
SIDE TO SIDE
SPECIAL EPISODE 3
“Kenapa berat sekali??!” Elisa merasa ada beban berat yang menindiih tubuhnya pagi ini. Membuatnya harus terbangun lebih awal.
Elisa melihat ada tangan dan kaki yang menindiih tubuhnya. Dengan perlahan Elisa mengumpulkan kesadarannya. Dia melirik ke jam digital di atas nakas. Masih jam 4 subuh.
“Tangan?? Kaki??” Elisa mengucek matanya. Tangannya meraih saklar lampu tidur, cahaya remang kembali bersinar.
“Hheekk??!” Elisa terpekik kaget saat menoleh, wajah tampan Brian langsung terpampang jelas di depannya.
“Kenapa dia bisa tidur di sini??!!!” Elisa terkejut, kedua tangannya menutup mulut.
“Kau sudah bangun Lisa??!” Brian bergumam, ia mengangkat kaki dan tangannya lalu berbalik memunggungi Elisa dan kembali tidur.
“Brian!!! Bangun!! Kenapa kau berada di kasurku??” Elisa tak habis pikir.
“Sofamu keras sekali, sangat tidak nyaman. Besok aku belikan yang baru.. ayo tidur.. aku masih mengantuk..” Brian kembali terlelap.
“Bagaimana aku bisa tidur kalau ada kamu di sini?!!” Pikir Elisa sebal, ia membenamkan wajahnya ke dalam lutut.
......................
Elisa meminum susunya dengan cemberut, lingkaran hitam mewarnai sekitar matanya. Sungguh pagi yang berat. Elisa nggak bisa kembali tidur saat melihat punggung atletis Brian ada di sampingnya.
“Jantungku tak mau diajak bekerja sama.” Elisa terlihat sebal.
“Kau sudah sarapan?” Brian kaget melihat Elisa sudah berdandan dan siap ke kantor di jam yang masih cukup pagi.
“Iya..thx to you..” Elisa membuang muka.
“Kenapa kau tak membangunkanku juga?”
“Kau sangat pulas. Sudah aku siapkan sarapan, aku akan ke kantor.” Elisa mengambil tasnya dan berjalan tertatih pelan.
“Aku antarkan!” Brian menarik tangan Elisa.
“Nga...Huuwaaa...!!!” Elisa malah menjadi tak seimbang dan terjatuh di pelukan Brian.
“Ups,. Sory..” Brian menangkap Elisa dan menggendongnya ke sofa.
“.....” Elisa sangat kaget.
“Kenapa tak kau biarkan saja aku merawatmu Lisa?” Brian duduk berjongkok di depan Elisa.
“Karna aku nggak bisa tenang saat bersamamu.” Jawab Elisa jujur.
“Kenapa??!” Brian heran.
“Dasar nggak peka.. aku bodoh karena suka sama pria seperti ini.” Elisa menggigit bibirnya menahan emosi.
“Kau memberikan aku banyak perhatian, padahal kau nggak punya rasa apapun padaku Brian. Apa menurutmu itu hal yang wajar??” Elisa menjelaskan dengan perlahan.
“Perhatianmu akan membuatku semakin salah paham.” Lanjut Elisa.
“Begitukah?” Brian balas bertanya.
“Kalau kau sudah mengerti, tolonglah biarkan aku sendiri.” Elisa menundukan wajahnya.
Walaupun lega sudah menjelaskan maksud hatinya pada Brian, tapi entah mengapa Elisa tak ingin kebersamaan ini berakhir begitu saja.
“Kalau itu maumu.. Tapi betulkah itu maumu?” Brian setengah menggoda.
“Brian..!!”
“Hahahaha.. soalnya kata-katamu tak sama dengan apa yang terlukis di wajahmu Lisa.” Brian menyisir rambut Elisa masuk ke belakang telinga.
“Oh Tuhan..tubuhku bergetar hanya karna sentuhan tangannya.” Elisa hampir pingsan.
“Brian tolong..jangan begini..”
“Maaf..tapi Aku akan tetap menemanimu sampai kakimu sembuh.” Brian bangkit dan membantu Elisa berdiri.
“What??!!!”
................................
Suasana kantor terlihat riuh, banyak yang heran dan berbisik di belakang mereka berdua. Elisa datang dengan Brian di sampingnya. Pria tampan ini sangat bersinar, membuat semua pegawai wanita tak berhenti menatap Brian.
“Sweet banget sih?!”
“Omo..ganteng banget, dia pacar miss Elisa?”
“OMG cowok idaman gue banget..”
Elisa melirik ke arah pegawainya tajam dan menusuk. Seakan menyuruh mereka berhenti bergosip dan melihat ke arah Brian. Lirikan ampuh Elisa membuat mereka semua bubar dan kembali ke meja kerja masing-masing.
“Duduklah, aku akan bekerja.” Elisa mempersilahkan Brian duduk di sofa tamu.
“Oke.” Jawab Brian patuh.
“Miss, Mr Alex ingin bertemu denganmu. Apa kau mau aku aturkan jadwal temu?” Noel sekretaris Elisa masuk.
