Side To Side

Side To Side
ACT 27



SIDE TO SIDE


ACT 27


“Berita hari ini semuanya tentang akusisi perusahan A oleh Anda, Boss.” Nicky mendengarkan berita di dalam ruang kerja Andre melalui televisi.


“Ada kabar dari pihak Sinta?” tanya Andre.


“Untuk saat ini peruasahaan A menutup diri dari media apapun,” jawab Nicky.


Andre memutar-mutar bolpoin dengan jari jemarinya.


Boss hampir menbuat bangkrut satu keluarga kolongmerat tapi dia tetap bisa pasang wajah tenang kaya begitu. Oceh Nicky pada benaknya.


“Di mana Via sekarang?” Pertanyaan Andre menyadarkan Nicky dari lamunannya.


“Nona, Via sekarang ada di minimarket, Boss, dia kembali bekerja di sana.” Nicky menjawab.


“Siapin mobil Nicky, aku akan menjemputnya.” Andre bangkit dan berjalan keluar.


“Oke, Boss.”


— SIDE TO SIDE —


Via membuang sampah dan membersihkan rak-rak dari debu, menyapu, mengepel lantai, dan mengelap kaca toko.


“Kau nggak capek?” tanya Meddy, tangannya membawa 2 buah botol air mineral.


“Trim’s. Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan saat ini.” Via mengusap keringatnya dengan tisu.


“Kau terlihat pucat? Sudah makan?” Meddy meletakan telapak tangannya ke dahi Via.


“Aku nggak apa-apa. Hanya saja nafsu makanku berkurang belakangan ini.” Via tersenyum dan meneguk air pemberian Meddy.


“Apa kau merasa mual?”


Via menjawabnya dengan gelengan kepala.


“Ah, sayang sekali. Padahal aku kira kau hamil.” Meddy tersenyum menggoda Via.


“Hah??” Via tersentak kaget.


Bener juga, karena Mama sakit aku sampai nggak ingat kapan terakhir aku datang bulan. Via melamun.


Tring ... 🎶


ANDRE:


Kau masih di minimarket?


Mau makan bareng?


Aku jemput sebentar lagi.


Via tersenyum membaca chat dari Andre.


VIA:


Oke


Aku tunggu


“Siapa? Pak Boss?” Meddy kepo.


“Yaiyalah siapa lagi?” Via tersenyum.


“Apa resepnya? Supaya bisa dicintai seperti itu?” Meddy meletakan dagunya di meja, wajahnya terlihat tak bersemangat.


“Kenapa jadi lesu begitu?” Via menepuk pundak Meddy.


“Haah ... kira-kira dia lagi apa, ya?” Meddy kembali menghela nafas.


“Ceritakan padaku bagaimana kau bisa jatuh cinta dengannya?” Via terlihat semangat, senyuman tersimpul di kedua pipinya.


“Hari itu aku lagi jaga pagi di puskesmas, tiba-tiba dia datang, punggungnya penuh darah.” Meddy mulai bercerita.


“Kau tahu, Via, saat itu aku takut banget, tangan dan badannyakan penuh tato, aku sempat mengira dia preman yang kena bacok.” Meddy tiba-tiba tertawa.


“Trusss..?”


“Ternyata kita memang ga bisa judge a book by it’s cover.”


“Pas aku jahit lukanya, aku tanya kenapa dia terluka. Dia jawab karena nyelametin anak anjing dari tempat pembuangan dan tergores besi tajam.”


“Hahahaha ... khas Leo banget.” Via tertawa renyah.


“Dan yang paling bikin aku geli itu karena dia takut disuntik.”


“Saat itu aku mikir ‘preman kok hatinya hello kitty’, trus setelah ngobrol aku baru tahu ternyata dia seniman kramik.” Meddy bangkit berdiri karena ada pelanggan yang datang.


“Dan saat itu aku mulai suka. Ironis ya, jatuh cintanya cuman butuh waktu hitungan menit, tp melupakannya yang butuh waktu yang sangat lama.” Meddy meninggalkan Via untuk kembali ke mesin kasir.


