
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 11
Jay terus menatap bangku kosong di sampingnya, sudah satu jam pelajaran dimulai dan Renny belum juga kembali ke kelas.
“Renny tidak mungkin pulang tanpaku. Di mana dia?” Jay bangkit berdiri dan keluar dari kelas.
“Jay mau kemana?” Guru yang sedang mengajar kaget karna Jay langsung nyelonong keluar kelas.
Jay berlari menyelusuri koridor sampi ke gedung olah raga. Jay mencoba mengatur nafas dan degup jantungnya yang tak beraturan, Jay memutar matanya mencari sosok Renny tapi Renny tidak ada di sana.
Jay mulai mengingat- ingat kejadian hari ini, “Terakhir aku lihat dia mengganti bajunya yang kotor.” Jay kembali berlari mencari di setiap kamar mandi sekolahan.
“Kenapa ada papan ini?” Jay melihat tanda kuning yang di pasang Mika dan Mira.
Ketukan ringan pada pintu membuat Jay tersentak dan melangkah masuk.
“Renny..??!” Jay membuang gagang pel dari depan pintu.
Renny sedang berjongkok dan membenamkan wajahnya di lipatan tangannya. Tenaganya habis karna rasa dingin dan terus berteriak.
“Renny..” Jay mendekati dan mengangkat wajah Renny.
“Jay..” Panggil Renny lirih.
“Siapa yang melakukan ini?” Jay marah melihat kondisi Renny yang mengenaskan.
“Aku nggak tahu, nggak sempat melihat.” Renny terkulai lemas.
“Bisa berdiri?” Tanya Jay.
“Aku kedinginan Jay. Seragamku hilang.” Renny mencengkram lengan Jayden.
Jay melepaskan blezernya dan menyelimutkannya ke tubuh Renny. Mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap wajahnya.
“Aku jelek banget ya?”
“Keadaan kaya gini masih sempet- sempetnya mikirin wajah!” Gerutu Jay.
“Aku nggak mau terlihat jelek di matamu.”
“Apapun keadaanmu kau tetap cantik Renny, yang tercantik di mataku.” Jay mengelap lengan dan kaki Renny.
“Jay.. aku jadi ingin menangis.” Renny berkaca- kaca.”
“Jangan nangis, ntar ingusnya keluar. Ayo naik ke punggungku, kita pulang.” Jay berjongkok dan menyuru Renny naik ke punggungnya.
“Nanti bajumu kotor.”
“Apa pentingnya baju?! Kalau kamu sampai sakit bagaimana?” Jay berteriak marah.
“Iya iya.” Renny naik ke punggung Jayden dengan ragu- ragu.
“Sudah siap?”
“Sudah.” Jayden menggendong Renny keluar dari kamar mandi dan bergegas pulang ke rumah.
Renny melingkarkan lengannya memeluk erat Leher Jeyden. Hangatnya punggung Jayden yang lebar membuat nyaman tubuh Renny. Detak Jantung Renny terus meningkat karna bau maskulin yang keuar dari balik kerah seragam milik Jay.
“Makasih Jay.” Renny bergumam lirih dan tertidur di punggung Jay.
Kisna memandang mereka dari jendela kelasnya. Ia merasa sangat marah, bukannya jijik dengan Renny, Jay malah menggendong Renny pulang ke rumahnya. Kisna menekan keras ujung pensilnya sampai patah.
“Sialan.. Kenapa nggak berhasil?” Pikirnya dalam hati.
..................
Sorenya Renny tiduran malas di sofa milik Jay, melihat-lihat baju- baju dari katalog online membuat matanya berbinar. Tapi wajahnya langsung berubah lesu karna uangnya yang terus menipis.
Jay duduk di lantai samping sofa membaca majalah otomotif.
“Jay ajari aku bekerja.” Renny merangkul Jay dari belakang.
“Bekerja? Bukankah kau sangat kaya??” Jay melirik Renny.
“Ehehehehe.. akukan kabur dari rumah demi mencarimu Jay. Jadi aku nggak bawa uang sama sekali. Aku misqueen.” Jelas Renny.
“Apa??? Jadi selama ini kamu kemari nggak bilang-bilang?” Jay terlihat syok.
“Iya.” Renny mengangguk.
“Renny Renny.. kenapa nekat banget sih? Kau harus pulang.” Jay tak habis pikir dengan kelakuan pacarnya itu.
“Kamu sendiri kabur dari rumah..” Renny membalas Jay.
“Aku nggak kabur dari rumah kok, semua keluargaku tahu aku di sini.”
“Pokoknya aku nggak mau pulang, aku mau di sini sama Kamu Jay.”Renggek Renny.
“Renny.. apa papa dan mamamu tidak merindukanmu?”
“Tidak!! Mereka nggak peduli padaku.. Papa hanya cinta sama mama, mama juga!! Buktinya mereka nggak mencariku.” Renny menangis.
