
SIDE TO SIDE
S2 ~ ACT 8
Renny membanting diri ke atas ranjang. Sedikit sebal karna setelah berciuman, Jay malah mengusir Renny keluar dari kamarnya.
“Ah ternyata berciuman itu sangat enak.” Renny bergumam saat teringat kenangan indah barusan.
“Aduh kenapa malah jiwa halu ku meronta- ronta..?” Renny terkikih senang.
Setelah berhalusinasi sejenak Renny berjalan menuju meja belajar, melihat ke dalam isi dompetnya. Dompet bergambar hello kitty itu kini kering kerontang.
“Ah.. uangku tinggal sedikit. Habis untuk membeli perlengkapan sekolah.” Renny menghela nafas.
“Tas yang aku pasang di online belum juga laku. Padahal limited edition.” Renny kembali membuka- buka akun onlinenya.
“Ternyata ga punya uang itu susah ya. Apa aku cari kerja sambilan ya?” Renny melemparkan dompetnya kembali ke dalam laci.
“Di saat seperti ini aku kangen papa dan mama, bahkan aku kangen dengan Brian.” Renny menghela nafas panjang.
Renny melihat telapak tangannya, kulit tangannya biasanya sangat halus berubah, kini sedikit kasar dan mengelupas. Kuku- kukunya tidak lagi cantik dan berhiaskan kutek warna- warni. Beberapa patah dan grepes tidak beraturan.
Biasanya sebelum mengawali hari seluruh pelayan sibuk mempersiapkan penampilannya. Baik baju, rambut, tangan sampai ke ujung kuku Renny. Kini jangankan pelayan yang mempersiapkannya, uang saja Renny nggak punya. Mengingat apa yang di milikinya menghilang, membuat hatinya sedikit sakit.
“Ah apa aku menyerah saja, minta maaf ke papa dan mama.” Renny menarik dan memeluk lututnya, membenamkan wajahnya yang galau.
“Nggak!! Kalau aku menyerah aku akan kehilangan Jay.” Renny mengangkat kembali kepalanya mencari semangatnya yang hilang.
“Besok hari libur, aku akan coba melamar kerja.” Renny mencari- cari situs lamaran pekerjaan.
....................
Brian meminum segelas wine sesekali memandang wanita di depannya. Wanita yang cantik dan anggun. Dari gaun yang di kenakannya terlihat kemewahan dan kecantikan seorang wanita kelas atas.
“Apa kau mendengarkanku?” Wanita itu tampak sebal karna Brian hanya diam saja.
“Maaf aku hanya lelah.” Brian tersenyum.
“Tidak apa- apa. Aku tahu kau hanya menuruti perintah orang tuamu.”
“Siapa namamu tadi??” Tanya Brian sopan.
“Killa, Shekilla Jin. Putri tunggal keluarga Jin, aku pewaris tunggal keluarga Jin. Dan kau melupakan namaku belum ada satu jam kita bertemu..” Wanita itu terlihat marah dengan perlakuan Brian padanya.
“Maaf..” Brian kembali meneguk minumannya, tidak acuh dengan status maupun amarah Killa.
“Hmm.. kau sangat keren dan gagah. Sayangnya satu, kau hanya seorang anak angkat. Selera makanku jadi hilang.” Killa bangkit berdiri, membanting serbet makan yang terletak di pangkuannya. Keluar dari restauran diikuti oleh beberapa orang bodyguard dan asistennya.
Brian hanya diam saja, ini sudah kali ke tiga dia berkencan buta dengan wanita pilihan mamanya. Nggak ada satupun yang mampu menyaingi kecantikan Renny di matanya.
“Ah benar aku hanya anak angkat.” Brian tersenyum dan menerawang jauh keluar jendela. Melihat gemerlap lampu- lampu kota yang tampak berkilau.
