Side To Side

Side To Side
SPECIAL EPISODE 8



SIDE TO SIDE


SPECIAL EPISODE 8


(Alurnya pindah lagi gaes, kembali pada beberapa hari setelah pernikahan Jay dan Renny.)


Pulau B, Indo.


Renny sudah berganti baju dan membersihkan diri. Setelah memakai beberapa rentetan skin care Renny merebahkan dirinya di samping Jayden.


“Kok mrengut terus sih, Jay?” Renny mencowel pipi Jayden.


“Nggak pa-pa kok.” Jay menenggelamkan wajahnya pada bantal hotel.


“Kau kenapa sih?” Kelitik Renny.


“Ugh..geli tahu..?!” Jayden mendekap erat Renny agar keusilannya berhenti.


“Maaf ya Jay. Mekanisme tubuhku sungguh tak tahu diri.” Kata Renny.


“Huh...sudahlah.. setelah selesai aku akan menghabisi semuanya..” Jayden mempererat pelukannya.


“Ahahahaha.. ayo kita tidur.” Renny memandang wajah Jay.


“Kenapa? Ada sesuatu di wajahku?”


“Kenapa kau sangat ganteng Jay??” Renny mengecup pipi Jayden.


“Kenapa juga kau sangat cantik Renny?” Jay mencium bibir Renny.


....................


.


.


Api berkobar sangat besar malam itu, tiga unit mobil pemadam kebakaran di kerahkan untuk memadamkan apinya. Sudah setengah jam air menyembur, namun api terlanjur membesar dan susah untuk di padamkan.


“Elisa!!! Lisa??” Brigitta mencari putrinya.


“Baby..uhuk..uhuk.. Elisa!!!” Panggilnya lagi.


Bruk.. tiang penyangga jatuh tepat di sampingnya.


“Aaaahhhh..!!” Teriak pilu Brigitta saat pilar panas menyentuh kulitnya.


Brigitta tak menyerah, terus masuk ke dalam kamar di lantai 2. Mendobrak pintu kamar Elisa. Elisa tergeletak lemas di lantai, menghirup terlalu banyak asap membuat tubuh kecilnya lemas.


“Elisa bangun..” tamparan-tamparan kecil tak membangunkan Elisa.


Brigitta berjalan lebih lambat karena harus memapah putrinya. Dengan sisa tenaganya Briggita menuruni anak tangga dan membantu Elisa untuk keluar.


KRAK.. plafon kembali berjatuhan.


“Mom..!” Elisa sedikit sadar.


“Panas sekali mom..”


“Sabar sayang, kita akan segera keluar.”


BRUK..


Sebuah penyangga yang penuh api jatuh tepat di punggung mereka berdua. Elisa merasakan panas dan perih menyentuh kulitnya. Sekuat tenaga Brigitta menahan pilar api itu agar Elisa bisa keluar.


“Pergilah sayang.. hiduplah dengan baik.” Brigitta mengelus pipi Elisa dengan lembut sebelum meninggalkan Elisa sendirian di dunia ini.


“Tidak..Mom... Mom!!” Elisa berteriak dan terus memanggil mamanya.


Petugas pemadam kebakaran berhasil menjebol pintu dan menggendong Elisa kecil yang masih terus menangis keluar.


“Lepaskan..Mommy..please..help my mom..please..!” Elisa terus memberontak dan berteriak.


.


.


.


.


“Panas..panas..”


“MOM!!!” Teriak Elisa, keringat dinginnya bercucuran. Air matanya mengalir deras.


“Lisa??” Brian ikut kaget dan terbangun.


Elisa memandang Brian dan menangis. Brian memeluknya.


“It’s Ok Elisa.” Brian mengelus rambut pirang Elisa dan membiarkan rasa nyaman menghapus ketakutannya.


“Aku takut Brian.” Elisa mengangkat wajahnya.


“Jangan takut.. ada aku di sini..” Brian mencium lembut bibir kekasihnya.


“Kenapa semua harus terjadi padaku??” Elisa menangis.


“Tidak Elisa.. jangan menangis.” Brian kembali memeluknya.


Brian mengelus lembut punggung Elisa, membuatnya merasa nyaman.


“Setiap memimpikannya bekas luka ini terasa sangat sakit.” Elisa meringis, tubuhnya bergetar karena hawa dingin yang menusuk kulit telanjangnya.