Jay diam dan memeluk Renny, mengelus rambutnya pelan.
“Cium aku Jay.” Renggek Renny lagi.
“Tuman banget!! Ini usap ingusmu dulu.” Jay memberikan kotak tisu pada Renny.
Renny membersihkan ingusnya.
“Sudah bersih.” Senyum Renny.
Jay bergeleng sebal, namun tetap mencium Renny.
........................
“Selamat siang, mau pesan apa?” Renny tersenyum manis. Hari ini hari pertama dia bekerja sambilan di sebuah kedai kopi merk sta****s. Wajah cantik dan senyum manisnya membuat antrian panjang yang berisikan anak- anak cowok.
“Latte, yang manis ya. Semanis senyummu.” Goda seorang pembeli.
“Ah kakak bisa aja.” Renny mencatat minuman pesanan mereka.
“Berikutnya..” Seru Renny.
“Hazelnut latte.” Pria berikutnya memesan.
“Baik.. namanya?” Renny hendak menulis di cup.
“David, no hp 08156xxxxxx, jangan lupa chat ya.”
“Baik kakak.” Senyum Renny.
“Aku mau americano, atau kopi hitam, jangan pahit ya.. cukup hatiku aja yang merasakan pahitnya di php..”
“Mau pesen apa curhat kak?” Renny melongo mendengarnya.
Antrian panjang akhirnya berakhir. Renny merasa sangat capek, tangannya kaku terus menulis dan menerima uang.
Jay melihat Renny yang tampaknya cukup bisa beradaptasi dengan baik di pekerjaan barunya. Untung saja Renny sudah sedikit mandiri.
“Renny.” Panggil Jay.
“Jay..!!” Renny senang melihat Jay datang menghampirinya.
“Kau lelah?” Tanya Jay.
“Lelahku hilang saat kau datang.” Renny tersenyum sangat manis.
Semua cowok yang duduk di sana memandang senyum Renny tanpa berkedip.
“Jangan tersenyum.” Seru Jay, dia tidak suka melihatnya.
“Kenapa? Aku kan senang kau datang.” Jawab Renny.
“Jangan bagi senyummu ke orang lain, cukup denganku saja.” Jay mencubit hidung Renny.
“Ah.. haruskah? Lalu kerjaanku gimana? Manager bilang yang penting senyum yang lebar.” Renny memamerkan deretan giginya yang rapi.
“Sudahlah.. aku yang keterlaluan.” Jay menundukan kepalanya sebal karna rasa cemburu melanda hatinya.
“Tunggu ya Jay, jam kerjaku sebentar lagi berakhir. Kita makan sama- sama.” Renny kembali tersenyum.
.....................
“Makanan apa ini?? Sangat bau..” Renny bertanya pada ibu penjual nasi padang.
“Sambal jengkol, sambal pete.” Jawab ibu itu.
“Kau mau Jay??” Tanya Renny.
Jay bergeleng..
“Cobain ah..” Renny mengambil sesendok sambal pete dan menaruhnya di piring.
“Makanmu banyak sekali?” Jay bergeleng melihat porsi makan Renny.
“Ini enak, aku belum pernah makan seenak ini.” Renny terus menyendok nasi ke mulutnya.
“Pelan- pelan.” Jay menaruh sebotol air di depan Renny.
“Makasih.”
Setelah kenyang Renny menghela nafas, “Perutku sangat kenyang.”
“Tak ku sangka nafsu makanmu sangat besar.” Jay melongo melihat Renny menghabiskan seluruh isi piring di depannya.
“Hehehehe... kamu aja yang nggak tahu.” Renny mengelus perutnya.
“Ck ck ck... bukankah setidaknya cewek itu jaga kelakuan di depan cowok yang disukainya.”
“Jay, ap nafasku bau?” Tanya Renny.
“Iya bau banget!! Awas kalau minta cium, aku nggak mau.” Jay menutup hidungnya.
“Yah.. ntar aku sikat gigi dulu deh.” Senyum Renny.
“Ayo kita jalan.” Ajak Jay.
Jay menggandeng tangan Renny menyelusuri kawasan pertokoan. Sekalian pulang sekalian cuci mata. Renny juga harus menurunkan makanan yang menyangkut di perutnya.
“Jay, ceritakan sesuatu tentangmu.” Pinta Renny.
“Apa yang mau kau tahu?” Tanya Jay.
“Keluargamu? Kenapa kau hidup sendiri?” Renny tampak ingin tahu.
“Papaku punya wanita simpanan, mereka punya anak, dia adalah Thea. Kau pernah bertemu dengannya dulu.”
“Mama tidak tahu sampai umurku 10 th. Setelah lama memendam rasa sedih dan cemburu mama menjadi gila dan sakit- sakitan. Kalau bukan karna memikirkan diriku mama sudah pasti menceraikan papa dari dulu.” Jay melirik ke arah Renny. Renny masih mendengarkan dengan serius.
