
SIDE TO SIDE
ACT 30
“Pagi.” Via mengecup kening Andre untuk membangunkannya.
“Pagi, Sayang.” Andre menarik Via dan memeluknya.
“Jangan begini! Ayo bangun! Kau ada meetingkan pagi ini.” Via mencoba melepaskan diri dari dekapan Andre.
“Di mana Renny? Kenapa dia nggak menciumku pagi ini?” Andre mencari sosok gadis kecil yang biasa mencari perhatiannya dipagi hari.
“Mama mengambilnya pagi ini untuk menemaninya belanja.” Via membuka korden jendela, membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kamar.
“Kalau gitu kita bisa membuat adik untuknya.” Andre memeluk dan mencium leher istrinya dari belakang.
“Kau jangan nakal.”
“Ayolah!” Andre mengangkat tubuh mungil Via dan menggendongnya ke kasur.
“Jangan! Geli!!” Via tertawa geli saat Andre mulai menciumi perutnya.
Triing ... 🎶
Suara nada dering yang berasal dari ponsel Andre.
“Ah, siapa sih gangguin aja?” Andre melihat ke arah layar.
Nicky is calling...
Andre menatap layarnya sebentar dan melemparkan ponselnya, kembali melancarkan serangan ke tubuh istrinya.
Triing ...
Suara itu kembali terdengar.
“Sialan ...!” Andre mengumpat sebal, Via hanya cekikikan.
“Halooo!!” Nada suara Andre terdengar marah.
“Ma—maaf boss gangguin, boss ada meeting sebentar lagi. Saya sudah di depan rumah, kenapa boss belum keluar?” Nicky sadar kalau telah mengganggu bossnya.
“Sudahlah, bisa kita lanjutkan nanti.” Via memakai bajunya kembali dan bergegas keluar.
“Baiklah,” Andre menyerah dan beranjak masuk ke kamar mandi.
Via menyiapkan telur mata sapi dan roti bakar untuk sarapan hari ini.
“Kau mau teh atau kopi?” Via bertanya pada Andre yang sedang memakai jam tangan.
“Kopi saja.” Andre bergegas turun dan menemui Nicky.
“Pagi boss, mobilnya sudah siap.” Nicky masih menundukan kepalanya.
“Tunda saja meetingnya 30 menit, istriku sudah memasak untukku, aku harus menghabiskannya.” Andre memukul kepala Nicky pelan dengan file case yang baru selesai dipelajarinya.
“Baik boss. Oh iya boss tadi ada undangan di kotak surat.” Nicky menyerahkan sebuah kertas undangan berwarna hijau tosca.
“Undangan apa ini? Untuk Via.” Andre membaca nama yang tertera di atasnya.
“Untukku?” tanya Via heran.
“Undangan Reuni angkatanmu.” Andre menyerahkan undangan itu dan mulai memakan sarapannya.
“Mereka masih mengingatku?” Via membuka undangan itu.
“Tentu saja, bukankan alamat rumah masih sama dengan data di sekolahan.”
“Iya juga, ya.” Via tersenyum.
“Kau terlihat sedih.” Andre memandang wajah Via yang sedikit tegang.
“Aku hanya teringat hal-hal buruk sebelum aku keluar dari sekolah itu.” Bulu kuduk Via berdiri saat teringat masa lalunya.
“Kau nggak perlu datang kalau memang nggak mau.” Andre mengecup kening istrinya.
“Aku ingin datang.” Via tersenyum.
“Aku akan menemanimu.” Andre membalas senyumannya, Via membalas dengan anggukan pelan.
“Kau harus segera berangkat presdir, carikan aku uang yang banyak.” Via merapikan dasi Andre dan mendorongnya.
“Baiklah Nyonya.” Andre berangkat diikuti oleh Nicky di belakangnya.
— SIDE TO SIDE —
Andre membantu Via turun dari mobil.
“Aku ke toilet sebentar. Kau masuklah dulu, diluar sangat dingin.” Andre menggandeng Via menaiki tangga ballroom.
Reuni kali ini di adakan di ballroom sebuah hotel berbintang lima. Via tampak cantik dengan balutan dress selutut berwarna pink dengan taburan batu swa***zky yang berkerlip saat terkena sorot lampu.
Via menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok yang mungkin di kenalnya.
“Vii ... Via kamu Viakan?” Seorang wanita memanggil Via dari kejauhan.
Via menoleh dan langsung mengenali wanita bergaun hitam itu.
“Sandra?” Via nampak kagum dengan penampilan Sandra.
“Kau tampak cantik sekali. Aku hampir tak mengenalimu.” Via memberanikan diri mengajak ngobrol Sandra.
Sandra memang tampak cantik dengan gaun hitam panjang dengan potongan V neck. Tangannya menggenggam tas tangan dengan warna sama dengan dressnya.
“Via?” Glen menghampiri Via.
“Kau beneran Via?” Glen memeluk Via erat.
“Bagaimana kabarmu? Kau sudah menikah? Berapa anakmu?” Glen mencerca Via dengan berbagai macam pertanyaan.
