
SIDE TO SIDE - JAKA
CERITA LAMA
Kenzo dan Arron sudah kembali ke kelasnya, masing-masing. Hanya El dan Jay yang satu kelas. Mereka berempat adalah 4 orang sahabat yang bertemu karena kondisi dan masalahnya masing-masing.
Mari kita tilik cerita lama dari masing-masing karakter.
Dimulai dari Jayden.
“Kembali, Jay!!” Suara Mr Harjanto terdengar serak dan berat. Pagi itu amarahnya memuncak saat anak laki-lakinya membangkang.
“Nggak!! Sampai wanita itu pergi dari sini Jay nggak akan pernah kembali, Pa!!” Jayden nekat keluar dari rumah, menggledek tas koper besar di tangan kanannya. Masih dengan seragam sekolahnya Jay mencoba protes kabur dari rumah.
“Kalau begitu tinggalkan semuanya!! Baju, motor, semua yang Papa berikan tidak pantas kau bawa!!”
“Sayangnya bukan kau yang selalu memberikanku baju. Semuanya Mama yang beliin.. semuanya selalu Mama!!” Jayden mengakhiri debatnya dan keluar dari rumah. Ia membanting pintu sekeras mungkin.
Jay berjalan dengan mantab menuju ke sebuah apartemen kecil dekat sekolahan. Sudah beberapa kali Jay bertanya-tanya pada dirinya. Sampai akhirnya membulatkan tekatnya untuk keluar dari rumah dan belajar hidup mandiri.
Jay duduk di sebuah bangku taman, beristirahat sejenak sebelum masuk ke dalam kantor pemilik apartemen. Ia tak sengaja melirik ke arah seorang gadis yang menangis. Sepertinya pernyataan cintanya ditolak secara sepihak.
“Huh.. cinta emang membuat orang jadi bodoh!!” Jay bangkit, memberikan tisu pada gadis itu.
“Ini.”
“Hiks..” gadis itu mengangkat wajahnya, baginya perhatian kecil Jayden membuatnya terbang ke langit ke 7.
“Aku pergi dulu.” Jay langsung berpaling pergi.
“Tunggu, siapa namamu? Seragam kita sama.”
“Jay. Kelas 2.”
“Namaku Kisna, kelas 1.”
“Nggak nanya.” Jayden lalu bergegas meninggalkan Kisna untuk masuk ke dalam kantor pemilik apartemen.
>>> JAKA <<<
Kini giliran Kenzo.
“Kenzo!!” teriak Dinda, Mamanya sambil pasang tampang marah.
“Apa-an sih, Ma? Pagi-pagi udah teriak-teriak nggak karuan.” Kenzo bangun dengan malas.
“Kamarmu kaya kapal pecah!! Beresin!! Habis itu buang sampah, lalu mandi, terus sekolah!! Jam berapa ini? Mau jadi apa kamu malas-malasan tiap hari..?” Dinda terus mengomel pada Kenzo.
“Ngomel mulu sih, Ma? Cepet tua hlo!!”
“Biarin cepet tua yang penting hidupmu bener!! Terus ya, uda berapa kali Mama bilang, jangan gonta ganti pacar mulu..”
“Enzo tercipta untuk mencintai dan mengagumi wanita, Ma..”
“Ngomong apa kamu anak kecil??” Dinda menjewer telinga Kenzo sangking gemesnya.
“Aduduh, Ma, sakit!!” Rintih Enzo.
“Siapa yang ngajarin?”
“Papa, dia bilang dulu pacarnya banyak!!”
“Trus yang jelek-jelek mau kamu tiru gitu?” Dinda belum melepaskan jewerannya.
“Mama pliss donk ah.. jangan ngomel terus, Kenzo udah besar, uda ngerti yang baik dan buruk buat Enzo.” Enzo marah.
“Mama nggak ngomel, Mama itu perhatian sama kamu..!” Dinda melepaskan jewerannya dan keluar dari kamar.
“Sakit!!” Kenzo mengusap telinganya yang memerah.
“Hihihi rasain!!” Kezia yang lewat di depan kamar Kenzo terkikih senang.
“Paan sih, lu..?!” Kenzo sebel.
“Sana mandi udah jam 7 lebih. Ntar telat lagi. Gue tunggu di mobil.” Kezia mengibaskan tangannya.
.
.
.
Kenzo sampai di sekolahan, di depan gerbang ia disambut hangat oleh Pak Kusno, guru piket hari ini.
“Telat!! Rambut di cat!! Tindikan selusin!! Baju nggak rapi!! Heran bapak kok lu bisa keterima di sekolah ini?”
“Karena duit orang tua, Pak!!” jawab Kenzo ringan.
“Dasar!! Sana keliling lapangan 5x. Setelah itu isi buku hukuman baru boleh masuk ke kelas!!”
“Baik Pak.” Kenzo menjalani hukumannya dengan malas.
.
.
.
“Kak Kenzo..” seorang gadis memberanikan diri menyapa Kenzo.
“Apaan?” Jawabnya ketus. Kenzo masih berkeringat saat gadis itu datang. Badannya lelah, secara ia lari 5x keliling lapangan bola. Rasa capek membuat moodnya jelek.
“Gw suka sama kakak, mau nggak pacaran?”
“Nggak mau!!” Kenzo melirik sebal, nggak biasanya dia nolak cewek. Tapi gara-gara omelan Mama dan moodnya, Kenzo jadi malas meladeni cewek itu.
“Hiks..”
“Nangis aja, gue tetep nggak mau! Pergi sana!” Usir Enzo kasar.
