
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 23
Renny memakan dengan malas makanan di depannya. Masakan koki rumahnya biasanya terasa sangat enak, entah kenapa sekarang terasa pait dan hambar di lidahnya.
“Makan yang banyak miss.” Sonya membantu Renny dengan peralatan makannya.
“Nggak Sonya, aku sudah kenyang.” Renny menolak dengan halus.
“Tapi miss, anda baru makan sedikit, ini tidak baik untuk kesehatan anda.”
“Aku benar- benar tidak lapar Sonya.” Tolak Renny lagi.
“Baik Miss.” Sonya tidak memperpanjang ucapannya, wajahnya terlihat sedih melihat Renny menjadi murung seperti ini.
“Sonya, apa kau bawa ponsel?” Tanya Renny dengan semangat.
“Maaf miss, semua pelayan yang masuk kemari tidak di perbolehkan membawa ponsel atau peralatan komunikasi apapun.” Sonya membereskan alat makan Renny.
“Sialan, Brian!! Kenapa dia setega itu padaku?!” Renny kembali merebahkan tubuhnya.
“Miss, anda mau mandi dan berdandan? Saya akan membantu anda, sudah lama saya tidak mendandani miss Renny.” Sonya berusaha membuat Renny kembali bersemangat.
“Buat apa dandan.. toh aku hanya di kurung di dalam kamar ini.” Renny menatap langit- langit kamarnya.
Langit- langit itu ternyata sangat tinggi, jauh berbeda dengan apartemen yang di tinggalinya bersama Jay dulu. Tapi entah kenapa di sana terasa lebih hangat.
Mungkin karna pelukan Jay?
Mungkin juga karna cintanya pada Jay?
“Baik Miss, panggil saya kalau anda butuh sesuatu.” Sonya undur diri dan keluar dari kamar.
Renny memandang kepergian Sonya, kini kamarnya kembali sepi, sudah tidak terdengar apapun selain denting jam yang terus berputar.
“Jay.. apakah kamu baik- baik saja?!” Renny menahan sesak di dadanya.
Mengingat apa yang terjadi kepada Jayden sebelum Renny meninggalkannya, membuat Renny merasa bersalah. Apakah Jay bisa bertahan dan bagaimana kabarnya saat ini? Apakah sekarang Jay juga sama menderitanya seperti dirinya menderita?
Tanpa sadar air mata kembali memenuhi pelupuk mata Renny, menetes membasahi bed cover berwarna pink pucat yang dari tadi dipeluknya.
“Menangis lagi??” Suara Brian membuat Renny tersentak.
“Aku bukan bonekamu, mau menangis atau tersenyum bukan kamu yang atur!!!” Renny membuang muka.
“Sudah aku bilangkan, kalau tidak mau anak itu terluka kau harus jaga sikapmu!!” Ancam Brian.
“Siapa kau berani mengaturku??!” Geram Renny.
“Siapa aku emang nggak penting Renny, tapi apa yang aku bisa lakukan itu yang harus kau pahami.” Brian mendekatkan dirinya.
Renny terdiam, saat ini bukan waktunya menyulut emosi Brian. Pria di depannya ini sudah berubah, bukan lagi Brian yang tunduk pada ucapannya. Pria di depannya ini sekarang adalah presdir dari sebuah perusahaan besar, menghancurkan Jayden semudah dia membalikan telapak tangannya.
“Apa maumu??!” Renny bertanya.
“Aku mau dirimu Renny.. aku mau kau kembali seperti dulu!” Ucapan Brian terdengar tulus.
“Kalau gitu kembalikan Jay padaku!! Dan aku akan kembali seperti dulu.” Renny benci dengan perkataan Brian yang menginginkan dia kembali bahagia, padahal Brian telah merebut satu- satunya hal yang membuatnya bahagia. Merebut seseorang yang membuatnya mengerti arti kata Cinta.
Wajah Brian berubah, garis wajahnya tampak lebih jelas dari biasanya. Hatinya panas karna tersulut rasa cemburu.
“Aku mencintaimu Renny.” Ucap Brian.
Renny terkejut, wajahnya berubah pucat saat mendengar Brian menyatakan cintanya. Kegilaan apa lagi ini?? Atau apakah dirinya telah salah dengar??
“APA??!”
“Aku mencintaimu!! Dari dulu aku mencintaimu..!” Brian mendekati Renny, duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Renny.
