
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 10
Malam itu sangat dingin, bahkan restauranpun terlihat sepi dan tenang. Sebotol wine dan lagu jazz menemani Brian di dalam, menunggu seorang wanita.
Brian mengamati jam tangan Ro**x yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah setengah jam lebih dari jam janjian yang di tentukan.
“Baguslah kalau dia tidak datang.” Brian meneguk wine di depannya.
“Maaf aku terlambat.”
Seorang wanita cantik datang dan mengantur nafasnya beberapa kali. Dia meminum segelas wine di depan Brian untuk meredakan rasa hausnya.
“Maaf.. Aku harus mengejar kereta kemari.” Wanita itu duduk di depan Brian.
“Kau mau memesan apa?” Tanya Brian.
“Aku tidak suka makanan mahal seperti ini. Berikan saja aku sebotol wine.” Wanita itu mengambil kembali gelas dari depan Brian.
Brian hanya mengamatinya tanpa berkata apapun.
“So?? Siapa namamu?” Tanya Wanita itu.
“Namaku Brian.” Jawab Brian.
“Saint atau Hartono?” Pertanyaan yang membuat Brian menghentikan gerakan tangannya.
“Hartono.” Brian menjawab dengan mantab.
“Good, namaku Elisa.”
“West atau Kinsley?”
“Hahahaha..” Elisa tertawa dengan lantang. Membuat semua orang melirik ke arahnya.
Elisa terlihat sangat cantik dengan dress selutut berwarna putih polos, coat bulu berwarna hitam menutupi punggung dan lengan Elisa, rambutnya berwarna sama dengan Brian, bergelombang panjang, dia menguncirnya ke atas memperlihatkan lehernya yang jenjang. Di lehernya melingkar sebuah kalung mutiara. Bibirnya sangat merah, entah itu warna asli atau karna efek pewarna bibir.
“West, selamanya aku adalah Elisa West.”
“Kau tidak seperti wanita kelas atas lainnya. Tingkahmu sangat serampangan.” Brian melipat tangannya di depan dada.
“Aku anggap itu pujian, aku tidak suka bertingkah terlalu kaku.” Elisa tersenyum kepada Brian.
“To the point saja Mr Brian, waktuku tidak banyak dan aku sangat malas bertele- tele.” Elisa kembali meneguk segelas wine.
Brian hanya diam dan menunggu hal apa yang ingin disampaikan oleh Elisa.
“Aku tahu kau menyukai adikmu.” Ucapan Elisa membuat Brian membelalakan matanya.
“Maksudmu?”
“Aku tahu kau menyukai Renny.”
“....” Brian tetap berusaha tenang.
“Kau pasti bertanya- tanya bagaimana aku bisa tahu?”
Brian memutar cincin persegi di jari telunjuknya, cincin persegi berhiaskan batu black amber. Ia terlihat sedikit menyembunyikan rasa penasaran.
“Asal kau tahu, aku sangat pintar mencari informasi. Hal itu yang biasa pengacara lakukan. Menyelidiki dahulu kasus dan siapa lawannya di persidangan. Dan aku ini sangat pandai membaca seseorang.” Jelas Elisa.
Brian tetap diam dengan tenang.
“Aku Elisa West, seperti yang kau tahu aku anak haram keluarga Kinsley. Mamaku meninggal saat aku berumur 10 tahun. Sejak itu aku diasuh oleh keluarga Kinsley. Mereka menyiksaku dan menghinaku setiap hari.” Elisa kembali meneguk wine di depannya, langsung dari botolnya.
“Itu tidak ada hubungannya denganku.” Jawab Brian dingin.
“Hanya nenek yang menyayangiku, sehingga aku masih bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi. Sudah 5 tahun nenekku meninggal. Aku sendirian.” wajah Elisa berubah sangat sendu.
“Lalu?” Brian sedikit tertarik.
“Aku lulusan terbaik dan menjadi pengacara hebat. Dan aku ingin balas dendam.” Elisa melirik ke arah Brian.
“Kau ingin aku membantumu?” Brian mulai menangkap arah pembicaraan Elisa.
“Sampai detik inipun papa dan keluargaku ingin memanfaatkanku. Buktinya mereka mengirimku untuk ke perjodohan denganmu. Mereka kira perusahaanmu akan mengangkat perusahaan mereka yang sedang diambang kehancuran.”
“Aku bukan anak kandung papa Andre.” Ucap Brian.
