy menyuruhmu beristirahat?”
“Belum bisa tidur.”
“Sudah ada kak Jay, kita saja yang pergi tidur.” Ajak Sean pada Sam.
“Ah benar juga.”
“Eits.. kalian mau kemana?” Cegah Harry.
“Yaahhh..” si kembar mengeluh dan kembali ke posnya.
“Aku ikut ya.” Jay melepaskan kaosnya, tubuhnya kini di penuhi otot yang berisi dan kencang.
“Wow.. kau semakin keren Jay.”
“Aku rajin berolah raga.” Jawab Jay, akhir-akhir ini Jay melakukan gym dan kick boxing dengan serius, nggak mau kalah dengan Brian.
“Ajari kami Jay.”
“Iya-iya, sekarang ayo fokus dulu.” Jay mengambil peralatan dan mulai membantu Harry menyelesaikan lemburannya.
Sebuah mobil 4WD offroad menjadi pasien mereka malam ini, j**p Wrangler ini belum terlihat terlalu tua, tapi mungkin terlalu sering di gunakan dengan berat, sehingga mesinnya mulai bermasalah. Jay sangat senang dan menikmatinya, sesaat dia bisa menghilangkan galau di dalam hatinya.
.......................
Esoknya..
Jayden duduk di sebuah kedai kopi di pusat kota QSland, Ausi. Ia menunggu Elisa dengan sedikit gelisah. Jay belum mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Elisa, benarkah dia bisa membantunya? Ataukah Elisa masih akan membela Brian? Jay membuat janji temu atas nama Milla, berjaga-jaga kalau saja Elisa mengenali namanya dari Brian dan menolak bertemu.
“Hah.. Menyebalkan, aku masih seperti seorang anak kecil. Menghadapi hal seperti ini saja aku masih grogi.” Jay menghela nafas panjang, menyingkirkan kekhawatirannya dan berusaha tampak lebih tenang.
“Milla?” Elisa mengerutkan dahinya karena bukan seorang wanita yang nampak di hadapannya.
“Jayden.” Jay mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Di mana Milla?”
“Milla adalah bibiku, aku membuat janji temu denganmu lewat dia.” Terang Jay.
“Ini bisa dianggap penipuan.” Elisa sedikit marah.
“Bisa kita bicara sebentar miss?” Jayden tidak menanggapi emosi Elisa, tetap fokus pada tujuannya.
“Baiklah.” Elisa yang merasa sudah terlanjur datang, akhirnya duduk dan memesan secangkir kopi hitam.
“Jadi apa masalahnya?” Tanya Elisa.
“Kau kenal Brian kan?”
“....” Elisa diam sesaat.
“Untuk apa aku harus memberitahumu?” Elisa balas bertanya.
“Kau membantunya meraih posisi presdir.” Jayden menajamkan matanya.
“Bisa di bilang begitu.” Elisa mencoba untuk tetap tenang.
“Kau tahu? Karena kau aku kehilangan Renny..”
“Renny? Adik Brian? Apa hubunganmu dengannya?”
“Aku kekasihnya, aku mencintainya dan karenamu aku kehilangan dirinya.”
“Bagaimana mungkin karena aku? Itu karena kamu sendiri yang tidak bisa menjaganya, jangan limpahkan kelemahanmu padaku.” Elisa menunjuk ke arah dada Jayden.
“Kau tahu bagaimana aku menderita?? Kau tahu rasanya tidak bisa menyentuh orang yang kau sukai? Tidak bisa memeluknya padahal dia tepat berada di depanmu?”
“Aku tahu.” Elisa menelan ludahnya.
Jay sedikit kaget mendengarnya.
“Kalian pria benar-benar menyebalkan.”
“Kumohon..”
“Kau tahu Jay, Brian dan dirimu terlalu mencintai Renny sampai melupakan apa yang ada di depan mata kalian, yang ada di sekitar kalian.” Elisa meneguk kopi di depannya.
“Apa maksudmu?”
“Renny punya 20% saham di perusahaannya, dan Brian 17%, menurutmu mana yang lebih besar?” Tanya Elisa.
“Tapi Brian di dukung oleh pemegang saham yang lain, totalnya hampir 45% bukan??”
“Apa kau lupa dengan Mr. Andre? Dia punya 35%, kau tahu kalau dia memberikan semuanya pada Renny, kalian akan langsung terbebas dari Brian.”
Jay tertegun mendengar ucapan Elisa.
“Dari awal Mr. Andre memang sudah tahu. Kalau tidak bagaimana mungkin Brian semudah ini menjadi presdir?” Elisa terkikih, dia sendiri baru menyadari kebodohannya.
“Maksudmu? Ini semua sekenarionya?”
“Bukan sih.. nggak ada ayah yang ingin melihat anaknya saling menghancurkan.” Elisa memandang keluar jendela.
