
SIDE TO SIDE
S2 \~ ACT 30
BRUK!!!
Jay memukul Brian dan memepetnya ke dinding. Jay mencengkram naik kerah kemeja Brian yang kotor. Membuat Brian susah untuk bernafas. Tangan Jay yang penuh dengan darah Renny semakin kotor karena bertambah darah Brian yang menempel saat memukulnya tadi.
“Kalau sampai ada apa-apa dengan Renny aku pasti membunuhmu Brian!!” Jay memukul Brian sekali lagi, tepat di wajahnya.
Kini kepalan tangannya mengeluarkan darah, darah Jay bercampur dengan milik Renny dan Brian. Membuat warna merah pekat menetes di sela- sela jarinya.
Brian tak membalas, tak bersuara, tak menghindar. Hatinya hancur melihat Renny terkapar tak berdaya karna perbuatannya. Brian bahkan tak lagi bisa merasakan sakit, saat Jay terus menghajarnya di lorong rumah sakit.
Tindakan Jay memancing banyak orang mengerumuni mereka berdua di lorong UGD. Beberapa orang security mencoba menghentikan aksi Jayden, namun tenaga Jay jauh lebih kuat dari mereka.
“Bangsat!!” Jay melepaskan tinju terakhirnya pada dinding.
Dinding putih itu membekas bercak darah. Entah itu darah Jay atau darah Brian, namun merahnya sepekat perasaan mereka berdua saat ini.
Brian terkulai lemas di bawah, matanya masih menerawang kosong ke langit- langit. Jay juga merebahkan dirinya dan bersandar pada dinding di sebrang Brian.
Jay menjambak keras rambutnya. Air mata akhirnya keluar dari kedua pelupuk matanya.
“Kenapa tak kau biarkan saja dia bahagia?” Gumam Jay.
“Maafkan aku.” Jawab Brian.
“Kembalikan Renny padaku!!” Isak Jayden.
“KEMBALIKAN DIA!!!” Teriak Jay..
tangisnya tak bisa meredakan sedikitpun rasa cemas di dalam hatinya.
Brian menundukan wajahnya, air matapun turun membasahi wajahnya. Bulir hangat itu bercampur dengan darahnya yang mulai mengering. Membuat noda baru di atas kemeja putihnya yang telah kusut.
Keduanya duduk terdiam dan berpacu dengan pikirannya masing- masing. Namun satu hal yang sama, mereka berdoa untuk keselamatan Renny.
Setelah penantian lama yang terasa bertahun- tahun berakhir. Seorang dokter keluar dari pintu masuk ruang oprasi.
“Keluarga pasien?”
“Saya!!!” Teriak mereka berdua bersamaan.
“Tenang- tenang, yang mana keluarga pasien?.”
“Saya!!!” Mereka berdua kembali berteriak bersamaan.
“Hah..” dokter menghela nafas.
“Saya kakaknya..”
“Saya kekasihnya..”
“Baik-baik.. akan saya jelaskan pada kalian berdua.”
“Bagaimana Renny dok?”
“Masa kritisnya sudah lewat, tapi dia masih belum sadar karna benturan di kepalanya cukup keras.”
Jay tertegun, tak tahu harus lega atau kembali cemas.
“Sampai kapan dok?”
“Belum bisa di pastikan, bisa di katakan pasien dalam kondisi koma sementara.”
“Apa??!”
“Mungkin akan bangun besok, mungkin satu minggu, mungkin satu bulan, atau bahkan bisa bertahun-tahun.”
“Dok??!! Tolong Renny dok.” Jayden menangis.
“Tolong Renny dok!!” Brian mencengkram erat lengan dokter itu.
“Maafin saya, tapi dalam kasus ini hanya pasien sendiri yang bisa memutuskan kapan dia akan sadar. Kondisi mental pasien pasca trauma yang mempengaruhi proses kesadarannya. ” Dokter berpamitan.
“Sialan!!” Jay memukul dinding di belakangnya.
“Shit..!” Brian terperosot ke bawah.
......................
Kamar Rawat inap VVIP itu tampak tenang. Lampu putih bersinar terang, difuser tak berhenti mengeluarkan embun bercampur minyak aromatherapy. Bau lembut dari bunga ylang ylang memenuhi ruangan itu. Renny suka dengan baunya, bau yang sering di hirupnya saat dulu dia masih kecil dan masih tinggal di Indo. Sudah seminggu Renny terbaring di kamar ini, sama sekali tidak ada tanda-tanda kesadaran.
Brian berjalan perlahan mendekati tubuh Renny dan duduk di sampingnya.
“Renny..” bisik Brian lirih.
“Kau bisa mendengarku?? Aku tahu kau bisa Renny.” Brian mengangkat dan menggenggam jari jemari Renny.
Jari-jemarinnya semakin ramping dan pucat. Kulitnya kering karena terbaring lama di dalam ruangan ber Ac.
“Maafkan aku, Renny.” Brian terisak..
