
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 28
Suasana pagi di kantor terlihat sangat sibuk. Jay menggulung lengan kemejanya dan mengecek semua dokumen-dokumen penting perusahaan. Jay membuat meeting kecil dengan bagian perencanaan kerja.
“Pabrik yang di Vietnam rugi banyak?” Jayden mengangkat laporan di tangannya.
“Betul, AH grup yang merajai pabrik assembling di sana sekarang, Pak.” Jawab seorang manajer muda.
“Kau beli tanah di sekitarnya, bangun rusun dan apartemen murah.” Perintah Jay.
“Untuk apa, Presdir?” Wajah orang itu dan timnya terlihat kaget.
“Kalau mereka tinggal di dekat pabrik mereka akan lebih menghemat biaya hidup, otomatis mereka akan mau bekerja di pabrik kita di banding pabrik lainnya.
“Bisa menghemat biaya produksi juga, ya , Pak.”
“Betul. Jadi harga asemblingnya bisa bersaing dengan AH grup.”
“Baik akan segera saya laksanakan, Presdir.”
“Aku dengar juga Vietnam sedang krisis rumah tinggal untuk kalangan bawah. Kau lirik sekalian saja pangsa pasar itu. Buat sebagai penyamaran.” Jay memutar-mutar bolpoinnya tampak sedang berfikir keras.
“Di Indo sendiri bisnis properti sedikit lesu, kau bisa manfaatkan orang kita, jadi tidak ada yang harus di PHK.” Tambah Jay.
“Anda sangat hebat, Pak. Sekali mendayung banyak pulau terlampaui.” Puji mereka.
“Nggak kok. Saya masih muda, masih butuh banyak belajar. Tolong ya manager. Saya nggak mau ada kesalahan dalam proyek ini.”
“Senang bisa membantu anda, Presdir.”
“Terima kasih.”
“Kami pamit.”
“Thea bisa kau siapkan pesawat ke Vietnam sekarang?” Jay mengangkat intercomnya.
“Sure Jay.”
“Thanks.”
“Tunggu Renny kita akan segera bertemu.”
......................
Seminggu yang lalu..
Elisa melihat makanan yang tersaji di depannya, meliriknya dengan penasaran.
“Sudah lama aku ingin makan ini.” Katanya senang.
“Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?” Jayden melirik Elisa yang sedang menikmati semangkok bakso.
“Kata Brian meat ball di Indo itu enak, jadi aku ingin mencicipinya.” Elisa masih mengunyah dan menikmati rasanya.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Ucap Jayden.
“Ah.. tak bisakah kau membiarkanku makan dulu?” Elisa mulai sebal.
“Oke.. oke.. makanlah.” Jay nampak sedang belajar bersabar.
Setelah Elisa selesai menikmati makanan di depannya dia mulai menata cara duduknya dan memulai pembicaraan.
“Jadi sudah sejauh mana kau berhasil?” Elisa meneguk segelas es kelapa muda.
“Aku sudah berhasil memberikan 3 pukulan di wajah brengseknya.” Jawab Jayden.
“Hahahaha..” Elisa tertawa.
“Maksudku bukan itu, Jay. Sudah sejauh mana kau berhasil membawa perusahaanmu maju?” Elisa menghapus sedikit air mata yang keluar dari ujung matanya. Tawanya yang terlalu keras membuat matanya berair.
“Perusahaanku sekarang cukup besar untuk bersaing dengannya.”
“Oke, aku akan membantumu menjatuhkan Brian.” Elisa kembali menyeruput es kelapa muda.
“Cara makanmu sangat berantakan.” Jay melirik ke arah Elisa.
“Makanan Indo enak-enak, aku suka dengan es ini.” Elisa mengangkat gelasnya.
“Kau bilang tak ingin membantuku? Kenapa berubah pikiran?” Jay kembali heran.
“Aku tak ingin melihatnya terluka dan jatuh ke lubang yang lebih dalam.” Elisa menerawang jauh ke luar jendela, menikmati pemandangan kota dari kantin lantai 3 di kantor Jayden.
“Kau mencintainya?”
“Betul.. ! Hah.. ! aku dan dia sama-sama bodoh.” Elisa meneguk sampai habis es di depannya.
“Mau lagi?” Tawar Jay.
“Tentu saja, ini sangat enak.”
Setelah memesan segelas es kelapa muda Jayden kembali fokus pada pengacara muda di depannya itu.
“Jadi bagaimana?”
“Belilah saham milik Renny, Jay. Pakai hak suaranya untuk menurunkan Brian.”
“Saham Renny hanya 20%, mana bisa?”
“Aku akan membantumu, cukup cari celah kecil untuk menjatuhkan kinerja Brian.” Elisa memberikan sebuah lembaran foto.
