
SIDE TO SIDE
SPECIAL EPISODE 4
.
.
.
.
“So here we are..” Elisa melihat Brian yang membatu.
Anak-anak kecil mengerumuni kakinya dan terus merenggek minta bermain dengan Brin. Sudah hampir satu jam Brian menemani mereka, dan makhluk-makhluk mungil ini tidak mau beranjak dari sisinya. Brian terlihat kelabakan dan kebingungan, mereka sangat aktif dan sedikit nakal.
“Kau sudah cocok Brian, segeralah mencari istri dan punya anak.” Teriak Elisa.
“Kenapa kita ke panti asuhan?” Tanya Brian heran.
“Mengajakmu berbagi kebahagian..” senyum Elisa.
“Mommy..!” Panggil seorang anak gadis kecil, rambut pirangnya di kepang ke belakang. Dia berlari dan memeluk Elisa.
“Mommy?? Kau punya anak??” Brian tercengang.
“Huum..” Elisa mengangguk bahagia.
“Kau baru saja pulang sekolah? Mommy sudah menunggumu hampir satu jam.” Elisa mengelus rambut putrinya.
“Siapa laki-laki ini? Apakah pacar mommy? Apa aku harus memanggilnya daddy?” Tanyanya polos.
“No..no..Dari mana kau tahu kata ‘pacar’?” Wajah Elisa merona.
“Gitta bukan anak kecil lagi Mom.” Ucap Brigitta.
“Oh yeah, Mommy lupa sebentar lagi kau 7 tahun.” Elisa mencubit pipinya.
“Brian, ini putri asuhku Brigitta, Gitta ini Brian, er..teman Mommy.”
“Bukan pacar mommy?” Tanyanya polos.
“Bukan!!” Elisa menjawabnya dengan salah tingkah.
“Hallo Gitta, aku Brian.” Brian menyalami Gitta, gadis itu tampak terpesona dengan ketampanan Brian.
“Om kau ganteng sekali.. apakah betul kau bukan pacar Mom? Apa aku boleh menjadi pacarmu?” Gitta mendekati Brian.
“Heh!! Anak kecil tahu apa tentang pacaran.” Elisa mendelik kaget.
“Hahahahaha..gadis yang lucu. Sangat mirip dengan Renny.” Brian tertawa.
“Ganti bajumu Gitta, kita makan setelah ini.” Elisa menyuruh Gitta berganti baju, gadis kecil itu menurut dan berlari masuk ke dalam asrama.
“Kau suka anak-anak?” Tanya Brian.
“Huum.. melihat mereka seperti melihatku dulu, sebatang kara, tidak punya siapa-siapa.” Elisa menyilangkan tangannya di depan dada.
“Kalau papa dan mama tak mengangkatku anak mungkin aku juga akan bernasib sama seperti mereka.” Senyum Brian.
“Pahitnya kenyataan kadang bisa membuat keindahan tersendiri dalam hidupmu.”
“Kau bijaksana sekali.” Brian melangkah maju sejajar dengan Elisa agar bisa membantunya berjalan.
“Aku tidak memiliki ijin untuk mengadopsi Brigitta, Brian. Rekam medis mentalku membuat aku tak bisa mengadopsinya.” Elisa menghela nafas.
“Kau pernah punya masalah mental?”
“Iya, trauma akan kecelakaan dan kebakaran saat itu cukup membekas.” Elisa tersenyum getir, ingin menangis saat mengingatnya.
“Elisa..bukankah kau sudah membalasnya, kau sudah menang.” Brian ingin menggenggam tangan Elisa, namun menghentikan niatnya.
“Sudahlah, aku bahagia walau hanya bisa membantunya lewat yayasan.” Elisa kembali berjalan menuju ke asrama panti asuhan. Brian mengikutinya.
“Uang yang ku dapatkan dari perusahaan Kinsley semua masuk ke panti asuhan ini Brian.” Elisa berjalan menyelusuri koridor.
“Benarkah? Perusahaanmu bukan perusahaan besar, tapi marginnya cukup besar bukan?” Brian kaget mendengarnya.
“Aku hidup cukup sebagai pengacara, aku tak butuh yang lain.” Elisa sampai di depan ruang makan. Ia masuk dan membantu para pengurus membagikan makanan pada anak-anak.
Brian melihat Elisa yang dengan sabar membantu anak-anak makan. Para anak-anak yang sudah lebih dewasa membantu yang lain juga sebelum mereka ikut makan. Elisa tersenyum dan ikut bermain bersama mereka semu. Brian tersipu, melihat Elisa saat bercanda dengan anak-anak membuat jantungnya bedegup kencang.