“Hahahahahaha... Aku sudah tahu. Kau hanya anak angkat, semua harta dan perusahaan akan jatuh ke tangan adikmu Renny.” Elisa mendekati Brian.
“Papamu hanya memberikan perusahaan kecil padamu, dan hartanya tetap milik Renny.” Bisik Elisa.
“Itu memang miliknya.”
“Brian kau sangat tampan, tapi kenapa tidak ada ambisi dalam hidupmu..?” Elisa mengelus pipi Brian dengan jari telunjuknya.
“Apa maumu?!” Brian menghempaskan tangan Elisa.
“Bantu aku balas dendam, aku bantu kau memiliki perusahaan Andre dan juga Renny.” Elisa berjalan kembali ke kursinya.
Brian tertegun dengan ucapan Elisa. Memiliki Renny? Apakah dengan mengambil alih semua yang papanya punya secara nggak langsung dia bisa memiliki Renny?
“Bagaimana?” Elisa kembali melirik Brian dengan tajam.
“Kenapa kau begitu ingin membalas dendam?” Tanya Brian.
Elisa menarik tangan Brian, lalu memasukkannya ke belakang mantel bulu yang menutup punggung gadis itu.
“Ini..” Brian tertegun saat merabanya.
“Orang kira mamaku mati karna kecelakaan.” Elisa menitikan air mata.
“Mereka membakar kami hidup- hidup.” Lanjut Elisa.
Brian meraba bekas luka bakar di punggung Elisa. Luka yang sudah lama, tapi terasa sangat baru.
“Kau tidak lapor polisi?”
“Mana ada polisi yang akan percaya omongan anak 10 tahun? Lagian uang tetap bisa membeli kesetiaan aparat kepolisian.”
“Baiklah.. aku akan mempertimbangkan untuk membantumu. Asal kau cari tahu di mana adikku saat ini.” Ucap Brian..
“Sure.. aku Hubungi kalau sudah menemukannya.” Elisa tersenyum, namun menyiratkan rasa pedih di hatinya.
Setelah kembali menghabiskan segelas anggur dia berjalan pergi meninggalkan Brian yang termenung sendirian.
....................
Pagi- pagi Jay sudah merasa kualahan menghadapi Renny. Saat ini Jay dan Renny sedang berjalan berdua menuju ke sekolahan.
“Jay.. kita beneran pacarankan??” Renny sudah 100x mengulangi pertanyaan yang sama dari pagi ini.
Jay menutup telinganya dengan telapak tangan, nggak mau lagi mendengar atau mejawab pertanyaan Renny yang ke 100.
“Jawab donk Jay!!” Renny menyetop langkah Jay.
“Aku soalnya masih belum percaya.. aku kira ini mimpi.” Renny kembali berjalan, rambutnya yang di kuncir naik bergoyang- goyang seirama dengan langkah riangnya.
Jay hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pacaranya itu.
“Seperti melihara burung beo.” Jay bergumam lirih.
“Cepet donk Jay..!” Panggil Renny.
“Iya iya..”
Kisna melihat mereka dari lantai 2 gedung sekolah. Hatinya sangat sakit dan terluka. Sudah lama dia mengejar Jayden, dan Jayden sama sekali tidak membuka hati untuknya.
“Dari mana aku kalah dengan cewek itu?” Walaupun tak secantik Renny, tapi Kisna juga punya wajah yang imut, keluarga yang kaya, dan otak yang pintar. Dia merasa Sangat terpukul dengan hal ini.
“Kau lihat mereka, norak banget ga sih??!” Mika menunjuk ke arah Renny.
“Kenapa bisa Jay mau dengan anak itu.” Mira menambahkan.
“Sudahlah, aku ga mau melihatnya.” Kisna kembali duduk di bangku panjang depan kelas.
“Lihat dia, gayanya kaya orang kampung.” Mika menunjuk outfit yang di pakai Renny.
“Tidak ada satupun barang bermerk yang dipakai. Semuanya murahan.” Mira setuju dengan Mika.
“Jangan- jangan dia cuma kejar Jay, karna tahu Jay anak orang kaya.”
“Iyalah, cewek miskin yang modal wajah doang kalau nggak cari uang mau cari apa lagi.”
Kisna menatap tajam ke arah Renny, “Cewek itu mencari lawan yang salah.”
Kisna membisikan sesuatu ke telinga teman- temannya. Mereka mengangguk dengan senang.
