
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 29
Suasana di dalam ruang rapat sangat tenang, tak ada suara. Semuanya wajah terlihat tegang. Belum lagi aura yang terpancar dari Brian dan Jayden yang terus beradu pandangan penuh kebencian. Membuat sesak suasana rapat sore itu.
“Menyerahlah Brian. Kau sudah kalah.” Jay melangkahkan kakinya di kursi Presdir.
“Kau menipu kami semua.”
“Bisnis memang begitu, kau harusnya lebih tahu.”
Brian bangkit dari kursinya. Kekalahan suara pendukung membuatnya harus meninggalkan jabatan itu. Brian menghela nafasnya panjang dan pergi meninggalkan ruang rapat. Sekretaris Kim dan beberapa bawahan loyal Brian ikut meninggalkan ruangan itu.
Jay melihat kepergian Brian dengan perasaan gundah.
“Semudah inikah?” Jay menelan ludahnya beberapa kali.
Jayden duduk di kursi tempat di mana Andre dan Brian pernah memimpin perusahaan ini.
“Mari kita mulai perbaikan perusahaannya.” Jayden membuka lembaran baru kepemimpinannya di AH grup.
.........................
Brian menerobos paksa masuk ke dalam firma hukum milik Elisa.
“Anda tak boleh begini Tuan.” Sekretaris Elisa mengikuti dan mencegah Brian masuk.
“Biarkan saja, Noel.” Perintah Elisa.
“Baik Bu.” Wanita muda tadi memandang sepintas ke arah Elisa dan pamit keluar.
Brian menghampiri dan mencengram pundak Elisa lalu memepetnya di dinding. Elisa meringis kesakitan karena tenaga Brian terlalu kuat untuk dia tahan.
“Kenapa Lisa?? Kenapa? Padahal aku percaya padamu...!” Brian meninggikan suaranya.
“Lepasin Brian..! Sakit!!” Elisa mengerang.
“Katakan alasannya!” Brian masih menahan tubuh Elisa.
“Aku nggak mau kau semakin menggila dengan obsesimu. Aku nggak mau melihatmu hancur dan kehilangan segalanya.”
“Aku kehilangan segalanya saat aku kehilangan Renny.” Balas Brian.
“Cintamu membutakanmu Brian.. kau menghancurkan hidupmu sendiri dengan cinta butamu itu.” Elisa melepaskan cengkraman Brian.
Brian memandang Elisa dengan pandangan sedih, sakitnya pengkhianatan Elisa semakin menambah buruk kondisi perasaan Brian saat ini.
“Kau rusak hidupmu dengan cintamu, kau kecewakan orang-orang yang mencintaimu demi cintamu. Bahkan dia sama sekali tak pernah mencintaimu Brian.” Elisa berteriak.
“Apa pedulimu?? Apa pedulimu kalau hidupku hancur???” Brian mengepalkan tangannya dan meninju dinding di samping wajah Elisa.
“AKU MENCINTAIMU BRIAN!!” Elisa berteriak, teriakan yang membuat Brian sadar dari emosinya.
“Aku mencintaimu.. aku tak ingin melihatmu terluka dan menyakiti dirimu sendiri.” Elisa mengelus punggung tangan Brian yang berdarah karna memukul dinding.
Brian menarik tangannya dari sentuhan lembut Elisa. Air mata menetes di pipi wanita cantik itu.
“Aku tak mencintaimu.” Ucap Brian dingin.
“Iya aku tahu.” Elisa masih menangis.
Kriiing..
Suara panggilan pada ponsel Brian mengagetkan mereka berdua.
“Tuan muda, Jayden sudah keluar dari gedung dan akan menjemput miss Renny.”
“Dia tidak akan pernah bisa melakukannya. Aku akan membunuhnya bila perlu.” Brian menutup ponselnya.
“Jangan Brian!! Jangan bodoh!! Renny hanya akan semakin membencimu.”