“Mau aku ambilkan baju?” Tawar Brian.


“Tidak perlu Brian. Ayo kembali tidur.” Elisa mengajak Brian untuk menarik selimutnya dan kembali memejamkan mata.


“Akan aku cincang orang-orang itu!! Keluarga Kinsley harus membayar semuanya.” Brian memeluk perut ramping Elisa dari belakang, mencium pundaknya yang terbuka. Nafasnya terasa hangat dan nyaman di kulit Elisa.


“Aku sudah membalas mereka Brian.” Mata Elisa terpejam.


“Hanya saja luka ini mengingatkanku akan kebakaran itu.” Gumam Elisa.


“Apa kau mau mencoba oprasi plastik untuk menghilangkan bekasnya?” Brian mengelus lembut lengan Elisa.


“Tidak Brian, bekas luka ini juga bukti cinta mommy padaku.” Elisa memejamkan matanya.


“Aku ada ide Elisa. Ku harap besok kau akan menyukainya.” Brian mencium kembali bibir Elisa, sedikit memberikan rangsangan pada leher Elisa sebelum kembali tidur.


Elisa tersenyum dan kembali tidur, sedikit penasaran dengan ide Brian.


.....................


Esoknya..


TATTO MAKER.


“Aku sudah mencari info seniman tatto yang terbaik di sini.” Brian menggandeng tangan Elisa saat menuruni mobilnya.


Elisa melihat sekeliling, banyak toko-toko milik para seniman tatto. Pulau B memang terkenal dengan seni tattonya. Tidak hanya orang lokal, turis-turispun rela antri untuk mendapatkan lukisan di kulit mereka.


“Kalian mau tatto pasangan?” Tanya seorang pria muda saat Brian dan Elisa masuk ke toko.


“Iya.” Jawab Brian.


“Joko, oh tapi panggil saja Jack.” Pria itu menjabat tangan Brian, tangannya penuh dengan berbagai macam tatto.


“Brian, dan ini kekasihku Elisa.”


“Hallo Pretty girl. Jack.”


“Elisa.” Elisa menjabat tangannya.


“So..siapa yang duluan.”


“Elisa? Kau siap?” Brian bertanya sekali lagi pada Elisa.


“Siap.” Elisa mengangguk.


Jack mempersilahkan Elisa memilih gambar apa yang akan melekat permanen di punggungnya. Elisa memilih gambar sayap kupu-kupu.


“Nice pick.. oke buka bajumu Elisa.” Jack menyiapkan peralatannya.


Brian mendelik, “Kenapa harus buka baju?” Protes Brian.


“Bagaiamana aku menggambar di kulitnya kalau masih ada pakaian?” Jack bingung.


“Brian.. don’t!!” Elisa melarang Brian marah.


“Harusnya kita cari seniman yang wanita saja.” Bisik Brian di telinga Elisa.


“Kau bilang dia yang terbaik.”


“Oke tapi kau hadap sana dulu!!”


Jack hanya mengangkat turunkan dagunya tanda setuju dan memutar badannya. Brian membantu Elisa melepaskan pakaiannya dan menutup kedua dadanya. Elisa terbaring tengkurap, memamerkan lekuk tubuhnya yang indah dari belakang.


“Wow, bekas luka apa ini?” Jack terkesima.


“Nggak usah banyak tanya.” Jawab Brian.


“Kau mau menutupnya dengan sayap tadi?”


“Bukan menutupi, hanya mempercantiknya. Benar bukan?.” Jawab Elisa.


“Benar.. Nice pick.. nice body.. nice tatto..”


Jack memulai pekerjaannya. Membersihkan bagian kulit Elisa dengan alkohol sebelum ribuan jarum menancapkan tinta di permukaan kulit putihnya.


“Jangan pegang-pegang..” Brian tampak sebal saat Jack memegang pinggang Elisa.


“Bagaimaana bisa aku bekerja tanpa memegang tubuhnya?” Jack menjawab komentar Brian.


“Pokoknya nggak boleh pegang apapun selain punggungnya. Atau aku patahkan tanganmu.” Brian melirihkan suaranya pada kalimat terakhir.


“Pacarmu cerewet sekali?” Jack bergumam pada Elisa.