“Jangan dekati aku, JANGAN SENTUH AKU..!!!” Renny menarik tangannya.
“Aku jauh lebih mencintaimu di bandingkan dia, Renny! Kenapa kau bisa menerimanya tapi tidak bisa menerimaku?? Aku juga tulus mencintaimu.” Air mata keluar dari mata Brian.
“Brian kau JANGAN GILA!! Kau KAKAKKU!!!” Renny berteriak kecang.
“Bukankah kau tidak pernah menganggapku kakakmu!? Kau tidak pernah mengakui aku sebagai kakakmu!!” Brian menarik paksa dan menahan tubuh Renny di dekatnya.
“Brian, maafkan aku.. tapi kau benar- benar kakakku.” Renny meneteskan air matanya, kenapa dulu dia begitu membenci Brian dan tak mengakuinya sebagai seorang kakak.
“Aku bisa melepaskan segalanya.. tapi tidak akan pernah bisa melepaskanmu.” Brian berbisik di telinga Renny.
“Brian..!! Lepaskan aku..” Renny meronta.
“Bahkan bila seluruh dunia membenciku aku akan bisa menerimanya, asalkan ada kamu di sisiku..” Brian mencium pundak Renny, menangis di pundaknya.
“Kau Gila!!! Lepasin aku!!!” Renny terisak, takut terhadap pria di depannya.
“Aku Gila Renny, aku gila karna mencintaimu terlalu dalam.” Brian merebahkan tubuh Renny dan mengunci pergelangan tangannya.
“BRIAN!! Lepaskan!!!!” Renny meronta dan menangis.
Brian mencium paksa bibir Renny, Renny menolak dan terus bergeleng menghindar.
“Hentikan Brian!!! INGATLAH PAPA DAN MAMA!!! Kita ini anaknya..!” Renny menahan tubuh Brian dengan lututnya.
Brian terdiam sesaat dan bangkit meninggalkan Renny.
BLAM..
Brian membanting pintu kamar Renny dan kembali meninggalkannya sendirian.
Bulir lembut air bening membuat bola mata Renny terlihat lebih pudar, mata biru yang biasanya berbinar itu perlahan meredup seiring dengan pecahnya tangisan Renny.
......................
Hilda berjalan cepat dengan heels merahnya, menyelusuri hall keluar dari bandara. Dengan wajah yang sebal dan marah Hilda menghampiri Jayden dan memberikan sebuah tamparan keras di wajahnya.
“Kenapa kau begitu payah!?” Ucap Hilda.
Jayden hanya diam saja mendengar umpatan Hilda barusan, memang karna dirinya yang terlalu payahlah Renny jadi begini. Jangankan melindungi Renny, menyentuh Brian saja Jayden tidak bisa.
“Cowok lemah!!!” Hilda kembali mengumpat dan melemparkan tasnya pada sopir yang dari tadi berdiri di samping Jayden.
“Iya aku sadar aku lemah!! Aku payah!! Aku tidak bisa apa- apa!! Tapi aku serius dengan cintaku pada Renny, aku ingin melindunginya.” Jay menatap Hilda dengan sorot mata yang tajam.
“Oke.. aku kemari juga bukan untuk mendengar renggekanmu. Jadi apa yang bisa aku bantu?” Tanya Hilda kembali kalem.
“Terimakasih sudah percaya padaku.”
“Aku nggak percaya padamu!! Aku percaya pada pilihan Renny.” Hilda meninggalkan Jay dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Jay mematikan harga dirinya supaya Hilda mau membantunya. Setelah menghela nafas beberapa kali Jayden menyusul Hilda masuk ke dalam mobil.
....................
Satu minggu kemudian..
“Miss Renny, teman- teman anda datang berkunjung.” Sonya mengetuk pelan pintu kamar Renny.
“Suru mereka masuk!” Renny terlihat senang.
Beberapa kali dia memohon pada Brian untuk mengijinkan teman- temannya datang. Baru hari ini Brian mengijinkan mereka menjenguk Renny.
“Renny...!” Panggil mereka barengan saat pintu di buka.
“Gaeeeesss...!” Peluk Renny senang.
“Kau kurus sekali??!” Nella melihat tubuh Renny yang tampak semakin kurus.
