Side To Side

Side To Side
ACT 29



SIDE TO SIDE


ACT 29


7 bulan kemudian


Seorang wanita lari dengan kencang, nafasnya terengah- engah, tangan kanannya menyangga perutnya yang membesar. Ia berlari masuk ke dalam perkebunan karet, tampak seorang pria mengejarnya. Akar pohon karet yang menyeruak keluar mengakibatkan keseimbangannya oleng dan terjerembab ke tanah.


“Tolong jangan bunuh aku dan bayiku.. Bagaimanapun ini anak kita.” Wanita itu merengek dan merangkak mundur.


“Wanita kurang ajar!! Dia bukan anakku, kau pergi menggoda pria lainkan??!” Laki-laki itu memukulnya dengan potongan kayu.


Darah segar keluar dari sela-sela pahanya dan membanjiri lahan tandus di sekitarnya.


.


.


.


.


“Suaminya jahat banget!!” Via berteriak.


Piiipp...


Andre mamatikan televisi.


“Kau itukan lagi hamil kenapa suka banget menonton film horor sih?” Andre melempar remote tv ke atas sofa.


“Kenapa dimatikan? Kan baru seru??” Via protes.


Andre menggelengkan kepalanya dan kembali duduk di sebelah Via. Via menyandarkan kepalanya di dada dan memeluk pinggang Andre. Andre melingkarkan lengannya di pundak Via dan mengelus lembut kepalanya.


“Kakiku keram.”


“Kemarikan, aku pijiti.” Andre mengangkat kaki Via ke atas pahanya, memberikan pijatan-pijatan lembut di kaki Via yang mulai tampak membengkak.


Via tampak senang memandang wajah Andre saat melakukan hal itu.


“Kenapa kau senyum- senyum sendiri?” tanya Andre heran.


“Kau tampan.” Goda Via.


“Dan kau baru sadar sekarang kalau suamimu ini tampan?” Andre mengurnyitkan alisnya.


Pijatan lembutnya kini berubah menjadi klitikan di telapak kaki Via.


“Ahahaha ... berhenti!” Via tertawa geli.


“Kemari!” Andre menarik pelan tubuh Via dan memangkunya untuk duduk di atas paha.


Andre mencium mesra bibir Via, perlahan lembut lama-lama berubah menjadi luapan hasrat yang menggebu-gebu.


“Jangan Kak!! Kau baru saja sembuh.” Via menolak melanjutkan cumbuan mesra dari Andre.


Andre tak menghiraukan ucapan Via dan terus memburunya dengan ciuman hangat dileher dan dadanya.


“Aku tidak cacat Via. Dan aku sudah menahan lama.” Pinta Andre.


“Tapi aku hamil.”


“Kata dokter sering di jenguk papanya bisa bikin persalinan lancar.” Andre melepaskan kancing bra Via.


“Kau nakal.”


“Kau yang di atas, supaya aku ngga menindihmu. Lakukan senyaman mungkin untukmu.” Andre kembali ******* bibir Via.


Hisapan- hisapan lembut terasa panas saat menyentuh kulitnya.


— SIDE TO SIDE —


3 bulan yang lalu.


“Dihadapan Tuhan yang maha esa, kami mengucap janji untuk saling mengasihi, menyayangi, menolong, dan melengkapi. Baik dalam keadaan suka, keadaan duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan. Biarlah Tuhan dan orang yang hadir menjadi saksinya.” Andre dan Via mengucapkan janji pernikahan mereka secara bersamaan.


Banyak orang yang menangis haru di hari bahagia mereka saat itu.


“Ayo foto bareng.” Meddy mendekatkan dirinya untuk berfoto dengan kedua mempelai.


“Gaun yang indah.” Leo memeluk Via.


“Terima kasih.”


“Jaga dia.” Leo memeluk Andre juga.


Andre tersenyum dan mengangguk senang.


Sarah terlihat bahagia, dia memeluk Andre dan mengelus perut Via yang mulai tampak membuncit.


“Nikmati hidup baru kalian.”


“Terima kasih.” Via menitikan air mata.


Banyaknya undangan yang mengucapkan selamat kepada Andre dan juga Via mulai membuat kaki Via terasa lelah.


“Padahal aku hanya pakai 5 cm, tapi lama-lama capek juga.”


Ternyata pikiran Via sampai juga di benak Andre.


“Kau lelah?” tanya Andre.


“Sedikit.” Via mengangguk pelan.


“Apa kau mau mengganti sepatumu dengan sepatu flat?” Andre mengusulkan idenya.


“Nanti aku akan terlihat jelek dan pendek.” Via menggerutu, tingginya terlalu jauh berbeda dengan Andre.


“Terserah apa kata orang, kau tetap yang tercantik di mataku.” Andre menggendong Via menuju ke kursi terdekat, membuat tamu yang hadir ikut tersipu.


“Patah hati masal.” Linda melihat ekspresi menangis seluruh sekretaris dan staff wanita yang mengaggumi Andre.


Andre mengisyaratkan Nicky untuk mengganti sepatu Via. Nicky mengambil beberapa sepatu flat yang seukuran dengan kaki Via.


“Ini terlihat cantik di kakimu.” Andre berjongkok untuk memakaikannya.


“Kau benar-benar membuatku kehabisan kata-kata.”


Andre bangkit berdiri, mengisyaratkan kepada MC untuk melanjutkan acara berikutnya tanpa kehadiran mereka karena Via sedang hamil dan butuh istirahat.


“Terima kasih atas kehadiran para tamu undangan, nikmatilah pesta malam ini!!” Penutupan Andre disambut dengan sorakan dan tepuk tangan yang meriah.


