
SIDE TO SIDE - JAKA
JAYDEN
“Ah..tabungan gw tinggal segini.” Jay melirik pada buku tabungannya. Setelah membayar sewa kamar apartemennya, uang Jay langsung tersedot habis.
“Apa gw kerja sambilan, ya.” Menyesal juga tak ada gunanya. Sekarang ia harus mencari uang demi mencukupi kebutuhan hidupnya.
Jayden merupakan Tuan Muda yang tak pernah kekurangan uang selama ini. Hidup terpisah dari orang tua membuatnya harus membuang gengsi dan bekerja dengan keras.
.
.
.
(Dua bulan yang lalu....)
“Belum genap setahun Mama pergi dan Papa sudah membawa wanita itu kemari!! Apa Papa nggak punya hati?” Jay berteriak dengan lantang.
“Jayden!! Dengerin Papa dulu.”
“Nggak Pa.. Jay nggak mau tahu alasannya.” Jay menggebrak meja.
“Jayden jangan marah, ya.” Dengan lembut wanita itu menenangkan emosi Jayden.
“Jangan mendekat, kamu bukan Mamaku, jangan berharap kau bisa menggantikannya.” Jayden menepis tangan wanita simpanan Papanya.
“Sampai kapanpun aku nggak akan menerimamu sebagai pengganti Mama.” Jay membanting pintu kamarnya.
“Sialan!!!” Umpat Jayden.
.
.
.
Tak berselang lama, Papanya kembali membawa seorang gadis cantik, umurnya hanya selisih 4 tahun lebih tua dari pada Jayden.
Jayden terlihat terburu-buru menuruni tangga untuk berangkat ke sekolah. Ia melihat Papanya menggandeng seorang gadis cantik. Wajahnya sangat mirip dengan wanita pertama yang dibawa pulang Papanya.
“Siapa? Wanita simpanan lainnya lagi?” Sindir Jayden.
“Jaga bicaramu, Jay! Namanya Thea, dia kakakmu.” Ucap Mr. Harjanto dengan tenang, mencoba menyembunyikan emosinya.
“Apa kakak??? Dia bahkan lebih tua dariku???! Jadi sudah berapa lama kau menghianati Mama?” Jayden tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Jadi ini Jay, Pa?” Thea mendekati Jayden dan mengangkat salamnya.
“Iya, ini Jayden, adikmu, Thea.”
“Aku bukan adikmu!!” Jawab Jayden.
“Papa banyak cerita tentangmu. Katanya kau sangat pintar dan juga sangat tampan. Ternyata benar, adikku sangat tampan dan menggemaskan.” Thea masih terus tersenyum dan menunggu Jayden menjabat tangannya.
“Lu budek ya? Gw bukan adek lu!!” Jayden melewati Thea begitu saja untuk berangkat ke sekolahan.
“JAYDEN!!”
“Udah, Pa, gpp. Mungkin Jayden masih perlu waktu untuk menerima Thea.” Senyum gadis itu hangat.
“Maafin kebodohan, Papa, ya, Thea. Baik kamu dan Jay adalah anak-anak Papa. Papa nggak mau kalian berdua saling terluka dan melukai.”
“Iya Pa. Tenang aja, Thea nggak marah kok.”
>>> JAKA <<<
(Kembali ke masa kini...)
Jay sudah seharian ini berkeliling mencari pekerjaan. Ia bolos sekolah hari ini.
“Hallo? Boleh saya bekerja di sini?” Jayden mengetuk pelan sebuah rolling door.
“Hei..ini bukan pekerjaan untuk anak kecil.” Pria itu mengusir Jayden.
“Ah... saya bisa Pak. Saya bisa memperbaiki apapun.” Jayden ikut berjongkok di depan kendaraan yang sedang di perbaiki oleh pria itu.
“Hei bocah!! Walaupun kamu bisa, tapi kamu masih di bawah umur. Nanti saya ditangkap polisi gara-gara memperkerjakan anak di bawah umur.” Pria itu tetap menolak Jayden.
“Hmm..oke.” Jayden bangkit.