“Bangun Renny, bangun.. aku akan melakukan apapun asal kau mau bangun..” Brian meletakan tangan Renny di pipinya.
Tangan Renny terasa dingin di wajah Brian. Kulitnya yang pucat sangat kontras dengan wajah Brian yang memerah karna tekanan emosianal.
“Jangan diamkan aku seperti ini!! Maki aku Renny, benci aku seperti dulu..!!” Brian meletakan kembali tangan Renny dengan lembut.
Brian terisak di samping Renny, tenaganya habis. Sudah beberapa hari dia tidak tidur dan makan dengan benar. Brian bahkan tak pernah bisa berhenti teringat akan kecelakaan itu. Dia terus histeris dan menyakiti dirinya sendiri.
Jay yang baru saja datang mendengar tangisan Brian memilih menunggu di depan pintu masuk. Sampai pada titik Jay akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk dan beralih menuju ke cafetaria rumah sakit.
“Hallo, lama tak bertemu?!” Sebuah suara menyadarkan Jayden dari lamunannya.
“Om Nicky??” Jay sangat kaget melihat kehadiran Nicky.
“Kau sudah berhasil Jay.” Senyum Nicky, dia ikut duduk di samping Jayden
“Berhasil dari mana?? Renny malah semakin menderita.” Jay menerawang jauh.
“Kecelakaan itu bukan salahmu.” Tepuk Nicky.
“Bagaimana kabar om Andre?”
“Transplantasi ke-2nya sudah berhasil, mungkin sebentar lagi dia akan terbang kemari.” Nicky menerima kopi dari pelayan dan meminumnya.
“Apa dia akan membenciku?? Aku tak bisa melindungi putrinya.” Jay menundukan kepalanya.
“Entahlah, mungkin tidak. Kau tahu Jay, Tuan Andre pernah melakukan hal yang sama untuk nyonya Via.” Nicky tersenyum kecut.
“Berkorban seperti Renny?”
“Ayah dan anak sama saja bukan?” Nicky menghela nafas.
“Brian juga sama, mencintai Renny dengan sepenuh hati. Semua kelakuannya mungkin juga karna belajar dari sikap Tuan Andre pada Nyonya Via.” Tambah Nicky.
“...” Jay kehabisan kata, dia hanya tersenyum saat teringat sikap Renny yang selalu mencintainya dengan sepenuh Hati.
“Tunggulah Jay.. Renny pasti segera sadar.” Nicky menepuk pundak Jayden.
“Iya Om.”
“Dan terimakasih, berkatmu aku bisa pensiun dan menikah.” Senyum Nicky senang.
“....”
......................
Jayden duduk di samping Renny, sudah hampir 2 minggu sekarang. Renny semakin terlihat kurus dan pucat. Jay sangat sedih melihatnya. Setiap hari Jay selalu menggenggam tangan Renny untuk berdoa dan memohon Renny agar segera sadar.
“Buka matamu sayang!!” Isak Jay, tangannya mengelus rambut Renny.
“Buka matamu kumohon..” air mata Jay jatuh mengenai wajah cantik Renny.
“Aku sudah tak sanggup menahannya, hatiku sesak, Renny. Hatiku sakit, kumohon..”
“....” tak ada jawaban, hanya keheningan yang terus menemani isak tangis Jayden.
“Aku akan terus bersamamu, kalau kau nggak mau bangun aku juga nggak mau hidup..” Ancam Jay.
“....” tetap tak ada jawaban.
“Seandainya aku bisa menukar nyawaku denganmu Renny.”Jay menghela nafas panjang, hatinya sakit. Perih, bagaikan teriris-iris.
“Aku bisa meihatmu, menyentuhmu, tapi kenapa hatiku masih tetap terasa sangat sakit??!” Pikir Jayden, dia meremat kaos di depan dadanya.
Jay mencium bibir Renny yang tampak pucat. Bibir yang biasanya sangat ranum dan menggiurkan, kini kering dan tak berwarna.
“Aku mencintaimu Renny, selamanya.” Ucap Jay.
“Aku akan ikut kemanapun kau pergi.” Jay kembali mengecup bibir Renny.
......................
Renny melihat ke sekelilingnya. Semuanya sangat terang dan berwarna putih.
“Apa aku sudah mati?” Pikir Renny.
“Apakah Jay bisa selamat?” Renny berjalan semakin jauh.
“Di sini sangat hangat, perasaanku sangat tenang.” Renny mengamati sekelilingnya, tak menemukan apapun. Hanya cahaya terang dan perasaan hangat yang menyelimutinya.
Renny menghentikan langkahnya dan terdiam.
Sepintas bayangan masa lalu menghampirinya, kenangan- kenangan indah saat bersama Jay seakan- akan terulang di depannya.
Air mata menetes di pipinya..
“Aku merindukanmu Jay.”
“Aku belum mau mati...”
.........................
Hiks...
Renny...Jay menunggumu
😭😭
Jangan lupa kasih love, like, and comment.