
SIDE TO SIDE - JAKA
MALAM LAGI
Malamnya..
Lenna keluar dari kamar mandi. Dia pake kaos Arron yang terlihat sangat kedodoran di tubuhnya. Kaos putih dengan gambar power ranger.
“Kok lo pake kaos gw?”
“Sory, minjem dulu. Baju gw abis nih, kemaren satu tas isinya seragam semua.” jawab Lenna.
Setelah menjemur handuk di beranda, Lenna mengambil buku pelajaran dari dalam tasnya. Hari ini ada PR fisika dan bahasa inggris.
“Lo udah dapet kerjaan?” Arron bertanya basa-basi pada Lena yang asyik bersandar pada dinding sambil membaca buku.
“Uda wawancara, sih. Tapi belom keterima.”
“Di mana?” Arron merebahkan diri di atas ranjangnya.
“Di mini market depan stasiun.”
“O...”
“Ron, lo uda kerjain PR fisika belom?”
“Uda, kenapa? Jangan bilang elo mau nyontek gw.” Arron bangkit, lalu duduk di sisi ranjang.
“Kagak..! Ih nyebelin banget sih, gw cuma mau minta diajarin aja.” Lenna mendekat.
“Gw nggak ngerti nih, caranya gimana?” Lenna menunjuk soal fisika yang belum ketemu jawabannya.
“Ah ini sih gampang. Sini gw ajarin.” Arron merebut buku dari tangan Lenna dan mengambil bolpoin.
“Aseekkk...” Lenna semakin mendekat, kini ia duduk di bawah samping kaki Arron. Kedua tangannya menyangga kepala.
“Jadi gini, gini.. terus lo bagi sama nilai x-nya. Pokoknya semakin kecil luas penampang semakin besar tekanan. Berbanding terbalik gitu.” Jelas Arron, sesekali ia membetulkan letak kaca matanya.
“Oh gitu.” Lenna mengangguk tanda mengerti.
Arron melirik ke arah Lenna, kerah kaosnya yang kedodoran menghasilkan pemandangan indah tersendiri bagi Arron. Wajahnya langsung memanas, keringat mulai keluar dari pelipis Arron. “Cobaan apa lagi ini ya Tuhan?!”
“Gw belanja dulu buat makan malam.” Arron langsung bangkit, bakalan bahaya kalau berlama-lama kaya gini. Yang ada malah mikir aneh dan bikin dosa.
“Oke. Ntar gw yang masak.” Lenna kembali berkutat pada text book fisikanya.
Arron menyahut jaketnya dan bergegas keluar rumah.
“Ron!”
“Apa?”
“Jangan lupa beli kecap, kecapnya habis.” Teriak Lenna.
“Iya.”
•
•
•
Nggak lama kemudian Arron uda kembali ke rumah dengan sekantong penuh bahan makanan. Sangking nggak tahunya mau beli apa? Arron beli aja semuanya dikit-dikit. Jadi banyak deh.
“Ini.. gw nggak tahu mesti beli apa, elo aja yang pilih.” Arron menyerahkan paper bag pada Lenna.
“Oke.” Lenna bangkit dan terburu-buru mendekati Arron untuk menerima belanjaannya.
“Adduuuhhh..!!” Lenna tersandung dan..
Srrreett..bruk!!
“Ups.. sorry, Ron!!” Lenna menutup matanya saat secara nggak sengaja ia berpegangan pada celana Arron dan celana itu melorot sampai ke bawah, menampakkan pakaian segitiga milik Arron yang berwarna merah menyala.
“Wwwaa...!!” Teriakan Arron uda kaya cewek abis dikejar mantan terindah buat diajak balikkan lagi.
Dengan segera Arron menaikkan celananya, “kok lo nggak hati-hati sih..?!”
“Sory..sory.. Tapi gw nggak lihat, kok. Sumpah!!” Lenna mengangkat dua jarinya membentuk tanda V.
“Ih dasar!! Ayo berdiri..!” Arron mengulurkan tangannya lendak menolong Lenna.
Arron nggak menyadari ada kentang yang menggelinding di dekat kakinya. Arron menginjaknya dan kentang itu membuat keseimbangan Arron oleng.
BRUKKK!
“Aduh!!” Pekik Arron.
“Aduh!!” Pekik Lenna nggak kalah kencang.
“Eh..!!?”
“Eh..!!?”
Arron baru menyadari kalau ia menindih tubuh Lena dengan sebuah tangannya berada tepat di atas dada..
Kriiik..
Kriiiik...
Hening yang mencekam...
“Sampai kapan tangan lo mau di atas situ?!”
“Eh.. iya.” Arron menarik tangannya.
“Lo mo bales dendam??!” Wajah Lenna memerah nahan malu.
“Nggak!! Sumpah nggak sengaja.” Arron gantian bikin tanda V dengan kedua jarinya.
“Berdiri, lo!!!” Lenna mendorong bahu Arron.
“Nggak bisa.”
“Kok bisa?”
“Aduh.. lo berat banget, Ron!!!!”
“Tunggu bentar, lo jangan gerak-gerak! Ntar gw nambah gila.”
“Najis, jangan mikir aneh-aneh, ya, nerd!!” Lenna mengeplak kepala Arron.
“Iya iya, bentar, deh! Kaki gw uda mulai bisa gerak!”