Via terdiam sesaat, bagaimana pun dia juga pernah mengalaminya.


Pasti rasanya sakit sekali. Via mengelus dadanya pelan.


“Ah aku harus segera keluar, Kak Andre pasti sudah hampir sampai.” Via membereskan tas dan mengganti bajunya.


— SIDE TO SIDE —


Matahari mulai bersembunyi di balik awan, namun panasnya masih terasa membakar kulit. Via bergegas keluar dari minimarket dan berjalan menuju trotoar. Via hendak menyebrang jalan karena Andre sudah menunggunya. Andre melambaikan tangannya pada Via, Via membalasnya dengan senyuman.


“Aku bunuh dia di depan matamu, Ndre. Semua ini terjadi karena dia, kalau saja kamu nggak pernah mengenalnya dulu, aku nggak akan pernah kehilangan segalanya.” Sinta yang sudah mengamati dari kejauhan segera menginjak dalam gas mobilnya.


Mobil sport oranye itu melaju dengan kencang, Sinta sudah nggak mampu berfikir jernih, keringat dan air mata bercampur, rambutnya acak-acakan. Bau Alkohol begitu menyengat memenuhi mobilnya. Pikirannya kacau, dirinya hilang kendali karena segalanya hilang, dulu Via mengambil cinta Andre untuknya, sekarang Andre mengambil perusahaannya.


“SEMUANYA KARNA KAMU!!” teriak Sinta.


“VIA AWAS!!!” Andre berteriak.


Saat ini Via merasakan dirinya terdorong keluar dari jalanan, dan jatuh tersungkur. Perih terasa menggores lututnya.


BRRUKK!!!!


“TIDAAAAKK!!!!” Via berteriak.


Sinta mengerem mobilnya saat dia sadar bukan Via yang ditabraknya.


“Kenapa kau melindunginya sampai seperti ini?? Hu ... hu ... hu!” Suara tangisan Sinta mulai pecah.


“Kak Andre, tidak, Kak Andre.” Via merangkak mendekati tubuh Andre yang bersimba darah.


“Kak bangun, Kak!! Kak bangun!!!!!” Via mengoyang-goyangkan tubuh Andre.


“Tolonggg!!! Siapa pun Tolong!!!” Via berteriak, orang-orang mulai berkerumun di jalanan.


— SIDE TO SIDE —


Suster dan dokter jaga bergegas mendorong ranjang begitu tubuh Andre keluar dari Ambulan.


Via mengikutinya sampai di depan kamar oprasi.


“Maaf anda tidak boleh ikut.” Seseorang dengan pakaian hijau menahan Via.


“Selamatkan dia, aku mohon.” Via menangis.


“Kami akan berusaha.” Pria itu berlalu masuk, diikuti bunyi pintu yang menutup.


“Aku mohon jangan tinggalkan aku, Kak.” Via terjatuh ke bawah, kakinya terasa begitu lemas.


Air mata turun dengan deras membanjiri wajahnya, tangannya berkeringat dingin, jantung Via berdegup dengan kencang.


“Nona tolong berdiri.” Nicky yang baru saja tiba membantu Via berdiri.


“Semua salahku, harusnya aku yang tertabrak.” Via merasa bersalah.


“Harusnya aku!!! Kenapa dia mendorongku??? Kenapa??!!” Via meronta-ronta, Nicky masih menggenggam erat tangan Via, berusaha memberikan sedikit perasaan tenang.


“Tenang dulu, Nona! Tenang ... kita tunggu konfirmasi dokter.”


“Pasien butuh darah AB, adakah keluarga pasien yang bisa memberikannya?” Seorang perawat dengan pakaian serba hijau keluar.


“Saya AB, ambil berapapun yang dibutuhkan.” Via mendekati suster itu.


“Saya juga AB, Sus.” Nicky ikut bangkit.


“Baik ayo ikut saya untuk pengambilan darah.”


Via masih terus terisak setelah pengambilan darah, saat ini kepalanya berubah menjadi berat, tangannya kelu. Kesadarannya menghilang perlahan-lahan.


