Side To Side

Side To Side
S2 ~ ACT 9



SIDE TO SIDE


S2 \~ ACT 9


“Saat besar nanti Renny akan menikah dengan papa.” Renny kecil merangkul erat tubuh Andre.


Andre sedang menggendong Renny dengan tangan kirinya, dan menggandeng Brian dengan tangan kanannya.


“Kenapa?”


“Karna papa sangat tampan dan juga pintar.” Seru Renny.


“Papa terharu mendengarnya Renny, tapi kita tidak bisa menikah. Karna papa sudah menikah dengan mama.” Andre mengesun Renny dengan hidungnya yang mancung.


“Kalau gitu Renny akan menikah dengan kak Brian.”


“Itu juga tidak bisa Renny.”


“Kenapa? Kak Brian juga menikah dengan mama?” Tanya Renny kecil.


“Karna dia adalah kakakmu, kalian bersaudara.” Ucap Andre.


Cling..


Brian membuka matanya..


Dia bermimpi tentang kenangan masa lalu. Brian terbangun dari tidurnya, bajunya belum berganti, masih mengenakan kemeja yang dipakainya di kantor kemarin. Brian mengelus tengkuknya dengan letih, entah kenapa mimpi itu terrasa sangat nyata.


Brian mengendus bau masakan, reflek dia meninggalkan kasurnya dan berlari keluar. Mencari sumber bau dan orang yang memasaknya.


“Kau sudah bangun Brian?” Via tersenyum, apron masak masih melekat di badannya.


“Mama?? Bagaimana??”


“Bagaimana mama bisa masuk?” Tanya Via.


“Iya.”


“Kau selalu memakai tanggal lahir Renny sebagai kode pintu Brian. Aku tahu itu.” Via melepaskan apronnya dan menata masakannya di meja makan.


Brian tinggal di penthouse hadiah ulang tahunnya saat berumur 17 tahun. Saat Renny mulai membencinya Brian pindah ke apartemen. Lalu Andre dan Via menghadiahkannya sebuah penthouse supaya Brian tak perlu berpindah- pindah.


“Sudah lama kau nggak pulang ke rumah utama, kau tak merindukan kami??” Tanya Via sedih.


“Sudah tak ada Renny di sana.” Lamun Brian.


“Brian??”


“Nggak kok ma, hanya saja pekerjaanku sangat banyak akhir- akhir ini.” Brian melangkah dan duduk di kursi makan.


“Bagaiamana masakan mama? Ini tumis kangkung kesukaanmu.” Via memberikan lauk di piring Brian.


“Terimakasih.” Senyum Brian senang.


“Untung saja kamu suka masakan Indo.” Via menyangga dagunya, mengamati anaknya makan dengan lahap membuat hatinya senang.


“Masakan mama yang terbaik.”


“Brian.. mama dengar kamu membuat marah nona Killa.” Via menghela nafas.


“Maafkan Brian ma.”


“Its Ok baby. Bukan kamu yang salah, mungkin gadis itu yang terlalu arogan. Dia pasti menyesal menolak anak mama yang ganteng.” Via merangkul pundak Brian.


Brian hanya diam, dia juga nggak menyanggah dan nggak mengaku salah. Memang saat itu dirinya tidak fokus menjalani kencan buta, tapi gadis itu memang terlalu kasar dan sombong.


Via kembali berjalan dan menuangkan segelas air sebagai teman makan Brian.


“Ma.. boleh aku bertanya sesuatu?”


“Heem??”


“Di mana Renny?”


Pertanyaan Brian membuat Via menghentikan air mengalir ke gelas.


“Mama juga tidak tahu.” Via kembali dengan segelas air.


“Mama bohong. Papa dan mama sudah tahu di mana Rennykan?” Brian mencoba untuk bersikap natural.


“Renny baik- baik saja. Setidaknya untuk saat ini lebih baik kamu tidak tahu di mana dia.”


“Kenapa??” Protes Brian.