Brian bersandar di kusen pintu, Elisa tersenyum padanya. Brian membalas senyuman Elisa dengan hangat.
.....................
.
.
.
.
Setelah hampir sebulan penuh hari-hari yang menguras jiwa dan raga. Elisa kembali merdeka. Gipsnya telah terlepas, dan Brianpun tak lagi tinggal bersamanya. Kehidupannya kembali damai, walaupun Elisa merasa ada yang hilang di sana.
“Eh..kenapa sepi sekali?” Elisa duduk di sofa barunya, Brian sendiri yang memilihkan.
“Ah..hari ini weekend, kantor libur dan aku sendirian..”
Ceklek.. pintu terbuka, Elisa kaget, di depannya ada Brian yang tersenyum lebar.
“Kau???!! Kenapa ke sini lagi dan kenapa bisa masuk?”
“Kau tak mengganti kode pintumu, tanggal lahirkukan..” Brian tersenyum.
“Ah ya ampun.. aku lupa menggantinya.” Pikir Elisa malu karena Brian mengetahuinya.
“Aku bawa ayam goreng, bir, dan soju. Kau mau nonton? Aku bawa film.” Brian meletakan paper bag di meja pantri.
“Kau bawa film apa?”
“Entah judulnya apa, kata Renny ini film yang bagus.” Brian menyerahkan flasdisk pada Elisa.
Elisa hanya mangut-mangut dan menyalakan televisinya.
“Kebetulan banget aku lapar.” Elisa mencomot satu buah ayam goreng saat Brian menawarkannya.
“Ini.” Brian membuka sekaleng bir untuk Elisa.
“Thx.”
“Film apaan sih?” Brian duduk di samping Elisa
“Entah..aku juga baru melihatnya. Judulnya ‘Fifty shade of grey’ Sepertinya drama.” Elisa merebahkan diri di sofa, masih menikmati ayam goreng di tangannya.
“Kau suka? Enakkan?”
“Iya, kau beli di mana?”
“Resto korea dekat apartemenku.”
“Enak..”
“Apa kita coba makan di sana? aku akan menjemputmu besok.” Brian bersandar pada sofa.
Elisa terdiam dan melongo, Brian mengajaknya kencankah? Bukan kali ini saja Brian mengajaknya keluar, tapi kenapa seakan-akan ajakan ini adalah sebuah ajakan kencan.
“Fi..filmnya mulai.” Elisa mengalihkan pembicaraan.
Brian dan Elisa melihat film yang di berikan Renny. Mereka tersipu karena terlalu banyak adegan panas dan penuh gairah di dalamnya. Elisa melongo menatap adegan itu, Brian membuang pandangannya.
“Film apa ini???!!!” Elisa berteriak di dalam hati.
“OMG Renny, film apa yang kau berikan padaku?!” Kata Brian di dalam hati.
“Arg..arg..” Suara pemain wanita yang mengerang menikmati cambukan dan siksaan pria pasangannya.
“Gila, ini film mesokis* banget.. nggak normal!!” Elisa menutup matanya.
“Tapi ceweknya mau..!” Ucap Brian.
Buk..
Elisa melempar bantal sofa pada Brian.
“Hahahaha..aku matikan.” Brian tertawa.
....
.
.
.
Suasana menjadi hening setelah film di matikan. Baik Brian maupun Elisa terlihat kikuk.
“Minum..?” Brian menyodorkan lagi sekaleng bir.
“Boleh..” Elisa meneguknya cepat.
Suasananya sangat canggung.
|* mesokis\= kelainan seks yang beroleh kepuasan dari penyiksaan dan rasa sakit |
...................
“Kenapa kau nakal sekali??” Jay melepaskan ciumannya.
“Hanya memberikan umpan. Merekakan sudah dewasa, film itu cocok.” Renny kembali melingkarkan lengannya ke leher Jayden dan meneruskan ciumannya.
“Dasar.” Jay menahan pinggang Renny dan memangkunya.
“Lupakan mereka Jay, cium aku..aku merindukanmu!” Pinta Renny manja.
Jay melahap bibir Renny dan memainkan lidahnya, Renny membalasnya. Tangan Renny menggenggam erat kaos Jayden saat ciuman Jay beralih ke lehernya.