“Ini menurutku saja, mungkin Dia hanya ingin melihat sejauh mana kau mencintai Renny. Sekalian melatih Brian menjadi penerusnya saat dia terbaring sakit.” Tambah Elisa.
“Dia sudah merencanakannya dari awal?” Jay terlihat kaget.
“Bukan merencanakan, tapi memprediksi. Walaupun sedikit luput, tapi Mr Andre memang orang yang penuh perhitungan.” Senyum Elisa.
“Dengan membuat anak-anaknya menderita?”
“Cinta tidak pernah membuatmu menderita Jay.. Bukankah kau semakin kuat saat mengharapkan Renny bersamamu? Bukan kau selalu berusaha tersenyum agar dia juga ikut bahagia? Apakah itu penderitaan? Bukankah itu kebahagiaan? Kebahagian saat kau berkorban untuk orang yang kau cintai.”
“Tidak!! Renny menderita tanpaku, dan aku menderita tanpanya..!”
“Berarti Brian juga menderita donk?”
“.....”
“Jangan egois, Jay. Brian juga sama menderitanya denganmu. Dia mencintai Renny dari mereka kecil, bahkan saat mereka belum bersaudara. Bayangkan orang yang kau cintai mencintai orang lain di depan matamu? Dan kau harus menahannya?!”
“....”
“Bermainlah dengan fair, Jay. Rebut Renny dengan usahamu sendiri.” Elisa bangkit berdiri.
“Brian tidak fair karna kau membantunya.” Jayden mulai emosi.
“Mungkin saja. Tapi bagiku dia adil, karena dia juga membantuku.” Elisa tersenyum.
“Jadi kau tak akan menolongku? Om Andre yang memberikan no mu padaku. Dia berharap kau menolongku.” Sergap Jay ikut berdiri.
“Kalau Mr. Andre percaya padamu, aku yakin kau pasti bisa.” Elisa menepuk pelan pundak Jayden dan berjalan meninggalkannya.
Jayden menggaruk dan menjambak rambutnya, rasanya sebal mengingat semua ini tidak membuahkan hasil apapun.
“Aku harus bagaimana Renny?!”
...........................
Renny mencengkram erat boneka beruang raksasa di ranjangnya. Selama ini dia sering menyapa beruang itu dengan nama Jayden. Renny memeluknya saat merindukan Jay, dan selalu tertidur di pelukan boneka beruang itu.
“Kemarin aku bertemu dengan Jay yang asli.” Renny tersenyum senang.
“Kau tahu, Jay bear?? Aku sangat bahagia..”
“Ah bibirnya yang manis dan hangat masih terasa di bibirku.” Renny meraba pelan bibirnya.
BRAK!!
Suara pintu terbuka dengan kasar mengagetkan Renny.
“Brian?!” Renny terpekik kaget.
“Kemarin kau dari mana?” Tanya Brian kasar.
“Dari dermaga, menggambar untuk tugas kampus.” Renny membuang mukanya saat menjawab pertanyaan Brian.
“Lihat aku Renny..” Brian mencengkram lengan Renny supaya Renny menatapnya.
“Apa aku terlihat sebagai orang yang mudah di bohongi?!”
“....”
“Kau menemuinyakan?? Kalian bertemu diam-diam!!” Brian menghujani Renny dengan pertanyaan yang paling tidak ingin dia dengar.
“Brian lepaskan aku!!” Renny merasa kesakitan.
“Baik, kalau ini maumu. Aku akan mencarinya!!” Brian bergegas keluar.
“Brian.. jangan!!” Renny mengikutinya.
“Pak Kim, cari keberadaan Jayden! SEKARANG !!” Perintah Brian.
“Jangan Brian, kumohon.. Jangan!!” Renny menarik tangan Brian.
“Kau bahkan tak pernah memohon pada seseorang sebelumnya Renny! Tapi demi dia kaupun rela memohon kepadaku..!”
“Kenapa???!” Teriak Brian.
“Aku mencintainya!!” Teriak Renny.
“Aku juga mencintaimu..?!” Teriak Brian.
“Kau kakakku, Brian!!” Renny menampar wajah Brian.
“Kita tidak bersaudara, kita bukan saudara, kau bukan adikku, dan aku juga bukan kakakmu..” Brian memepet tubuh Renny ke dinding.
“Lalu Papa & Mama kau anggap apa??”
“......” Brian tak menjawab, ia menarik tubuhnya menjauh.
“Aku akan mencarinya!” Brian meninggalkan Renny yang tersungkur dan kembali menangis.
.....................
Hallo..
Selamat menikmati week end..^^
Selamat malam mingguan
Semoga tidak hujan (>.<)
Jangan lupa kalau belanja bawa kantong sendiri ya.
Menghemat penggunaan plastik.
L❤️❤️e u gaes..