
SIDE TO SIDE - JAKA
ASAEL
BING... BING....
Suara speaker saat games sonic milik El mendapatkan cincin point. Sudah hampir 3 jam Asael terpaku di depan layar TV, memainkan virtual game sonic the headdog.
Suasana rumah masih tetap damai seperti biasanya. Sampai sebuah suara menghentikan kedamaian itu.
“Ichel!!”
“Namaku bukan Ichel, Pa!! Asael!!”
“Biarin, Papa sukanya panggil kamu Ichel.”
“Asael!!!” Teriak El marah.
“Kan hampir sama..”
“Tapi nggak sama.. nama cewek ama cowok itu beda!!” El ngotot.
“Ya udah. Papa ga panggil kamu Ichel lagi. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Temenin Papa mainan layangan.”
“Layangan??? Benda apa itu?” Asael mengerutkan dahinya.
“Ntar juga kamu tahu. Dari pada main game terus. Ntar jadi bodoh gimana?”
“Nggak mungkin.”
“Mungkin..”
“Nggak...”
“Hei anak kecil dibilangin orang tua ngeyel mulu.”
“Hehehe..”
“Ayo keluar, biar kena angin.”
“Ntar El item donk, Pa.”
“Anak cowok item dikit malah kelihatan macho!!” Rangga menggandeng tangan El keluar rumah.
Akhirnya Asael bersama Papanya pergi bermain layangan. Semula Asael sangat bosan karena layangannya tak kunjung menjulang tinggi. Namun beberapa saat kemudian Asael berjingkrak karena layangannya melambung sampai terlihat sangat kecil dari bawah.
“Sudah jarang ada yang bermain layangan, padahal jaman Papa kecil permainan ini populer sekali.”
“Iya, Pa. Asyik juga.”
“Cari teman, El. Jangan hidup dalam duniamu sendiri.” Rangga menepuk pundak anak semata wayangnya.
“Nggak ada yang mau temenan sm, El.”
“Kenapa?”
“Soalnya, El sering ngomongin mereka supaya nggak ngelakuin hal yang salah. Tapi ujung-ujungnya mereka bilang El itu sok suci, sok jago, sok hebat, dan akhirnya mereka bilang nggak mau temenan sama El lagi.” El menggulung senar layangannya.
“El, berbuat baik itu harus, jangan mau ikut terbawa arus perkembangan jaman yang buruk. Tapi bersosialisasipun penting.”
“Iya, Pa.”
“Layangan itu semakin tinggi juga semakin kencang anginnya.”
Asael hanya mengangguk sebagai jawaban dan masih terus mendongak memandang layangannya yang menari di atas langit biru.
>>> JAKA <<<
(Kota J, Asael kelas 2 SMA.)
Asael tiba di kota kelahiran Mama dan Papanya. Mulai semester satu kelas 2, El akan bersekolah di kota ini. Kota yang padat, panas, dan penuh hiruk pikuk. Sangat jauh berbeda dengan kota kelahirannya. Kampung halamannya lebih santai, asri, dan lebih nyaman untuk di tinggali.
Asael tiba di sebuah rumah kos yang nggak jauh dari sekolahannya. Cukup berjalan sepuluh menit. Rumah kosnya terlihat cukup baik, nggak terlalu mewah juga nggak terlalu kumuh.
“Permisi!! Ada orang?!” Asael mengetuk pintu.
Cekreekk...
Suara knop pintu diputar.
“Cari siapa, ya?” Seorang gadis keluar dari dalam rumah utama.
“Nama saya Asael, mau kos di sini. Kemaren sudah telephon.” Kata Asael dengan logat medoknya.
“Oh.. anak baru itu. Gw Rere, anak pemilik kos-kosan. Masuk gih, gw tunjukin kamar lo.” Rere membuka pintunya lebih lebar.
“Makasih.”
Asael mengekor di belakang Rere, melihat-lihat rumah tinggal sementara yang bakal ia tempati beberapa tahun ke depan. Bangunan kosnya berada di belakang rumah utama. Ternyata pintu masuk kosnya ada di belakang, bukan di bagian depan. El salah mengetuk pintu.
Tapi nggak apa-apa sih, beginikan El jadi bisa ketemu dan kenalan sama anak gadis pemilik kos yang cukup bening dipandang.
“Ini kamar lo, ini kuncinya. Air panas nyala jam 4-6 malem. Terus dilarang bawa cewek kalau bukan mukrimnya.” Rere menyerahkan kunci kamar pada Asael.
“Kalau bawa cowok boleh?” Tanya El dengan polos. Maksud El itu temen cowok tapi Rere salah mengartikannya.
“Boleh, asal kalau pas ena-ena nggak ketahuan sama warga satu RT.” Rere tersenyum, wajahnya memerah.
“Hei.. gw bukan homo.” El terkejut saat menyadari Rere telah salah sangka pada pertanyaannya.
“Kali aja. Hahaha...”
“Dibilang bukan..”
“Iya..iya sory.. duh perut gw sampe sakit nahan ketawa.” Rere menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya. Sangking terlalu geli Rere sampai menangis.
“Ada jam malam nggak?”
“Nggak, inikan kos cowok.”
“Ow.. ic ic..”
“Udah, ya, gw tinggal.” Pamit Rere.