Andre berjalan keluar dan membukakan pintu mobil untuk Via.


“Ada apa?” tanya Andre sebal.


“Boss kata nyonya besar anda dilarang berhubungan intim sebelum benar-benar pulih.” Nicky tampak tersipu ketika membisikan pesan itu.


“Kau ....” Andre kehabisan kata-kata


“Ayolah boss, selesaikan dulu terapimu, biar pinggang dan pinggulmu pulih dulu.”


“Sudahlah aku tahu.” Andre menepuk pelan pipi Nicky.


“Hati-hati di jalan boss.” Nicky melambaikan tangannya.


“Kenapa?” tanya Via penasaran.


“Rahasia.”


“Ihhh ... tuh kan mulai lagi.”


“Hei, aku punya hadiah untukmu.” Andre menginjak gas dan melesat pergi.


“Hadiah??” Via tersenyum.


Andre membalasnya dengan anggukan.


“Tapi tutup matamu dulu.” Andre memberikan sebuah kain untuk menutup mata Via. Via menurut dan menitip matanya dengan kain.


“Oke kita sampai.” Andre menghentikan laju kendaraannya dan menepi di sebuah ruamah.


“Hati-hati.” Andre menggandeng tangan Via.


“Apa sih pakai tutup mata segala?” Via gemes.


“Taraaaa ...!” Andre membuka tutup mata Via.


Via tertegun tak percaya dengan apa yang dilihatnya, rumah itu tampak begitu cantik saat ini. Mulai dari bentuk, warna cet di dindingnya, rumput dan tanaman di taman masih sama persis ketika ditinggalkannya 14 tahun lalu.


“Aku beli rumah ini, dan membuatnya sama seperti dulu.” Andre menggandeng tangan Via.


Via mulai berkaca-kaca, ingatan akan masa lalu kembali terlintas dibenaknya. Saat- lsaat hangat bersama keluarganya, saat papa dan mamanya masih menemaninya dulu.


“Kau nggak suka?” Andre bingung melihat Via menangis.


“Suka, aku hanya teringat kenangan indah yang dulu pernah terjadi di sini.” Via menghapus air matanya yang turun di pipi.


“Sekarang mari kita buat kenangan indah bersama.” Andre mengelus pipi Via dan mencium keningnya.


“Bersama buah hati kita.” Andre mengelus perut Via.


Via kembali menangis di pelukan Andre, tapi kali ini menangis karena bahagia.


“Kemarilah.” Andre mengajak Via masuk ke dalm rumah.


Di dalam ada meja dengan lilin dan bunga mawar merah. Andre menghidupkan lilin di atas meja dan memutar musik yang lembut.


“Maukah kau berdansa denganku?” Andre mengulurkan tangannya.


Via tersenyum dan memberikan telapak tangannya menerima ajakan Andre, Andre mengecup punggung tangan Via.


“Kau tak henti-hentinya membuatku terkesima.” Via melingkarkan tangannya dipundak Andre, bersandar pada dadanya yang bidang. Mereka berdansa dan menikmati malam indah itu berdua.


— SIDE TO SIDE —


Kembali ke masa kini..


Via bangun dan merenggangkan badannya. Semalaman tidurnya cukup nyeyak setelah beberapa bulan ini muncul drama susah tidur ala ibu hamil.


Via mengumpulkan bajunya dan Andre yang berserakan di lantai akibat perang mesra mereka semalam.


“Harus segera mandi dan menyiapkan sarapan.” Via menguncir rambutnya yang mulai memanjang.


“Pagi sayang.” Andre mencium leher Via dari belakang.


“Kau mengagetkanku.” Via mengelus dadanya.


“Mau ke mana?” Andre menarik Via kembali ke dalam selimut.


“Lepaskan! Aku harus memasak sarapan untukmu.”


“Harusnya kita sewa pelayan saja. Kau bisa kecapekan,” gerutu Andre.


“Jangan! Aku ingin melakukan semuanya sendiri. Memasak untukmu, mencuci bajumu, menyiapkan baju dan memakaikan dasi untukmu.” Via menolak.


“Oke, aku akan membantumu.” Andre bangkit dan memakai celannya.


“Pakai bajumu juga!”


“Kenapa? Kau nggak kuat melihat tubuhku yang sexy?” goda Andre.


Wajah Via mulai merona dan ia melemparkan bantal untuk menutupinya.


“Hei mau jalan-jalan sebentar?” tanya Andre.


“Ke mana?” Via balas bertanya.


“Ke SMA kita dulu.” Via tersenyum dan mengikuti Andre.


Andre menggandeng tangan Via dan menikmati udara pagi menuju ke SMA mereka dulu. Banyak anak-anak SMA yang berlalu lalang dengan tergesa-gesa karena bel masuk segera berbunyi.


“Tak ku sangka kita bisa berjalan beriringan menuju sekolah ini.” Via memandang wajah suaminya.


“Iya.”


“Selamanya kita akan selalu berjalan beriringan.”


“Always Side to Side.”


Andre mengakiri perjalanan mereka dan mencium Via didepan sekolahan.


\~END\~


Hallo..


Terimakasih yang sudah membaca cerita ini.


Akhirnya Side to Side tamat.


Kisah ini nyata pernah terjadi saat saya SMA dulu. (walaupun tidak seekstream ini.) dan menginspirasi saya untuk menulisnya.


Selebihnya cerita ini hanya imajinasi penulisnya, kesamaan nama tokoh dan latar belakang apapun benar-benar tidak ada hubungannya dengan orang/ golongan tertentu.


Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.