“Nona, Nona, sadarlah.” Nicky menepuk-nepuk Pipi Via


“Jangan Pingsan, Nona!! Suster tolong saya.” Nicky memanggil seorang suster yang kebetulan lewat.


“Mari, Pak, naikan kemari.” Suster itu bergegas mengambil kursi roda dan membantu Nicky menaikan Via.


— SIDE TO SIDE —


Dentingan jam yang menunjukan detik demi detik yang rasanya bagaikan bertahun-tahun akhirnya berhenti terdengar saat seorang dokter keluar dari pintu ruang operasi.


“Bagaimana anak saya, Dokter??” Sarah berlari mendekati dokter, begitu mendengar kabar dari Linda, Sarah langsung terbang ke rumah sakit.


“Ada beberapa cidera di kepalanya, namun bukan masalah serius saat ini. Tapi ....” Dokter memberikan pengertian pada Nyonya Sarah.


“Tapi apa, Dok?” cerca Sarah.


“Tapi karena benturan pada pinggangnya cukup keras, ginjalnya rusak, Bu. Hanya 1 yang masih bisa tp hanya 70%.” Dokter menjelaskan.


“Apa??” Sarah terkulai lemas.


Nicky membantu mendorong kursi roda, Via mulai sadar. Dunianya terasa runtuh saat mendengar ucapan dokter.


“Dokter, Ambil ginjal saya, Dok!! Ambil darah dan ginjal saya sebanyak yang dokter butuhkan.” Via menarik tangan dokternya.


“Siapa kamu?” tanya Sarah, emosinya meluap.


“Dia kekasih Presdir, Nyonya,” jawab Linda.


Jadi ini gadis yang dicari Andre selama 13 tahun. Pikir Sarah.


“Gara-gara kamu anakku jadi begini!” Sarah menghampiri Via yang masih terduduk lemas di kurai roda.


“Maafkan Via, Tante.” Via tertunduk malu. Bukan seperti ini pertemuan pertama dengan calon mertua yang dia harapkan.


“Kembalikan anakku!!!” teriak Sarah, air matanya mulai mengucur.


“KEMBALIKAN DIA!!” teriaknya lagi, tangannya mencengkram erat lengan Via yang kurus.


“Nyonya, anda harus tenang.” Linda menarik tangan Sarah dan merangkulnya.


“Nicky, kau temani, Nona. Aku akan mengajak Nyonya istirahat.” Linda memberikan kode kepada Nicky supaya bisa memisahkan mereka.


“Andre mencarimu 13 tahun, berubah menjadi orang lain. Sekarang kau mau mengambil dia lagi dariku. Kenapa?? Kenapa??” Sarah terisak-isak.


“Nyonya, saya mohon.” Linda membantu Sarah berjalan.


“Dokter saya bersedia mendonorkan gijal saya.”


“Kalau bersedia mendonorkan ginjalmu kita cek dulu kecocokannya,” jawab dokter itu.


Seorang suster yang menolong Via saat pingsan tadi membisikan sesuatu ke telingan dokter.


“Mana bisa mendonorkan ginjalmu kalau kamu sedang hamil,” ucapan dokter membuat Via tertegun.


“Ha—hamil?”


“Iya, Nona, saat cek darah tadi ditemukan Anda sedang dalam keadaan hamil,” jawab suster muda tadi.


“Saya nggak butuh bayi ini dokter, saya nggak peduli. Ambil dokter ambil!! Selamatkan Andre!! hiks ... hiks!!” Via menangis, bangkit dari kursi roda dan jatuh tersungkur di depan dokter.


“Nona, ayo bangkit.” Nicky membantu Via.


Dokter dan suster hanya bisa saling berpandangan tanpa bisa berkata-kata lagi.


“Maafkan kami. Tapi itu tidak mungkin dilakukan.” Dokter menepuk pundak Via.


“Nggak, Dok, tolong!!!” tangis Via pecah, memenuhi koridor rumah sakit.


“Aku bisa kehilangan kamu, ngga bisa ...!” Via terjatuh dan kembali pingsan.


— SIDE TO SIDE —