Side To Side

Side To Side
SALAH PAHAM



SIDE TO SIDE


JAKA


Beberapa saat yang lalu.


“Kenapa nangis lagi sih??” Arron kelabakan, pasalnya sudah semalaman ia tidak tidur karena Bambang terus menangis, begitu pula Lenna. Dia yang menumpang di rumah Arron tentu saja ikutan terbangun.


“Eek mungkin!!” Lenna memberi usul pada Arron agar melihat ke dalam pempers si anak kicik.


Bella sedikit cemberut karena semenjak kedatangan Bambang dia tak mendapatkan perhatian sama sekali dari Arron. Makannya juga cuma sisa sisa nasi semalam. Bella menjadi sewot, ingin rasanya mengepak barang dan kabur ke tempat Jayden atau Asael.


“Gimana donk kalau eek??” Arron nggak tega lihat gumpalan bau itu. “Kamu aja yang lihat!!” Arron menyerahkan Bambang pada Lenna.


”ih, nggak mau!! Nggak ada Rere, aku ga bisa cebokin!!” Lenna mendorong tangan Arron.


“Belajar donk, Yank! Besok kamu juga bakalan jadi mama!!” seru Arron.


“Aku bikinin dia susu aja!! Aku nggak mau cebokin!” Lenna langsung melingsut dan mengambil botol susu. Dengan cepat dan lihai ia menghindar.


Oeeekkk


Bambang menangis lagi, kali ini jauh lebih kencang dan memberontak. Wajahnya sampai merah.


“Cup!! Cup!! Cup!! Diem ya Bambang sayang!! Bentar lagi susunya jadi kok!” Arron yang panik tentu saja tidak menyadari akan ada orang di balik pintu. Dan orang itu tak lain adalah …


“Mama!!!” Arron berjengit saat pintu terbuka. Wajah mama Lenna langsung terlihat dengan sangat nyata berdiri dihadapannya. Wanita yang paling Arron sayangi dan hormati itu tengah menatapnya dengan tubuh terpaku.


Wajah Mama Lenna kaget, pucat.


Wajah Arron sama …


Wajah Lenna apa lagi.


Wajah Bambang merah …


Preeettt … si bayi kentut. Dan membuat keheningan yang mencekat itu pecah.


“ARRON!!” seru Lenna lantang.


“Bi … bisa Arron jelasin, Ma!!!” Arron terlihat panik dan menyerahkan Bambang dalam gendongan Lenna.


Lenna yang tak mampu berkata-kata pun hanya bisa menyumpal mulut Bambang dengan susu supaya diam.


“Si … siapa gadis ini?? Ka … kalian tinggal bersama?” tanya Lenna saat melihat Lenna dan juga suasana kamar Arron yang berantakan, ada banyak barang-barang cewek seperti boneka dan sepatu.


“I... iya, kami tinggal bersama. Tapi … Ma, ini nggak kayak yang mama pikirin kok.”


Suara benda jatuh membuat mama Lenna, Arron, dan Lenna pun menoleh ke arah pintu masuk. Papa Julius menjatuhkan tablet pintarnya: Papa Julius sama syoknya saat melihat pemandangan barusan, sampai-sampai laporan yang dibacanya terjatuh.


“Papa!!!” Arron berseru, tambah runyam ini perkara.


“Kak Ius?? Kenapa ada di sini?? Katanya dinas ke luar kota??” tanya Mama Lenna.


“Kenapa kamu juga ada di sini? Kan sudah kubilang untuk tidak menemui Arron sampai anak ini jadi lelaki sejati!!” Papa Julius yang kepergok bohong lantaran mau tsudere ke anak menyerang balik istrinya.


Sebenarnya pergi dinas adalah alasan Julius untuk mengunjungi Arron. Ia tak mungkin mengatakan pada istrinya kalau akan mengunjungi anak mereka sementara ia sendiri melarang mama Lenna menemui Arron. Julius pergi menemui Arron karena pengawal yang ia utus untuk melaporkan keadaan Arron mengatakan kalau Arron tinggal dengan seorang gadis selama ini. Julius tak percaya anaknya yang alim dan juga kutu buku itu berani menjalin hubungan dengan seorang gadis, maka ia meluangkan waktu di tengah jam sibuknya untuk menemui Arron. Dan, saat ini, justru tak hanya Arron, ada Lenna dan juga bayi bernama Bambang yang menyambut kedatangan Julius.


