Side To Side

Side To Side
Act. 0



SIDE TO SIDE


ACT. 0


Cip cip cip..


Burung- burung keluar untuk menyambut sinar matahari pagi yang hangat. Via berjalan penuh semangat menuju ke sekolahan, hari ini hari pertama masuk SMA.


“Mari kita bikin banyak kenangan indah.” Pikir Via, kakinya melangkah dengan riang.


“Via!!”


“Sandra..” Via memeluk Sandra sahabatnya.


“Sudah cek papan pengumuman? Kita sekelas.”


“Betulkah?? Asyik..”


Via berjalan dengan Sandra menuju ke dalam gedung sekolah.


“Tim basket lagi latihan ya?” Via memandang ke arah lapangan. Lapangan tampak ramai dan riuh karna permainan basket dan sorakan para pendukungnya.


“Iya, tim basket SMA kitakan terkenal, sebentar lagikan turnamen antar sekolah.” Jawab Sandra.


Via memandang ke arah lapangan, ada seorang senior yang terlihat sangat menyilaukan. Tubuhnya tinggi dan tegap, saat sinar matahari pagi mengenai rambutnya terlihat bercahaya dan mengkilat indah.


Dia menggiring bola melewati beberapa orang di depannya, memutar tubuhnya sebelum meloncat dan memasukan bola.


“Yes..” Tanpa sadar Via ikutan senang.


“Appaan sih??” Sandra heran.


“Lihat, dia sangat keren.” Via tersenyum.


“Iya ganteng banget.” Sandra ikutan terkikih, mereka mengurungkan niat untuk masuk ke kelas dan tinggal lebih lama untuk melihat tim basket latihan.


“Vitamin mata.” Gumam Via.


“OASIS di tengah- tengah hati kita yang kering.” Ledek Sandra


“Kalau dipikir-pikir ternyata kita sudah jomblo selama 16 th.” Via menghela nafas sedih.


“Kita harus menemukan pacar saat SMA, biar masa-masa SMA kita indah untuk dikenang.” Sandra mengepalkan tangannya.


“Kau benar, tapikan jatuh cinta nggak bisa semudah dan secepat itu. Kita harus benar- benar menyukai orang yang tepat.” Via memejamkan matanya.


“One love last forever sudah nggak berlaku di jaman sekarang.” Sentil Sandra.


“Tetep aja, cinta yang tulus sekali seumur hidup itu sangat romantis.” Decak Via senang.


Mereka sangat asyik mengobrol dan terbuai dengan lamunan mereka sampai nggak sadar kalau sebuah bola basket terbang ke arah Via.


“Awasss!!!” Semua orang berteriak.


DUAK!!


Via terjatuh, seseorang cowok mendorongnya agar bola itu tak mengenai wajahnya. Cowok itu meringis kesakitan karna menghalangi benturan bola dengan punggungnya.


Via mengangkat wajahnya, mencoba melihat siapa yang menyelamatkannya.


Via terkejut melihatnya, sinar matahari menyilaukan dan membuat wajah cowok itu terlihat lebih tampan. Rambutnya yang basah oleh keringat semakin terlihat berkilauan, matanya yang biru memandang Via dengan khawatir.


Hembusan angin, sinar matahari yang menyilaukan, teriakan orang- orang di sekelilinya seakan- akan tak terdengar.


Hanya degupan dan suhu tubuh cowok ini yang terdengar dan dirasakan Via.


Dalam super sekian detik Via merasakan hatinya bergetar, seperti ada sensasi geli memacu jantungnya untuk berdegup lebih cepat dan tak beraturan.


“Kau tidak apa- apa?” Pertanyaan cowok itu membuyarkan lamunan Via.


“Eh..nggak papa. Terimakasih.” Via menundukan kepalanya.


“Baguslah.” Senyum cowok itu sebelum meninggalkan Via.


Via memandang cowok itu kembali menuju lapangan basket.


“Via kamu nggak papa? Mukamu merah?? Kamu pasti kaget.”


“Sandra..”


“Kenapa??”


“Ng..nggak..”


Via mengurungkan niatnya karna takut Sandra meledeknya menjilat ludah sendiri. Tapi itu yang dia rasakan, jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya butuh waktu super sekian detik, dan Via sudah mencintainya.