“Hem.. apa yang kau lakukan Jay?” Renny merasakan Jay menghisap lembut lehernya, sedikit perih dan geli, tapi Renny menikmatinya.
“Meninggalkan tanda padamu.” Goda Jayden.
Renny melihatnya, kiss mark berwarna merah menghiasi kulit putihnya.
“Kubalas kau!!” Renny melakukan hal yang sama.
Criingg..
“Oh ada chat.” Renny mendorong naik tubuh Jayden yang memeluknya.
“Pasti Elisa. Dia protes..” tebak Jay.
“Benar, dia mengiriku gambar jari tengah.. hahahaha.” Renny tertawa.
Renny:
C’on Elisa..
kalian bukan anak kecil lagi.
Kalian sudah terlalu dewasa untuk mencerna film itu.
Elisa:
Suasananya rusak!
Semua gara-gara filmmu.
Renny:
Ok maafkan aku.
Apa Brian sama sekali tak tergoda?
Elisa:
Renny!!!
Renny:
Hahahaha...
Kenapa kalian tak selesaikan saja dengan berciuman?
Ciuman sangat asyik..
Elisa:
Renny!!!
Kau melantur.
Renny:
💋💋
Jay memeluk dan mencium pundak Renny dari belakang. Jay terkikih karena sedikit geli dengan ajaran Renny yang keterlaluan.
“Sudah nggak usah diajari, mereka sudah dewasa.” Jay melemparkan ponsel Renny kembali ke atas meja.
Renny berbalik kembali dan tak lagi memunggungi Jayden. Memeluknya erat.
“Aku juga ingin mencobanya.” Renny melihat Jayden.
“Sabar deh, tinggal sebulan lagi.” Jay memeluk Renny dan kembali menciumnya.
......................
Elisa melemparkan ponsel pintarnya ke atas sofa dan kembali meneguk segelas bir bercampur soju. Elisa hampir menghabiskan 4 gelas sendirian, begitu juga Brian. Tak ada kegiatan yang bisa mereka lakukan selain mengobrol dan minum. Obrolan merekapun terasa datar akibat suasana yang terlalu tegang.
“Wajahmu merah.. kau sudah mabuk?” Brian menunjuk Elisa.
“Nggak..aku kuat minum kok..hiks..” Elisa menutup mulutnya.
“Hahahahah...” Brian ketawa.
“Jangan ketawa..hiks..hiks..awas ka..hiks..lau..ter..hiks..tawa..” Elisa cegukan.
“Hahahaha...” Brian tertawa lebih keras.
“Sia..hiks..lan.. berhenti..hiks..cegukan..!” Elisa malu, sedikit menepuk-nepuk dadanya berharap cegukannya hilang.
“Akui saja kau sudah mabuk.” Brian meminum lagi birnya, badannyapun mulai menghangat.
“No..aku masih kuat hiks..minum..hiks.” Elisa meminum kembali gelas ke 4 nya sampai habis.
Bruk!! Elisa terjatuh di pangkuan Brian, wajahnya memerah dan kepalanya berputar. Sensasi alkohol mulai mempengaruhi akal sehatnya.
“Elisa..elisa..” Brian menggoncangkan pelan tubuh Elisa.
“Jangan ganggu aku, aku ingin tidur.” Elisa menepis tangan Brian.
Brian hanya bergeleng, kepalanya juga mulai berat dan pusing. Rasa hangat memenuhi tubuhnya, Brian melepaskan kaosnya dan bertelanjang dada.
“Aku gendong ke kasur.” Brian menggendong Elisa yang sudah tak sadar dan melayang entah kemana.
Brian hendak merebahkan tubuh Elisa di atas kasur. Namun tangan Elisa menarik lehernya lebih rendah dan wajah mereka bertemu.
“Brian, aku mencintaimu.” Elisa mencium Brian.
Basah, lembut dan hangat, Brian kaget dengan ciuman itu, namun mencoba menikmatinya.
Elisa melepaskan pelukannya dan kembali tidur. Brian masih tersenyum, mengelus rambut pirang Elisa, dan kembali mencium bibirnya.
........................
Jadi apa yang akan terjadi pada Brian dan Elisa malam ini??
Tunggu kelanjutannya besok ya gaes...
Terus dukung Side To Side ya..
Jangan lupa vote, 10 coin 10 suara ^^
Terima kasih sudah mendukung saya selama ini.. hiks..(terharu)
Tetep like, comment dan pencet fav❤️
Bagi cinta untuk banyak orang..
Cintai juga lingkungan..