Side To Side

Side To Side
PACARAN



SIDE TO SIDE - JAKA


PACARAN.


Wish that you could build a time machine


So you could see


The things no one can see


Feels like you're standing on the edge


Looking at the stars


And wishing you were them


‪What do you do when a chapter ends?‬


‪Do you close the book and never read it again?‬


‪Where do you go when your story's done?‬


‪You can be who you were or who you'll become


(Steve Aoki, just hold on)


Rere sudah keluar dari rumah sakit, kembali menjalankan kehidupannya sehari-hari. Mereka berdua mulai pacaran. Kenzo dan Rere, membuat semua cewek satu sekolahan patah hati.


“Hallo pacar..” sapa Kenzo pada Rere, sontak wajah Rere merah padam menahan malu-malu kocheng-nya...


“Manggilnya biasa aja kales!!”


“Bukannya elo malah happy gw panggil pacar?”


“Nggak ge-er.”


“Tuh buktinya wajah lo merah.” Kenzo mencubit pipi Rere.


“Adududuh.. sakit tahu!!” Rere menampik tangan Kenzo, Kenzo menghindar.


“Hahaha.. seneng deh gw punya pacar suka malu-malu gini.”


“Lo ngehina?”


“Wkwk.. iya dikit.”


“Dasar cowok gaje.”


“Trus Elo suka ama cowo gaje ini kenapa?” Kenzo mengusik rambut Rere.


“Ah jangan..!!” Rere menahan tangan Kenzo.


Kenzo menarik tangannya, rambut Rere banyak yang rontok di tangannya.


“Maaf Kenzo. Tanganmu jadi kotor.”


“Nggak!! Gw yang salah, maaf..” Kenzo langsung memeluk tubuh kurus Rere.


“Pliss jangan lebay, gw nggak papa..” dorong Rere, hatinya sakit kalau mengingat semua ini. Rere ingin Kenzo mencintainya sebagai gadis yang sehat yang nggak penyakitan.


>>> JAKA <<<


Hari ini Rere punya jadwal kontrol jadi sepulang sekolah ia nggak pulang bareng Kenzo. Mamanya akan menjemput Rere ke sekolah.


Kenzo masih berdiam diri di dalam kelas, membaca buku diary Rere yang ketinggalan di laci meja. Benernya Kenzo nggak ada niat buat curi-curi baca, tapi rasa penasarannya pada Rere nggak habis-habis. Gadis itu walaupun udah pacaran juga tetep aja nggak mau kasih tahu Kenzo apa penyakitnya.


Kenzo teringat dengan rambut Rere yang rontok sangat banyak. Mimisan pas ciuman di gedung olah raga. Juga tubuhnya yang terihat begitu pucat.


“Benernya elo kenapa sih, Re?” Akhirnya Kenzo membuka diary Rere.


Kenzo membuka halaman demi halaman, lembar demi lembar. Semuanya berisi tentang keseharian Rere. Tak ada yang spesial, sampai pada 10 lembar terakhir tentang perjumpaan dan pertemanannya dengan Kenzo. Kenzo tersenyum senang, ternyata pacarnya punya sisi imut juga.


Sreeet...


Sebuah kertas terjatuh tepat si bawah kaki Kenzo. Kenzo membungkuk untuk mengambil kertas berwarna pink itu dan membacanya.


To do list before I died


- Punya pacar.


- Kencan sama pacar


- Makan gorengan di gunung.


- Melihat dunia


- Papa Mama baikan walau kayanya ga mungkin


- Pake baju indah terus foto ala-ala princes


- Cium Kenzo setiap hari.


- Ngelakuin hal gila bareng Kenzo.


Deg...


Hati Kenzo mendadak sakit..


Apa maksud Rere menulis semua ini?


Before died???


Kenzo langsung menutup buku diary Rere dan mengejar Rere.


“Re..!!!” Teriak Kenzo.


Rere sudah masuk ke mobil dan bergerak menjauh, dari kaca sepion mobil ia masih bisa melihat Kenzo yang berlari mengejarnya.


“Kenapa sih?”


“Kenzo ngejar tuh.”


“Kita uda mo telat.”


“Iya bentar aja.”


Akhirnya mama menyerah dan mengijinkan putrinya keluar dari mobil menemui Kenzo.


“Lo ngapain kejar-kejar gw kaya drama korea? Berasa taeyung lo?” Ledek Rere.