“Huft kalau gini caranya! Besok kita nggak perlu lagi pisah ranjang, deh!! Kita pisah rumah aja..!” Lenna menyerah, membiarkan Arron bergerak perlahan saat memindah tubuhnya dari atas tubuh Lenna.
“Iya, kita pisah rumah!! Gw juga nggak tahan serumah sama lo!” Arron sewot, kan bukan salahnya semua kejadian ini terjadi. Salah siapa coba yang duluan melorotin celananya dan bikin belanjaannya jatuh semua?
“Huh!!” Lenna bangkit, ia mendengus kesal sambil membereskan bahan belanjaan yang berhamburan di atas lantai.
“Dasar batman!!” Lenna menendang pelan tubuh Arron yang masih tergeletak di atas lantai.
“Lo bilang nggak lihat??!!” Arron sebal, Lenna tau gambar apa yang tersablon di atas celana dalamnya.
“Terlalu menarik perhatin untuk tidak terlihat, tau nggak!!” Lenna tertawa, ia sangat geli dengan celana dalam Arron yang berwarna merah dan bergambar logo batman.
“Cewek mesum..!” Arron bangkit perlahan dan duduk di samping ranjang.
“Lagian batman tu harusnya warna item, ini kok warna merah?” Lenna semakin terkikih.
“Kan belinya satu set, biru, item, merah. Kalau item semua ntar di kira gw nggak pernah ganti.” Arron melempar daun seledri pada Lenna.
“Hahahaha.. bener juga, lo lucu deh.” Lenna meracik semur kentang.
“Lo masak apa? Makan yang banyak, biar nambah gedhe.” Arron gantian balas mencibir Lenna.
“Shit!!”
•
•
•
Setelah kecanggungan yang hakiki, semur kentang buatan Lenna matang. Mereka duduk di meja pantry dan makan berdua.
“Enak nggak?” Tanya Lenna.
“Enak. Loe pinter masak juga.” Puji Arron.
“Iyalah.. habis bangkrut juga gw mesti bisa apa-apa sendiri.” Lenna menyuap lagi sesendok nasi.
“Kok lo bisa terdampar di sini sih? Bukannya dulu lo di kota S? Gimana ceritanya bisa pindah? Lagian uang spp di SMA kita kan nggak murah?” Arron jadi penasaran juga.
“Kan uda gw bilang gw kabur dari lintah darat.” Lenna menaruh sendoknya, lalu minum segelas air.
“Tante gw kenal sama kepala sekolahnya. Dia bilang gw mesti dapet cowok tajir kalau mau lepas dari utang, jadi gw dimasukin ke SMA lo yang elit itu.” Lenna mencuci peralatan makannya.
“Jadi lo cari jodoh?”
“Nggak juga sih, niat gw sekolah. Yah, tante gw harapannya gw bisa kenal sama cowo tajir dan baek hati, yang mau bantu gw lepas dari nasib buruk gw.” Lenna mengibaskan tangannya pada wastafel untuk menghilangkan sisa air.
“Ow gitu.” Arron manggut-manggut.
“Trus lo sendiri kenapa sekarang jadi miskin?”
“Diusir sama bokap.”
“Kenapa?”
“.....” Arron nggak bisa bilang kalau dia diusir karena membela Lenna.
“Kenapa?” Lenna mengulang pertanyaannya.
“Biar mandiri.” Arron bohong.
“O.. gitu.”
Arron memberikan piring kotornya pada Lenna. Ia melirik bekas luka Lenna yang mulai memudar.
“Kok tangan lo banyak banget noda sayatan?” Arron memberanikan diri bertanya, rasa penasaran menghantuinya.
“Oh.. ini.. ah.. gimana, ya. jelasinnya?” Lenna bingung juga.
“Kalau nggak mau ngomong juga nggak pa-pa, kok.”
“Hehe.. bukan nggak mau ngomong tapi bingung. Jadi gini, gw pernah komsumsi obat anti depresi pas ortu gw bangkrut. Berhubung mahal jadi nggak bisa beli banyak. Pas gw kehabisan dan kumat gw sayat lengan gw biar darahnya keluar.”
“Terus???” Arron melongo sangking ngerinya.
“Ya kan kandungan obat itu masih ada di dalam darah gw. Ya gw hisaplah. Ngeri, ya? Gw separah itu dulu, sampe kaya vampir.” Lenna tersenyum.
“Lo masih minum obat?”
“Semenjak pindah udah nggak.”
“Kok bisa?”
“Soalnya gw udah nggak ngelihat wajah bokap gw lagi. Jadi gw nggak terbeban lagi, nggak ngerasa bersalah lagi.” Lenna menundukan kepalanya, malu dengan keadaannya.
“Sory, Len. Pliss maafin gw, maafin bokap gw.” Arron mendekati Lenna.
“Gw boleh nangis nggak sih, Ron?” Lenna mulai berkaca-kaca.
“Nangis aja, Len. Gw pinjemin dada sama bahu. Gw siap jadi tempat sampah lo!” Peluk Arron. Lenna menangis terisak-isak dalam pelukan Arron. Pelukan Arron emang cuma hal sederhana sih.. tapi nyatanya bisa bikin nyaman hati Lenna.
>>>JAKA<<<
Wuidih..
Akankah asmara terbentuk di antara mereka berdua?
Hihihi..
Like, comment, dan kasih vote
Love yu readers..