“Glen sabar.” Sandra memeluk lengan Glen.
“Kalian ...?” Via menutup mulutnya yang melongo kaget.
“Baru 1 tahun yang lalu.” Sandra memamerkan cincin di jari manisnya.
“Selamat.” Via mengucapkan selamat dan memeluk Sandra.
“Maafkan aku Via, dulu aku terlalu egois. Setelah kau menghilang, aku baru sadar kalau hanya kau sahabat terbaikku.” Sandra mulai berkaca-kaca.
“Sudahlah, itu sudah berlalu.” Via mengelus punggung Sandra.
“Kami mencarimu ke mana-mana Via. Tapi kami tak bisa menemukan dan menghubungimu.” Sandra menggenggam erat lengan Via.
“Kau tahu dulu Kak Andre mencarimu sampai seperti orang gila. Aku sempat memukulnya dulu karna membuatmu menanggung semuanya sendirian,” ucap Glen sedikit keras.
“Seluruh sekolah heboh mendengar kak Andre putus dengan Sinta.” Tambah Sandra.
“Kelihatannya namaku masih jelek di sekolahan.” Via menundukan kepalanya.
“Sudahlah itu sudah lama terjadi, untuk apa dipikirkan.”
“Aku dengar juga Kak Sinta masuk penjara karena menabrak seseorang.” Sandra mengingat-ingat kejadian itu.
“Hai bukannya kamu Sandra?” Seorang wanita cantik menghampiri Sandra.
“Hai, Betty, kau masih ingat padaku?” Sandra tertawa, Betty ikut membalasnya dengan tawa yang nggak kalah kencang.
“Ini Glen dan Via.”
“Via?? Via ...?? Via yang dulu rebut pacar orang itu??” Betty tersenyum sinis sambil melihat ke arah Via.
“Hei jaga bicaramu!” Glen sedikit risih dengan omongan Betty.
“Wah gila gaunmu ini bikinan D*or kan?? Tasmu juga keluaran terbaru dari Ch**el.” Betty melihat dan menilai penampilan Via.
“Iya,” jawab Via.
“Wah hebat!! Kamu dapat suami kaya atau jadi simpanan pria kaya? Aku masih ingat dulu kau sangat miskin.”
“Jaga bicaramu Betty.” Glen mulai emosi.
“Bukannya dari dulu dia pelakor.” Betty tampak sinis.
“Benar dulu aku pelakor.” Via menjawab Betty dengan enteng.
“Kalau tidak mana mungkin aku bisa pakai pakaian bermerk seperti ini.” Via memutar badannya, membuat gaun indahnya berputar.
“Via kau??” Glen tercekat tak percaya.
“Via??” Sandra ikutan tak percaya.
“Tuhkah aku bilang juga apa?” Senyum Betty.
Via meminum satu gelas coctail yang dibawa oleh pelayan yang kebetulan lewat di depannya.
“Hei lihat itu bukannya kak Andre?” Seorang wanita berbisik dengan wanita lainnya.
“Wah sekarang dia ganteng banget ya. Lebih ganteng dibanding dulu saat sekolah.” Puji yang lainnya.
Andre langsung menjadi pusat perhatian saat masuk ke dalam ballroom.
“Kenapa Kak Andre ada disini?” Sandra memandang Glen.
“Bukankan dia beda angkatan dengan kita?” Glen melirik ke arah Via.
Via tak menggubrisnya dan masih asyik dengan minumannya.
“Gila! Dia memang ganteng banget.” Betty terlihat menaruh perhatian pada sosok Andre yang semakin mendekat.
“Kenapa dia mendekat kemari?” Betty tambah salting.
“Dia datang cari istrinya yang pelakor.” Via meletakan gelasnya kembali.
“APA?” Sandra, Glen, dan Betty berteriak hampir bersamaan.
“Halo, Sayang, kau sudah bertemu teman-temanmu?” Andre memeluk pinggang Via.
“Sudah, kenalin ini Sandra, Glen, dan Betty. Gaess ... ini suamiku, Andre.” Via memperkenalkan Andre.
“Oh aku sudah mengenal Glen. Yang lainnya aku belum kenal, salam kenal.” Andre menepuk pundak Glen dan tersenyum pada yang lain.
“Kau tahu Betty, kalau memang cinta selalu ada harga yang layak untuk dibayar dan diperjuangkan, even become a ‘pelakor’ like me.” bisik Via di telinga Betty sebelum meninggalkannya.
“Kau tidak perlu menghakimi orang lain, Bet. Urusi saja dirimu sendiri.” Lanjut Via.
“Aku lelah, ayo kita pulang. Renny pasti merindukan kita.” Via melingkarkan tangannya ke lengan Andre.
“Akhirnya mereka bersama juga.” Sandra memandang Andre dan Via yang mulai menjauh.
“Aku kira aku nggak akan pernah punya kesempatan untuk meminta maaf.” Sandra menghela napas lega.
“Iya, kau benar.” Glen menggenggam erat tangan Sandra.
— SIDE TO SIDE —