“Mama kangen, tauk!! Gara-gara Papa tuh, lihat!! Arron beneran jadi pria dewasa sekarang!!” Mama Lenna protes pada suaminya. Ia tak bisa mengawasi anak mereka dan kini kehidupan anak mereka menjadi rusak kan, menjadi bebas bahkan sampai memiliki seorang anak di luar penikahan!! Hidup bersama seorang gadis tanpa ikatan apa pun sampai membuahkan hasil.


Julius menatap dengan penuh amarah pada Arron. Seingat pria kekar ini ia tak pernah mengajarkan anaknya untuk menjadi pria bgst yang menghamili gadis di luar nikah. well, meski setidaknya Arron bertanggung jawab sih.


“Ini nggak kayak yang Papa Mama bayangin deh!! Kayaknya kalian salah paham!” Arron berusaha masuk ke tengah-tengah pembicaraan kedua orang tuanya. Lenna menunduk dengan wajah memerah, malu karena kepergok tinggal bareng Arron sampai timbul salah paham kayak begini.


“Salah paham apa?? Buktinya udah jelas, Arron!! Masih mau mengelak??” Mama Lenna mulai marah, matanya berair karena meski pun marah ia tak bisa memarahi anak tunggalnya itu.


”Om, Tan—“ Lenna berusaha ikut menjelaskan, tapi Lenna menyelanya.


“Stop!! Jangan mencari alasan lagi!! Kalian sudah besar, kami tahu itu!! Dan kami juga salah karena mengambil keputusan mengijinkan Arron tinggal sendiri, terpisah dari pengawasan kami orang tuanya.” Mama Lenna menatap Papa Julius.


“Benar!! Sebagai orang tua kami pun malu karena tak berhasil mendidik anak kami dengan benar!!” Julius menghela napasnya.


“Papa Mama apaan sih??” Arron semakin kesal, pengen menjelaskan duduk perkaranya aja sulit banget karena baik Papa dan Mamanya berpikir terlalu jauh sampai ngelantur ke mana-mana. Hello … meski pun tinggal bareng Arron sama sekali nggak pernah menyentuh Lenna kali. Kenapa mereka mengecap diri mereka gagal mendidik anak??


“Sstt!! Anak nakal!! Masih berani mencela perkataan orang tua meski pun sudah terbukti bersalah!!” Mama Lenna menceples pantat Arron beberapa kali.


“Aduh, sakit Ma!!” Arron protes. Belum juga bicara, sudah di pukul. Lenna hanya bisa melongo melihat Mama Lenna menghajar pantat kekasihnya. Tanpa terasa Lenna merinding, instingnya mengatakan sepertinya akan ada hal buruk yang terjadi. Apa itu??


“Mamamu benar! Dari pada kalian menjadi anak nakal dan juga membuang masa depan kalian. Lebih baik kalian menikah saja,” kata Julius, “dan … ehem … cucuku bisa mendapatkan akte kelahiran.” Lanjutnya setelah berdehem. Ia melihat bayi mungil bernama Bambang tidur dalam pelukan Lenna. Hati kebapakz-bapakzkannya meronta-ronta, eh maap, hati ke-oppa-annya ding.


“APA?? Menikah???” Arron kaget dan langsung menoleh ke arah Lenna.


“HAH?? Menikah??” Lenna juga super syok. Bagaimana bisa dinikahin hanya karena alasan ia membawa bayi yang bahkan baru semalam tidur dengan mereka berdua. Kenzo sialan!! Bawa pulang anak orang dan bikin masalah aja.


“Nggak mau!!!” Lenna protes. Arron langsung menoleh kepadanya. Katanya cinta, masa nggak mau nikah??


“Kenapa?” tanya Arron. Sebenarnya Lenna cinta nggak sih sama Arron?? Nah lo!! Bella cuma menyunggingkan sudut bibirnya saja, nah kan, Boss, cinta gue lebih tulus kales.


...— JAKA —...


Ayo dukung kisah cinta para perjaka ting-ting yang penuh kekocakan dan juga salah paham berjamaah ini dengan vote, gift, comment, like, dan apa aja deh yang penting novelnya bisa melejit tinggi setinggi langit. Jadi semangat buat nulis. Akhir-akhir ini nulisnya agak jayus soalnya mau fokus sama ceritanya yang udah melenceng jauh. 😂😂