“Bagaimana ini? Kelihatanya aku jatuh cinta..”


....................


Sudah sebulan Via jatuh cinta, Via hanya bisa memendam perasaannya yang menggebu- gebu. Sangking dipendam terlalu dalam yang muncul malah jerawat besar di dahinya.


“Ach!!!” Via merebahkan dirinya ke kasur empuk. Tangan kanannya masih memegang kaca, sepertinya Via mulai frustasi karna terus memandangi jerawat yang muncul tanpa diundang.


“Bagaimana ini?? Sudah mau masuk sekolah jerawatnya ga bisa ditutupin.” Via meronta- ronta sebal.


Setiap bertemu di sekolah Via hanya bisa memandang cowok ganteng itu dari kejauhan. Cowok itu selalu di kelilingi teman- teman atau cewek- cewek satu sekolahan.


“Namanya saja aku nggak tahu.” Via menggigit jarinya.


“Nggak bisa, dengan kekuatan cinta aku harus tahu namanya! Aku harus berangkat ke sekolah!!” Via bangkit berdiri dan menyahut tas.


Via berlari menuju gerbang sekolah yang hampir ditutup. Sangkin fokusnya ke jerawat dia nggak fokus ke jam dinding.


“Pak tolong dong pak, bukain gerbangnya.. plisss.” Via memohon kepada satpam.


“Sudah telat dik, tunggu guru piket dulu.”


“Yah jangan dong pak!! Nanti saya dihukum..” Via masih merenggek.


“Nggak bisa. Peraturan dibuat untuk ditaati bukan dilanggar.”


Akhirnya Via menyerah dan menunggu guru piket untuk memberikannya hukuman sebelum masuk ke kelas. Berlari keliling lapangan, membersihkan taman, sampai mengepel koridor merupakan hukuman yang paling sering diberikan. Via pasrah dengan hukuman yang menantinya.


“Alasanmu apa kok terlambat? Bukannya rumahmu deket?” Pak Hardi terlihat garang.


“Anu pak.. itu.. saya..” Via bingung menjawab apa alasannya, nggak mungkin dia bilang karna memandangi jerawat di jidat yang segedhe bisul dulu.


“Anu.. anu.. cepetan di jawab!”


“Ban sepeda saya bocor pak.” Jawab Via seadanya.


“Mana sepedamu?”


“Nggak punya pak.”


“Kok bisa bocor?”


“Oh iya ya..” Via meringis, keringat dingin keluar karna ketahuan bohong.


“Kamu ini ya!! Murid baru! Rumah deket! Telat! Bohong lagi!”


“Sana bersihin GOR (gedung olah raga).”


“Siap pak.” Jawab Via lesu.


Via meninggalkan pak Hardi dengan lemas menuju ke gedung olah raga indoor. Via mengambil peralatan bersih- bersih dan mencoba untuk memulai hukumannya dengan penuh semangat. Beberapa anak lain yang terlambat juga melakukan hal yang sama.


“Aku cuci lapnya dulu.” Via ijin pada yang lain untuk mencuci lap- lap kotor yang telah selesai di pakai.


“Capek sekali!!!” Via merenggangkan tangannya, setelah puas dia menjemur semua lap dan pel di belakang gedung.


Via berjalan untuk kembali ke ruang guru, saat melewati taman belakang sekolah Via sangat kaget dengan sosok cowok yang tertidur di bawah pohon rindang. Sebuah buku diktat menutupi wajahnya. Melihat rambut dan perawakannya Via langsung bisa mengenalinya, dia adalah cowok yang selama ini Via taksir.


Via memberanikan diri untuk mendekat, membaca nama yang tertera di atas bukunya.


“Andre. Nama yang bagus.” Via tersenyum senang.


“Kok bisa tidur di sini sih? Apa dia nggak masuk ke kelas?”


Ternyata ada hikmah dibalik jerawat dan hukuman hari ini. Kalau nggak dihukum oleh pak Hardi mungkin Via belum bisa tahu siapa nama cowok itu.


Via bangkit berdiri, hendak kembali, angin kencang berhembus dan mengangkat roknya.


“Polkadot??” Suaranya terdengar jelas di telinga Via.


