
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 12
Bunyi suara hentakan sepatu terdengar berirama saat Elisa melintasi koridor menuju ruang kerja Brian. Elisa memadukan kemeja hitam dengan blezer dan rok span berwarna putih, heels dan tas tangan dengan warna senada menjadi pelengkap penampilannya.
“Sudah bikin janji nona?” Tanya sekretaris di depan ruangan Brian.
Elisa hanya mengangguk, wajahnya yang cantik terlihat sangat tenang dan datar.
Bahkan Sekretaris Brian yang seorang wanitapun tampak sangat terpesona dengan wajah bersahaja Elisa.
“Silahkan masuk nona.” Ucap sang sekretaris setelah menutup intercom.
“Terima kasih.” Elisa sedikit mengangguk dan berjalan masuk.
Brian masih berdiri melihat ke arah kaca besar di belakang mejanya. Tangannya masuk ke kedua saku celananya.
“Hallo.” Sapa Elisa.
“Kau bisa menelfonku.”
“Aku ingin kemari melihatmu.” Elisa duduk di sofa, mencari posisi yang paling nyaman untuk tubuhnya.
“Apa yang kau dapatkan?” Brian enggan untuk berbasa- basi.
“Tidak menawariku minum dahulu?” Elisa mengangkat bahunya.
“Kau terlalu banyak meminta.”
“Kau terlalu banyak menuntut.”
Brian menuju ke mini bar dan mengambilkan segelas minuman untuk Elisa.
“Aku yakin kau tidak ingin meminum teh.” Brian menyodorkan segelas minuman keras.
“Kau tahu juga.” Elisa tersenyum dan menerimanya.
“Jadi bagaimana?” Tanya Brian tidak sabar.
“Beberapa bulan yang lalu Renny membeli penerbangan ke Indo, dia naik pesawat paling pagi.” Elisa mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas tangannya.
“Itu daftar penumpang pesawat, ada nama Renny di sana.” Lanjut Elisa.
“Hanya ini?” Brian tampak kurang puas.
“Aku tidak punya hak penyelidikan di negara lain.” Elisa meneguk minumannya.
“Indo, Renny ke Indo. Untuk apa?!” Brian bergumam lirih, Elisa hanya mengangkat bahunya.
“Jadi bagaimana? Kau bantu aku atau tidak?” Elisa menaruh gelasnya di atas meja.
“Informasimu terlalu sedikit.” Brian tampak ingin mengulur kesepakatannya.
“Jangan main- main denganku Brian!!” Bentak Elisa.
“Kau terlalu lemah bahkan hanya untuk mencari informasi tentang keberadaan adikmu..” tambah Elisa.
Brian diam dan bangkit berdiri, masih ada keraguan dalam hatinya. Bagaimana mungkin dia mengkhianati kedua orang tua yang telah membesarkannya. Tapi tanpa Renny hidupnya benar- benar terasa hampa, setiap hari dia tersiksa karna merindukannya.
“Baik.” Brian memejamkan matanya. Otot wajahnya menegang.
“Aku akan membantumu. Dan kau harus membantuku.” Brian akhirnya menyetujui kerjasamanya dengan Elisa.
“Good. Aku akan urus setiap surat legalnya, kau hanya perlu mendekati seluruh komisaris dan pemegang saham. Tarik mereka ke arahmu, bukan Renny.” Elisa bangkit dan mendekati Brian.
Tangan rampingnya mengelus pundak Brian, lalu mendekatkan bibirnya dan mengecup pelan pipi Brian.
“Kita akan pura- pura berpacaran Brian. Berlakulah selayaknya seorang pacar.” Bisik Elisa di telinga Brian sebelum pergi meninggalkan kantornya.
Brian menekan jam tangan untuk menelfon.
“Pak Kim, cari Renny di Indo. Jangan suru orang kita, suru orang luar, agar papa tak bisa melacaknya.” Perintah Brian.
“Baik tuan muda.”
“Dan tolong aturkan jadwal untukku menemui para pemegang saham di perusahaan.”
“Baik, ada lagi?”
“Itu dulu.” Brian mematikan panggilannya.
“Aku pasti menemukanmu Renny. Aku pasti menjagamu.” Brian mengepalkan tangannya.
.......................
Renny bangun dari tidur siangnya, hari ini kerja sambilannya libur. Setelah bekerja seminggu penuh Renny mendapatkan gaji pertamanya.
“Ah bau uang emang wangi.” Renny menjajarkan beberapa lembar uang di atas meja.
“Boss bilang aku dapat bonus karna cafe selalu rame.” Renny terlihat sangat senang.
Renny menoleh melihat sepatu pemberian Jay. Dia tersenyum sangat lebar.
“Apa aku masak untuk Jay saja?! Sebagai balasan sepatu kemarin.” Renny bangkit dan berbelanja ke minimarket.
“Masak apa ya?” Renny membuka- buka buku resep di layar hpnya.