Kenzo mengatur nafasnya. Bahunya masih naik turun saat ia bangkit dan langsung mencium Rere.


“Gw akan cium elo tiap hari.” Kenzo mencium Rere. Wajah Rere kembali merona, semerah buah tomat kematangan.


“Lo gila!!! Ini jalan raya!! Nyokap gw bisa liat..” Rere menghentakkan kakinya sebal.


“Tunggu, gw atur nafas dulu..” Kenzo tak menjawab.


“Sumpah elo bikin gw gemesh..” Rere berbalik hendak kembali ke mobil.


“Re.. gw sayang!! Apapun yang terjadi lo kudu sembuh!! Inget!! Sembuh!!!” Teriak Kenzo, Rere tak menggubrisnya dan kembali masuk ke mobil.


“Kenzo kenapa, Re? Kok kayaknya nempelin wajahnya ke kamu?” Mamanya keheranan, untung aja nggak lihat pas Kenzo mengecup Bibir Rere.


“Bukan hal penting kok Ma..” Jawaban Rere berbanding terbalik dengan senyuman yang terkembang indah di wajah cantiknya.


>>> JAKA <<<


6 bulan kemudian..


“Lari Re...!” Kenzo menyalakan petasan.


Dor dor preet (ini bunyi petasan hlo, bukan kentut!!)


“Hahahaha.. lagi, Zo!!” Rere melempar lagi sebuah petasan pada Kenzo.


Kenzo menyalakannya dan kembali menggandeng Rere menjauh. Mereka bermain di pinggir pantai merayakan kelulusan mereka.


“Hidup masa SMA!!!” Teriak Kenzo, ia menggendong Rere di punggungnya dan berlari mengitari hamparan putih pasir pantai.


“Anak-anak!! Ayo makan dulu!!” Teriak Dinda dari arah Villa.


“Oke Ma!!” Jawab Kenzo tak kalah kencang. Kenzo menggandeng Rere masuk ke dalam Villa.


“Besok kita ke sini berdua aja. Biar asyik!!” Goda Kenzo.


“Emang mo ngapain?”


“Maen aer!!” Kenzo sebel kode nya nggak nyampe ke otak Rere.


Setelah menikmati makan malam dan beberapa obrolan ringan. Kenzo mengajak Rere naik ke atas Villa, dari loteng mereka bisa melihat bintang-bintang yang bertaburan sangat indah pada langit malam. Rere tiduran di paha Kenzo sambil dengerin dentingan gitar yang terdengar asyik dari jemari Kenzo.


“Badan lo gimana?” Kenzo menaruh gitarnya.


“Uda mending, semenjak gw kenal elo hidup gw bahagia kali. Jadi penyakit gw jarang kambuh.” Rere bangkit dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kenzo.


“Lo masih nggak mau kasih tahu gw sakit apa?”


“Elo penasaran ya?”


“Iyalah.”


“Gw sakit kelainan darah bawaan Kenzo. Sejak lahir dan nggak bisa sembuh.” Rere memandang Kenzo, matanya berbinar tak ada rasa takut, tak ada rasa getir seperti biasanya. Dia kini benar-benar bahagia, sampai mati kapanpun rela.


Kenzo masih diam membeku beberapa saat. Ternyata penyakit Rere nggak main-main. Hatinya sakit mendengarnya, tapi tetap berusaha untuk tegar demi Rere.


“Nggak ada jalan pengobatan untuk sembuh?”


“Kemarin sempet konsult dokter, ada peluang sih, cangkok sumsum tulang belakang. Tapi resikonya juga besar buat pendonornya.”


“Gw mau kok donorin.”


“Ya nggak cocok lah.. kitakan nggak sedarah, ngaco aja.”


“Kalau gw bisa kasih jantung gw aja gw kasih ke elo.” Kenzo memeluk pundak Rere.


“Gw juga.” Rere memandang ke arah langit gelap.


Degupan jantung Kenzo terdengar riuh dan menggelora, begitu pula dengan Rere. Rere menyandarkan kepalanya dan menikmati irama jantung Kenzo yang begitu indah.


“Besok kita pergi melihat dunia, ya.” Ajak Kenzo.


“Caranya?”


“Tunggu aja besok.” Senyum Kenzo seraya mengecup pelan bibir Rere.


>>> JAKA <<<


Up up


Jangan lupa


Like like


Terus


Comment


Yang banyak


Ahahahaha....


❤️❤️❤️