“Pabrik assembling?”
“Pabrik asembling di Vietnam sangat maju Jay. Tapi Brian tak pernah mengurusnya karena merasa pabrik itu sudah cukup kuat.”
“Aku juga ada pabrik asembling di Vietnam.”
“Kau tahu kalau pabrik itu merugi, AH grup akan kehilangan banyak pemasukan.”
“Dan para pemegang saham akan langsung mencabut pilihannya atas Brian.” Jay meneruskan.
“Betul, Jay. Dan kalau kau bisa menggantinya dengan pabrik milikmu. Aku pastikan kursi Presdirnya akan langsung jadi milikmu.” Senyum Elisa.
“Aku akan segera memikirkannya.” Jawab Jay.
“Aku akan membantumu berbicara pada Renny.” Elisa menerima satu gelas lagi es kelapa muda.
“Terima kasih.”
“Aku tak melakukannya untukmu.” Senyum Elisa.
“Aku tahu, tapi tetap saja aku berhutang sesuatu padamu.”
“Cukup balas kebaikanku dengan jangan membenci Brian.” Elisa bangkit dan meninggalkan Jayden.
.....................
“Hallo Renny.” Elisa membuka perlahan pintu kamar Renny.
Renny masih terlihat lesu dan tak bersemangat. Dia bahkan tidak mau melirik siapa yang masuk ke dalam kamarnya.
“Aku Elisa, boleh aku masuk?” Tanya Elisa, di tangannya ada semangkuk bubur dan segelas air hangat.
“Aku nggak mau makan.” Renny menolak sebelum Elisa menawarkan.
“Padahal aku punya berita yang bagus, ya sudah kalau nggak mau dengar.” Elisa menaruh nampan itu di atas meja.
“Tunggu..! Berita apa?” Renny menoleh.
“Makan dulu.”
“Kau bohongkan? Aku bukan anak kecil yang akan tertipu, kau teman Brian kan?” Renny kembali menunduk.
“Dasar.. kalian berdua itu emang masih kecil. Yang satu sok dewasa, yang satu dewasa terlalu dini.” Elisa menghela nafas sebal. Ia berjalan dan duduk di samping ranjang Renny.
“Maksudmu Jay?” Tanya Renny lirih.
“Sekarang percaya? Jadi mau makan atau tidak?”
“Mau.. akan aku makan.” Wajah Renny terlihat lebih cerah, rona merah terlihat lembut di kedua pipinya.
“Nggak usah keburu-buru, masih panas.” Elisa membantu Renny makan.
“Iya.”
Setelah menghabiskan semangkok bubur Renny merasa perasaannya mulai membaik.
“Pelan-pelan saja Renny.” Bisik Elisa.
“Apakah dia baik-baik saja?” Renny tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya.
“Lebih baik dari terakhir kalian bertemu. Dan Dia akan segera menemuimu Renny.” Elisa merebahkan dirinya di samping Renny.
“Kenapa kau membantu kami?” Renny ikut merebahkan diri.
“Aku nggak membantumu ataupun Jayden.” Elisa mengerutkan alisnya.
“Lalu??”
“Aku membantu Brian agar tidak terjatuh dalam kegilaannya dan membuatnya kehilangan segalanya.” Elisa melihat langit- langit kamar Renny.
“Kau menyukai kakakku?”
Elisa mengangguk sebagai jawaban.
“Menyedihkan bukan, dia menyukaimu, aku menyukainya, kau menyukai Jay... lingkaran cinta yang aneh.” Elisa tertawa.
“Kenapa tak kau ungkapkan?” Renny ikut memandang langit-langit.
“Kenapa ya? Mungkin aku tidak berani.. aku takut saat aku mengungkapkannya aku akan kehilangan dirinya.” Elisa menoleh.
“Aku selalu mengungkapkannya pada Jay. Kalau aku pendam rasanya dada ini sangat sesak. Ingin meledak! Jadi walaupun di tolak aku tetap mengatakannya.” Renny menoleh.
“Semudah itukah?”
“Iya.. coba dengan teriakan, itu akan membuatmu lega.”
“Berikan aku contoh..” Elisa mulai tertarik.
“JAY AKU MENCINTAIMU!!” Seru Renny.
“Hahahaha..”
“Cobalah..”
“BRI..BRII... ah aku tidak bisa.” Elisa tersipu.
“Dia tidak akan mendengarmu Lisa.”
“Ada kamera pengawas.”
“Mereka tidak akan melaporkan segala sesuatunya pada Brian bukan. Hanya hal yang penting.”
“Oke akan ku coba.”
“Tarik nafasmu Elisa.” Renny bersemangat mengajari Elisa hal konyol yang menyenangkan.
“BRI..BRIAN AKU MENCINTAIMU!!” Elisa berseru.