“Stop!! Aku tidak memerlukan nasehatmu.”
“Brian!! Kau hanya akan menghancurkan kehidupan Renny.! Jangan buat kau menyesali perbuatanmu!” Elisa menarik tangan Brian.
“....”
“Kenapa tak kau relakan saja dia bahagia dengan orang yang dicintainya?”
“Kalau aku tak bisa memilikinya, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa.” Brian menghempaskan tangan Elisa.
“BRIAN!!” Panggil Elisa, namun Brian tetap pergi dan tak menoleh.
“Brian...!” Elisa kembali memanggilnya.
Elisa menghapus air matanya. Mencari ponselnya, bergegas memberikan panggilan pada Renny. Tanpa sepengetahuan Brian Elisa memberikan Renny sebuah ponsel agar bisa berhubungan dengannya.
“Renny.. Brian akan mengejar Jay. Dia akan mencelakainya, aku mohon hentikan dia.”
“Apa?? Di mana Brian sekarang??”
“Dia mengejar Jay yang akan menuju ke mansionmu.”
“Hanya kau yang bisa menghentikannya Renny. Hanya kau yang bisa menahan emosi dan kegilaan Brian.” Elisa menangis terisak.
“Aku akan mencobanya, Lisa.”
“Kumohon selamatkan dia, jangan buat dia merusak kehidupannya.” Elisa tersungkur di lantai kantornya.
“Jangan menangis Lisa. Semuanya akan baik- baik saja.” Renny menutup telfonnya.
......................
“Anda mau ke mana miss?” Carl berlari menyusul Renny ke dalam garasi.
“Kumohon jangan banyak bertanya, Brian mengejar Jay, aku harus menyelamatkannya.” Renny menaiki mobil sport silvernya.
“Miss tolong jangan gegabah.”
“Hubungi papa Carl.” Renny menginjak gasnya, menerobos pintu gerbang yang di jaga oleh beberapa pengawal setia Brian.
“Miss Renny!!” Teriak mereka.
Renny tak menggubrisnya dan melaju dengan kencang. Mobil bagian depannya rengsek karena menabrak dan membuka paksa pintu gerbang. Renny panik, tak tahu harus bagaimana dan pergi kemana. Renny terus memacu kendaraannya dengan cepat ke arah perusahaan.
“Tolong Tuhan, jangan sampai Brian menyakiti Jay lagi.” Renny berdoa dengan sepenuh hati.
Renny menghentikan kendaraannya saat lampu jalanan merah, dari arah yang berlawanan terlihat mobil Pa**ni hitam milik Brian mengebut dengan cepat menuju arah perusahaannya juga. Renny tak mengindahkan lampu merah dan kembali menginjak gasnya menyusul Brian.
“Aku akan menyetir sendiri.” Jay keluar dari pintu loby dan mengambil alih mobilnya dari petugas valet.
“Hati-hati. Go get her, Jay.” Thea menepuk punggung Jayden.
“Aku serahkan urusan kantor padamu Thea. Kau tahukan apa yang harus dilakukan?!”
“Tentu saja.” Thea tersenyum.
Jayden menyetir mobilnya masuk ke jalanan. Mobilnya melaju dengan cepat, Jay sudah tak sabar untuk bertemu dengan Renny. Dari kaca atas Jay melihat ada sebuah mobil hitam yang mengikutinya dengan kecepatan tinggi. Jay merasa ada yang tidak beres.
“Brengsek, dia nggak mau melepaskanku.” Jay menginjak gas mobilnya lebih dalam untuk menghindari kejaran Brian.
Mobilnya berbelok beberapa kali, keluar dari rute semula dan menuju ke jalanan di sepanjang laut.
Jalanan yang cukup sepi dan aman untuk Jay mengebut.