Gedung ini sangat tinggi, makanan disini berharga sangat mahal. Dari gedung ini kita bisa melihat pemandangan kota sambil menikmati fine dinning yang sangat lezat. Tapi entah kenapa Brian bahkan tak bisa merasakan nikmatnya. Makanan lezat dan wanita yang cantik, ternyata tetap tidak bisa menggeser rasa gusar di dalam hati Brian.
“Pak Kim, apa kau sudah dapatkan sesuatu?” Brian memanggil sekretarisnya mendekat.
“Maafkan saya tuan muda. Semua akses hacker kita di blok oleh seseorang. Dan semua akun miss Renny tidak aktif. Sama sekali tidak ada celah.”
“Baiklah. Selidiki saja terus.” Brian meremat kain meja sampai kusut.
“Baik tuan muda.”
......................
Jay mondar mandir di dalam kamarnya. Sesekali menjambak pelan rambutnya. Kejadian sore ini sangat membuatnya frustasi. Bagaimana bisa dia terbawa perasaan dan mencium Renny seperti itu, bahkan sampai memasukan lidahnya. Untung saja dia masih bisa menahan gejolaknya, kalau nggak entah apa yang akan terjadi.
“Aku beneran cowok brengsek. Jangan jadi sampah Jay. Kau harus meminta maaf.” Jay hendak menemui Renny.
Tok tok tok..
“Siapa malam- malam? Masa iya sih Renny lagi.” Jay menelan ludahnya.
“Jayden buka pintunya.” Suara seorang cewek mengagetkan Jay.
Kreek.. (pintu terbuka)
“Mau apa kemari?” Nada kasar langsung keluar dari mulut Jay.
“Cuman mau melihat adikku saja.”
“Aku bukan adikmu.” Tepis Jay.
“Darah lebih kental dari air Jay. Kau tak bisa memungkirinya.”
Kriiiet.. (pintu sebelah terbuka)
Renny keluar dari dalam kamarnya hendak membuang sampah.
“Jay..” Renny tampak kaget karna Jay ada di luar dengan seorang wanita.
Wanita itu sangat cantik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis. Dia memakai kemeja hitam dan blezer biru, rambutnya hitam dan panjang dikuncir dengan pita berwarna senada. Heelsnya tidak tinggi tapi bisa mengimbangi Jay.
“Hallo.” Sapa wanita itu, suaranyapun sangat lembut.
Renny menatap Jay kemudian wanita itu secara bergantian.
“Ayo masuk kita bicara di dalam.” Jay menggandeng wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Renny yang terpaku penuh dengan tanda tanya.
“Gadis itu sangat cantik? Dia tetanggamu?”
“Apa yang ingin kau bicarakan Thea??”
“Kak Thea!!”
“Sudah aku bilang kau bukan kakakkukan!!” Jay kesal.
Thea adalah anak dari papa Jay dengan simpanannya. 3 tahun lebih tua dari Jay. Kini wanita simpanan papanya menikah dan menjadi istri sah setelah mama Jayden meninggal dunia. Walaupun tidak satu rahim namun tidak dipungkiri bahwa Jayden dan Thea berasal dari satu darah yang sama.
“Papa merindukanmu Jay. Dia kini sakit. Kau tahu keadaannyakan, kenapa tak menjenguknya.”
“Jay jangan keras kepala, kau bisa marah kepada mamaku atau aku, tapi papa benar- benar tulus menyayangimu.” Thea sedikit emosi.
“Dengan membunuh mamaku? Kalian membunuh mamaku!” Otot- otot leher Jay tampak menegang.
“Maafkan kami Jay. Semua itu di luar kendaliku. Aku hanya seorang anak, tidak bisa mencampuri urusan orang tua kita.”
“Sudahi basa basinya. Pulanglah Thea.”
“Papa ingin kau membantunya mengurus perusahaan Jay. Hentikan hobimu sebagai montir, fokuslah sekolah dan masuk ke universitas bisnis.”