“Pas dia ganti baju kalian ambil bajunya dan siramin air pel ini ke dia. Trus kita kunci kamar mandinya biar nggak ada yang tahu.”
Kisna sangat hapal dengan jadwal olah raga kelas Jayden karna dia biasa curi- curi pandang saat pelajaran. Ijin ke kamar kecil atau kadang malah bolos untuk melihat Jayden berolah raga. Kini dia ingin memanfaatkan jam olah raga untuk membalas Renny.
“Aku akan buat dia harus ke kamar mandi dan mengalihkan pandangan Jay darinya.” Tambah Kisna.
“Oke. Serahkan pada kami.”
Kisna membawa es krim dan langsung menabrak Renny saat berjalan.
“Gimana sih jalan kok nggak lihat- lihat?! Es krimku jatuhkan.” Damprat Kisna.
“Harusnya aku yang marah!! Bajuku jadi kotor semua..!” Balas Renny.
“Makanya jangan jalan sambil liatin kak Jay terus!!”
“Suka- suka akulah!! Jaykan pacarku.” Renny mengepalkan tangannya.
Jay mendatangi mereka berdua karna membuat keributan kecil.
“Ah maaf ya kak Renny, aku nggak sengaja nabrak kamu. Sini aku bersihkan.” Sikap Kisna langsung berubah 180 derajat saat Jayden datang.
Renny melihatnya sampai melongo.
“Heh kamu pura- pura baik ya??!” Renny marah.
“Aku hanya ingin membantumu membersihkan noda ini, kok kamu bentak aku. Akukan sudah minta maaf.” Kisna semakin memasang tampang memelas.
“Renny.. diakan sudah minta maaf.” Jay menengah i.
“Ah.. dasar muka dua.. lepasin aku bersihin sendiri.” Renny berjalan menuju ke kamar mandi.
Kisna tersenyum menang.
“Halo kak Jay, kebetulan kamu di sini. Aku mau minta tolong, betulin otopedku donk, pagi ini macet.” Kisna mengajak Jayden ke parkiran otoped listrik.
“Oke.” Jay dan Kisna berjalan menuju parkiran, sedangkan Renny mengambil baju gantinya dan pergi ke kamar mandi.
BYUUR
Renny sudah melepaskan bajunya yang kotor saat air bekas pel mengguyur tubuhnya. Pakaian dan celana olah raganya basah semua. Sedangkan baju seragamnya menghilang.
Karna skat- skat di kamar mandi wanita tidak terlalu tinggi maka Mika dan Mira bisa mengambil baju Renny dengan mudah. Mereka cekikikan saat tahu Renny basah kuyup.
“Kita ganjel aja biar nggak bisa keluar.” Mira mengganjal pintu kamar mandi dengan gagang pel.
“Pasang ini biar nggak ada yang bantuin dia.” Mika menaruh tanda kuning di depan pintu.
“AWAS LICIN, JANGAN MASUK. SEDANG DI BERSIHKAN.”
Setelah berhasil mereka membuang seragam Renny dan berlari kembali ke kelas mereka.
“Kenapa pintunya nggak bisa di buka.” Renny terus menggoyang- goyangakan dan memutar engsel pintu.
“Sialan.. bauk dan gatal banget.” Renny berteriak.
“Jay.. Jay...tolong aku Jay.” Renny menggedor- gedor pintu.
“Siapapun tolong aku...!” Renny kembali berteriak.
Dingin dan gatal membuat Renny semakin lemas, suaranya habis untuk berteriak, tapi nggak ada orang yang datang. Karna tanda kuning yang di pasang di depan pintu membuat anak- anak tidak ada yang datang menggunakan kamar mandi. Apalagi saat ini sedang jam pelajaran, tentu saja tidak ada yang mendengarnya.
.....................
Pengenalan Tokoh :
(Sumber: google search, artis: Kendal J
Hanya sebatas visual karakter mirip- mirip aja, karna banyak yang minta. Selebihnya berhalusinasi sendiri saja ya readers ^^)
Nama : Elisa West
Panggilan : Lisa
Tinggi badan : 179 cm
Warna kulit : putih
Warna mata : Coklat muda
Warna rambut : Pirang
Like : Wine
Dislike : Makanan pedas
Kelebihan : Pintar, mandiri, wanita karir yang sukses
Kekurangan : Punya bekas luka di punggung.