“A..apa??” Via menengok, Andre sudah bangun. Masih setengah sadar, wajahnya memerah karna dia melihatnya, bahkan bisa menyebutkan motif celana dalam yang dipakai Via.


Wajah Via ikutan memerah sangking malunya, Via langsung berlari sekuat tenaga meninggalkan Andre yang masih terdiam dan tersipu malu.


“Ya Tuhan aku sangat malu.” Via menjeduk-jedukan kepalanya pelan ke dinding.


“Angin sialan itu!!! ARG!! Aku harap dia nggak mengenaliku.” Via menghela nafas sebal.


Via masuk kekelas dengan gontai, karna keterlambatannya Via harus tinggal di sekolah lebih lama untuk menyalin semua catatan Sandra.


“Wah mendung sekali. Aku nggak bawa payung.”


“Bodo amat, ntar lari aja. ” Via merebahkan kepalanya ke atas meja.


Menit demi menit berlalu.


“Gila aku malah ketiduran!!” Via mengangkat kepalanya spontan.


Jreeesss... suara hujan yang jatuh di atas atap sekolah terdengar sangat nyaring.


“Yah hujan.” Via membereskan semua buku dan alat tulisnya.


Via menunggu hujan reda, dia berdiri di teras sekolahan. Banyak anak- anak lain yang juga menunggu hujan reda, salah satunya adalah Andre.


“Kak Andre.” Pikir Via, kembali terlintas bayangan memalukan siang tadi. Via mundur beberapa langkah supaya tidak terlihat.


Satu per satu anak- anak pulang. Kini tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan menunggu hujan reda. Andre masih bertahan, Via masih membelakanginya.


“Ini.” Andre membalikan badan.


“Hah??” Via kaget melihat payung yang di bawa Andre, dia menyerahkan payung itu kepada Via.


“Pakailah.” Ucap Andre.


Via menoleh ke kanan dan ke kiri, kali aja ada orang lain yang dimaksud Andre. Tapi nyatanya hanya dia seorang diri.


“Untukku??” Tanya Via.


Andre mengangguk sebagai jawaban.


“Lalu kakak?”


“Aku naik mobil kok.” Andre tersenyum, lalu meninggalkan Via untuk masuk ke dalam mobil jemputannya.


“Dia berdiri selama ini hanya untuk menungguku??? Serius??” Via menatap payung dalam genggamannya.


“Seriuuussss!!!??”


Via merasakan jantungnya kembali berdetak cepat, suaranya sangat keras sampai- sampai dia bisa mendengarnya padahal hujan sangat deras.


“Apakah dia punya perasaan yang sama denganku??” Via tersipu.


“Kalau begini terus aku bisa ke geeran.” Via mengkhayal.


“Bolehkah aku begini?” Via menghapus pikiran liarnya, karna masih terlalu dini menyimpulkan hal itu.


Ternyata benar.


“Terimakasih payungnya.” Kata- kata inilah yang merupakan kalimat terakhir Via sebelum sikap Andre berubah.


Seluruh sekolahan heboh karna Andre memutuskan berpacaran dengan Sinta. Hati


Via seakan hancur mendengarnya,


bukankah Andre pernah bersikap sedikit manis padanya??


Tapi ternyata memang itu hanya kebetulan semata saja. Tidak mungkin Andre merasakan hal yang sama dengannya.


Jatuh cinta pada pandangan pertama?


Mungkin itu hanyalah sebuah dongeng...


Baik Andre maupun Via tidak ada yang tahu takdir apa yang akan menunggu mereka.


......................


“Kau sedang berfikir apa?”


“Payung yang dulu kau berikan saat hujan? Kau masih ingat?” Via bergelayut manja di lengan Andre.


“Huum.”


“Apa kau saat itu sudah mencintaiku?”


“Bahkan jauh sebelum itu aku sudah mencintaimu.” Andre mengecup pelan pipi Via.


“Oh ya??”


“Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu.” Andre tersenyum.


Via membalasnya senyuman Andre.


Ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama itu bukanlag dongeng, dan one love last forever pun juga bukan sekedar wacana.


“I love you Andre.”


“Hari ini kau sangat aneh.” Kata Andre.


“Jawab saja.”


“I love you too Via.”


......................