“Brian, cintailah Renny sebagai saudara. Cintailah dia sebagai adikmu.” Mata Via berkaca- kaca.


“Kalian berdua anak yang aku sayangi. Berjanjilah kau akan menjaganya.” Via menggenggam tangan Brian.


Brian tertunduk memandang genggaman erat tangan Via. Andai saja dia bisa melepaskannya. Andai saja dia punya kekuatan untuk menolaknya.


Via bangkit dan menghela nafas panjang sebelum meneruskan ucapannya.


“Cobalah kencan buta sekali lagi. Kalau tidak berhasil kau bisa mencari wanita lain yang kau mau.” Via mengambil pad dari tasnya.


“Mama..” Brian hendak menolak.


“Namanya Elisa, seorang pengacara. Anak dari keluaraga terpandang. Cobalah menemuinya.” Via memberikan pad ke tangan Brian.


Seorang gadis cantik dengan mata biru seperti Renny, bedanya gadis ini memiliki rambut pirang dan bibir tipis yang kemerahan.


“Cantik bukan?”


Brian hanya menganggukan kepalanya.


“Bagus.”


Via bangkit dan kembali ke dapur.


“Laila, potongkan melon yang ku bawa untuk pencuci mulut.” Via menyuruh asisten rumah tangga memotong melon untuk Brian.


.....................


Jay tampak bingung dengan kelakuan Renny yang berubah drastis. Sudah beberapa hari ini Renny tampak mengacuhkannya. Padahal biasanya tiap satu jam sekali Renny pasti mengetuk pintu kamarnya untuk sekedar bertanya ataupun meminta tolong.


“Harusnya aku senang karna situasi kembali tenang. Tapi kok maah rasanya mengganjal gini sih??!” Lamun Jay.


Renny juga nggak menyapanya di sekolahan, walaupun Jay menunggunya di depan apartemen atau gerbang sekolah Renny juga nggak mau barengan sama Jay lagi.


“Aku berbuat kesalahan apa ya?? Apa karna ciuman itu??” Jay mencoba mengira- ira kesalahannya.


Jay mencoba untuk tetap tenang, namun hatinya nggak mengijinkannya untuk tenang.


Tok tok tok..


“Renny.. buka pintunya. Ayo kita bicara.”


Tak ada jawaban.


“Ren.. Renny?” Jay kembali memanggil nama Renny.


Akhirnya pintu terbuka, Renny menatap Jay dengan sebal. Ada warna gelap menghiasi lingkaran mata Renny. Hidungnyapun berwarna merah dan sembab.


“Kamu menangis?” Jay terkejut.


“Nggak!!” Jawab Renny.


“Aku minta maaf kalau aku salah Ren.” Jay memegang tangan Renny.


“Nggak mau, kamu jahat!!” Renny menarik tangannya dan malah berjongkok lalu kembali menangis.


Jay sangat canggung dengan situasi ini. Walaupun sudah pernah berpacaran sebelumnya tapi baru kali ini dia menghadapi tangisan dan ambekan seorang gadis.


Jay memang pernah berpacaran, tapi tak pernah menganggap serius hubungannya dengan cewek itu. Apalagi setelah mamanya meninggal, Jay sama sekali menutup diri dari kisah asmara juga hubungannya dengan cewek manapun. Tapi Renny berbeda, entah sejak kapan Renny meninggalkan jejak khusus di setiap bagian hati Jay yang kosong.


Jay merasa sangat bersalah membuat Renny menangis seperti ini.


“Renny maafkan aku. Apa karna aku menciummu saat itu?” Jay ikutan berjongkok di depan Renny.


Renny mengangkat wajahnya. Air matanya bercampur dengan ingus yang keluar dari hidungnya, membuat wajah cantiknya terlihat sangat kacau.


“Kau jahat!! Kau selingkuhkan..?” Ucap Renny sambil sesunggukan.


“Selingkuh??? Kita pacaran aja belum hlo Ren. Lagian aku mau selingkuh sama siapa?” Jawab Jay kaget.


“Wanita itu, kakak cantik yang datang malam itu.”