“Oke, makasih, ya.”
“Oi, Re..!” El teringat sesuatu dan mengejar Rere.
“Apaan?”
“Minta no ponsel donk. Gw nggak punya temen sama sekali di sini. Gw takut kesasar.” Asael memberikan ponsel pintarnya.
“Ck..! Kaya anak anj*ng aja.” Pikir Rere gemas.
“Ini udah gw kasih no gw. Emang lo sekolah di mana?”
“Di SMA ini..” Asael menunjukan alamat sekolahnya pada Rere.
“SMA Elite..” Rere manggut-manggut.
“Tahu.. besok gue anter jemput deh biar lo apal jalannya. Habis itu lo berangkat sendiri.” Tawar Rere.
“Wah makasih ya, Re. Lo memang cewek baik hati deh.” Senyum El selebar mungkin.
“Enak aja, emang ada yang gratis di dunia ini?” Tiba-tiba Rere mengeplak pelan kepala El.
“Jadi Lo pamrih ama gw?”
“Iyalah, bakso semangkok. Deal nggak?”
“Deal deh..” asael nggak punya pilihan.
“Ok, inget ya jm 7 tet... telat sedetik aja gw tinggal.”
“Iye iye..”
>>> JAKA <<<
Siang hari yang panas, Hari pertama El bersekolah ia bertemu dengan seorang cowok bar-bar. Bikin moodnya jelek. Tu cowok demen banget bikin sakit hati cewek. Padahal ceweknya cuma pengen nyatain perasaannya doang, tapi nolaknya uda kaya dukun nolak hujan pas mau ada acara kondangan.
“Dasar playboy cap teri asin.” Pikir El sebal.
El melirik ke arah jam, sudah hampir jam pulang sekolah. Dengan tergesa-gesa El mengetik layar ponselnya untuk mengirimkan chat.
Asael:
Gw uda mau pulang
Lo jadi jemput gw?
Rere:
Iye jadi, gw uda otw kok
Gw Pulang awal hari ini.
Ntar gw tunggu di gerbang ya
Asael:
Ok
Thx ya.
Setelah mengetik pesan Asael membereskan semua peralatan sekolahnya dan menunggu bel pulang dengan tenang. Ia memandang keluar jendela dan melihat seorang cowok berlari menuju pintu gerbang sekolah.
“Bukannya itu cowok brengsek tadi?”
“Mau apa dia lari-lari gitu?” Asael masih mengamati Kenzo yang nekat meloncat pada gerbang sekolahan.
“Rere?? Ngapain dia pegang-pegang Rere?” Asael langsung bangkit dari kursinya dan berlari keluar kelas.
“Hei mau ke mana? Belum bel!”
“Nolongin cewek dari playboy cap teri asin.” Teriakan El di sambut sorak tawa anak-anak satu kelas.
.
.
.
“Lepasin!!” Rere berteriak agak kencang. Kaget karena seorang anak laki-laki yang nggak dikenal tiba-tiba menggenggam tangannya.
“Lo Rere-kan? Ini gw Kenzo!! Masa lo lupa?” Kenzo memandang Rere dengan rasa rindu yang tak bisa dijelaskan.
“Sory..gw beneran nggak kenal.” Jawab Rere.
Kenzo melepaskan genggaman tangannya, benarkah dia salah mengenali orang? Tapi wajah dan pembawaannya benar adalah Rere, cinta pertama yang menghilang dari hidupnya 2 tahun lalu. Yang membuatnya kehilangan masa indah remajanya karena pengaruh obat-obatan anti depresi.
“Hei lo, ngapain lo ganggu, Rere?” Teriakan Asael membuat keduanya menoleh.
“Jadi bener nama lo, Rere?” Kenzo kembali memandang Rere.
“Iya gw Rere.” Jawab Rere dengan takut.
“Lo nggak inget sama gw, Re?”
“Nggak.. sumpah gw nggak kenal sama lo..”
“Sialan..” umpat Kenzo.
“Hei, dia udah bilang nggak kenalkan sama lo. Jadi jangan ganggu dia, ya.” El berdiri di depan Rere.
“Shit!!” Kenzo berlari masuk kembali ke dalam gedung sekolahan.
“Lo kenal dia Re?” Tanya El lagi.
“Kenal.”
“Hlah!!! Kok lo bilang nggak kenal tadi?!”
“Ingat dia cuma bikin gw sakit hati.”
“Hlah!!! Kenapa? Lo pernah pacaran ama dia?”
“Nggak...”
“Hlah!! Gw nambah bingung...”
“Nggak usah ikut campur deh. Ayo puppy kita cabut!” Rere menyandang lagi backpaknya dan berjalan pergi.
“Puppy??? Siapa?? Gw?”
“Iyah elo, siapa lagi orang yang ada di samping gw?”
“Nama gw Asael!! Bukan puppy..!”
“Suka-suka gw mo panggil lo apa..”
“Dasar cewek bar-bar.”
“Dasar puppy..”
“Hei..”
>>> JAKA <<<
Hello gaes..
Like dan commentnya ya..
❤️❤️😝😝
Yang banyak
Ikut juga giveaway di novel saya MUSE Ya
Cuma tinggal vote aja kok.. gampangkan..!!