“Tapi aku tahu, mama menyayangi papa lebih dari apapun, maka itu dia tak menceraikannya. Mungkin aku hanya alasannya untuk bertahan.” Lanjut Jay.
“Lalu kenapa kamu pindah Jay?”
“Karna papa menikahi wanita itu, menikahi wanita yang paling ku benci. Aku muak melihat wajahnya setiap hari.” Wajah Jay tampak berbeda, merah dan terlihat emosi.
Renny menggenggam tangan Jayden lebih erat.
“Maafkan aku Jay.”
“Kenapa kau meminta maaf.”
“Aku membuatmu teringat masa- masa sedih itu.”
“Gapapa.. aku malah bersyukur, kini aku bisa menghidupi diriku sendiri. Bahkan bisa menabung gajiku untuk kuliah. Aku ingin mengejar impianku sendiri.” Senyum Jay.
“Ah iya.. semangat ya Jay.” Renny mencium pipi Jay.
“Bau pete..!” Seru Jay.
“Hahahahaha... masa?” Renny tertawa.
“Kalau kau sendiri? Ada yang mau kau ceritakan?” Jay gantian bertanya.
“Hidupku nggak ada yang istimewa selain keluargaku yang sangat kaya.” Renny berjalan duluan.
Renny berjalan pelan di terotoar.. lalu berhenti di depan sebuah toko sepatu. Matanya berbinar melihat sepatu dengan model yang cantik- cantik.
“Kau tahu Jay, aku punya seratus pasang lebih sepatu- sepatu yang cantik. Bahkan aku tak pernah melihat harga di pricetag nya saat membeli.” Renny masih terus melihat ke arah toko.
“Kini membelinya saja aku nggak bisa.” Renny terlihat sedih.
Jay hanya bisa diam menatap wajah Renny yang bersedih, memang keputusan Renny sendiri untuk pergi meninggalkan rumah demi dirinya. Tapi Jay tetap merasa ikut bersalah.
“Tapi aku nggak menyesal kok. Karna aku bisa bersamamu Jay. Bersamamu adalah kebahagiaanku.” Senyum Renny.
Jay langsung merasakan detak jantungnya semakin cepat.
“Kemarilah, kita beli satu yang paling cantik.” Jay menggandeng Renny masuk ke toko sepatu.
“Jangan Jay, bukankah kau menabung gajimu untuk kuliah?” Tolak Renny.
“Aku tidak semiskin itu sampai tidak bisa membelikan pacarku sepasang sepatu.”
“Tapi aku tidak memerlukannya.”
“Sudahlah pilih satu yang kau suka.”
“Jay sungguh, aku tidak memerlukannya.”
“Salahku kamu jadi menderita seperti ini. Ayo pulang, bicarakan baik- baik dengan pap dan mamamu.” Jay memeluk Renny.
“Kalau pulang papa pasti tidak akan mengijinkanku kembali bersamamu Jay.” Renny membalas pelukan Jayden.
Pelukan yang hangat dan nyaman. Membuat Renny benar- benar merasa aman.
“Ayo beli satu sepatunya!” Jay kembali menggandeng tangan Renny dan masuk ke toko.
Renny hanya diam dan menurut.
“Kau suka warna ini?” Jay mengambil sepatu flat berwarna peach dengan pita di atasnya.
“Huum.. apa yang kau pilih aku suka Jay.”
Jayden berjongkok dan mencobakan sepatu itu ke kaki Renny, membuatnya salah tingkah dan kikuk.
“Jay aku bisa memakainya sendiri.” Bisik Renny.
“Diam saja dulu.”
Semua pegawe toko melihat mereka dengan malu- malu. Ada yang iri karna masih jomblo, siapa yang nggak mau punya bucin setampan Jayden..?
“Kata orang sepatu yang bagus membantumu melangkah ke tempat yang bagus juga.”
“Itu bukan kata orang.. itu kata drama romansa di tivi kemarin malam.” Renny mencibirkan bibirnya.
“Ahahaha..” Jay tertawa karna gagal ngegombal.
“Kak.. kami bungkus yang ini ya.” Jay menyerahkan kartu dan membayar belanjaan Renny.
“Langsung di pakai?”
“Iya langsung di pakai.”
Renny melihat terus sepasang sepatu barunya saat berjalan.
“Cantik..” Renny sangat senang.
“Iya iya.. liat jalan, nanti terjatuh.”
“Makasih Jay.”
Jay sangat senang melihat Renny bahagia. Baru kali ini dia melihat seseorang bisa begitu bahagia karna hal- hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka.
......................
Hallo reader..
Selamat membaca..
Jangan lupa +fav, like, dan comment ya
Salam sayang