“Thea???” Jay teringat dengan kejadian malam itu, dia menarik Thea masuk ke dalam kamarnya. Jay saat itu hanya tidak ingin Renny ataupun tetangga lain melihatnya bertengkar.


“Kalian.. kalian berdua melakukannyakan!!!?? Kalian berdua...” Renny tak bisa menjelaskan ataupun menyelesaikan kalimatnya.


“Kami melakukan apa?” Jay semakin bingung.


“Itu.. e... seperti itu.. e... membuat bayi!!” Renny bingung menjelaskan tentang hubungan Sex pada Jayden.


“Apa????” Jay kaget setengah mati.


“Hahahahaha... Darimana kamu tahu aku membuat bayi???” Jayden tertawa terpingkal- pingkal.


“Ada suara- suara desahan wanita dari kamarmu.” Jawab Renny, wajahnya masih tertunduk menghindari tatapan Jay.


“Seperti apa desahannya??” Goda Jay lagi.


“Yes baby.. came on.. yes.. more.. ah..” Renny langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia sangat malu menirukan suara desahan itu.


“Hahahaha.. kau sangat lucu Renny.” Jay menjatuhkan dirinya dan duduk bersila di depan Renny.


“Kenapa kau malah tertawa Jay?? Aku sakit hati.” Renny memukuli lengan Jay.


“Thea adalah kakakku. Dan suara desahan itu berasal dari video porno milik Enzo. Malam itu dia menginap di kamarku.” Jay memandang wajah Renny yang sangat memerah.


“Hah??? Benarkah!?” Renny merasa sangat malu, jadi ini hanya sebuah kesalahpahaman dan dia membuang hari- hari yang indah untuk ngambek pada Jay.


“Benar, kau bisa bertanya pada Enzo atau Thea.” Jawab Jay.


“Jadi aku menangisi hal yang sia- sia??” Renny menghapus air matanya dan mengelap ingusnya.


“Nggak juga, aku bisa mendengarmu menirukan suara video itu.” Ledek Jay senang.


“Kau jahat. Aku sangat malu.” Renny kembali membenamkan wajahnya.


“Aku baru tahu kalau saat kau marah, aku merasa sangat kehilanganmu.” Wajah Jay berubah sendu, rona merah terlihat di garis tulang pipinya. Jari telunjuk Jay mengelus pelan pipi Renny.


“Jay..” Renny memanggil nama Jay dengan lirih.


“Ayo kita pacaran Renny. Aku akan bertanggung jawab terhadap ciumanku dan air matamu.” Jay mengangkat dagu Renny dan kembali menciumnya.


Manisnya..


Kelembutannya..


Dan getarannya..


Membiusmu..


Renny memejamkan matanya menikmati ciuman lembut dari Jay, Jay melumat pelan bibir Renny. Jay ingin memperbaiki ciuman pertama Renny, tidak ada nafsu yang tercipta, hanya luapan rasa cinta dan kasih sayang.


“Jay.. aku mencintaimu.” Renny melepaskan ciumannya dan melingkarkan lengannya di leher Jayden. Detak jantung mereka saling bersahutan, membuat irama yang menyenangkan.


“Aku juga Renny..” Jawab Jay.


Renny tersenyum dan kembali mencium lembut bibir Jay. Malam itu bulan bersinar sangat terang, dan cahayanya membuka kisah lembaran baru cinta Jay dan Renny.


.....................


Pengenalan tokoh:



(Sumber: google search, artis: Franda


Hanya sebatas visual karakter mirip- mirip aja, karna banyak yang minta. Selebihnya berhalusinasi sendiri saja ya readers ^^)


Nama : Kisna Fitria Dewi


Panggilan : Kisna


Tinggi badan : 163 cm


Warna kulit : kuning langsat


Warna mata : Coklat tua


Warna rambut : Hitam


Like : Jay.


Dislike : Makanan asam


Kelebihan : Pintar dan cantik


Kekurangan : Suka nyombongin diri


.........................