“Ah.. ini gampang, tumis buncis dengan daging sapi.” Renny membaca bahan apa saja yang di butuhkannya.
Renny tampak sangat gembira, baru kali ini dia memasak untuk orang yang di sayanginya.
“Ah ketemu...” Renny sangat senang. “Ternyata berbelanja sangat mengasyikan, lebih asyik daripada memilih tas atau baju di butik.”
Renny pulang dengan hati yang riang. Dia sengaja tidak memberi tahu Jay kalau akan memasak makan malam untuknya. Renny ingin memberikan kejutan kepada Jay.
“Aku berharap dia memujiku.” Renny memikirkan pujian Jay saat mencicipi masakannya.
Renny bergegas mempersiapkan kompor, wajan, minyak, pisau, dan sayur serta daging belanjaannya ke atas meja pantry. Sambil melihat- lihat cara memasaknya.
“Potong?? Bagaimana memotongnya?” Renny mengangkat buncis dan pisau, bingung dengan cara potongnya.
“Auch.. perih.” Renny memasukan jarinya yang berdarah ke dalam mulut.
“Jariku teriris pisau. Kenapa memasak susah sekali.” Renny melemparkan pisaunya kembali.
“Ah nggak usah dipotong, kalau pesan steak di restauran juga dagingnya ngga di potong kok.” Analogi berfikir Renny mulai berjalan ke arah yang salah.
“Masukan minyak secukupnya.” Renny menuang minyak sangat banyak.
“Masukan bawang.” Renny memasukan bawang yang bahkan tidak di kupas.
“Masukan daging dan sayur.” Renny memasukan daging sapi tanpa dipotong dan buncis.
“Lalu bumbui.” Renny mengambil sesendok garam dan memasukkannya ke wajan.
JRESSSSS...
Bunyi cipratan minyak panas sangat keras dan menyiprat ke mana- mana. Renny sangat kebingungan. Dia terasa sangat sakit saat cipratan minyak mengenai kulitnya.
“Aduh.. sakit!! Duh bagaimana ini???” Renny panik.
Akhirnya masakan Renny selesai, Renny membawanya masuk ke kamar Jay.
Tok tok tok..
Kreek..(pintu terbuka)
Jay melongo melihat penampakan masakan di depannya. Hitam pekat dan mengeluarkan aura yang mematikan.
“Apa ini?” Tanya Jay bingung.
“Masakanku.” Renny tampak lemas.
“Kau memasaknya untukku?”
“Iya. Tapi kenapa kaya gini ya hasilnya?” Renny menghela nafas lemas, realitanya tidak sesuai ekspetasi di dalam gambar.
“Kemarikan!!” Jay mencuil daging dan memakannya.. alisnya bertaut karna terlalu asin.
“Bagaimana Jay??” Tanya Renny antusias.
“Kau tidak mencicipinya dulu tadi?” Jay balas bertanya.
Renny menggelengkan kepalanya.
“Enak kok, masuklah.” Jay menyuruh Renny masuk ke dalam rumahnya.
Jay menaruh piring di dapur dan membuang bagian yang gosong dari daging, memotong bagian dalam tipis- tipis dan merendamnya di dalam air panas agar rasa asinnya berkurang. Lalu mengambil sayuran segar dari dalam kulkas. Jay memanggang daging tadi sebentar dan menambahkan lada dan bawang bombay. Lalu menaruhnya di atas sayuran dan menambahkan sedikit mayonaise sebagai saus dressing.
“Ini.” Jay membawa sepiring salad untuk Renny dan sepiring lagi untuknya.
Renny melihatnya dengan mata berbinar- binar.. lalu memakannya dengan lahap.
“Kau hebat sekali Jay..” Renny mengacungkan kedua jempolnya.
“Lain kali jangan memaksa dirimu sendiri Ren.” Jay mencium tangan Renny yang terluka karna pisau dan minyak panas.
“Aku ingin membalas kebaikanmu Jay.”
“Dengan menyakiti dirimu??”
Renny hanya bergeleng lemah, Wajah Jayden memerah karna melihat sikap Renny yang menurutnya sangat manis.
“Kemarilah.” Jay menarik Renny dalam pangkuannya.
Renny menurut dan duduk di pangkuan Jayden, bersandar di dadanya yang bidang.
“Aku cium ya Jay?” Pinta Renny.
“Hahahaha.. Oke.” Jay tertawa geli mendengar permintaan Renny, ia memejamkan matanya dan menunggu Renny mendaratkan ciumannya.
Renny tersenyum dan mencium Jayden.
Renny sangat kecanduan dengan perasaan yang terasa saat berciuman. Manis, lembut, dan menggetarkan hati.
......................
Maaf episode kali ini agak pendek ya^^
Terus like dan comment ya..
Baca comment2nya bikin saya semangat..
\(^•^)/
Love u readers.. to the moon and back..
Jangan lupa bawa tas belanja sendiri saat belanja sehingga ga pakai banyak plastik.
Perubahan kecil ke arah yang lebih baik dimulai dari kita gaes..