Gadis itu menangis dan berlari sekuat tenaga. Ia menyahut tasnya dan keluar dari sekolahan. Duduk termenung di pinggir taman dekat sekolahan.
“Ini.” Seorang Cowok yang nggak kalah tampan dari Enzo memberikannya tisu.
>>> JAKA <<<
Lalu Asael.
“El.. SMA di Jakarta mau nggak?”
“Kenapa Ma?”
“Eyang kan udah tua. Kalau sendirian kasihan.”
“Kalau El masuk SMA di Jakartanya sih mau. Tapi kalau tinggal ama eyang putri nggak mau. Cerewet...”
“Hush.. sama orang tua kok ngomongnya kaya gitu!!” Karina mencubit perut El.
“Kan udah ada Budhe Kana di sana. Ngapain El ikut ngurusin eyang, Ma?”
“Budhe kan sering dinas ke luar kota. Lagian cucu Eyangkan cuma kamu, El. Beliau pasti kangenlah.”
“Ck.. itu ma alasan kamu aja biar bisa bebas.” Decak Karina.
“Hehehe... iya, Mama tahu aja.”
“Mama daftarin ke sekolah Mama yang dulu, ya.”
“Oke.”
“Tapi tetep temenin eyang, ya, pas Budhe dinas.”
“Siap, Ma.”
.
.
.
“Wah jadi ini sekolahnya.. besar ya, nggak kaya di kampung.” Tawa El senang. Hari ini hari pertama El masuk sekolah.
El melirik pada seorang cowok yang sedang dimarahi oleh guru BP.
“Telat!! Rambut di cat!! Tindikan selusin!! Baju nggak rapi!! Heran bapak kok lu bisa keterima di sekolah ini?”
“Karena duit orang tua, Pak!!” jawab Kenzo ringan.
Asael tertawa saat mendengar jawaban Kenzo, tu anak hebat bener. Nggak ada takut-takutnya.
“Hei...” tiba-tiba seorang cowok jangkung menyapanya.
“Hai juga.”
“Asael?”
“Yeah..”
“Gw Arron, ketua Osis, kata bu Heni ada anak baru hari ini. Gw disuru ajakin dia jalan-jalan keliling sekolah.”
“Owh..oke.”
>>> JAKA <<<
Yang terakhir Arron.
“Hei Kuper.”
“Hei cowo Nerd!!”
“Kutu Buku!! Anak hantu!!”
Arron teringat masa-masa SMP-nya. Banyak teman sekelasnya yang selalu membully dan mengejeknya. Arron memang suka membaca buku, belajar, pokoknya anak yang rajin. Dia juga tipe yang selalu melaporkan segala sesuatunya dengan jujur pada guru. Jadi nggak heran semua teman-temannya jadi benci pada Arron.
Ada seorang cewek yang sangat suka membully Arron. Dia suka banget ngejelekin sampai bahkan menjahili Arron dengan kelakuan yang kekanakan. Kadang juga menyindir Arron dengan menyebutnya sebagai anak hantu. Semua itu karena Mama Arron memang seseorang yang terlahir special. Lenna, Mamanya adalah seorang wanita albino.
“Hah..kenapa malah teringat kenangan buruk masa-masa SMP.” Arron menghela nafas.
“Arron.”
“Ya Bu.” Arron tersentak kaget dengan panggilan gurunya.
“Tolong kau temani anak baru keliling sekolahan, ya. Jelaskan juga tata tertib sekolah kita. Ibu harus meeting penting. Nanti kamu antar juga dia ke kelasnya.”
“Baik Bu.”
“Thx Arron. Kau memang hebat.”
Berbeda dengan saat Arron masih SMP, masa-masa SMA nya di lalui dengan prestasi gemilang dan pujian dari seluruh sekolahan.
“Hei...” sapa Arron.
“Hai juga.”
“Asael?”
“Yeah..”
“Gw Arron, ketua Osis, kata bu Heni ada anak baru hari ini. Gw disuru ajakin dia jalan-jalan keliling sekolah.”
“Oke. Ayo!!”
.
.
.
“Hiks..”
“Nangis aja, gue tetep nggak mau! Pergi sana!” Usir Enzo kasar.
Arron dan Asael baru saja selesai berkeliling dan melihat kejadian barusan.
“Bro, lu kok nggak ngehargai perasaan cewek sih?” Jiwa keadilan El tergelitik saat melihat Enzo dengan kasar membuat seorang gadis menangis.
“Bukan urusan lu, kan!” Tunjuk Enzo.
“Emang bukan, tapi lu tu kasar banget. Dia tu wanita Bro!! Elu juga dilahirin dari rahim seorang wanita-kan!!”
Arron dan Kenzo saling pandang. Keheranan dengan ucapan Asael yang ternyata sangat bijaksana.
“Lu bawa temen dari planet mana sih, Ron?” Kenzo melirik Arron.
“Udah..udah jangan bertengkar.” Arron menengahi.
“Tapi dia kurang ajar, Bro.”
“Pliss jangan buat mood gw jadi lebih buruk!!” Enzo bersiap baku hantam.
“Hei!!! Jangan bikin masalah di hari pertama sekolah.” Lerai Arron.
“Elu juga, sana masuk kelas!” Arron menepuk pundak Enzo.
“Iye bawel. Laki tapi bawelnya lebih parah dari cewe!” Kenzo meninggalkan mereka berdua.
>>> JAKA <<<
Trus bagaimana mereka bisa jadi sahabat?
Padahal pertemuan mereka aja dipenuhi perdebatan.
Wkwkwkwkwk
Stay read ya Readers..
❤️❤️❤️
Like dan comment.. yang banyak!!!!