“Itu yang membuatnya imut.” Jawab Elisa.


“Jangan lirik-lirik.”


“Pliss bucin.. jangan cerewet!!” Jack mencoba berkonsentrasi.


Brian mengalah dan kembali diam.


Setelah beberapa jam, tatto pertama Elisa telah jadi. Sepasang sayap kupu-kupu yang cantik dengan sempurna menutupi bekas luka bakar di punggung Elisa.


“Bagaimana Brian?”


“Nice. Apakah sakit?”


“Sedikit.”


“Lalu kau mau tatto apa?” Tanya Jack pada Brian.


“Bisa kau ukir namanya pada jari-jariku?” Tanya Brian.


“Oh.. sweet banget. Indahnya masa-masa pacaran.” Jack menyuruh Brian duduk di depannya.


Setelah mengulangi tahapan yang sama dengan pengerjaan tatto Elisa. Jack mulai menusukan ribuan jarum ke kulit jari Brian, E-L-I-S-A.


“Done.”


“Thanks Jack.”


“Thanks bro.”


“Bagaimana perasaanmu Lisa?” Brian menggandeng Elisa keluar dari rumah Jack.


“Good..” Elisa tersenyum dan membalas gandengan tangan Brian.


Mereka berjalan cukup jauh menyelusuri daerah itu dan sampai ke daerah pertokoan.


“Jay bukankah itu Elisa dan Brian..” Renny menunjuk punggung ke duanya.


“Benar.” Jay membawa seluruh belanjaan Renny, ada 10 papper bag dari berbagai macam butik dan toko.


“Ayo temui mereka Jay.” Ajak Renny.


“LISA!! BRIAN!!” Panggil Renny.


“Apa kalian sedang berkencan?” Tanya Renny.


“Iya.” Jawab Elisa.


“Kalian kabur ke mana sih? Papa mama marah hlo.” Brian nimbrung.


“Ups..”


“Pulang ke villa dan segera minta maaf.”


“Iya cerewet!!” Renny tertawa.


“Gimana malam pertamanya?” Bisik Elisa di telingan Renny.


“Ah..aku datang bulan.. belum bisa.” Renny menjawab dengan pelan.


“Kasihan Jay donk?!! Hahaha..”


“Sudah 5 hari, sudah hampir bersih kok.. semoga nanti malam bisa.. aku juga menantikannya.” Renny terkikih pelan.


“Kau bersiap-siaplah.. rasanya sangat sakit!!”


“Benarkah??”


“Huum..”


“Semenakutkan itukah?” Renny penasaran.


“Wkwkwk..aku kasihan pada Jay kalau membuatmu takut padanya. Sudah rasain aja sendiri.” Elisa mengerling pada Renny.


“Kalian bicara apa sih? Ayo pulang donk, belanjaanmu banyak banget, tanganku hampir mati rasa.” Jayden mengajak Renny pulang.


“Semangat buat malam ini Jay..” Elisa mengepalkan tangannya menyemangati Jayden.


“Tentu donk..mau berapa rondepun aku berikan..” Jay tersenyum pada Renny.


“Apaan sih Jay..!” Renny mencubit perut Jayden.


.....................


Jayden melemparkan semua belanjaan Renny ke atas sofa dan bergegas merebahkan diri.


Punggungnya sangat sakit seharian menemani Renny berbelanja. Renny ikut merebahkan diri di samping Jayden.


“Capek ya Jay..?”


“Huum..” Jay menutup matanya lelah.


“Makasih ya sudah memenin belanja.” Senyum Renny.


“Sama-sama sayang.” Jay memeluk Renny dan berusaha tidur.


“Masih sore, Kau sudah mau tidur Jay?”


“Iya, capek.”


“Selamat tidur kalau gitu.” Renny mencium kening Jayden.


Renny beranjak dari tempat tidurnya.


“Kau mau kemana Ren?”


“Mandi.. kenapa? Mau ikut?”


Jayden langsung beranjak dan mengikuti Renny.


“Mau..”


...................


Ayo Jay..


Semangat..


Sedikit lagi..


Haiz..authornya kalap.^^


Ku bagi banyak cinta ya gaes..


Ntar di bagiin ke orang lain juga.


❤️❤️❤️


Like and comment


Thx for read..


❤️❤️❤️