“Benarkah? Tentu, tolong aturkan waktu dengannya Noel.”
“Baik Miss.”
“Thxque Noel.”
“Siapa Alex?” Tanya Brian ingin tahu.
“Dia laki-laki?”
“Please.. Brian, namanya Alex, sudah pasti laki-laki.” Pertanyaan Brian terasa aneh di telingan Elisa.
“Siapa tahu kepanjangannya Alexa..Alexa bisa jadi nama wanita..” Brian bergumam.
“Oke terserah kamu..” Elisa kembali melihat dokumen-dokumen di mejanya.
Beberapa kali Brian berkeliling di ruangan Elisa, melihat-lihat dan menyentuh beberapa literatur tentang hukum dan undang-undang. Setelah bosan Brian kembali berjalan lagi mondar-mandir. Elisa sebal melihatnya.
“Berhentilah berlalu lalang seperti orang kurang kerjaan.” Elisa menatap Brian.
“Aku memang orang kurang kerjaan.” Jawab Brian sambil tersenyum.
“Kembalilah ke kantor Brian.. kembalilah bekerja.” Elisa melemparkan pandangan menuntut pada Brian.
“Ah aku sedang menikmati cutiku.” Brian merebahkan diri lagi ke sofa dan mengutak-atik smartphone di tangannya.
“Aku bisa gila. Melihat wajah tampannya membuatku tak bisa berkonsentrasi.” Pikir Elisa. Tangannya sibuk membuka-buka lembaran file berisi kasus sidang bulan depan.
“Kau terlihat suntuk, apa kita perlu keluar istirahat atau makan siang?” Brian bertanya, kini dia tiduran malas di atas sofa.
“Ah aku ada ide..” Elisa punya pikiran jahil untuk mengerjai Brian.
“Boleh, ada tempat yang ingin aku kunjungi. Apa kau bisa mengantarkanku ke sana?” Elisa memelas.
“Tentu, di mana itu??” Brian bangkit dengan antusias.
......................
“Jay.. Jay.. Jay.. Jay...!” Renny terus mengekor Jayden kemanapun Jayden pergi.
“Renny bisakah kau berhenti mengikutiku?!” Jay mencubit hidung mancung pacarnya.
“Nggak bisa, kita lama nggak ketemu. Pokoknya aku mau ikut kemanapun kamu pergi.” Ucap Renny.
“Tapi aku mau ke kamar mandi, aku cuma mau pipis sayang!!” Jay heran dan gemes.
“Mau aku pengangin ga Jay?” Senyum Renny.
“Iiish...” Jay menepis tangan Renny.
“Sana duduk di luar. Tunggu aku sebentar.” Jay menyuruh Renny duduk di bangku taman.
Hari ini Renny mengikuti Jay kuliah. Setelah permasalahan dengan Brian kelar, Jay memutuskan untuk kembali ke Indo dan menyelesaikan kuliahnya sebelum menikahi Renny dua bulan lagi. Jay mengebut skripsinya agar bisa segera menempuh sidang ujian.
“Ren..Renny?” Jay celingukan mencari Renny.
Renny tertutup oleh banyak cowok-cowok yang mengerumuninya.
“Cantik banget? Mahasiswa baru?”
“Jurusan apa?”
“Orang luar ya? Kok rambutnya coklat?”
“Sudah punya pacar belum?”
“Tukeran no chat donk.”
“Ah..maaf..maaf.. aku sudah punya pacar.” Renny tersenyum dan mengangguk.
“Siapa..?”
“Aku!!!” Jayden datang dan masuk ke kerumunan untuk menggandeng Renny keluar. Karena emosi tanpa sadar Jay mempercepat langkahnya.
“Jay.. kenapa cepat-cepat.” Renny tak sanggup mengikuti langkah Jayden yang melebar.
“Kamu kok mau sih di godain gitu..?!” Jay emosi.
“Hla kamu bilang aku harus nungguin di situ.” Renny bingung kenapa Jay jadi marah padanya.
“Anak-anak cowok itu menggodamu harusnya kau pergi dari sana..!” Jay menghentikan langkahnya.
“Kamu cemburu ya, Jay?” Renny ikutan berhenti.
“Iya cemburu. Masalah sama Brian baru aja kelar, dan aku nggak mau ada Brian ke 2, ke 3 lagi..!”
“Hahahaha.. mau ada Brian ke dua atau ke tiga juga aku tetep pilih kamu kok Jay.” Senyum Renny terlihat sangat manis. Renny berjinjit lalu mencium pipi Jayden. Membuatnya terpaku.
“Kau selalu yang no 1 Jay.” Renny memejamkan matanya dan mendekat, meminta ciuman dari Jay. Jayden membalasnya, mencium lembut bibir Renny.
“Jangan pergi dariku lagi.” Jay memeluk Renny.
“Huum.” Renny melingkarkan tangannya membalas pelukan hangat Jayden.
........................
Jadi kemana Elisa akan membawa Brian pergi?
Lanjut next episode ya readers..
Bagi cinta untuk banyak orang..
Jangan lupa kasih like comment dan klik❤️
Share juga ya ketemem-temen.^^
Love u gaes🥰🥰🥰