Jayden ditolak di beberapa tempat hanya karena masalah yang sama. Selain meremehkan Jay yang masih kecil, mereka juga ragu-ragu menerima Jay bekerja, memperkerjakan Jayden yang masih 16 th akan melanggar hukum.
“Ah susah banget sih cari uang!!” Jayden berjalan menyelusuri jalanan kembali ke apartemennya.
“Sial!!” Sekali lagi umpatan keluar dari bibir tebalnya.
“Kenapa, Om? Apanya yang rusak?”
“Oh..maaf, Nak. Kamu jadi dengerin, Om ngomel, ya.”
“Ga pa-pa kok.. Ada yang bisa saya bantu, Om?” Tawar Jayden.
“Oh nggak— masalah ini bukan buat anak kecil sepertimu.” Kikih pria tua itu, ia hendak berjalan mendekati mobilnya kembali.
“Tadi saya dengar ada yang rusak, kalau menyangkut tentang mesin mungkin bisa saya bantu betulin.” Jay mencoba meyakinkan pria tua itu.
“Iya, Mesin penggilingan beras saya rusak, sudah 3 x dalam minggu ini. Padahal banyak pesanan.”
“Boleh saya coba betulin, Om?”
“Hmm... kamu masih kecil, memang bisa?”
Jay merasa sebal kenapa sih semua orang selalu meremehkannya karena masih kecil, masih muda? Bukankah yang penting itu kemampuan?
“Saya memang masih kecil, Om. Tapi saya cukup berbakat.”
“Saya suka semangat anak muda kaya gini. Boleh deh, ayo! Om kasih kesempatan.”
Jayden tersenyum senang, ia mengikuti pria tua itu masuk ke dalam mobil dan melesat ke sebuah pabrik penggilingan beras miliknya.
1 jam kemudian..
“Wah Hebat!!! Mesinnya kembali menyala..”
“Hehehe..” Jayden tertawa puas.
“Ini Om kasih uang jajan. Nggak banyak sih.”
“Ini banyak, Om. Makasih, ya.” Jayden terlihat puas. Hasil kerja kerasnya membuahkan hasil.
“Kau tinggal di mana? Lain kali kalau butuh bantuan, Om bisa panggil kamu lagikan?” Pria itu menepuk pundak Jayden beberapa kali.
“Aku tahu dia tinggal di mana, Pa.” Tina-tiba seorang gadis muncul. Ia masih menenteng tas ransel dan berseragam sekolah.
“Oh, ya?”
“Dia senior di sekolahku, Pa. Ya kan kak Jay.” Kisna berdiri di samping Jayden.
“Hahaha..iya mungkin.” Jayden merasa tak mengenal gadis itu.
“Gw Kisna, yang kemarin kakak kasih tisu di taman.”
“Hmmm..sory gw nggak inget.” Jay berusaha mengingatnya, tapi tetap saja nggak ingat.
“Ah..kenalan lagi aja kalu gitu. Nama gw Kisna, kak.”
“Jayden.” Jay menerima jabat tangan Kisna.
“Bagus deh kalau kalian saling kenal. Om jd mudah menghubungimu.”
“Baik, saya pamit, ya, Om.” Jayden melangkah meninggalkan mereka.
“Ah gantengnya...” Kisna berdecak kagum, wajahnya merona, matanya masih terus memandang Jay berjalan sampai keluar pabrik.
>>> JAKA <<<
“Ah duit pertama gw!!” Jay menjajarkan uang yang di terimanya barusan.
“Ternyata cari uang nggak gampang. Gw mesti ngirit, catat pengeluaran. Mungkin gw mesti belanja dan masak sendiri.” Jay bergumam macam-macam, merancangkan langkah selanjutnya.
Jayden mencium uang hasil kerja kerasnya hari ini dan merebahkan diri. Menatap langit-langit aprtemennya. Matanya terasa sangat berat karena kelelahan.
“Gw pasti bisa kejar impian gw sendiri.”
Jay memejamkan matanya perlahan sampai akhirnya tertidur.
>>> JAKA <<<
Jangan lupa, ya. Like dan comment.
❤️❤️❤️
I lap yu gaes
Vote side to side donk..
Jangan lupa masuk GC ada event menarik hlo