“Bagus..” Renny bertepuk tangan.
“Ini memalukan.” Ucap Elisa, ia menutup wajahnya malu.
“Ini menyenangkan, aku bisa mengucapkannya ribuan kali bila perlu.” Renny menaruh tangannya di dada.
“Jay akan segera membeli sahammu Renny, dan kalian akan segera bersama.” Elisa bangkit.
“Kau akan pergi?”
“Iya, hanya itu yang ingin aku sampaikan.”
“Terima kasih.”
“Sudah aku bilang aku tak melakukannya untuk kalian.”
“Tetap saja aku berhutang sesuatu padamu.”
Elisa tertawa mendengar Renny mengucapkan hal yang sama dengan yang pernah di ucapkan Jayden padanya.
“Aku harap kau tak akan membenci Brian.”
“Mama menyuruhku memaafkan semua tindakannya, sekarang aku tahu kenapa?” Renny tersenyum.
“Jangan lupa makan Renny. Jaga dirimu sampai Jay datang menjemputmu.” Elisa meninggalkan kamar Renny.
......................
11 bulan kemudian.
“Brengsek, kenapa jadi seperti ini??” Brian menyapu bersih barang di atas meja kerjanya.
“Maafkan saya Presdir. Saya terlalu lengah karena pergerakan mereka terlalu cepat.”
“Bagaimana mungkin pergerakannya tidak terlihat??!” Brian memukul meja di depannya.
“Mereka menutupinya dengan menjual properti untuk rumah tinggal, dan ternyata mereka membidik tenaga kerja kita.”
“KELUAR!!! Aku nggak mau lihat wajah kalian di kantor ini besok!!” Usir Brian marah.
“Ternyata aku tak bisa meremehkan anak ini.” Pikir Brian marah.
“Presdir, dewan komisaris dan pemegang saham minta rapat darurat.” Sekretaris Kim masuk ke dalam ruang kerja Brian.
“... “ Brian terduduk lesu di kursinya, bersandar dan mengelus kepalanya yang pusing.
“Berapa kerugiannya pak Kim?” Tanya Brian.
“Hampir 200 juta dollar, Presdir.”
“Shit!!” Brian menjambak rambutnya.
“Ada lagi yang perlu anda ketahui Presdir.”
“Apa itu?”
“Miss Renny menjual sahamnya kepada Jayden.”
“Apa?? Bagaimana bisa?” Brian terbelalak kaget.
“Nona Elisa yang membantunya menjual saham itu.”
“Elisa??” Brian terjatuh kembali ke kursinya.
“Padahal aku mempercayainya?! Kenapa dia tega mengkhianatiku??” Pikiran Brian kacau.
“Presdir.. presdir.. anda tidak apa-apa? Mau saya undur rapatnya?” Sekretaris Kim membantu Brian untuk bangkit.
“Tidak, aku harus menyelesaikan ini.” Brian mencoba bangkit dengan tegar.
Brian berjalan dengan tegap menuju ke rapat direksi. Sekretaris Kim dan beberapa jajaran direktur mengikuti langkahnya menuju ruang rapat. Di persimpangan dia bertemu dengan Jayden yang juga menuju ruangan itu bersama beberapa orang bawahannya.
“Halo Brian.” Sapa Jay.
“...” Brian diam, tangannya mengepal menahan emosi.
“Kembalikan Renny padaku, aku sudahi ini semua. Dan kau tetap akan jadi Presdir, wajahmu tak akan tercoreng.” Jay mengutarakan maksudnya.
“Harusnya dulu aku membunuhmu! Aku menyesal tak pernah melakukannya.” Brian menghentikan langkah kakinya di depan Jayden. Mata mereka bertemu, Jay sekarang sama tingginya dengan Brian.
“Sayangnya kau tak membunuhku! Jadi bagaimana?” Jay kembali menahan emosinya dan menawarkan pertukaran.
“Aku bisa kehilangan segalanya, tapi tidak untuk kehilangan Renny.” Bisik Brian.
“Dasar keras kepala.” Jay mengepalkan tangannya.
“Walaupun harus membunuhmu ataupun mengemis padamu aku akan tetap menjaga Renny di sisiku.” Ucap Brian sebelum meninggalkan Jayden.
“Brengsek..” umpat Jayden marah.
Brian meninggalkan Jay menuju ke rapat dewan komisaris. Jay juga melangkah ke tempat yang sama. Tinggal satu poin terakhir untuk menjatuhkan Brian. Tinggal satu langkah lagi dan Jay akan memenangkan pertandingan ini.
............................
Huwaaa...^^
Maju terus Jay..
Hallo readers baca novel saya yang lain ya..
Ada MUSE dan DINDA. Di jamin baper juga❤️❤️
Love buat semuanya.