“Kau pikir bisa lari dariku.” Brian menambahkan kecepatnya, dia tak melihat Renny yang masih terus mengekor di belakangnya. Pandangan Brian hanya fokus pada mobil Biru di depannya.
“Shit!!” Jayden melihat ke belakang melalui kaca spion, Brian hampir menyusulnya.
Mobil Jay bukan mobil sport seperti milik Brian, tentu saja dengan mudah Brian bisa menyusul Jayden.
Jayden menukik tajam di dekat dermaga, menyelusuri jalanan di samping tebing curam di pinggir laut. Jay berbelok mencoba menghindari tabrakan dengan mobil Brian, seklebat dia melihat mobil silver milik Renny ikut mengejarnya juga. Mobil yang pernah di perbaikinya dulu saat pertama kali bertemu Renny. Jay sangat mengenalinya.
“Renny??” Jay tercengang..
Brian mengejar Jay, dan Renny di belakang Brian. Brian hampir menyentuh body mobil Jayden pada tikungan tajam di ujung tebing. Renny melihatnya, dia langsung membanting setirnya menyelip di bahu jalan dan masuk diantara mobil Brian dan Jay.
DUAR...!!!!
Mobil silver itu terpental dan mengguling beberapa kali sebelum terseret jauh di jalanan. Renny menutup matanya dan reflek melindungi dirinya dari serpihan kaca yang pecah yang berterbangan. Air bag yang keluar tak bisa melindungi Renny dari benturan di kepalanya. Beberapa kali Renny terguling-guling di dalam mobil.
“RENNY!!!!” Teriak Jay, Jay mengerem mobilnya.
Brian tertegun dari dalam mobil, air bag menggembung menutupi pengelihatannya. Namun masih bisa dilihatnya mobil silver milik Renny. Dia sendiri yang memilihkannya saat Renny berulang tahun.
“Renny!!!!” Brian dengan sempoyongan keluar dari dalam mobilnya.
Jayden berlari menuju mobil Renny, dilihatnya tubuh Renny yang bersimba darah. Darah segar keluar dari mulut, hidung dan beberapa luka lecet karena serpihan kaca.
“Renny.. Renny..” Jay mencoba untuk meraih tubuh Renny keluar dari mobil yang terbalik.
“Renny..” Brian menyusul dan tersungkur di samping Jayden. Mencoba melakukan hal yang sama.
“Renny, jangan tinggalkan aku.” Jay melepaskan sabuk pengaman dari tubuh Renny.
“Renny..” Brian menjaga agar tubuh Renny tak jatuh ke bawah.
“Kenapa kau melakukannya???!!!” Jerit Jayden, di peluknya tubuh Renny yang terkulai lemas.
“Tolong selamatkan Renny.. aku mohon selamatkan Renny.” Tangis Brian.
“Masuk ke mobilku, cepat!!!” Jay berteriak pada Brian.
Dengan tangan gemetar Brian bangkit dan masuk ke dalam mobil. Jayden menggendong tubuh Renny dan menaruh dalam pangkuannya.
“Cepat Brian!!!” Teriak Jay lagi.
“Cepat Brian.. kita tak punya waktu..” Jay menangis dan mencium pipi Renny yang mulai memucat.
Brian mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit. Peluh menetes membasahi wajah tampannya. Tangannya berkeringat dingin. Jay merasakan hal yang sama jantungnya tak berhenti berdegup kencang. Perutnya sangat mual, kecemasan melanda hatinya.
“Kau harus selamat Renny? Kau harus hidup, agar aku bisa mencintaimu.” Jay kembali mencium pipi Renny.
.......................
Hallo..
Saya crazy update ya..(2 episode)
Nukerin sehari yang nggak sempet update kemarin ^^
Sehat sehat ya readers..><
Lagi perubahan iklim jadi gampang sakit.
Tetep buang sampah pada tempatnya.
Bawa tumbler air minum sendiri biar sehat dan mengurangi sampah plastik.
❤️❤️❤️