“Makan yang banyak donk!! Bukankah dada dan pantat harus terus terisi agar tetap terlihat montok!!” Celetuk Bella.
Renny bergeleng pelan, tapi tetap tersenyum.
“Ayo dong semangat!!” Ajak Nella duduk.
“Saya akan siapkan cemilan dan tehnya miss?” Pamit Sonya.
“Tentu saja Sonya. Tolong ya.”
“Renny mumpung tidak ada orang aku mau kasih sesuatu.”
“Ada kamera pengawas di sini Hilda.”
“Di kamar mandi?”
“Mungkin tidak ada.”
“Aku akan menaruhnya di bawah handuk, pastikan kau melihatnya.” Hilda tetap terlihat biasa saja, hanya suaranya yang dibuat se lirih mungkin.
“Ini cemilan dan teh nya.” Sonya kembali dengan Earl Grey hangat di dalam poci.
“Terimakasih Sonya.” Ucap Hilda
“Senang bisa membantu anda Miss.” Sonya kembali menempatkan diri di sudut ruangan.
“Kau tahu Ren, sekarang pemandangan di luar sangat bagus, daun mulai berguguran. Apa kau tak ingin melihatnya?” Bella menunjuk keluar jendela.
“Ah sekarang sudah masuk musim gugur ya?” Renny melihat keluar jendela.
“Kau pasti merindukan Jay..?” Nella bertanya dengan lirih
“Bohong kalau aku bilang tidak.” Renny tersenyum.
“Hiks.. aku ikutan sedih.”
“Untung saja aku punya banyak memori tentangnya.. aku mengingatnya setiap malam.” Renny kembali tersenyum kecut.
“Semangat ya Ren, kami mendukungmu.” Bella menggenggam tangan Renny, diikuti Hilda dan Nella.
Nggak terasa sudah semakin malam, mereka bertiga pamit pulang. Hilda mengerling pelan kepada Renny. Renny membalasnya dengan acungan jempol.
Renny bergegas masuk ke kamar mandi untuk menemukan benda yang di bawa oleh Hilda. Ada secarik kertas di bawah handuk bersih. Renny bergegas membukanya, jantungnya berdegup sangat cepat, tangannya bergetar tidak sabaran.
Hai Renny..
Aku nggak nyangka di era modern
dan serba digital seperti sekarang
aku bakalan nulis surat ke kamu.
Bagaimana kabarmu sayang?
Kabarku baik- baik saja dan
aku harap kamu juga begitu.
Papamu sudah pernah cerita perihal
prilaku menyimpang kakakmu, dan
memintaku untuk melindungimu.
Tapi ternyata aku sangat mengecewakan,
aku nggak bisa melindungimu,
yang ada aku malah di hajar sampai
mau mati sama kakakmu. Hahaha..
Tapi aku akan berusaha bangkit Renny.
Aku akan jadi orang yang kuat
dan bisa merebutmu kembali.
Sampai saat itu tiba berjanjilah
untuk hidup dengan baik.
Berjanjilah untuk tidak menyiksa dirimu.
Berjanjilah untuk terus tersenyum Renny.
Berjanjilah juga kau akan terus mencintaiku.
Karna hanya cintamulah yang
membuatku bersemangat.
Cintai aku sayang..
Rindukan aku..
Aku juga merindukanmu sampai
dadaku terrasa sesak.
Karna hanya dengan rasa ini kita
bisa bertahan Renny.
Aku pasti akan menikahimu Renny.
Sesuai janjiku saat di pantai waktu itu.
Aku tinggalkan cincinku bersamamu,
kembalikanlah saat kita bertemu lagi.
Maafin aku yang nggak berguna,
maafin aku yang membuatmu harus menunggu.
Jayden.
Butiran air mata menetes membasahi surat milik Jay, Renny menangis dan terus terisak.
“Aku pasti menunggumu Jay.” Renny melihat blood ring Jayden di telapak tangannya dan menggenggamnya erat.
“Aku akan hidup dengan baik, dan kamu cepatlah datang, Jay!” Renny merosot ke bawah lantai dan memeluk lututnya.
........................
Hallo...
Side to Side sudah hampir tamat
>.<
Jangan sedih Renny..
Jangan sedih Jay..
Ada author dan readers yang mendukung kalian🤣
Terimakasih ya.. Terus dukung kisah cinta Jay, Renny dan Brian ^^