“Sudah aku bilang jangan campuri urusanku, kehidupanku ini milikku, bukan milik kalian.” Jay bangkit berdiri dan membukakan pintu untuk Thea.
“Jay.. jangan keras kepala. Setidaknya jenguklah papa.” Thea keluar dari kamar Jay.
Brakk...(pintu menutup)
Jay membanting pintu kamarnya..
Tok tok tok..
pintu kembali di ketuk.
Kreekk.. ( pintu terbuka)
“Apa lagi??” Jay langsung membentak.
“Wow.. Selow brow..” Ternyata Enzo, teman sekelas Jay datang.
“Ngapain malem- malem kemari?” Tanya Jay heran.
“Nginep ruma loe bro. Gue bawa barang asyik nih.” Senyum Enzo, alisnya naik turun.
“Jangan bilang kau bawa film porno!!!” Jay menempeleng kepala temannya.
“Ahahaha.. tau aja sih bro. Kalau lihat di rumahkukan ada mamak yang galak.” Enzo cengar cengir.
“Dasar otak mesum.”
Jay menggelengkan kepalanya kesal. Padahal baru beberapa jam yang lalu dia harus menahan hasrat dan gairahnya saat berhadapan dengan Renny.
“Kau nonton aja sendiri bro. Aku mau cari angin dulu. Awas kalau ngotorin kamar!!” Jay mengambil jaketnya dan keluar.
“Ah Seyap.. hati- hati bro. Ntar beliin makanan sekalian ya.”
“Tukerin tapi!”
“Oke bro.”
Jay berjalan keluar dan duduk merenung di taman dekat apartemen. Menikmati hembusan angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Sedikit merenungkan pertemuannya dengan Thea hari ini. Hatinya sakit saat mengingat mendiang mamanya, tapi rasa kemanusiannya terus mengingatkan Jay pada kondisi papanya yang terus menurun.
“Haruskah aku menjenguknya.” Jay tiduran di bangku taman sambil memandang langit malam yang bertabur bintang.
....................
Renny merasa resah, dia terus menekan jari jemarinya.
“Siapa wanita yang bersama Jay. Kenapa Jay mengijinkannya masuk?” Renny bangkit dari kasurnya.
Renny mendekati dinding pembatas kamarnya dengan kamar Jay. Menempelkan telinganya supaya bisa mencuri dengar. Renny sangat penasaran dengan pembicaraan mereka berdua.
Desahan demi desahan, rintihan demi rintihan terdengar samar- samar dari balik dinding. Renny sangat kaget dan terkejut. Dia menempelkan kembali telinganya, gantiian yang sebelah kanan. Hal sama masih terus terdengar, rintihan dan desahan.
“Apa yang mereka lakukan berdua?” Renny kaget.
“Masa sih..?” Pikiran- pikiran Liar memenuhi kepala Renny.
Pemikiran liar itu membuat sesak dadanya, padahal sore tadi Jay baru saja menciumnya. Baru saja ada kenangan manis yang terjadi di antara mereka.
Kenapa??
Kenapa baru beberapa jam saja Jay sudah mengkhianatinya.
Apa jangan- jangan Jay hanya bermain- main dengan perasaannya. Entah kenapa Renny merasa sangat sakit dan marah. Sampai - sampai dia tak bisa tidur karna menangis semalaman.
....................
Pengenalan tokoh:
(Sumber: google search, artis: Dylan Spreberry
Hanya sebatas visual karakter mirip- mirip aja, karna banyak yang minta. Selebihnya berhalusinasi sendiri saja ya readers ^^)
Nama : Brian Saint/ Brian Hartono.
Panggilan : Brian
Tinggi badan : 192 cm
Warna kulit : putih
Warna mata : Coklat muda.
Warna rambut : Pirang
Like : Boxing.
Dislike : Terpisah dari Renny
Kelebihan : Dewasa dan bisa menjaga perasaan.
Kekurangan : Terlalu terobsesi dengan Renny.
.........................